Faktor terbesar yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan. Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses timbulnya gangguan kesehatan baik secara individual maupun masyarakat umum.
Upaya pembinaan kesehatan lingkungan pada prinsipnya dimaksudkan untuk mengurangil dan mengendalikan faktor resiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat dari lingkungan yang kurang sehat. Bentuk upaya yang dilakukan dalam pembinaan kesehatan lingkungan, antara lain melakukan pembinaan kesehatan lingkungan pemukiman pada masyarakat, pengawasan hygiene sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM) dan pengawasan Tempat- Tempat Umum (TTU).
Gambaran beberapa faktor resiko lingkungan yang dapat disajikan di bawah ini antara lain cakupan rumah sehat, cakupan layak sanitasi, cakupan jamban keluarga, cakupan keluarga dengan air bersih dan air minum, Angka bebas jentik dan cakupan Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengolahan Makanan (TPM) serta Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
5.4.1 Cakupan Keluarga Dengan Akses Air Minum Berkualitas (Layak)
Alternatif masyarakat untuk mendapatkan sumber air minum berkualitas (layak) di 101 puskesmas yang ada di Kabupaten Bogor sangat bervariasi.
Masyarakat perkotaan sebagian besar sudah menggunakan jasa PDAM untuk memenuhi kebutuhan sumber air minum. Sedangkan masyarakat di pedesaan relatif lebih bervariasi dari mulai yang menggunakan sumur terlindung, sumur gali, sumur pompa dengan tangan, mata air terlindung, penampungan air hujan sampai yang memanfaatkan badan air seperti danau, sungai untuk memenuhi kebutuhan sumber air minumnya.
Sumber mata air ada yang terlindung ada yang tidak terlindung, sumber air PDAM, sumur gali,sumur pompa relatif lebih terlindung dan memenuhi persyaratan kesehatan. Sedangkan sumber air danau, sungai, mata air relatif tidak terlindung dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Sumber air bersih yang terlindungi adalah sumber air minum keluarga yang bersumber dari sarana air bersih yang telah memenuhi persyaratan baik biologis, kimia, dan fisik (permenkes).
5.4. PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEHAT
Faktor terbesar yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan. Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses timbulnya gangguan kesehatan baik secara individual maupun masyarakat umum.
Upaya pembinaan kesehatan lingkungan pada prinsipnya dimaksudkan untuk mengurangil dan mengendalikan faktor resiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat dari lingkungan yang kurang sehat. Bentuk upaya yang dilakukan dalam pembinaan kesehatan lingkungan, antara lain melakukan pembinaan kesehatan lingkungan pemukiman pada masyarakat, pengawasan hygiene sanitasi Tempat Pengolahan Makanan (TPM) dan pengawasan Tempat- Tempat Umum (TTU).
Gambaran beberapa faktor resiko lingkungan yang dapat disajikan di bawah ini antara lain cakupan rumah sehat, cakupan layak sanitasi, cakupan jamban keluarga, cakupan keluarga dengan air bersih dan air minum, Angka bebas jentik dan cakupan Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengolahan Makanan (TPM) serta Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
5.4.1 Cakupan Keluarga Dengan Akses Air Minum Berkualitas (Layak)
Alternatif masyarakat untuk mendapatkan sumber air minum berkualitas (layak) di 101 puskesmas yang ada di Kabupaten Bogor sangat bervariasi.
Masyarakat perkotaan sebagian besar sudah menggunakan jasa PDAM untuk memenuhi kebutuhan sumber air minum. Sedangkan masyarakat di pedesaan relatif lebih bervariasi dari mulai yang menggunakan sumur terlindung, sumur gali, sumur pompa dengan tangan, mata air terlindung, penampungan air hujan sampai yang memanfaatkan badan air seperti danau, sungai untuk memenuhi kebutuhan sumber air minumnya.
Sumber mata air ada yang terlindung ada yang tidak terlindung, sumber air PDAM, sumur gali,sumur pompa relatif lebih terlindung dan memenuhi persyaratan kesehatan. Sedangkan sumber air danau, sungai, mata air relatif tidak terlindung dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Sumber air bersih yang terlindungi adalah sumber air minum keluarga yang bersumber dari sarana air bersih yang telah memenuhi persyaratan baik biologis, kimia, dan fisik (permenkes).
Kabupaten Bogor terdapat 1.369.094 sarana air minum, yang di lakukan inspeksi kesehatan lingkungan sebanyak 1.233.397 sarana (90,09%), dari hasil inspeksi kesehatan lingkungan didapat jumlah sarana air minum dengan reiko rendah dan sedang sebanyak 259.495 (21,04%). Selain dilakukan inspeksi kesehatan lingkungan, dilakukan juga pemeriksaan sampel air minum, dari 927.180 sampel air bersih yang diperiksa diketahui jumlah sarana air bersih yang memenuhi syarat sebanyak 917.176 sarana (98,92%), dimana 2 puskesmas dari 101 puskesmas memiliki cakupan lebih rendah dari cakupan Kabupaten untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran tabel 72 profil kesehatan.
