• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Data yang berasal dari hasil perekaman audiovisual dianalisis dengan teknik analisis wacana. Adapun data yang berasal dari LKPD tidak dianalisis secara spesifik, namun digunakan untuk memverifikasi bahwa hasil transkripsi (wacana argumentasi lisan peserta didik) sama dengan wacana argumentasi tulisan peserta didik yang tertuang dalam lembar kerja peserta didik (LKPD).

Argumentasi tertulis menunjukkan kemampuan peserta didik dalam membentuk klaim, bukti, dan pendukung klaim dalam bentuk tulisan, sedangkan argumentasi lisan menunjukkan kemampuan peserta didik dalam membentuk klaim, bukti, dan pendukung klaim dalam bentuk wacana atau ucapan perkataan. Penelitian ini juga dijelaskan dengan adanya catatan lapangan.

Argumentasi memiliki kontribusi dalam pembelajaran sains di kelas.

Argumentasi mendukung keberadaan proses kognitif dan metakognitif, mendukung perkembangan kompetensi komunikasi dan berpikir kritis, mendukung pencapaian literasi sains serta melatih untuk berbicara dan menulis menggunakan bahasa sains.1 Bahasa di sini tentu meliputi pembicaraan dan lebih spesifik lagi adalah argumentasi. Berdasarkan hal tersebut, maka model argumentasi Toulmin ini lebih tepat digunakan, karena model ini termasuk yang paling lengkap yang dapat menggambarkan kriteria dari suatu argumen. Model ini pun lebih banyak dikembangkan, bahkan kualitas argumetasi peserta didik dapat dinilai secara kuantitatif mulai dari level 1-5 berdasarkan kerangka kerja analisis dari Osborne, et al. tahun 2004.

Argumentasi lisan peserta didik menunjukkan kemampuan peserta didik untuk membentuk klaim (claim), bukti (data), jaminan/pendukung klaim (warrant), dan sanggahan (rebuttal). Klaim berupa suatu pernyataan, bukti berisi informasi yang mendukung klaim dan jaminannya, jaminan/pendukung klaim

1 Ofi Shofiyatun Marhamah, dkk., Penerapan Model Argument-Driven Inquiry (ADI) dalam Meningkatkan Kemampuan Berargumentasi Siswa pada Konsep Pencemaran Lingkungan di Kelas X SMA Negeri 1 Ciawigebang, Quangga: Vol. 9 No. 2, 2017, h. 47.

berupa alasan-alasan yang mendukung klaim dan sanggahan berupa bantahan atau pernyataan perlawanan klaim.

Topik yang disajikan pada pertemuan pertama adalah mengenai tes golongan darah dengan pembahasan orang dengan golongan darah O dapat melakukan transfusi darah untuk semua golongan darah sedangkan orang dengan golongan darah AB bisa menerima transfusi darah dari semua golongan darah.

Topik pada pertemuan kedua tentang frekuensi denyut nadi dengan pembahasan bahwa frekuensi denyut nadi setelah minum air dingin lebih tinggi dibandingkan setelah minum air hangat. Topik-topik yang disajikan dalam setiap pertemuan menimbulkan pembentukan kelompok pro dan kontra yang selanjutnya memungkinkan adanya kegiatan diskusi yang difasilitasi dalam kegiatan diskusi isu saintifik dan tahapan-tahapan pembelajaran Argument Driven Inquiry (ADI).

1. Hasil Analisis Data Argumentasi Lisan Peserta Didik a. Analisis Argumentasi Lisan Peserta Didik Pertemuan Pertama

Tingkatan (Level) dan visualisasi argumentasi lisan peserta didik pada pertemuan pertama dapat dilihat pada Tabel dan Gambar 4.1.

Tabel 4.1. Tingkatan (Level) Argumentasi Pertemuan Pertama

Level Kategori Argumen yang Muncul

Jumlah Persen

1 Klaim (c) 2 25

2 Klaim+bukti (cd), Klaim+jaminan (cw) 3 37,5 3 Klaim+jaminan+bukti (cwd) disertai

sanggahan yang lemah

3 37,5

4 Klaim+jaminan+bukti (cwd) disertai sanggahan yang bagus/jelas

0 0

5 Klaim+jaminan+bukti (cwd) disertai lebih dari satu sanggahan yang bagus/jelas

0 0

Jumlah 8 100

Gambar 4.1. Visualisasi Argumentasi Pertemuan Pertama

Tingkatan (level) argumentasi lisan peserta didik pada pertemuan pertama menunjukkan adanya komponen argumentasi berupa klaim (claim), jaminan/pendukung klaim (warrant) dan sanggahan (rebuttal), dengan adanya bukti (data) yang bersifat sederhana yang mendukung argumentasi peserta didik.

