Wenny Astuti
Mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Negeri Padang, Indonesia
Berbagai kebijakan perencanaan pembangunan masih terpusat di Kota-Kota besar khususnya Ibu Kota Negara Indonesia. Akibatnya daerah desa dan pinggiran masih statis dalam hal pembangunan sehingga kesejahteraan masyarakat desa pinggiran masih terpinggirkan.
Implikasi dari tidak sempurnanya manajemen pemerintahan setengah hati ini membuat pemerintahan tingkat paling bawah yaitu desa tidak memiliki peran dan tidak mempunyai posisi dalam menjalankan pembangunan pemerintah. Untuk menuntaskan masalah ketimpangan pembangunan secara nasional, program dana desa merupakan upaya dari pengaplikasian misi pemerintah dan agenda prioritas pembangunan nasional yang kerapkali disebut sebagai NAWACITA. Berdasarkan latar belakang kebijakan pemerintah yang penulis jabarkan sebelumnya, maka sangatlah penting menganalisis kesesuaian kebijakan pemerintah Dana Desa dilihat dari analisis RIA (Regulatory Impact Analysis). Metode penulisan ialah content analysis, dengan menggunakan metode elaborasi dari berbagai sumber tertulis lalu menuangkannya dalam bentuk gagasan dengan menggunakan pisau analisis RIA (Regulatory Impact Analysis). Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa kebijakan pemerintah Indonesia saat ini dikatakan cukup baik dan pro terhadap kesejahteraan masyarakat. Berbagai aturan dan kebijakan terprogram dalam Nawacita yang bernafaskan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini menggambarkan pemerintah cukup serius melakukan percepatan pembangunan. Jika program ini dilakukan dengan serius, maka tidak ada istilah tidak mungkin untuk majunya perekonomian dan pasar domestik telah dimasuki oleh kreativitas masyarakat desa.
Keywords: Regulatory Impact Analysis (RIA), Kebijakan Pemerintah, Nawacita, Dana Desa
1. PENDAHULUAN
Semangat otonomi daerah masih gencar berupaya diwujudkan oleh Pemerintah terhadap model dan sistem birokrasi Indonesia. Otonomi Daerah dengan melimpahkan sebagian kewenangan pada pemerintah daerah belum sepenuhnya dapat mewujudkan pemerataan pembangunan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Berbagai kebijakan perencanaan pembangunan masih terpusat di Kota-Kota besar khususnya Ibu Kota Negara Indonesia. Akibatnya daerah desa dan
pinggiran masih statis dalam hal pembangunan sehingga kesejahteraan masyarakat desa pinggiran masih terpinggirkan. Implikasi dari tidak sempurnanya manajemen pemerintahan setengah hati ini membuat pemerintahan tingkat paling bawah yaitu desa tidak memiliki peran dan tidak mempunyai posisi dalam menjalankan pembangunan pemerintah.
Fenomena yang terjadi saat ini seperti belum adanya kebijakan pemerintah yang concern memperhatikan pembangunan khususnya dari daerah terpinggir,
terbelakang, sehingga daerah tersebut tetap terisolir. Daerah yang tidak tersentuh oleh tingginya kualitas pendidikan, kesulitan mengkses informasi dan minimnya infrastruktur. Seiringan dengan fenomena sosial dan perekonomian masyarakat Indonesia yang belum terperhatikan dan untuk mendukung pembangunan dan pengembangan kawasan perdesaan, pemerintah telah mencoba memperkuat dua point penting yaitu instrumen pembangunan mengenai Dana Alokasi Desa yang bersumber dari Desa dan Sumber Pendapatan Desa.
Seolah menjawab permasalahan tentang desa, pemimpin Republik Indonesia Jokowidodo dan Jusuf Kalla memiliki visi merestrukturisasi kembali birokrasi Indonesia dengan menghapus sistem tambal sulam dengan kebijakan nawacita yang salah satunya yaitu Membangun Indonesia Dari Pinggiran Dengan Memperkuat Daerah-Daerah Dan Desa Dalam Kerangka Negara Kesatuan.
