Pertanyaan dan tugas
H. Desain Shabby Chic
Shabby Chic dicetuskan pertama kali pada era tahun 1980an di Britania Raya. Desain ini terinspirasi dari bangunan tua yang terdapat di pedesaan yang berkesan jadul, vintage, dengan warna yang sedikit memudar. Shabby Chic adalah gaya yang elegan, kasual, nyaman dan menarik. Gaya desain yang identik dengan kesan feminim dan anggun dengan penggunaan warna warna lembut misalnya putih, merah muda, hijau muda, dan biru muda. Perabot yang digunakan pada ruangan bergaya shabby chic terlihat lusuh dan usang yang tampak seperti di makan waktu dimana hal tersebut menjadikannya memiliki keindahan tersendiri yang melekat di barang-barang bekas. Aksesoris yang cocok untuk gaya desain shabby chic antara lain terlihat usang, seperti hiasan dinding, vas foto, cermin dengan ukiran-ukiran tampak vintage atau tua dan lain sebagainya yang dapat tampak klasik dan kuno.
Gambar 4.8. Interior gaya Shabby Chic
Sumber : https://voireproject.com/artikel/post/ciri-karakteristik-desain-interior-shabby-chic
I. Scandinavian
Scandinavia adalah negara-negara dari Eropa Utara seperti, Norwegia, Denmark, Islandia, Swedia,dan Finlandia yang biasa disebut bangsa Nordik. Para desainer Scandinavia tertarik untuk menghasilkan produk yang fungsional, tahan lama, dengan harga yang efisien. Desain gaya Scandinavia memprioritaskan fungsionalitas tanpa menghilangkan keindahan dan keanggunannya. Material yang sering digunakan sebagai bahan utama dalam membangun sebuah rumah dengan gaya Scandinavia adalah kayu.
Kayu memberikan kesan hangat, homey, dan alami untuk rumah pribadi. Warna yang digunakan pada desain gaya Scandinavia adalah putih, abu-abu, biru, dan krem serta warna netral lain yang lebih cerah. Hal ini bertujuan membuat ruangan terasa lebih luas dan memberikan suasana yang lebih hidup. Perabot gaya Scandinavia sangat cocok dengan interior gaya urban.
Gambar 4.9. Interior gaya Scandinavian
Sumber : https://economy.okezone.com/read/2016/08/31/470/1477905/interior-gaya- scandinavian-makin-jadi-tren
Tabel 4.1 Perbandingan antara tema bohemian dan shabby chic
Bohemian/Boho Shabby Chic
Tahun Muncul Pertengahan tahun 1.800-an oleh
kaum Gipsy. Dipopulerkan oleh Rachel Ashwell pada 1989.
Furniture Furnitur gaya bohemian sering menggabungkan banyak tekstur.
Tetapi ditutupi dengan kain baru atau ditambah aksen warna-warni, selimut bermotif, atau bantal.
Furnitur maupun soft furnishing berwarna lembut dan berkesan “lusuh” (shabby) karena usia.
Furniturnya terbuat dari rotan, besi maupun kayu-kayu tua yang dicat putih atau warna coklat kayu alami dengan finishing kasar untuk memberi nuansa vintage.
I. Scandinavian
Scandinavia adalah negara-negara dari Eropa Utara seperti, Norwegia, Denmark, Islandia, Swedia,dan Finlandia yang biasa disebut bangsa Nordik. Para desainer Scandinavia tertarik untuk menghasilkan produk yang fungsional, tahan lama, dengan harga yang efisien. Desain gaya Scandinavia memprioritaskan fungsionalitas tanpa menghilangkan keindahan dan keanggunannya. Material yang sering digunakan sebagai bahan utama dalam membangun sebuah rumah dengan gaya Scandinavia adalah kayu.
Kayu memberikan kesan hangat, homey, dan alami untuk rumah pribadi. Warna yang digunakan pada desain gaya Scandinavia adalah putih, abu-abu, biru, dan krem serta warna netral lain yang lebih cerah. Hal ini bertujuan membuat ruangan terasa lebih luas dan memberikan suasana yang lebih hidup. Perabot gaya Scandinavia sangat cocok dengan interior gaya urban.