Kategori argumentasi yang hanya mengandung klaim berjumlah dua klaim atau sebanyak 25%, sedangkan kategori klaim disertai bukti atau klaim disertai dengan jaminan sebanyak tiga atau 37,5% begitupun dengan kategori klaim disertai bukti dan jaminan dan sanggahan yang lemah sebanyak tiga atau 37,5%.

Kategori argumentasi yang mengandung klaim dikemukakan oleh kelompok pro-1 (P1).

Kategori Argumentasi yang mengandung klaim dan bukti atau klaim dan jaminan dikemukakan oleh kelompok pro-1 (P2).

Kategori Argumentasi yang mengandung klaim dan bukti atau klaim dan jaminan juga terlihat dari anggota kelompok pro-1 lainnya (L1) kepada kelompok kontra.

33. Individu dengan golongan darah O negatif dapat mendonorkan kepada semua tetapi hanya tidak bisa menerima.

11. Orang dengan golongan darah AB dapat menerima semua golongan darah ABO. Karena memiliki antigen sel darah merah A dan B dan juga golongan darah O yang tidak memiliki antigen sehingga dapat mentransfusi kepada semua golongan darah ABO.

8. Kami setuju bahwa golongan darah O dapat mentransfusi ke semua golongan darah dan golongan darah AB dapat menerima transfusi dari semua golongan darah, karena menerut kelompok kami bahwa golongan darah O itu merupakan golongan darah universal sehingga dapat mendonorkan kepada semua golongan darah. Sedangkan golongan darah AB adalah golongan darah recepient universal yaitu dapat menerima semua golongan darah, menurut artikel yang telah kelompok kami pahami.

Argumentasi yang termasuk dalam kategori klaim, jaminan dan bukti (crw) yang disertai dengan sanggahan yang lemah berjumlah tiga buah, salah satunya dikemukakan oleh kelompok kontra-1 (L2).

Argumentasi lain yang termasuk crw disertai dengan sanggahan yang lemah diungkapkan oleh kelompok pro-1 (L3).

Analisis kategori argumentasi lisan di atas menunjukkan bahwa tingkatan (level) argumentasi lisan peserta didik pada pertemuan pertama berada pada level 2 hingga 3. Komponen klaim yang terbentuk berjumlah lebih dari tiga, jaminan dan bukti berjumlah lebih dari tiga dan sanggahan yang bersifat lemah berjumlah lebih dari satu. Hal tersebut mengidentifikasikan bahwa proses diskusi pada tahap sesi argumentasi berjalan cukup baik, walaupun hanya beberapa peserta didik yang berpartisispasi dalam mengungkapkan pendapatnya. Dari 36 jumlah peserta didik yang ada dalam satu kelas, hanya kurang dari sepuluh diantaranya yang berani mengemukakan argument secara lisan.

16. Golongan darah O negatif memiliki antibodi yang dapat bereaksi serius selama tranfusi darah berlangsung karena golongan darah dengan rhesus positif dan negatif dapat berbahaya jika bereaksi. Hal tersebut berdasarkan referensi yang diambil dari halodokter yang menjelaskan tentang transfusi darah.

23. Saya tidak setuju dengan pernyataan yang dilontarkan oleh tim kontra. Karena orang yang bergolongan darah O dan memiliki rhesus negatif itu hanya 1% dari 99% rhesus positif di dunia. Jadi kemungkinannya sangat kecil sekali bergolongan darah O dengan rhesus negatif karena perbandingannya 99%

dengan 1%.

b. Analisis Argumentasi Lisan Peserta Didik Pertemuan Kedua

Tingkatan (level) argumentasi lisan peserta didik pada pertemuan kedua dapat dilihat pada Tabel dan Gambar 4.2.

Tabel 4.2. Tingkatan (Level) Argumentasi Pertemuan Kedua

Level Kategori Argumen yang Muncul

Jumlah Persen

1 Klaim (c) 3 20

2 Klaim+bukti (cd), Klaim+jaminan (cw) 4 26,7 3 Klaim+jaminan+bukti (cwd) disertai

sanggahan yang lemah

3 20

4 Klaim+jaminan+bukti (cwd) disertai sanggahan yang bagus/jelas

5 33,3

5 Klaim+jaminan+bukti (cwd) disertai lebih dari satu sanggahan yang bagus/jelas

0 0

Jumlah 15 100

Tingkatan (level) argumentasi lisan peserta didik pada pertemuan kedua menunjukkan adanya komponen argumentasi berupa klaim (claim), jaminan/pendukung klaim (warrant) dan sanggahan (rebuttal), dengan adanya bukti (data) yang bersifat jelas yang mendukung argumentasi peserta didik.