Lahirnya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa berimplikasi pada perubahan kedudukan desa dalam bangunan tata negara Indonesia dan relasinya dengan negara
Undang-Undang Desa yang baru menegaskan bahwa paradigma atau asas yang mengkonstruksi hubungan negara dan desa berdasarkan pada prinsip rekognisi dan subsidiaritas. Konstruksi mengenai kedudukan dan relasi baru ini tentunya sangat berbeda dengan konstruksi sebelumnya. Dalam konstruksi awal, sebagaimana dijelaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 72 Tahun 2005 tentang Desa, kedudukan desa merupakan bagian dari daerah, sebab desentralisasi hanya berhenti di kabupaten/kota. Dengan konstruksi residualitas yang menempatkannya sebagai bagian dari daerah tersebut, desa hanya menerima pelimpahan sebagian kewenangan dari kabupaten/kota.
Konstruksi serupa ini bersifat residualitas
karena hanya menempatkan desa sebagai penerima “sisasisanya” kewenangan daerah, baik sisa kewenangan maupun sisa keuangan dalam bentuk alokasi dana desa (Sutoro Eko, 2014: 23).
Berdasarkan latar belakang kebijakan pemerintah yang penulis jabarkan sebelumnya, maka sangatlah penting menganalisis kesesuaian kebijakan pemerintah Dana Desa telah dengan visi dan misi Pemerintah/Trisakti dilihat dari analisis RIA (Regulatory Impact Analysis).
Metode yang penulis gunakan ialah content analysis, dengan menggunakan metode elaborasi dari berbagai sumber tertulis lalu menuangkannya dalam bentuk gagasan dengan menggunakan pisau analisis RIA (Regulatory Impact Analysis)
2. METODE PENELITIAN
Korelasi Kebijakan Pemerintah tentang Dana Desa dengan Visi dan Misi Pemerintah
Perubahan paradigma
pembangunan desa tersebut digandrongi oleh penguatan identitas desa yang tertuang dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Tertulis bahwa tujuan UU No.6 Tahun 2014 adalah sebagai berikut: 1. memberikan pengakuan dan penghormatan atas Desa yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia; 2. memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia; 3.
melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat Desa; 4.
mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk pengembangan potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama; 5. membentuk Pemerintahan Desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung jawab; 6. meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat Desa guna mempercepat perwujudan
kesejahteraan umum; 7. meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Desa guna mewujudkan masyarakat Desa yang mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional; 8.
memajukan perekonomian masyarakat Desa serta mengatasi kesenjangan pembangunan nasional; dan 9. memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan.
Jika nawacita merupakan program inti atau tujuan dari pemerintahan Jokowi, maka Revolusi Mental adalah paradigma berpikir atau cara berpikir dan cara
bertindaknya pemerintahan
Jokowi.Adapun Visi dari pemerintahan kita dewasa ini yaitu: “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat,Mandiri, dan Berkepribadian Berlan daskan Gotong Royong”
Berangkat dari Undang Undang No 6 Tahun 2014 tentang desa yang memberikan kekuatan dan kemunculan desa sebagai aspek penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, maka dijelaskan bahwa dana desa bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara. Hal ini membuktikan perhatian yang sangat besar bagi pemerintah pusat mengotonomikan daerah desa dalam mengelola desa secara mandiri.
Kemandirian yang diharapkan dengan adanya undang-undang ini juga dituangkan dalam kebijakan dana desa oleh pemerintah. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016 yang merupakan perubahan kedua atas peraturan pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang dana desa yang bersumber dari APBN.
Dana Desa merupakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Alokasi Dana Desa yang
menjadi dana pembangunan berasal dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/
Kota untuk Desa paling sedikit 10 persen, yang pembagiannya untuk setiap Desa secara proporsional. Artinya porsi keuangan yang diterima oleh desa dari dana perimbangan pusat telah ditentukan besarannya.
Tuntutan kemandirian melalui dana desa memberikan kewenangan pengelolaan sumber-sumber pendapatan desa melalui BUMDes dengan harapan dengan dana yang lebih besar tersebut pemerintah desa dapat mewujudkan penyelenggarakan program pengembangan kapasitas dan pembangunan didesa, hal ini akan berdampak pada penguatan basis perekonomian.Sedikitnya kewenangan pemerintah desa telah diberikan melalui dana desa yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh perangkat desa sesuai dengan kebutuhan anggaran dan dukungan dana dari APBD dan perimbangan keuangan pusat dan daerah yang sebelumnya juga telah ditetapkan.