Gambar 4.9. Interior gaya Scandinavian
Sumber : https://economy.okezone.com/read/2016/08/31/470/1477905/interior-gaya- scandinavian-makin-jadi-tren
Tabel 4.1 Perbandingan antara tema bohemian dan shabby chic
Bohemian/Boho Shabby Chic
Tahun Muncul Pertengahan tahun 1.800-an oleh
kaum Gipsy. Dipopulerkan oleh Rachel Ashwell pada 1989.
Furniture Furnitur gaya bohemian sering menggabungkan banyak tekstur.
Tetapi ditutupi dengan kain baru atau ditambah aksen warna-warni, selimut bermotif, atau bantal.
Furnitur maupun soft furnishing berwarna lembut dan berkesan “lusuh” (shabby) karena usia.
Furniturnya terbuat dari rotan, besi maupun kayu-kayu tua yang dicat putih atau warna coklat kayu alami dengan finishing kasar untuk memberi nuansa vintage.
Bohemian/Boho Shabby Chic
Warna Dinding Tidak ada aturan warna tertentu pada gaya bohemian. Interior ruangan biasanya penuh dengan warna berbeda dan pola biasanya berhubungan dengan budaya atau suatu tempat di dunia yang menarik bagi pemiliknya. Bisa saja kita menggunakan 20 pilihan warna berbeda atau mungkin hanya tiga, atau bahkan mungkin hanya bernuansa satu warna.
Warna-warna lembut seperti putih, pink, hijau, biru dan warna-warna pastel lainnya.
Dekorasi Dinding memegang peran penting pada gaya bohemian. Karpet juga mendominasi pada lantai yang terbuat dari kayu. Lampu berwarna- warni, lentera dengan motif etnik, dan chandelier adalah jenis yang paling sering digunakan dalam gaya bohemian. penggunaan pernak pernik unik seperti bantal warna- warni. Bantal merupakan elemen yang paling banyak digunakan.
Aksesoris lain yang kerap digunakan adalah aksesoris etnik seperti patung, lukisan abstrak, kain yang menjuntai, pernak pernik motif flowering dan motif tribal.
Sedangkan bunga, polkadot, kotak-kotak maupun garis-garis adalah motif favorit gaya Shabby Chic yang membedakan dengan gaya dekorasi rumah lainnya.
Dinding sibuat sesederhana mungkin tapi tetap terlihat indah. Hiasan yang diletakan pada dinding seperti lukisan pada desain rumah idaman shabby chic harus menggunakan gambar yang bernuansa abad sembilan belas. Jika lukisan tersebut berupa seorang tokoh, maka tokoh tersebut akan mengenakan gaya pakaian yang juga populer dijaman itu. Demikian pula dengan tata rias wajah dan rambutnya.
Art Deco Retro
Tahun Muncul Gaya Art Deco tercipta setelah
perang dunia 1 yakni tahun 1925. 1960-an sampai 1970-an.
Warna Pemilihan warna lebih dominan hitam dan putih.
Penggunaan warna-warna yang berani, seperti oranye tua, hijau lemon, merah menyala, serta kuning yang menyerupai warna .
Material/Bahan
Keragaman material logam, kayu dan kaca pada interior akan dapat memperjelas aksen gaya art deco.
Juga perpaduan beton penyangga dengan kayu pada struktur rumah yang serasi dalam bangunan.
Plastik, akrilik, fiberglass, vinil, dan teknologi baru dalam pengolahan kayu lapis dimanfaatkan dalam pembuatan elemen interior, mulai dari finishing dinding, lantai, plafon, sampai furnitur.
furniture
Art deco yang termasuk salah satu gaya klasik akan semakin kental di rumah dengan memberi furniture dan aksesoris rumah bergaya klasik.
Apalagi saat ini banyak wallpaper, karpet, lampu hias bermotif art deco yang dapat dipilih.
kursi sebagai furnitur dan juga salah satu elemen interior tidak lagi dipandang hanya dari segi fungsinya, tetapi juga dipandang sebagai elemen estetis. Hal ini sangatlah berbeda dengan furnitur pada jaman Bauhaus dengan bentuk-bentuk yang simpel dan fungsional, dengan material besi, aluminium, dan plywood.