Kategori argumentasi yang hanya mengandung klaim berjumlah tiga klaim atau sebanyak 20%, kategori klaim disertai bukti atau klaim disertai dengan jaminan sebanyak empat atau 26,7%, kategori klaim disertai bukti, jaminan dan sanggahan yang lemah sebanyak tiga atau 20%, sedangkan kategori klaim disertai jaminan, bukti dan sanggahan yang jelas sebanyak lima atau 33,3%.

Gambar 4.2. Visualisasi Argumentasi Pertemuan Kedua

Analisis argumentasi lisan peserta didik pada pertemuan kedua memilikii perbedaan dengan hasil analisis pertemuan pertama. Pada pertemuan kedua, argumentasi lisan peserta didik yang muncul terlihat lebih banyak dibandingkan dengan pertemua pertama. Hal tersebut terungkap berdasarkan catatan lapangan yang dilakukan oleh peneliti yang disebabkan oleh semakin terbiasanya peserta didik dalam mengungkapkan pendapat dan gagasan pada saat berargumentasi, selain itu peserta didik telah memiliki gambaran pada pertemuan sebelumnya.

Sehingga, pada pertemuan kedua peserta didik lebih aktif dalam berdiskusi di kelas.

Kategori argumentasi yang hanya mengandung klaim dikemukakan oleh kelompok kontra-1 (P1).

Kategori Argumentasi yang mengandung klaim dan bukti atau klaim dan jaminan dikemukakan oleh kelompok pro-1 (P2).

Kategori Argumentasi yang mengandung klaim dan bukti atau klaim dan jaminan juga terlihat dari anggota kelompok kontra-1 (L1) kepada kelompok pro.

37. Tadi dikatakan bahwa suhu tubuh pada dasarnya panas dari dalam diri sendiri. Itu sebenarnya juga bisa karena faktor lain seperti apakah memang sedang sakit atau sedang berada pada cuaca yang panas, jadi pasti akan mempengaruhi suhu tubuh kita, lalu cara mengatasinya coba meminum air dingin karena dapat menurunkan frekuensi denyut nadi menjadi lebih rendah.

6. Saya dari kelompok pro menyatakan setuju, karena alasannya pada masing-masing kegiatan seperti meminum air dingin jantung bekerja dengan porsinya masing-masing dalam memompa darah, semakin santai atau rileks suatu kegiatan, maka akan sedikit pula denyut jantung dan denyut nadi yang berdetak. Begitu pula yang terjadi pada denyut nadi manusia.

Referensi yang mendukung itu tadi kami cari dari internet mengenai laporan praktikum biologi denyut nadi manusia.

14. Referensi yang mendukung dilansir dari the health side. Ada beberapa alasan mengapa tidak boleh minum air dingin.

Pertama, mengganggu pencernaan. Yang kedua menghilangkan nutrisi. Ketiga, dapat beresiko terkena sakit tenggorokan. Yang keempat, dapat menurunkan detak jantung. Sebagai jaminannya yang menghubungkan data dengan klaim, penelitian tahun 2001 yang melibatkan 669 perempuan yang menunjukkan minum air dingin dapat menyebabkan sakit kepala.

Argumentasi yang termasuk dalam kategori klaim, jaminan dan bukti (crw) yang disertai dengan sanggahan yang lemah berjumlah tiga buah, salah satunya dikemukakan oleh kelompok pro-2 (L2).

Argumentasi lain yang termasuk crw disertai dengan sanggahan yang lemah diungkapkan oleh kelompok kontra-2 (L3).

Argumentasi yang termasuk dalam kategori klaim, jaminan dan bukti (crw) yang disertai dengan sanggahan yang jelas berjumlah lima buah, salah satunya dikemukakan oleh kelompok kontra-1 (L4).

18. Saya tidak setuju dengan pendapat tim kontra, kenapa?

Karena saya sendiri sudah mencobanya kemarin. Setelah saya minum air dingin, denyut nadi saya itu terasa semakin kencang.

Jadi jika sebelumnya denyut nadi saya biasa saja, tapi setelah minum air dingin denyut nadi saya semakin kuat, semakin terasa.