5.4.2 Cakupan Layak Sanitasi (Jamban Sehat)
Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan berdampak negatif di banyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemar nya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan muncul nya penyakit. Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar sembarangan diantaranya adalah anggapan membangun jamban keluarga itu mahal, lebih enak buang air besar di sungai, tinja dapat digunakan sebagai pakan ikan, dan lain-lain. Perilaku ini harus diubah karena dapat meningkatkan resiko terkena penyakit menular.
Berdasarkan pencatatan dan pelaporan puskesmas di Kabupaten Bogor, terdapat 3 macam jamban yaitu sharing/komunal sebanyak 4.494.469 buah, jamban sehat semi permanen sebanyak 581.509 buah dan jamban sehat permanen sebanyak 3.911.982 buah. Jumlah KK 5.966.404 yang mengakses sharing/komunal sebanyak 386.620 kk, yang mengakses jamban sehat semi permanen sebanyak 282.378 kk dan yang mengakses jamban sehat permanen sebanyak 3.128.744. Jadi tahun 2019 cakupan keluarga dengan akses terhadap fasilitas layak sanitasi (jamban sehat) di Kabupaten Bogor adalah sebesar 3.797.742 jiwa (63,65%).
Puskesmas di Kabupaten Bogor yang mempunyai cakupan layak sanitasi tertinggi tahun 2019 adalah puskesmas Puraseda dan Cijujung (98%). Sedangkan puskesmas terendah cakupan layak sanitasi nya adalah puskesmas Gandoang (24,89%).
5.4.3 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. STBM menekankan kepada 5 (lima) pilar perubahan perilaku higienis, yaitu:
1. Stop buang air besar sembarangan (Stop BABS), 2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS),
3. Pengelolaan Air Minum di Rumah Tangga (PAM RT), 4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga,
5. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.
Program STBM memiliki indikator outcome dan output. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Sedangkan indikator output STBM adalah sebagai berikut :
a. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).
b. Setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.
c. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.
d. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
e. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.
Desa di Kabupaten Bogor sebanyak 435 desa, telah menerapkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan 56 desa (12,87%) adalah desa stop BAB (BABS) yaitu suatu pendekatan dalam perubahan perilaku higiene dan sanitasi secara kolektif melalui pemberdayaan masyarakat dengan metoda pemicuan untuk mencapai status Stop BABS.
5.4.3 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. STBM menekankan kepada 5 (lima) pilar perubahan perilaku higienis, yaitu:
1. Stop buang air besar sembarangan (Stop BABS), 2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS),
3. Pengelolaan Air Minum di Rumah Tangga (PAM RT), 4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga,
5. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.
Program STBM memiliki indikator outcome dan output. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Sedangkan indikator output STBM adalah sebagai berikut :
a. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).
b. Setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.
c. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.
d. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
e. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.
Desa di Kabupaten Bogor sebanyak 435 desa, telah menerapkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan 56 desa (12,87%) adalah desa stop BAB (BABS) yaitu suatu pendekatan dalam perubahan perilaku higiene dan sanitasi secara kolektif melalui pemberdayaan masyarakat dengan metoda pemicuan untuk mencapai status Stop BABS.
5.4.4. Cakupan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengolahan Makanan Dalam upaya mengurangi resiko Tempat-Tempat Umum (TTU) menjadi tempat penularan / sumber penyakit, maka dilakukan pemantauan terhadap sarana TTU tersebut. Beberapa TTU yang rutin dilakukan pemantauan di Wilayah Kabupaten Bogor antara lain sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sarana umum.
Berdasarkan pencatatan dan pelaporan puskesmas di Kabupaten Bogor Tahun 2019, tercatat ada 9.437 buah Tempat-Tempat Umum (TTU) yang terdiri dari sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sarana umum, dimana sebanyak 3.475 buah (36,82%) diantaranya sudah dinyatakan memenuhi sarana kesehatan.
Hal itu berarti masih terdapat 5.962 buah (63,18%) TTU yang belum memenuhi syarat kesehatan. Cakupan TTU yang tertinggi untuk puskesmas Ciapus (83,02%) dan Kecamatan yang terendah cakupan TTU nya adalah puskesmas Pamijahan (3,72%).
Untuk cakupan Tempat Pengolahan Makanan (TPM) DI Kabupaten Bogor Tahun 2019 yang terdiri dari jasa boga, rumah makan/restoran, Depot Air Minum (DAM) dan makanan jajanan tercatat sebanyak 11.601 buah, dimana sebanyak 6.668 buah (57,48%) TPM sudah memenuhi syarat kesehatan. Hal itu berarti bahwa masih terdapat 4.933 buah (42,52%) TPM yang belum memenuhi syarat kesehatan dan perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan.
.