KATEGORI DESA SIAGA AKTIF
6.1 SARANA KESEHATAN
6.1.5. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)
UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) adalah salah satu wujud nyata peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
Wujud nyata bentuk peran serta masyarakat antara lain dengan berkembangnya upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) misalnya Posyandu, Desa Siaga, Posbindu PTM.
6.1.5.1 Posyandu
Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. Tempat pelaksanaan pelayanan program terpadu di balai dusun, balai kelurahan, RW, dan sebagainya disebut dengan Pos pelayanan terpadu (Posyandu). Konsep Posyandu berkaitan erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang dimaksud meliputi keterpaduan dalam aspek sasaran, aspek lokasi kegiatan, aspek petugas penyelenggara, aspek dana dan lain sebagainya.
(Departemen kesehatan, 1987:10).
Posyandu merupakan wahana kesehatan bersumberdaya masyarakat yang memberikan layanan 5 kegiatan utama (KIA, KB, GIZI, Imunisasi dan Pencegahan Penyakit Diare) yang dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat. Posyandu merupakan jenis UKBM yang paling memasyarakat di Kabupaten Bogor. Selama 3 tahun terakhir jumlah posyandu di Kabupaten Bogor cenderung meningkat dari tahun ke tahun meskipun ratio kader per posyandu masih rendah. Tahun 2017 sebanyak 4.898 posyandu dengan kader aktif 25.529 kader, tahun 2018 sebanyak 4.927 posyandu dengan kader aktif 25.529 kader dan tahun 2019 sebanyak 4.997 posyandu dengan kader aktif sebanyak 19.328.
Rasio kader per posyandu 3,86 berarti rata-rata setiap posyandu mempunyai kader 4 orang.
6.1.5. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)
UKBM (Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat) adalah salah satu wujud nyata peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
Wujud nyata bentuk peran serta masyarakat antara lain dengan berkembangnya upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) misalnya Posyandu, Desa Siaga, Posbindu PTM.
6.1.5.1 Posyandu
Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Jadi, Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan dengan penanggung jawab kepala desa. A.A. Gde Muninjaya (2002:169) mengatakan : Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. Tempat pelaksanaan pelayanan program terpadu di balai dusun, balai kelurahan, RW, dan sebagainya disebut dengan Pos pelayanan terpadu (Posyandu). Konsep Posyandu berkaitan erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang dimaksud meliputi keterpaduan dalam aspek sasaran, aspek lokasi kegiatan, aspek petugas penyelenggara, aspek dana dan lain sebagainya.
(Departemen kesehatan, 1987:10).
Posyandu merupakan wahana kesehatan bersumberdaya masyarakat yang memberikan layanan 5 kegiatan utama (KIA, KB, GIZI, Imunisasi dan Pencegahan Penyakit Diare) yang dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat. Posyandu merupakan jenis UKBM yang paling memasyarakat di Kabupaten Bogor. Selama 3 tahun terakhir jumlah posyandu di Kabupaten Bogor cenderung meningkat dari tahun ke tahun meskipun ratio kader per posyandu masih rendah. Tahun 2017 sebanyak 4.898 posyandu dengan kader aktif 25.529 kader, tahun 2018 sebanyak 4.927 posyandu dengan kader aktif 25.529 kader dan tahun 2019 sebanyak 4.997 posyandu dengan kader aktif sebanyak 19.328.
Rasio kader per posyandu 3,86 berarti rata-rata setiap posyandu mempunyai kader 4 orang.
Perkembangan UKBM melalui posyandu cukup baik dibandingkan jenis UKBM lainnya. Berdasarkan laporan dari puskesmas, perkembangan posyandu selama 3 tahun terakhir bisa dilihat di bawah ini :
TABEL 6.2
PERKEMBANGAN POSYANDU
DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2017- 2019
No Jenis Posyandu Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 Jumlah % Jumlah % Jumlah % 1. Posyandu Pratama 73 1,49 67 1,36 60 1,20 2. Posyandu Madya 2.559 52,25 2.342 47,53 2.408 48,19 3. Posyandu Purnama 1.366 27,89 1.485 30,14 1.476 29,53 4. Posyandu Mandiri 900 18,37 1.033 20,97 1.053 21,07 Sumber : Laporan Program Promkes Tahun 2017-2019
Dari tabel di atas bisa terlihat perkembangan jumlah posyandu dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 di tiap strata nya mengalami pasang surut, dengan demikian perlu ditingkatkan lagi upaya – upaya untuk mengaktifkan kembali kegiatan yang ada di posyandu sehingga stratanya lebih meningkat.
