KNOWLEDGE SHARING, CREATIVITY AND INNOVATION DALAM BELAJAR
D. CREATIVITY
Expected Creativit y
Proactiv eCreativi ty
Responsiv eCreativit y
Contibutor yCreativit y
Dimensi
Caroline Unsworth (dalam Septiana, 2020) membedakan kreativitas dengan dua dimensi, diantaranya:
a. Berasal dari pergerakan keterlibatan (driver of engagement), pergerakan keterlibatan kreativitas terdiri dari unsur eksternal dan internal.
1. Eksternal, yaitu ketika kreativitas digerakan bukan oleh diri sendiri, tetapi adanya tuntutan dari faktor luar untuk menjadi kreatif dan menghasilkan ide-ide baru.
2. Internal, yaitu ketika individu secara suka rela menghasilkan ide-ide baru, meskipun itu bukan bagian dari pekerjaannya.
Kreativitas tersebut murni berasal dari motivasi intrinsik yang berada pada dirinya.
b. Tipe masalahnya. Tipe masalah digolongkan menjadi dua, yaitu:
1. Tertutup, yaitu ketika masalah tersebut memang sudah ditentukan. Misalnya, ketika bos memberi tahu kita bahwa terdapat masalah, sehingga kita diminta untuk mengusulkan atau mencari beberapa ide untuk memecahkan masalah tersebut.
2. Terbuka, yaitu ketika seseorang menemukan
masalah sendiri dan mengembangkan ide bagaimana menyelesaikan masalah tersebut.
3.
Open
Internal External
Closed
Dimensi digambarkan ke dalam bentuk matrik (Septiana, 2020), kemudian dihasilkan empat tipe kreativitas, yaitu:
1. Kreativitas yang diharapkan (expected creativity) adalah situasi kreatif memang merupakan bagian dari pekerjaan seseorang.
2. Kreativitas proaktif (proactive creativity) adalah situasi di mana individu secara sukarela memberikan sebuah ide dalam menyelesaikan masalah yang mereka temukan sendiri.
3. Kreativitas responsive (responsive creativity) adalah situasi di mana individu harus memberikan ide-ide kreatif untuk menyelesaikan masalah dalam pekerjaannya.
4. Kreativitas kontribusi (contributory creativity), adalah situasi di mana individu secara sukarela menghasilkan ide-ide untuk masalah yang telah dirumuskan dengan jelas.
Alat Ukur
Untuk mengukur kreativitas dapat menggunakan alat ukur yang disebut Torrance Test of Creative Thinking (TTCT). Torrance sendiri diambil dari nama seorang pemimpin intelektual dalam riset kreativitas dan terkenal dalam pengembangan TTCT.
Bentuk Tes TTCT terdapat dua versi, yaitu TTCT verbal dan TTCT figural. TTCT verbal memiliki dua form parallel, yaitu A dan B yang terdiri dari lima subtes, diantaranya: 1) Bertanya dan menebak. 2) Peningkatan produk. 3) Penggunaan yang tidak biasa. 4) Pertanyaan yang tidak biasa. 5) Menebak. Masing-masing tugas mencakup gambar, di mana nantinya taste akan memberikan respons dalam bentuk jawaban tertulis.
Sedangkan TTCT figural memiliki dua form paraller A dan B yang terdiri dari tiga subtes, diantarnya: 1) Konstruksi gambar. 2) Melengkapi gambar.
3) Bantuk berulang dari garis atau lingkaran.
Tujuan dari TTCT adalah untuk memahami dan menumbuhkan kualitas yang membantu individu dalam mengekspresikan kreativitasnya (Torrance, 1974, dalam Almedia 2008).
