5.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
5.1.3. Pelayanan Imunisasi
5.1.3. Pelayanan Imunisasi
5.1.3.1. Imunisasi Dasar Pada Bayi
Program imunisasi merupakan salah satu program prioritas dari Kementrian kesehatan yang dinilai sangat efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD31) seperti diptheri, pertusis, tetanus neonatorum, polio dan campak.
Program imunisasi ini merupakan program dasar lengkap (LIDL/ Lima Imunisasi Dasar Lengkap) pada bayi meliputi 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis B dan 1 dosis Campak.
Mulai Tahun 2007 imunisasi Hepatitis B sudah bergabung dengan imunisasi DPT dan terdapat imunisasi HBO atau imunisasi HB murni yang diberikan pada bayi baru lahir (0-7 hari), bertujuan untuk memutuskan transmisi dari ibu ke bayi.
Perkembangan cakupan imunisasi bayi di Kabupaten Bogor selama 5 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel 5.2 sebagai berikut :
TABEL 5.2
CAKUPAN IMUNISASI BCG, DPT- HB1, DPT- HB3, POLIO 4, CAMPAK,HB0 DAN DROUP OUT RATE
DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 – 2019
TAHUN
HASIL CAKUPAN (%) BCG DPT1 DPT-
HB3 POLIO 4 CAMPAK HB 0 DO RATE 2015 103,95 104,54 100,68 101,34 101,54 100,23 2,87 2016 98,17 97,88 94,72 94,62 95,21 94,07 2,73 2017 100,09 99,39 95,96 94,10 90,37 97,02 9,07 2018 98,54 97,77 95,41 94,96 93,78 96,37 5,65 2019 97,21 99,49 95,29 90,70 93,11 95,21 6,41 Sumber : Sepim Bidang P2PKL
Dari tabel di atas dapat kita lihat perkembangan cakupan imunisasi bayi selama jangka waktu 5 tahun, pada tahun 2014 cakupan tertinggi yaitu BCG sebesar 99,58%, pada tahun 2015 cakupan tertinggi adalah DPT-HB1 sebesar 104,54%, pada tahun 2016 cakupan imunisasi yang tertinggi adalah BCG sebesar 98,17%, tahun 2017 dan 2018 Imunisasi BCG menjadi cakupan tertinggi yaitu
sebesar 100,09% dan 98,54%, namun tahun 2019 imunisasi tertinggi adalah DPT1.
Cakupan imunisasi BCG mengalami penurunan 98,54% (2018) menjadi 97,21% (2019). Cakupan DPT1 meningkat dari 97,77% (2018) menjadi 99,49%
(2019). Imunisasi DPT-HB3 mengalami penurunan dari 95,41% (2018) menjadi 95,29% di tahun 2019. Cakupan imunisasi polio 4 mengalami penurunan dari 94,96% (2018) menjadi 90,70% (2019). Cakupan imunisasi Campak juga mengalami penurunan dari 93,78% (2018) menjadi 93,11% (2019), Imunisasi HB0 mengalami penurunan juga dari tahun 2018 sebesar 96,37% menjadi 95,21% di tahun 2019. Jika kita lihat angka DO Rate cakupan imunisasi bayi mengalami peningkatan dari tahun 2018 sebesar 5,65% menjadi 6,41% (2019).
Program imunisasi dasar pada bayi diharapkan agar setiap bayi mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap, keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap, cakupan imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Bogor tahun 2019 sebesar 92,27% dari perkiraan jumlah sasaran, akan tetapi ada beberapa puskesmas yang pencapaiannya melebihi jumlah sasaran seperti puskesmas Nanggung, Leuwisadeng, Cijujung, Situ Udik, Ciampea Udik, Cihideung Udik, Purwasari, Tamansari, Cijeruk, Caringin, Banjarsari, Cijayanti, Gunung Putri, Cirimekar, Ragajaya, Jampang, Cibeuteung Udik, Bunar, Sukajaya dan Kiarapandak.
Hasil cakupan imunisasi tahun 2019 sudah mencapai target nasional dan WHO yaitu sebesar 90%, tercapainya target imunisasi di Kabupaten Bogor tahun 2018, dikarenakan masyarakat mengetahui informasi tentang imunisasi lengkap dan jenis imunisasi terutama imunisasi rutin serta manfaatnya.
Berdasarkan keberhasilan tersebut maka terus dilakukan peningkatan sosialisasi mengenai imunisasi secara terus menerus ke masyarakat, selain itu perlu lebih ditingkatkan kerjasama antara lintas program dengan lintas sektoral dan kerjasama yang lebih baik dengan pihak swasta. Penyediaan vaksin harus tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan sehingga sasaran tidak kehilangan kesempatan untuk mendapat imunisasi, selain itu kualitas pencatatan dan pelaporan imunisasi di puskesmas masih perlu ditingkatkan.
Lebih jelasnya cakupan imunisasi secara lengkap per kecamatan di Kabupaten Bogor tahun 2019 dapat dilihat di lampiran tabel 38-39 profil kesehatan.
