DAMPAK KEBIJAKAN PEMBERDAYAAN PADA PENINGKATAN
1. PENDAHULUAN
Artikel ini bertolak dari hasil penelitian tentang efektivitas penerapan program BLM-PUMP bagi nelayan di sepanjang pesisir Kota Padang. Nelayan di Kota Padang didominasi oleh etnik Minangkabau, disusul oleh etnik Nias.
Nelayan identik dengan keterbatasan aset, lemahnya kemampuan modal dan posisi tawar, serta kesulitan akses pasar (Siswanto, 2008:85). Program BLM- PUMP adalah salah satu bentuk kebijakan publik yang dibuat pemerintah untuk memberdayakan nelayan tradisional.
Proses kebijakan sebagai suatu sistem, meliputi: input, proses, dan output. Input kebijakan merupakan isu kebijakan atau agenda pemerintah, sedangkan proses kebijakan berwujud perumusan formulasi kebijakan dan pelaksanaan kebijakan. Isu dan formulasi kebijakan dapat dipahami sebagai proses politik yang dilakukan elit politik dan/atau kelompok-kelompok penekan. Output dari proses kebijakan adalah kinerja kebijakan (Wahyudi, 2016).
Kebijakan dibuat sekali untuk rentang waktu tertentu sebagai sebuah solusi atas permasalahan yang ada dan kepentingannya melayani (Godin, Rein &
Moran, 2006). Keberhasilan pelaksanaan kebijakan publik dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan sebagai hasil evaluasi atas pelaksanaan suatu kebijakan (Rohman, 2016:3).
Kebijakan terhadap nelayan harus berorientasi pada aset yang memungkinkan nelayan berdaya dalam aktivitas ekonomi, ketimbang sekedar mengurangi kesulitan hidup nelayan. Kebijakan yang memungkinkan pemecahan permasalahan aset nelayan akan berdampak tidak hanya pada produktivitas nelayan, tetapi juga sejalan dengan penguatan bargaining power melalui kepemilikan aset.
Sebagai sebuah kebijakan, BLM-PUMP dalam mengurangi kemiskinan berorientasi pada aset nelayan. Dalam desain program BLM-PUMP, bantuan modal usaha produktif berupa infrastruktur alat tangkap
senilai Rp.100.000.000 diberikan kepada nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB). Bentuk bantuan berupa perahu, mesin tempel 15 PK dan 40 PK, jaring, tali, alat pemberat, benang, lampu, baju pelampung dan biaya perbaikan perahu dan mesin tempel.
Bantuan tersebut ditujukan sebagai insentif bagi nelayan untuk berorganisasi. Itu sebabnya sasaran program berupa kelompok, bukan berupa perorangan.
Kebijakan BLM-PUMP yang
memungkinkan tumbuhnya aset produktif sebagai insentif bagi tumbuh dan berkembangnya aktivitas ekonomi nelayan dapat dilihat dalam mekanisme penyusunan Rencana Usaha Bersama (RUB) oleh para nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB).
Di dalam kelompok tersebut nelayan pada awalnya menyusun rencana usaha sesuai kapasitas dan kebutuhan usaha masing- masing. Setelah mendapatkan bantuan pemerintah sesuai rencana yang mereka usulkan maka kegiatan secara berkelompok masih dilanjutkan dengan mengumpulkan iuran sesuai jumlah dan waktu yang disepakati. Iuran dimaksud akan digulirkan untuk tambahan modal usaha mereka di masa mendatang, maupun untuk biaya perbaikan alat-alat tangkap sebagai modal usaha (Eriyanti, 2017:2).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan deskriptf.
Lokasi penelitian di Kecamatan Padang Barat yang mayoritas terdiri dari etnik Minangkabau dan Kecamatan Padang Selatan sebagai lokasi geografis etnik Nias.
Subjek penelitian terdiri dari nelayan tradisional etnik Minangkabau dan etnik Nias yang sudah menerima program BLM- PUMP, masing-masing etnik sebanyak 10 orang. Data diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi. Data yang diperoleh disusun melalui beberapa langkah, yaitu editing,coding, tabulasi, dan
disusun ke dalam bentuk tabel lalu dianalisis secara deskriptif kualitatif.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa jumlah tangkapan nelayan sesudah program BLM-PUMP mengalami peningkatan, seperti yang terlihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1
Pendapatan Nelayan Sebelum dan Sesudah Menerima Program BLM-
PUMP
Pendapatan Nelayan Ken a- ikan
(%) Sebelu
m Meneri
ma Progra
m BLM- PUMP
Perse ntase
(%)
Sesudah Menerim
a Program
BLM- PUMP
Perse ntase
(%)
< Rp 2.
