5.3. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
5.3.1 Status Gizi
Selain Indikator tersebut diatas untuk menggambarkan tingkat efisiensi pelayanan rumah sakit secara keseluruhan bisa digunakan metode pendekatan Barber Johnson. Metode Barber Johnson membuat komposit dari empat indikator pelayanan rawat inap rumah sakit yang dipakai untuk mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu dan efisiensi pelayanan rawat inap yakni BTO (Bed Turn Over), TOI (Turn Over Interval) dan AVLOS (Average Length Of Style). Angka kombinasi yang dapat dipakai untuk dapat dikatakan penggunaan tempat tidur sudah efisien apabila BTO: 40-50 kali, TOI: 1-3 hari dan LOS: 3-9 hari.
Efisiensi penggunaan tempat tidur di Rumah Sakit di Kabupaten Bogor tahun 2019 yang mendekati ideal, jika dilihat dari 3 indikator tersebut adalah RSU Pemerintahan (Pemda). Efisiensi penggunaan tempat tidur yang mendekati ideal dapat dilihat pada grafik 5.20 sebagai berikut :
0 10 20 30 40 50 60 70
BTO TOI LOS
55,94
2,18 3,96
PERSENTASE
GRAFIK 5.20
EFISIENSI PENGGUNAAN TEMPAT TIDUR DI RUMAH SAKIT DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019
RSU PEMERINTAHAN (PEMDA)
Grafik di diatas menggambarkan bahwa sudah ada Rumah Sakit Umum di Kabupaten Bogor sudah mempunyai angka kombinasi penggunaan tempat tidur yang sudah bisa dikatakan efisien. Berdasarkan data-data diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan tempat tidur di rumah sakit Kabupaten Bogor optimal.
dan merupakan puskesmas yang termasuk dalam kategori rawan gizi. Dua puskesmas masuk dalam peta oranye yaitu puskesmas (1) Cijujung dan (2) sukaresmi dengan prevalensi KEP diatas 15%. Dan dari 40 kecamatan, sebanyak 38 kecamatan (95%) di Kabupaten Bogor termasuk dalam kategori bebas rawan gizi dan terdapat 2 kecamatan termasuk dalam kecamatan rawan gizi yaitu (1) Klapanunggal, dan (2) Cibungbulang.
Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama (singkat). Misalnya: terjadi wabah penyakit dan kekurangan makan (kelaparan) yang mengakibatkan anak menjadi kurus. Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk identifikasi kurus dan gemuk. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah keadaan sangat kurus yaitu anak dengan nilai Zscore <-3,0 SD. Prevalensi kurus di Kabupaten Bogor sebesar 3,56% lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi Jawa Barat sebesar 8.49% dan prevalensi nasional sebesar 10,2% berdasarkan data Riskesdas Tahun 2018. Ambang batas prevalensi kurus dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat apabila prevalensinya mencapai >5%, dan dianggap masalah kesehatan serius bila prevalensi kurus antara 10,0-14,0 persen, dan dianggap prevalensi sangat tinggi bila ≥15,0 persen (WHO, 2010).
Meskipun prevalensi kurus di Kabupaten Bogor tergolong masih rendah, belum dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat namun terjadi peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 prevalensi kurus sebesar 2,99% sedangkan prevalensi tahun 2019 menjadi 3.56% meningkat sebesar 0.57%. Peningkatan prevalensi ini dimungkinkan karena adanya indikasi masalah gizi yang sifatnya akut seperti peningkatan kasus penyakit infeksi, diantaranya diare, ISPA, dan TBC di masyarakat, dan atau akses balita terhadap makanan yang bergizi masih rendah yang mengakibatkan anak menjadi kurus.
Balita yang sangat kurus harus ditangani sesuai dengan tatalaksana gizi buruk yang dikeluarkan oleh Kemenkes, dan apabila balita tersebut disertai dengan penyakit penyerta maka harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi seperti rumah sakit. Dari 40 kecamatan, terdapat 10 kecamatan (0.25%) dengan prevalensi balita kurus diatas 5%, yaitu kecamatan (1) Klapanunggal, (2) Cibungbulang), (3) Parung, (4) Ciawi, (5) Parung Panjang, (6) Pamijahan, (7) Cileungsi, (8) Rancabungur, (9) Babakan Madang, dan (10) Tenjolaya. Dua kecamatan diantaranya memiliki prevalensi balita kurus diatas 10% yaitu
dan merupakan puskesmas yang termasuk dalam kategori rawan gizi. Dua puskesmas masuk dalam peta oranye yaitu puskesmas (1) Cijujung dan (2) sukaresmi dengan prevalensi KEP diatas 15%. Dan dari 40 kecamatan, sebanyak 38 kecamatan (95%) di Kabupaten Bogor termasuk dalam kategori bebas rawan gizi dan terdapat 2 kecamatan termasuk dalam kecamatan rawan gizi yaitu (1) Klapanunggal, dan (2) Cibungbulang.
Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari peristiwa yang terjadi dalam waktu yang tidak lama (singkat). Misalnya: terjadi wabah penyakit dan kekurangan makan (kelaparan) yang mengakibatkan anak menjadi kurus. Indikator BB/TB dan IMT/U dapat digunakan untuk identifikasi kurus dan gemuk. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah keadaan sangat kurus yaitu anak dengan nilai Zscore <-3,0 SD. Prevalensi kurus di Kabupaten Bogor sebesar 3,56% lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi Jawa Barat sebesar 8.49% dan prevalensi nasional sebesar 10,2% berdasarkan data Riskesdas Tahun 2018. Ambang batas prevalensi kurus dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat apabila prevalensinya mencapai >5%, dan dianggap masalah kesehatan serius bila prevalensi kurus antara 10,0-14,0 persen, dan dianggap prevalensi sangat tinggi bila ≥15,0 persen (WHO, 2010).
Meskipun prevalensi kurus di Kabupaten Bogor tergolong masih rendah, belum dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat namun terjadi peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 prevalensi kurus sebesar 2,99% sedangkan prevalensi tahun 2019 menjadi 3.56% meningkat sebesar 0.57%. Peningkatan prevalensi ini dimungkinkan karena adanya indikasi masalah gizi yang sifatnya akut seperti peningkatan kasus penyakit infeksi, diantaranya diare, ISPA, dan TBC di masyarakat, dan atau akses balita terhadap makanan yang bergizi masih rendah yang mengakibatkan anak menjadi kurus.
Balita yang sangat kurus harus ditangani sesuai dengan tatalaksana gizi buruk yang dikeluarkan oleh Kemenkes, dan apabila balita tersebut disertai dengan penyakit penyerta maka harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi seperti rumah sakit. Dari 40 kecamatan, terdapat 10 kecamatan (0.25%) dengan prevalensi balita kurus diatas 5%, yaitu kecamatan (1) Klapanunggal, (2) Cibungbulang), (3) Parung, (4) Ciawi, (5) Parung Panjang, (6) Pamijahan, (7) Cileungsi, (8) Rancabungur, (9) Babakan Madang, dan (10) Tenjolaya. Dua kecamatan diantaranya memiliki prevalensi balita kurus diatas 10% yaitu
kecamatan (1) Klapanunggal dengan prevalensi balita kurus sebesar 14.50%, dan (2) Cibungbulang dengan prevalensi balita kurus sebesar 11.01%. Indikator status gizi berdasarkan indeks TB/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama. Misalnya: kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan pola asuh/pemberian makan yang kurang baik dari sejak anak dilahirkan yang mengakibatkan anak menjadi pendek. Prevalensi stunting (pendek) tahun 2019 di Kabupaten Bogor sebesar 19.08%. Pendek dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi disuatu wilayah mencapai > 20%. Dianggap berat bila prevalensi pendek sebesar 30 – 39 persen dan serius bila prevalensi pendek ≥40 persen (WHO 2010).
Status gizi Balita umur 0-59 bulan diperoleh dari hasil bulan penimbangan balita di posyandu, yang setiap tahun nya dilaksanakan pada bulan Februari & Agustus.
Kriteria status gizi balita menurut BB/U yaitu status gizi kurang, TB/U yaitu status balita pendek dan BB/TB yaitu status balita kurus, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.5:
TABEL. 5.5
JUMLAH BALITA DENGAN KONDISI STATUS GIZI KURANG BALITA PENDEK DAN BALITA KURUS
DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019
Jml Balita
Tahun Th. 2019 Sasaran
Balita Diukur Status
Balita %
Gizi kurang (BB/U) 454.433 20.999 4,62
Pendek (TB/U) 454.433 86.706 19,08
Kurus 454.433 16.179 3,56
Sumber data : Hasil Bulan Penimbangan Balita tahun 2019
Gizi buruk (kurang gizi tingkat berat) dengan tanda klinis perlu segera ditindak lanjuti dengan dirujuk ke puskesmas, center klinik gizi atau ke rumah sakit. Intervensi yang telah dilakukan antara lain dengan pengobatan penyakit penyerta, pemberian PMT Pemulihan, PMT Penyuluhan dan penyuluhan gizi masyarakat.
Persentase kecenderungan balita dengan status gizi kurang (BB/U), Balita Pendek (TB/U) dan Balita Kurus (BB/TB) berdasarkan hasil Bulan Penimbangan Balita bulan Agustus di Kabupaten Bogor pada Tahun 2019 dapat dilhat pada grafik 5.21
4,62
19,08
3,56 3
8 13 18
BB/U TB/U BB/TB
PERSENTASE
TAHUN
GRAFIK 5.21
CAKUPAN STATUS GIZI BALITA KURANG (BB/U), BALITA PENDEK (TB/U) DAN BALITA KURUS (BB/TB) DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019
5.3.1.2 Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR<2500 gram) Menurut data WHO, prevalensi BBLR diperkirakan sekitar 15-20% dari seluruh kelahiran di dunia, sebanyak lebih dari 20 juta bayi mengalami BBLR.