Jadi secara normatif pemerintah telah membuat kebijakan yang sejalan dengan Visi dan Misi pemerintahan yang mulai melakukan percepatan pembangunan melalui salah satunya kebijakan pengalokasian dana desa. Menurut hemat penulis misi pemerintah dalam mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi,maju dan sejahtera dan didukung dengan misi mewujudkan masyarakat maju,berkeseimbangan, dan demokratis berlandaskan negara hukum juga tergambar dari kebijakan alokasi dana desa.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pelaksanaan Kebijakan Dana Desa Ini Dilihat Dari Analisis RIA (Regulatory Impact Analysis)
Pemerintahan pada masa kepemimpinan Presiden Jokowi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla membawa
perubahan besar pada paradigma pemerintahan secara koheren. Hal tersebut tertuang dari Program Nawa Cita yang digadangkan pada era percepatan pembangunan ini. Nawacita berasal dari bahasa Sansekerta berarti sembilan dan cita adalah tujuan. Nawacita secara harfiah adalah sembilan tujuan dan cita adalah asa atau impian yang terencana serta terlaksana, maka nawa cita merupakan rujukan dari kinerja pemerintahan Jokowi dalam mengisi kemerdekaan, membangun bangsa yang berdaulat, berdikari dan berbudaya Indonesia.
Adapun program dana desa merupakan upaya dari pengaplikasian misi pemerintah kedua guna mewujudkan masyarakat maju,berkeseimbangan, dan demokratis berlandaskan negara hukum dan merupakan agenda prioritas pembangunan nasional yang kerapkali disebut sebagai NAWACITA: a) menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, b) Membangun tata kelola Pemerintahan yang bersih, efektif,demokratis, dan terpercaya, c) membangun Indonesia dari Pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, d) memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukumyang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya, e) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia, f) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, g)mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, h) melakukan revolusi karakter bangsa, i) memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.
Regulatory Impact Assessment (kadang disebut juga Regulatory Impact Analysis)atau disingkat menjadi RIA, merupakan suatu metode yang digunakan dalampenyusunan suatu aturan yang secara prinsip dapat mengakomodasi langkah- langkahyang harus dijalakan dalam penyusunan suatu aturan. Metode ini mulaipopular di awal tahun 2000-an, dan banyak digunakan di negara-negara maju.
Dalam salah satu panduan yang diterbitkan Organisation for EconomicCo- operation and Development (OECD), RIA dijelaskan sebagai suatu proses yang secara sistematik mengidentifikasi dan menilai dampak yang diinginkandari suatu pengajuan undang-undang dengan metode analisia yang konsistenseperti benefit-cost analysis. RIA merupakan proses komparasi yangdidasarkan tujuan pengaturan yang telah ditetapkan dan mengidentifikasi semua kemungkinan kebijakan yang mmempengaruhi dalam mencapai tujuan kebijakan. Semua alternatif yang tersedia harus dinilai dengan metode yang sama dalam rangka menginformasikan pengambil keputusan akan pilihan-pilihan yang efektif dan efisien sehingga dapat memilih secara sistematispilihan yang paling efektif dan efisien.Definisi RIA menurut OECD:“…RIA’s most important contribution to the quality of decisions is notthe precision of the calculations used, but the action of analyzing– questioning, understanding real-world impacts and exploringassumptions”.
Tahapan RIA sesuai OECD adalah:1.Mendefinisikan konteks kebijakan
dan tujuan khususnya
mengidentifikasisecara sistemik masalah yang menyebabkan diperlukannya pengaturanoleh
pemerintah;2.Mengidentifikasi dan mendefinisikan semua opsi peraturan dan kebijakanlain untuk mencapai tujuan
kebijakan yang akan
ditetapkan;3.Mengidentifikasi dan mengkuantifisir dampak dari opsi yangdipertimbangkan, termasuk efek
biaya, manfaat dan pendistribusian;4.Membangun strategi penegakan hukum dan kepatuhan dari setiap opsi,termasuk mengevaluasi efektivitas dan efisisensi tiap pilihan;5.Membangun mekanisme monitoring untuk mengevaluasi keberhasilankebijakan yang dipilih dan member masukan informasi untuk responpengaturan di masa mendatang;6.
Konsultasi public secara sistematis untuk member kesempatan kepadasemua pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam prosespenyusunan peraturan. Tahap ini memberikan informasi yang pentingakan biaya dan manfaat dari semua alternatif termasuk efektifitasnya.