000.000,- /bulan
53,2 < Rp 2.
000.000,- /bulan
8,5 44,7
Rp.
2.000.001 s/d
Rp 3.
000.000,- /bulan
29,5 Rp.
2.000.001 s/d
Rp 3.
000.000,- /bulan
41,1 11,6
Rp.
3.000.001 – s/d
Rp 4.
000.000,- /bulan
15,2 Rp.
3.000.001 – s/d
Rp 4.
000.000,- /bulan
43,2 28,0
> Rp.
4.000.000 ,-/bulan
2,1 > Rp.
4.000.000,- /bulan
7,2 5,1 Rata-rata kenaikan pendapatan/bulan 22,3 5 Sumber: Diolah dari data primer, 2017.
Berdasarkan Tabel 1 terlihat terdapat kenaikan pendapatan nelayan sesudah menerima program BLM-PUMP sebesar 22,35%. Sebelum menerima program BLM-PUMP mayoritas nelayan yaitu 53,2% berpendapatan kurang dari Rp.
2.000.000,- per bulan. Sesudah menerima program BLM-PUMP sudah banyak nelayan, yaitu sebesar 43,2% meningkat pendapatannya antara Rp. 3.000.000,- sampai Rp. 4.000.000,- per bulan.
Meskipun masih tergolong rendah (yaitu 22,37%), namun pelaksanaan program BLM-PUMP sudah dirasakan dampaknya oleh nelayan, yang dapat diukur dari kemampuan nelayan untuk memberi nilai tambah pada hasil tangkapan yang diperoleh.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Maengkom, dkk (2015) yang menunjukkan bahwa program BLM- PUMP di Kelurahan Tidore efektif meningkatkan pendapatan nelayan sebesar 76,47% melalui bantuan pembuatan bagan/rumpon, pengadaan alat tangkap, mesin, perahu, perbaikan dan kelengkapan dalam kegiatan penangkapan ikan, biaya operasional, sewa, dan konsumsi. Hasil penelitian lainnya, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Sipahelut (2010) tentang kebijakan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah terhadap nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara, bahkan dapat meningkatkan pendapatan nelayan sebesar 100 hingga 288%.
Sedangkan kebijakan pemberdayaan nelayan etnik Minangkabau dan Nias di Kota Padang terbukti dapat meningkatkan pendapatan nelayan, namun peningkatan pendapatan nelayan itu hanya sekitar 22,37%. Rendahnya peningkatan pendapatan nelayan etnik Minangkabau dan Nias di Kota Padang dibandingkan dengan kedua hasil penelitian Maengkom, dkk (2015) dan Sipahelut (2010) di atas, disebabkan oleh beberapa faktor sebagaimana dikemukakan berikut ini.
a. Tingkat pendidikan nelayan
Pada umumnya tingkat pendidikan nelayan relatif rendah. Pendidikan nelayan etnik Minangkabau 20%
berpendidikan SD, 60% tamat/tidak tamat SLTP, dan 20% tamat/tidak tamat SLTA. Adapun tingkat
pendidikan nelayan etnik Nias leih rendah lagi, yaitu 70% tamat/tidak tamat SD, 20% tamat/tidak tamat SLTP, dan 10% tamat/tidak tamat SLTA. Bagi nelayan etnik Nias pekerjaan menangkap ikan merupakan pekerjaan turun temurun yang tidak memerlukan status pendidikan tinggi, berlatih dan belajar dari kebiasaan orangtua dianggap sudah cukup untuk melaut. Seorang nelayan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih tanggap dalam menata usaha tangkapannya, yang dampaknya akan terlihat pada tingkat pendapatan yang diterimanya. Dengan tingkat pendidikan yang rendah, terbatas pula kemampuan nelayan dalam meningkatkan kreativitas. Hal ini pula yang menyebabkan mengapa seseorang akan melakukan pekerjaan seadanya meskipun hasilnya tidak begitu tinggi dan penuh resiko.
