Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan warga negaranya. Makin tinggi pendidikan warga negara maka semakin majulah negara tersebut, tingkat pendidikan juga mempengaruhi derajat kesehatan seseorang.
Indikator IPM pendidikan antara lain Angka Melek Huruf (AMH), Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Angka Partisipasi Sekolah (APS).
AMH pada Tahun 2014 sebesar 96,98%, pada tahun 2015 meningkat menjadi 96,99%,(Angka perhitungan Dinas Pendidikan). Tahun 2016 ada penerapan metoda baru yaitu HLS (Harapan Lama Sekolah) menggantikan AMH (Angka Melek Huruf) dengan pencapaian sebesar 12,05%, tahun 2017 meningkat sebesar 12,43% dan kembali meningkat tahun 2018 menjadi 12,44%. Tahun 2019 HLS meningkat menjadi 12,47%.
Sedangkan untuk RLS tahun 2014 sebesar 7,74%, pada tahun berikutnya yaitu tahun 2015 meningkat sebesar 7,75%, di tahun 2016 data RLS yaitu sebesar 7,83%, tahun 2017 dan 2018 kembali meningkat sebesar 7,84% dan 7,88%. Tahun 2019 RLS meningkat menjadi 8,29%.
Salah satu indikator pokok untuk menilai kualitas pendidikan formal adalah pendidikan yang ditamatkan.
Dikarenakan sulit didapatkannya data persentase penduduk umur 10 tahun keatas menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan di Kabupaten Bogor tahun 2018, maka kami masih menggunakan hasil pengolahan data penyusunan
TABEL 3.2
PDRB PERKAPITA KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015-2019
NO PDRB Perkapita 2015 2016 2017 2018 2019
1 Atas Dasar Harga Berlaku 26,06 Juta 28,52 Juta 31,16 Juta 33,90 Juta 40,31 Juta 2 Atas Dasar Harga Konstan 8,14 Juta 8,45 Juta 8,78 Juta 9,14 Juta 26,31 Juta Sumber : Penyusunan Perencanaan Target Indikator Ekonomi Daerah Kabupaten Bogor 2015-2019
Selama kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2015 - 2019, PDRB perkapita Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Bogor yaitu cenderung meningkat, tahun 2015 sebesar Rp. 26,06 juta dan tahun 2019 menjadi sebesar 40,31 juta, demikian pula PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Konstan juga mengalami kenaikan yaitu Rp 8,14 juta pada tahun 2015 menjadi Rp 26,31 juta pada tahun 2019.
3.3 PENDIDIKAN
Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan warga negaranya. Makin tinggi pendidikan warga negara maka semakin majulah negara tersebut, tingkat pendidikan juga mempengaruhi derajat kesehatan seseorang.
Indikator IPM pendidikan antara lain Angka Melek Huruf (AMH), Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Angka Partisipasi Sekolah (APS).
AMH pada Tahun 2014 sebesar 96,98%, pada tahun 2015 meningkat menjadi 96,99%,(Angka perhitungan Dinas Pendidikan). Tahun 2016 ada penerapan metoda baru yaitu HLS (Harapan Lama Sekolah) menggantikan AMH (Angka Melek Huruf) dengan pencapaian sebesar 12,05%, tahun 2017 meningkat sebesar 12,43% dan kembali meningkat tahun 2018 menjadi 12,44%. Tahun 2019 HLS meningkat menjadi 12,47%.
Sedangkan untuk RLS tahun 2014 sebesar 7,74%, pada tahun berikutnya yaitu tahun 2015 meningkat sebesar 7,75%, di tahun 2016 data RLS yaitu sebesar 7,83%, tahun 2017 dan 2018 kembali meningkat sebesar 7,84% dan 7,88%. Tahun 2019 RLS meningkat menjadi 8,29%.
Salah satu indikator pokok untuk menilai kualitas pendidikan formal adalah pendidikan yang ditamatkan.
Dikarenakan sulit didapatkannya data persentase penduduk umur 10 tahun keatas menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan di Kabupaten Bogor tahun 2018, maka kami masih menggunakan hasil pengolahan data penyusunan
monografi kependudukan Kabupaten Bogor yang disebut Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) tahun 2012 yang bersumber dari Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil tahun 2012. Adapun data tersebut adalah data penduduk yang tidak/belum pernah sekolah 5,38%, yang tidak belum tamat SD sebesar 3,99%, penduduk yang tamat SD sebesar 44,11%, penduduk umur 10 tahun keatas menurut tingkat pendidikan yang menamatkan pendidikan SLTP/SMP sebesar 18,89%, data penduduk yang menamatkan pendidikan SLTA/SMA sebesar 22,05% dari persentase tingkat kelulusan, pendidikan tinggi (Akademi/Diploma) sebesar 4,61% dan persentase penduduk umur 10 tahun keatas menurut tingkat pendidikan yang menamatkan pendidikan sarjana sebesar 0,26%.