Kedua bentuk tersebut berorientasi untuk menilai empat proses kognitif utama kreativitas dalam Torrance Test of Creative Thinking adalah (a) kelancaran (dihitung jumlah tanggapan yang relevan); (b) fleksibilitas, sebagaimana dimaksud dalam berbagai kategori atau
pergeseran tanggapan (dihitung reaksiyang mempunyai kategori berbeda;
(c) orisinalitas memerlukan pertimbangan tanggapan baru, tidak akrab dan tidak biasa, tetapi relevan (reaksi yang secara statistik berbeda); (d) elaborasi sebagaimana dimaksud dengan jumlah rincian yang digunakan untuk memperluas tanggapan (banyak reaksi).
1.2. Gambar Contoh Alat ukur TTCT figural
Faktor yang Memengaruhi Creativity
Hurlock (1997) menyatakan bahwa ada banyak faktor yang bisa berpengaruh terhadap kreativitas, seperti: jenis kelamin, besarnya keluarga, status sosial ekonomi, lingkungan kota versus lingkungan pedesaan, urutan kelahiran, dan inteligensi.
a. Jenis Kelamin. Beberapa penelitian menunjukan anak laki-laki mempunyai kreativitas yang lebih tinggi daripada anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam perlakuan antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Anak laki-laki biasanya lebih diberi kesempatan
untuk mandiri, lebih berani mengambil risiko, sedangkan anak perempuan cenderung diberi perlakuan untuk lebih patuh kepada perintah orang tua, kurang diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat dan cenderung dimanja.
b. Status Sosial – Ekonomi. Anak dari keluarga dengan sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih kreatif dari pada anak-anak dari keluarga dengan sosial ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan karena orang tua dengan sosial ekonomi yang tinggi sebagian besar mendidik anak dengan cara demokratis, sedangkan keluarga dengan social ekonomi rendah cenderung menggunakan sistem otoriter.
c. Urutan Kelahiran. Urutan kelahiran juga memengaruhi tingkat kreativitas. Anak pertama biasanya lebih ditekankan untuk menyesuaikan dengan harapan orang tua, dibanding dari anak yang lahir kemudian (anak nomor dua, tiga, dst) yang lebih diberi kebebasan untuk berkreasi.
d. Ukuran Keluarga. Anak yang tumbuh dalam keluarga kecil, cenderung lebih kreatif daripada anak dari keluarga besar. Pada keluarga besar cara mendidik anak yang otoriter, dan kondisi sosial ekonomi yang kurang menguntungkan dapat menghalangi perkembangan kreativitas.
e. Lingkungan Kota Versus Lingkungan Pedesaan. Anak dari lingkungan kota cenderung lebih kreatif dari anak lingkungan pedesaan. Anak desa cenderung dididik secara otoriter dan kurang merangsang kreativitas. Sedangkan anak kota cenderung dididik secara demokratis serta lebih diberi kebebasan untuk berkreasi.
f. Inteligensi. Anak dengan IQ di atas rata-rata atau pandai, menunjukkan kreativitas yang lebih besar daripada anak yang kurang pandai. Anak yang pandai lebih banyak mengeluarkan gagasan baru untuk menangani suasana konflik sosial dan mampu merumuskan lebih banyak penyelesaian konflik tersebut. Akan tetapi, selain itu kreativitas juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang mendukung atau tidak, serta factor dari dalam diri seseorang sering mengganggu perkembangan kreativitas.
Dampak
Pemikiran kreatif seseorang atau kelompok akan membawa sebuah penemuan yang merupakan sesuatu yang baru, baik itu berupa produk atau proses. Individu yang kratif tidak akan takut kehilangan peluang. Hal ini dikarenakan mereka dapat menciptakan peluang sendridan menyelesaikan masalah dengan daya kreatifnya. Dalam bidang bisnis, ekonomi kreatif berpengaruh besar dalam kesuskesan bisnis. Semakin banyak kreativitas yang dilakukan dalam bisnis, akan menciptakan produk-produk atau layanan baru yang memungkinkan membutuhkan banyak tenaga ahli baru juga. Produk-produk baru juga nantinya akan menjadi kekuatan dalam persaingan bisns. Pada masyarakat, terciptanyan produk-produk atau layanan baru akan membuat masyarakat semakin mudah dalam memenuhi kebutuhan.