b. In group feeling dan sifat exsessive individualism
Di kalangan nelayan etnik Nias terdapat in group feeling yang sangat kuat. Dalam melakukan pekerjaan sebagai nelayan, mereka cenderung bekerjasama dengan nelayan sesama etnik. Bahkan, etnik Nias cenderung melibatkan keluarga sendiri dalam membantu dan mewariskan kemahiran menangkap ikan. Nelayan etnik Nias berpandangan yang penting mereka memiliki kemahiran sebagaimana disinyalir oleh Acheson (1981:276) yaitu pengetahuan tentang lokasi penangkapan ikan, pengetahuan tentang laut seperti kedalaman dan lokasi terumbu karang, pengetahuan tentang spesies ikan yang hendak ditangkap, dan pengetahuan tentang gerak gerik nelayan lain. Sementara, di kalangan nelayan etnik Minangkabau terdapat sifat exsessive individualism.
Beberapa ahli menggambarkan seorang Minangkabau adalah seorang individualis, bahkan kadang-kadang
super individualis (excessive individualism). Sebagai seorang individualis, dia tidak mau bersekutu dengan orang lain, maunya bergerak sendiri-sendiri. Mereka sulit untuk dipersatukan, susah diatur, merasa lebih super dari orang lain (Amir, 2010; Amir, 1997; Navis, 1984;
Saanin, 1980). Sifat excessive individualism yang melekat pada nelayan etnik Minangkabau menyebabkan mereka tidak mau berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan sesama nelayan, tidak mau dikoordinir melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan, sehingga berdampak negatif terhadap peningkatan pendapatan mereka.
4. PENUTUP
Meskipun pemerintah telah melakukan kebijakan pemberdayaan melalui program BLM-PUMP bagi nelayan tradisional etnik Minangkabau dan Nias di Kota Padang, namun dampaknya tidak terlalu signifikan dalam meningkatkan pendapatan nelayan.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan kebijakan pemberdayaan nelayan ini, baik dari segi implementasi program BLM-PUMP sendiri maupun dari segi nelayan etnik Minangkabau dan Nias. Rendahnya tingkat pendidikan dan adanya in group feeling pada nelayan etnik Nias serta sifat exsessive individualism pada nelayan etnik Minangkabau merupakan faktor yang turut mempengaruhi tingat pendapatan nelayan.
5. DAFTAR PUSTAKA
Acheson, J, M. 1981. Anthropology of fishing. Annual Review of Anthropology, Vol. 10, pp. 275-316.
Amir MS. 2010. Adat Minangkabau – Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang.
Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
---. 1997. Tonggak Tuo Budaya Minang. Jakarta: Karya Indah.
Godin, R.E., Rein, M. & Moran, M., 2006, The Public and its Policies. In M.
Moran, M. Rein, & R. E. Goodin, The Oxford Handbook ff Public Policy, pp 3-35, New York: Oxford University Press.
Kusnadi. 2009. Keberdayaan Nelayan dan Dinamika Ekonomi Pesisir. Pusat Penelitian Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil. Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember.
Maengkom, V., LeonardusR.R., Agnes, E.L. Evaluasi Pengembangan Ekonomi Nelayan Penerima Program Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (BLM-PUMP) di Kelurahan Tidore. ASE – Volume 11 Nomor 2A, Juli 2015: 77 – 88.
Navis, A.A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru – Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafity Press.
Rohman, A.T. 2016, Implementasi Kebijakan melalui Kualitas Pelayanan Penerimaan Pajak Daerah dan Implikasinya terhadap Kepuasan
Masyarakat di Dinas Pendapatan Kabupaten Kuningan. Disertasi yang tidak diterbitkan, Bandung:
Universitas Pasundan.
Saanin, H.H.B. 1980. Kepribadian Orang Minangkabau . dalam M.A.W.
Brouwer et al. (eds.), Kepribadian dan Perubahannya, hal. 139-164.
Jakarta: PT. Gramedia.
Sipahelut, M., 2010. Analisis Pemberdayaan Masyarakat Nelayan di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara. Tesis yang tidak diterbitkan. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Wahyudi, A. 2016, Implementasi Rencana Strategis Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dalam Upaya Pengembangan Badan Usaha Milik Desa di Kabupaten Kotawaringin Barat, Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, 2(2), pp.101-105.