Sementara menurun Kirkpatric dan Parker, secara tipikal, tahapan RIA melibatkan beberapa tugas yang dilakukan dalam setiap tahap yaitu: a) Deskripsi masalah dan tujuan dari proposal kebijakan,b) Deskripsi dari pilihan peraturan dan non-peraturan untuk mencapaitujuan,c)Penilaian terhadap dampak positif dan negatif yang siginifikantermasuk penilaian terhadap manfaat dan biaya terhadap dunia bisnisdan yang berkepentingan lainnya,d)Proses konsultasi dengan pemangku kepentingan dan pihak lain yangberkepentingan,e)Opsi yang direkomendasikan dengan penjelasan mengapa opsi itudipilih.
Sementara itu di Indonesia, Metode Regulatory Impact Assessment/analysis di Indonesia dikembangkan terutama oleh Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas). Sejak tahun 2003 , bersama dengan beberapa kementerian/lembaga lain, 4 Biro Hukum Kementerian PPN/Bappenas, “Kajian Ringkas Pengembangan dan Implementasi Metode Regulatory Impact Analysis (RIA) Untuk Menilai Kebijakan (Peraturan Dan Non Peraturan) Di Kementerian PPN/Bappenas”, Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas, 2011. Kementerian
Perencanaan Pembangunan
Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) telah berperan aktif dalam mengembangkan dan mensosialisasikan metode RIA. Salah satulangkah paling penting yang dilakukan adalah menyusun dan meluncurkan buku panduan pelaksanaan metode RIA pada tahun 2009 dengan dukunganbeberapa lembaga donor melalui The Asia Foundation. Dengan adanya buku panduan tersebut, berbagai pihak (khususnya: instansi pemerintah baik pusat maupun daerah) dapat mengenal lebih jauh metode RIA. Meskipun demikian, hingga saat ini secara kelembagaan metode RIA belum diterapkan di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas. Di kementerian/lembaga lain juga demikian, penggunaan metode RIA baru sebatas uji coba yang tidak berkelanjutan
Proses yang dilakukan dengan Analisis RIA terhadap Program Pemerintah terkait Dana Desa yaitu:
1. Identifikasi dan analisis masalah terkait kebijakan.
Langkah ini dilakukan agar semua pihak, khususnya pengambil kebijakan, dapat melihat denganjelas masalah apa sebenarnya yang dihadapi dan hendak dipecahkandengankebijakan tersebut. Pada tahap ini, sangat penting untuk membedakanantara masalah (problem) dengan gejala (symptom), karena yang hendakdipecahkan adalah masalah, bukan gejalanya.
Kesimpulannya secara prinsipil agenda pemerintah yang terdapat dalam trisakti yaitu berdaulat dalam politik, berdikari dalam bidang ekonomi, berkepribadian dalam bidang kebudayaan telah tertuang dalam kebijakan
“Membangun Indonesia Dari Pinggiran “ dengan memperkuat daerah-daerah desa, salah satunya yang menjadi fokus analisis penulis yaitu tentang realisasi dana desa sebagai barometer penting, meskipun dalam kenyataannya masih terdapat
beberapa kendala, seperti kurang tepat sasarannya dana desa yang diaplikasikan oleh birokrasi ditingkat desa. Bahwa masih perlu dilakukannya perealisasian dana yang lebih terarah dan adanya pengawasan yang ketat terhadap pendistribusian dana desa.
Hal yang menjadi apresiasi disini ialah upaya pemerintah dalam memberikan motivasi bagi aparatur perangkat desa yang dinilai lebih berhasil menyelenggarakan pembangunan didesa yang dikelolanya.
Bahwa masalah utama yang ingin dipecahkan pemerintah yaitu dimulainya pembangunan dari pinggiran, berdasarkan kenyataan yang ada di negara Indonesia, pembangunan hanya gencar dilakukan pada tingkat pusat dan masing-masing ibu kota disetiap propinsi.
2. Penetapan tujuan.
Setelah masalah teridentifikasi, selanjutnya perlu ditetapkan apa sebenarnya tujuan kebijakan yang hendak diambil.Tujuanini menjadi satu komponen yang sangat penting, karena ketika suatu saat dilakukan penilaian terhadap efektivitas sebuah kebijakan, maka yangdimaksud dengan “efektivitas” adalah apakah tujuan kebijakan tersebut tercapai ataukah tidak.