40. Seperti yang disampaikan oleh kelompok pro bahwasannya minum air dingin tidak membuat frekuensi denyut nadi turun.

Jadi begini, air dingin yang masuk ke dalam tubuh kita akan dinetralkan atau distandarkan, jadi tidak akan ada masalah sama sekali. Air dingin tersebut akan distabilkan oleh tubuh kita, jadi air dingin itu suhunya akan distabilkan di tubuh kita, jadi tidak ada masalah. Misalkan, kalau ada yang berdampak ke sakit seperti migrain kemungkinan minum air dinginnya terlalu banyak.

8. Saya tidak setuju dengan pendapat kelompok pro. Alasannya karena saat kita minum air es saraf trigeminus yang ada di belakang leher kita akan terkejut. Hal ini menyebabkan detak jantung yang memompa darah meunurun, itu juga menyebabkan frekuensi denyut nadi kita semakin turun. Oleh karena itu saya tidak setuju dengan pendapat Anda. Menurut kami, jika meminum air dingin itu lebih tinggi itu salah.

Argumentasi lain yang termasuk crw disertai dengan sanggahan yang jelas diungkapkan oleh kelompok kontra-2 (L5).

Analisis kategori argumentasi lisan di atas menunjukkan bahwa tingkatan (level) argumentasi lisan peserta didik pada pertemuan kedua berada pada level 3 hingga 4.

c. Hasil observasi keterlaksanaan tahapan-tahapan (sintaks) pembelajaran Argument Driven Inquiry (ADI)

Observasi dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan setiap tahapan-tahapan (sintaks) model ADI dalam kegiatan pembelajaran. Keterlaksanaan model ADI di ukur berdasarkan keterlaksanaan setiap aktivitas guru dan peserta didik pada setiap tahapan model ADI dalam kegiatan pembelajaran berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran. Untuk mengukur keterlaksanaan model ADI digunakan lembar observasi ceklis dengan memberikan tanda (✓) pada kolom

“terlaksana” jika guru dan peserta didik melakukan tahapan kegiatan ADI, dan pada kolom “tidak terlaksana” jika guru dan peserta didik tidak melakukan kegiatan untuk setiap tahapan model ADI yang di isi oleh pengamat sesuai dengan keterlaksanaan tahapan pembelajaran. Skor untuk pilihan “terlaksana” adalah satu

10. Saya akan menambahkan argumentasi dari kelompok Luthfi.

Kami tidak setuju bahwa minum air dingin membuat tinggi frekuensi denyut nadi karena ketika minum air dingin kita memperlambat atau menyempitkan peredaran darah, sehingga detak nadi semakin turun. Contoh ketika sedang berlari, kita akan merasa capek, merasa dehidrasi, kita otomatis minum air dingin kan? Itu suhu tubuh kita lagi naik-naiknya jika setelah lari-lari, jadi gunanya air dingin tersebut untuk menetralkan suhu tubuh sehingga detak nadi tidak terlalu berdetak cepat.

Referensi yang mendukung adalah ada di artikel halodoc yang menyatakan bahwa minum air dingin itu melemahkan detak jantung.

(1) sedangkan skor untuk pilihan “tidak terlaksana” adalah nol (0). Data kegiatan observasi keterlaksanaan pertemuan 1 dan 2 dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Data Observasi Keterlaksanaan Model Pembelajaran Tahap Kegiatan Pembelajaran Pertemuan 1 Pertemuan 2

Tahap Identifikasi Topik Utama 100 100

Tahap Generalisasi Data 100 100

Tahap Produksi Argumen Tentatif 100 100

Tahap Sesi Argumentasi 100 100

Tahap Diskusi Reflektif Eksplisit 100 100

Tahap Pembuatan Laporan Penyelidikan 100 100

Tahap Peer Review Double Blind 100 100

Tahap Hasil Revisi Berdasarkan Peer Review 100 100

Persentase (%) 100 100

Rata-rata Persentase (%) 100

Hasil perhitungan persentase keterlaksanaan model pembelajaran tersebut kemudian diinterpretasikan sesuai dengan kriteria keterlaksanaan model pembelajaran, dapat diketahui persentase keterlaksanaan model pembelajaran secara keseluruhan berada pada interval persentase keterlaksanaan pembelajaran (KP) 100% dengan interpretasi Seluruh aktivitas terlaksana. Hal tersebut menunjukkan bahwa aktivitas guru dan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran terlaksana sepenuhnya.