5.1.3.2. Imunisasi Pada Ibu Hamil
Difteri dapat menyerang siapa pun, termasuk ibu hamil. Pemberian vaksin difteri untuk ibu hamil bermanfaat untuk melindungi diri dan bayi dari infeksi bakteri. Bumil tidak perlu khawatir berlebihan karena vaksin difteri tergolong vaksin yang aman karena tidak mengandung bakteri hidup, selain memberi perlindungan terhadap difteri, vaksin difteri/tetanus/pertussis (DTP) juga dapat memperkuat daya tahan tubuh bayi terhadap tetanus dan batuk rejan (pertussis), baik saat dalam kandungan maupun ketika lahir.
Kedua penyakit tersebut bisa sangat membahayakan bayi. Oleh karena itu, vaksin DTP jenis Tdap direkomendasikan pada usia kehamilan 27–36 minggu atau jika tidak memungkinkan, vaksin bisa diberikan kapan pun selama kehamilan.
Pemberian vaksin Tdap juga bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan kapan terakhir kali ibu hamil mendapatkan vaksin ini.
Imunisasi Td ini diberikan pada ibu hamil dengan interval tertentu dengan melihat hasil skrining dan status T. Hasil skrining akan menentukan pemberian dosis imunisasi Td berikutnya pada ibu hamil. Imunisasi Td1 adalah imunisasi dosis pertama, Td2 adalah imunisasi dosis ke-dua dengan interval minimal 4 minggu setelah Td1. Imunisasi Td3 diberikan dengan interval minimal 6 bulan setelah imunisasi Td2, imunisasi Td4 dan Td5 diberikan dengan interval 1 tahun setelah pemberian imunisasi Td3 dan Td4. Cakupan imunisasi Td2+ adalah rangkaian pemberian imunisasi Td2 sampai Td5, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran tabel 24 profil kesehatan. Gambaran cakupan Td ibu hamil tahun 2019 dapat dilihat pada grafik 5.13 berikut ini :
57,73%
50,12%
21,47%
11,57% 7,66%
GRAFIK 5.13
CAKUPAN IMUNISASI TT IBU HAMIL PUSKESMAS DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019
Td1 Td2 Td3 Td4 Td5
5.1.3.2. Imunisasi Pada Ibu Hamil
Difteri dapat menyerang siapa pun, termasuk ibu hamil. Pemberian vaksin difteri untuk ibu hamil bermanfaat untuk melindungi diri dan bayi dari infeksi bakteri. Bumil tidak perlu khawatir berlebihan karena vaksin difteri tergolong vaksin yang aman karena tidak mengandung bakteri hidup, selain memberi perlindungan terhadap difteri, vaksin difteri/tetanus/pertussis (DTP) juga dapat memperkuat daya tahan tubuh bayi terhadap tetanus dan batuk rejan (pertussis), baik saat dalam kandungan maupun ketika lahir.
Kedua penyakit tersebut bisa sangat membahayakan bayi. Oleh karena itu, vaksin DTP jenis Tdap direkomendasikan pada usia kehamilan 27–36 minggu atau jika tidak memungkinkan, vaksin bisa diberikan kapan pun selama kehamilan.
Pemberian vaksin Tdap juga bisa dilakukan tanpa mempertimbangkan kapan terakhir kali ibu hamil mendapatkan vaksin ini.
Imunisasi Td ini diberikan pada ibu hamil dengan interval tertentu dengan melihat hasil skrining dan status T. Hasil skrining akan menentukan pemberian dosis imunisasi Td berikutnya pada ibu hamil. Imunisasi Td1 adalah imunisasi dosis pertama, Td2 adalah imunisasi dosis ke-dua dengan interval minimal 4 minggu setelah Td1. Imunisasi Td3 diberikan dengan interval minimal 6 bulan setelah imunisasi Td2, imunisasi Td4 dan Td5 diberikan dengan interval 1 tahun setelah pemberian imunisasi Td3 dan Td4. Cakupan imunisasi Td2+ adalah rangkaian pemberian imunisasi Td2 sampai Td5, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran tabel 24 profil kesehatan. Gambaran cakupan Td ibu hamil tahun 2019 dapat dilihat pada grafik 5.13 berikut ini :
57,73%
50,12%
21,47%
11,57% 7,66%
GRAFIK 5.13
CAKUPAN IMUNISASI TT IBU HAMIL PUSKESMAS DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019
Td1 Td2 Td3 Td4 Td5
5.1.3.3 Cakupan UCI Desa/Kelurahan
Indikator program imunisasi salah satunya adalah persentase Desa/ Kelurahan yang mencapai “ Universal Child Immunization “ (UCI) desa yang mencapai UCI adalah desa/ kelurahan yang cakupan imunisasi dasar > 80%. Imunisasi merupakan pemberian vaksin yang meningkatkan kekebalan terhadap suatu penyakit, imunisasi rutin baik pada bayi ( BCG, DPT- HB1, DPT - HB 3, Polio 4, Campak dan Hepatitis B0 (0-7 hari) maupun ibu hamil ( Td 1, Td2, Td3, Td4 dan Td 5).
Cakupan UCI (Universal Child Immunization) tahun 2019 baru mencapai 392 desa dari 435 desa (90,11%), belum mencapai target SPM sebesar 100%. Hasil meningkat dibandingkan Tahun 2018 UCI desa sebesar 86,90% (378
desa). Pencapaian UCI desa akan berdampak pada timbulnya kasus dan KLB PD3I. Penguatan terhadap pengamatan penyakit sebagai penilaian terhadap dampak vaksinasi perlu diperkuat di tataran puskesmas.