Meningkatnya strata posyandu merupakan hasil kinerja seluruh lintas sektor terkait termasuk sektor kesehatan. Oleh karena itu sinergitas lintas sektor terkait posyandu perlu terus dipertahankan, mengingat Posyandu merupakan wahana untuk masyarakat. Bila strata posyandu menurun dapat menggambarkan tingkat pemberdayaan masyarakat juga menurun yang dapat berakibat buruk bagi kelangsungan posyandu yang pada akhirnya akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah revitalisasi posyandu dan kegiatan posyandu yang terintegrasi masih bisa dikembangkan dengan segala potensi yang ada. Partisipasi masyarakat dan lintas sektor masih sangat diharapkan agar posyandu dapat benar bermanfaat untuk mendukung program pembangunan kesehatan.
6.1.5.2 Desa Siaga
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan serta kemauan untuk untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawadaruratan, kesehatan
secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas – batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.
Tujuan khususnya adalah sebagai berikut :
Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.
Peningkatan kewaspadaan dan kesiap siagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawat daruratan dan sebagainya)
Peningkatan kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.
Ciri-Ciri Desa Siaga
1. Minimal Memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar ( dengan sumberdaya minimal 1 tenaga kesehatan dan sarana fisik bangunan, perlengkapan & peralatan alat komunikasi ke masyarakat & ke puskesmas )
2. Memiliki sistem gawat darurat berbasis masyarakat 3. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan secara mandiri 4. Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat
Kabupaten Bogor tahun 2019 memiliki desa sebanyak 435 desa yang semua nya adalah desa siaga, namun baru 186 desa yang merupakan desa siaga aktif. Seperti halnya posyandu, desa siaga juga terbagi menjadi 4 strata desa siaga yaitu pratama, madya, purnama dan mandiri (untuk lebih jelasnya dapat melihat lampiran profil kesehatan tabel 78).
secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas – batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.
Tujuan khususnya adalah sebagai berikut :
Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.
Peningkatan kewaspadaan dan kesiap siagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawat daruratan dan sebagainya)
Peningkatan kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.
Ciri-Ciri Desa Siaga
1. Minimal Memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar ( dengan sumberdaya minimal 1 tenaga kesehatan dan sarana fisik bangunan, perlengkapan & peralatan alat komunikasi ke masyarakat & ke puskesmas )
2. Memiliki sistem gawat darurat berbasis masyarakat 3. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan secara mandiri 4. Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat
Kabupaten Bogor tahun 2019 memiliki desa sebanyak 435 desa yang semua nya adalah desa siaga, namun baru 186 desa yang merupakan desa siaga aktif. Seperti halnya posyandu, desa siaga juga terbagi menjadi 4 strata desa siaga yaitu pratama, madya, purnama dan mandiri (untuk lebih jelasnya dapat melihat lampiran profil kesehatan tabel 78).
6.1.5.3 Polindes (Pondok Bersalin Desa)
Polindes merupakan wahana upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat yang dikelola oleh bidan di desa bersama masyarakat guna memberikan pelayanan profesional khususnya dibidang kesehatan ibu dan anak.
Pada Tahun 2019 jumlah Polindes sebanyak 53 buah. Dari 435 desa di Kabupaten Bogor terdapat 419 bidan di desa dari seluruh bidan di puskesmas sebanyak 960 orang.
6.1.5.4 Posbindu PTM
Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor resiko PTM Utama adalah Diabetes Mellitus (DM), kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru obstruktif kronis dan gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan yang dilaksanakan secara terpadu, rutin dan periodik. Faktor resiko penyakit tidak menular (PTM) meliputi merokok, konsumsi minuman beralkohol, pola makan tidak sehat, kurang aktifitas fisik, obesitas, stres, hipertensi, hiperglikemi, hiperkolesterol serta menindaklanjuti secara dini faktor resiko yang ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Kabupaten Bogor tahun 2019 memiliki 580 posbindu aktif yang tersebar di 435 desa.