Tingkat pendidikan tinggi yaitu sarjana yang ditamatkan persentase nya lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan dasar, hal ini perlu menjadi perhatian agar program PKBM dan keaksaraan fungsional lebih ditingkatkan lagi.
Walaupun demikian bagi program-program dalam bidang pendidikan dan pelatihan keterampilan pada kelompok ini tetap perlu ditingkatkan agar mereka dapat tetap produktif. Selanjutnya secara jelas, tingkat pendidikan selama 2 tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 3.3. sebagai berikut :
TABEL 3.3
PERSENTASE PENDUDUK UMUR 10 TAHUN KEATAS MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN
DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2018-2019 NO TINGKAT PENDIDIKAN DI
TAMATKAN
PERSENTASE PENDUDUK UMUR >10 TAHUN
2018 2019
1 Tidak Memiliki Ijazah SD 4,66 4,16
2 SD/MI 51,51 45,97
3 SMP/MTs 22,06 19,68
4 SMA/MA
25,75 22,98
5 Sekolah Menengah Kejuruan 6 Diploma I / Diploma II
2,21 1,97
7 AKADEMI / Diploma III 8 Sarjana / Diploma IV
3,48 3,11
9 S2/S3 (MASTER/DOKTOR)
tersebut tidak hanya berasal dari sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, melainkan juga dipengaruhi faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan, dan faktor lainnya.
Situasi derajat kesehatan masyarakat dapat tercermin melalui angka harapan hidup, angka morbiditas, mortalitas dan status gizi. Pada bab berikut ini Situasi derajat kesehatan di Kabupaten Bogor digambarkan melalui Angka Harapan Hidup (AHH), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Kasar (AKK), angka morbiditas beberapa penyakit, status gizi balita.
4.1 ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH)
Angka Harapan Hidup (AHH) pada suatu umur x adalah rata-rata tahun hidup yang masih akan dijalani oleh seseorang yang telah berhasil mencapai umur x pada suatu tahun tertentu, dalam situasi mortalitas yang berlaku di lingkungan masyarakatnya. Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya.
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidupnya.
Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.
Meningkatnya Angka Harapan Hidup memberikan gambaran kepada kita bahwa
salah satu penyebabnya adalah karena meningkatnya kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Angka AHH di Kabupaten Bogor selama periode 2014-2018 dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
TABEL. 4.1
ANGKA HARAPAN HIDUP BERDASARKAN PROYEKSI DI KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2015 – 2019
TAHUN ANGKA HARAPAN HIDUP (TH) SUMBER
2015 70,59 BPS
2016 70,65 BPS
2017 70,70 BPS
2018 70,96 BPS
2019 71,01 BPS
70,3 70,4 70,5 70,6 70,7 70,8 70,9 71 71,1
2015 2016 2017 2018 2019
Grafik 4.1
Grafik Angka Harapan Hidup Kabupaten Bogor Tahun 2015 - 2019
AHH
Peningkatan AHH dari tahun ke tahun dapat dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan upaya kesehatan yang telah di lakukan di Kabupaten Bogor, jika dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup Indonesia tahun 2018 sebesar 71,20 (BPS Pusat, 2018) dan AHH Jawa Barat sebesar 72,66 (BPS Pusat, 2018) maka AHH di Kabupaten Bogor untuk tahun 2019 sebesar 71,01 masih dibawah Provinsi Jawa Barat.
salah satu penyebabnya adalah karena meningkatnya kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Angka AHH di Kabupaten Bogor selama periode 2014-2018 dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut :
TABEL. 4.1
ANGKA HARAPAN HIDUP BERDASARKAN PROYEKSI DI KABUPATEN BOGOR
TAHUN 2015 – 2019
TAHUN ANGKA HARAPAN HIDUP (TH) SUMBER
2015 70,59 BPS
2016 70,65 BPS
2017 70,70 BPS
2018 70,96 BPS
2019 71,01 BPS
70,3 70,4 70,5 70,6 70,7 70,8 70,9 71 71,1
2015 2016 2017 2018 2019
Grafik 4.1
Grafik Angka Harapan Hidup Kabupaten Bogor Tahun 2015 - 2019
AHH
Peningkatan AHH dari tahun ke tahun dapat dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan upaya kesehatan yang telah di lakukan di Kabupaten Bogor, jika dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup Indonesia tahun 2018 sebesar 71,20 (BPS Pusat, 2018) dan AHH Jawa Barat sebesar 72,66 (BPS Pusat, 2018) maka AHH di Kabupaten Bogor untuk tahun 2019 sebesar 71,01 masih dibawah Provinsi Jawa Barat.
Meskipun masih di bawah target, diupayakan kegiatan-kegiatan yang merupakan upaya terobosan dibidang kesehatan lainnya yang dapat meningkatkan Angka Harapan Hidup di Kabupaten Bogor masih harus dilaksanakan.