Berdasarkan fokus analisis penulis mengenai kebijakan tentang desa dan alokasi dana desa yang merupakan bentuk nyata dari penerapan program nawacita yang ketiga yaitu membangun Indonesia dari Pinggiran dengan memperkuat daerah- daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Hal tersebut juga terjabarkan lagi dengan aksi mengimplementasikan Undang-Undang Desa sehingga terjadi pemerataan pembangunan antara wilayah terutama desa, kawasan timur desa dan kawasan perbatasan.
Merujuk kepada konstitusi Undang- Undang Dasar 1945 masih terdapat kekonsistenan pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia melalui pemerataan pembangunan seperti kebijakan dana
alokasi desaterutama yang tercantum dalam bab VI Pemerintah Daerah pada pasal 18 yang memberikan kewenangan otonomi seluas-luasnya kepada pemerintah daerah dan didukung dengan pasal 18 A nomor 2 yaitu hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan Undang-Undang.
Secara umum realisasi dana desa merupakan perwujudan dari amanah konstitusi tentang pemerintah daerah dan upaya pemerataan pembangunan.
Kebijakan pemerintah tentang desa juga terekonstruksi dalam amanat Undang- Undang 1945 Bab XIV tentang perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat dalam pasal 33 diantaranya yaitu ayat (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan ayat (4) perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
3. Pengembangan berbagai pilihan/alternatif kebijakan untuk mencapaitujuan.
Setelah masalah yang hendak dipecahkan dan tujuan kebijakansudah jelas, langkah berikutnya adalah melihat pilihan apa saja yang ada atau bisa diambil untuk memecahkan masalah tersebut.
Dalam metode RIA,pilihan atau alternatif pertama adalah “do nothing” atau tidak melakukanapa-apa, yang pada tahap berikutnya akan dianggap sebagai kondisi awal(baseline) untuk dibandingkan dengan berbagai opsi/pilihan yang ada.Pada tahap ini, penting untuk melibatkan stakeholders dari berbagai latarbelakang dan kepentingan guna mendapatkan gambaran
seluas-luasnyatentang opsi/pilihan apa saja yang tersedia.
Konsistensi antara amanat UUD 1945 khususnya mengenai pemerintah daerah serta perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial selaras dengan kebijakan pemerintah tentang desa dan pengalokasian dana desa. Menurut hemat penulis pemerintah telah menetapkan perangkat desa, kejelasan tata cara pengangkatan aparatur desa, pengalokasian dana untuk desa, proses pembuatan rencana anggaran desa yang disepakati bersama oleh pihak perangkat desa melalui RPJMdes, APBDes dan RKPDes yang ditetapkan dengan musrenbangdes. Hal yang terlihat jelas disini adalah penguatan peran pemerintah desa dalam upaya pemerataan pembangunan dan musyawarah mufakat sebagai indikator penguatan budaya dan identitas bangsa didaerah.
Dalam penyelenggaraan otonomi desa yang masih menjadi kendalanya adalah penerapan didesa itu sendiri, dimana distribusi uang yang belum terealisasi dengan baik, alokasi anggaran yang belum tepat sasaran, seperti masih adanya pembangunan yang belum sesuai dengan prioritas pembangunan, meskipun secara kontekstual telah merujuk kepada amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan merupakan salah satu program nawacita.
Kesimpulannya pemerintah telah memberikan otoritas khusus kepada desa untuk mengelola dan melakukan pembangunan terhadap desa sehingga pemerintah berperan sebagai fasilitastor dan koordinator di tingkat desa.
4. Penilaian terhadap pilihan alternatif kebijakan, baik dari sisi legalitasmaupun biaya (cost) dan manfaat (benefit)-nya.
Setelah berbagai opsi/pilihan untuk memecahkan masalah teridentifikasi, langkah berikutnyaadalah melakukan seleksi terhadap berbagai pilihan tersebut.
Prosesseleksi diawali dengan penilaian dari
aspek legalitas, karena setiap opsi/pilihan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undanganyang berlaku. Untuk pilihan-pilihan yang tidak bertentangan denganperaturan perundang-undangan yang berlaku, dilakukan analisis terhadapbiaya (cost) dan manfaat (benefit) pada masing-masing pilihan.