Hampir 95% kasus bayi dengan BBLR terjadi di negara dengan pendapatan rendah hingga menengah atau negara berkembang, dan 6%-nya terdapat di Asia Timur dan Pasifik, 13% di Afrika Sub-Sahara, dan 28% di Asia Selatan.
Indonesia menduduki peringkat ke-6 dari 7 negara di Asia Tenggara dengan prevalensi BBLR tertinggi yakni sebesar 7%. Sedangkan menurut data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi BBLR di Indonesia sebesar 10,2%, dengan angka tertinggi yakni di Sulawesi Tengah sebesar 16,9%.
Pada tahun 2019 di Kabupaten Bogor menurut laporan puskesmas diperoleh angka BBLR laki-laki dan perempuan sebanyak 1.633 bayi atau sebesar 1,38% dari jumlah bayi lahir sebesar 116.630 bayi. Dari laporan tersebut 100%
BBLR telah ditangani oleh tenaga kesehatan
Posyandu sebagai ujung tombak kegiatan pemantauan pertumbuhan balita di masyarakat memegang peranan yang penting dalam sistem kewaspadaan dini gizi (SKD-KLB) melalui data SKDN , balita BGM dan 2T serta perilaku keluarga mandiri sadar gizi (kadarzi).
Tingkat partisipasi masyarakat dalam pemantauan pertumbuhan balita melalui kegiatan posyandu dapat terlihat dari data cakupan D/S, sedangkan untuk keberhasilan program dapat dipantau dari capaian N/D. Target cakupan
4,62
19,08
3,56 3
8 13 18
BB/U TB/U BB/TB
PERSENTASE
TAHUN
GRAFIK 5.21
CAKUPAN STATUS GIZI BALITA KURANG (BB/U), BALITA PENDEK (TB/U) DAN BALITA KURUS (BB/TB) DI KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019
5.3.1.2 Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR<2500 gram) Menurut data WHO, prevalensi BBLR diperkirakan sekitar 15-20% dari seluruh kelahiran di dunia, sebanyak lebih dari 20 juta bayi mengalami BBLR.
Hampir 95% kasus bayi dengan BBLR terjadi di negara dengan pendapatan rendah hingga menengah atau negara berkembang, dan 6%-nya terdapat di Asia Timur dan Pasifik, 13% di Afrika Sub-Sahara, dan 28% di Asia Selatan.
Indonesia menduduki peringkat ke-6 dari 7 negara di Asia Tenggara dengan prevalensi BBLR tertinggi yakni sebesar 7%. Sedangkan menurut data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi BBLR di Indonesia sebesar 10,2%, dengan angka tertinggi yakni di Sulawesi Tengah sebesar 16,9%.
Pada tahun 2019 di Kabupaten Bogor menurut laporan puskesmas diperoleh angka BBLR laki-laki dan perempuan sebanyak 1.633 bayi atau sebesar 1,38% dari jumlah bayi lahir sebesar 116.630 bayi. Dari laporan tersebut 100%
BBLR telah ditangani oleh tenaga kesehatan
Posyandu sebagai ujung tombak kegiatan pemantauan pertumbuhan balita di masyarakat memegang peranan yang penting dalam sistem kewaspadaan dini gizi (SKD-KLB) melalui data SKDN , balita BGM dan 2T serta perilaku keluarga mandiri sadar gizi (kadarzi).
Tingkat partisipasi masyarakat dalam pemantauan pertumbuhan balita melalui kegiatan posyandu dapat terlihat dari data cakupan D/S, sedangkan untuk keberhasilan program dapat dipantau dari capaian N/D. Target cakupan
N/D dan D/S yang diharapkan adalah 85%, sementara cakupan yang dicapai tahun 2019 untuk N/D adalah 79,70% menurun jika dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 87,90%, namun masih dibawah dari target.
Cakupan Balita BGM di Kabupaten Bogor selama periode lima tahun terakhir yaitu tahun 2015 - 2019 dapat dilihat pada grafik 5.22
Berdasarkan grafik 5.22 terlihat bahwa cakupan balita BGM dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 cenderung berfluktuasi. Temuan kasus BGM merupakan salah satu Sistem Kewaspadaan Dini Gizi (SKD-Gizi), yang perlu dilakukan dalam mencegah terjadinya kasus balita kurang gizi. Faktor penyebab langsung balita BGM antara lain asupan makanan yang kurang, penyakit/infeksi, sosial ekonomi dan pendidikan orang tua rendah, serta pola asuh yang salah.
Balita BGM jika tidak dipantau kondisinya dapat berakibat akan jatuh ke status gizi buruk yaitu keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi protein dalam makanan sehari-hari dalam jangka waktu yang lama sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi. Indikator Antropometri yang digunakan adalah berat badan menurut umur dan berat badan menurut tinggi badan atau panjang badan. Dalam penentuan status gizi menggunakan baku Antropometri WHO 2005.