Secarasederhana, “biaya” adalah hal-hal negatif atau merugikan suatu pihakjika pilihan tersebut diambil, sedangkan
“manfaat” adalah hal-hal positifatau menguntungkan suatu pihak. Biaya atau manfaat dalam hal ini tidakselalu diartikan
“uang”. Oleh karena itu, dalam konteks identifikasi biayadan manfaat sebuah kebijakan, perlu dilakukan identifikasi tentang siapasaja yang terkena dampak dan siapa saja yang mendapatkan manfaatakibat adanya suatu pilihan kebijakan (termasuk kalau kebijakan yangdiambil adalah tidak melakukan apa- apa atau do nothing).
Prioritas penggunaan dana desa tersebut adalah untuk program dan kegiatan:
1. Pembangunan Desa
Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan, prioritas penggunaan dana desa diarahkan untuk pelaksanaan program dan kegiatan Pembangunan Desa, meliputi:
a. pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan infrasruktur atausarana dan prasarana fisik untuk penghidupan, termasuk ketahananpangan dan permukiman;
b.pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana danprasarana kesehatan masyarakat;
c.pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana danprasarana pendidikan, sosial dan kebudayaan;
d.pengembangan usaha ekonomi masyarakat, meliputi pembangunandan pemeliharaan sarana prasarana produksi dan distribusi; atau
e.pembangunan dan pengembangan sarana- prasarana energi terbarukanserta kegiatan pelestarian lingkungan hidup.
2. Pemberdayaan Masyarakat
Prioritas penggunaan dana desa untuk program dan kegiatan bidang pemberdayaan masyarakat desa, dialokasikan untuk mendanai kegiatan mendanai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas warga atau masyarakat desa dalam pengembangan wirausaha, peningkatan pendapatan, serta perluasan skala ekonomi individu warga atau kelompok masyarakat dan desa.Antara lain : a.
peningkatan investasi ekonomi desa melalui pengadaan, pengembangan atau bantuan alat-alat produksi, permodalan, dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pemagangan; b. dukungan kegiatan ekonomi baik yang dikembangkan oleh BUM Desa atau BUM Desa Bersama, maupun oleh kelompok dan atau lembaga ekonomi masyarakat Desa lainnya; c.
bantuan peningkatan kapasitas untuk program dan kegiatan ketahanan pangan Desa; d. pengorganisasian masyarakat, fasilitasi dan pelatihan paralegal dan bantuan hukum masyarakat Desa, termasuk pembentukan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) dan pengembangan kapasitas Ruang Belajar Masyarakat di Desa (Community Centre);
e. promosi dan edukasi kesehatan masyarakat serta gerakan hidup bersih dan sehat, termasuk peningkatan kapasitas pengelolaan Posyandu, Poskesdes, Polindes dan ketersediaan atau keberfungsian tenaga medis/swamedikasi di Desa; f. dukungan terhadap kegiatan pengelolaan Hutan/Pantai Desa dan Hutan/Pantai Kemasyarakatan; g.
peningkatan kapasitas kelompok masyarakat untuk energi terbarukan dan pelestarian lingkungan hidup; h. bidang kegiatan pemberdayaan ekonomi lainnya yang sesuai dengan analisa kebutuhan desa dan telah ditetapkan dalam Musyawarah Desa.
5. Pemilihan kebijakan terbaik.
Analisis Biaya-Manfaat kemudian dijadikandasar untuk mengambil keputusan tentang opsi/pilihan apa yang akandiambil.
Opsi/pilihan yang diambil adalah yang mempunyai manfaatbersih (net benefit), yaitu jumlah semua manfaat dikurangi dengan jumlahsemua biaya, terbesar.Dengan berlakunya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa bahwa adanya kucuran dana milyaran rupiah langsung ke desa yang bersumber dari alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota. Didalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari APBN, Pasal 1, ayat 2 Dana Desa adalah Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Tujuan dari dana desa pada dasarnya adalah mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan lebih memeratakan pendapatan5
Pembagian kerja dalam sistem pemerintahan Indonesia saat ini adalah asas desentralisasi dan dekonsentrasi.
Kebijakan tentang dana desa memberikan
otonomi pada desa untuk
menyelenggarakan basic pemerintahannya melalui alokasi dana pembangunan yang telah dibagi pertriwulan yang telah diotorisasi mulai tahun 2015.
Badan Anggaran DPR RI menyatakan, tahun ini pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp60 triliun untuk dana desa di seluruh Indonesia."Pencairan dana desa ini dua kali dan langsung ditransfer ke rekening