• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BAB III TINJAUAN KASUS

3.3 Diagnosa keperawatan

91 3.4 Intervensi keperawatan

a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan preload, afterload, kontraktilitas dan irama jantung (D.0008)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan preload, afterload, kontraktilitas dan irama jantung ditandai dengan :

DS :

- Pasien sementara tersedasi dan terintubasi DO :

- Masalah Intra Operasi : Pemasangan IABP pre insisi di artery femoralis dextra 30 ml 75 Fr dan saat weaning CPB irama sinus bradicardia

sehingga dilakukan pemasangan Pacemaker 2 buah di ventrikel (Pacing Rhytm)

- Terpasang TPM : Rate 90 x/menit, Sensitivitas 2 Output 10)

- Terpasang IABP pada artery Femoralis dextra Mode Autopilot Ratio 1:1 Trigger EKG

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama 3 x 24 Jam, maka curah jantung

meningkat (L.02008), dengan kriteria hasil:

 Kekuatan nadi perifer

meningkat

 Ejection fraction (EF) meningkat

 Bradikardia menurun

 Takikardia menurun

 Gambaran EKG Aritmia menurun

 Perawatan jantung akut (I.02076)

Intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi, dan mengelola pasien yang baru mengalami episode

ketidakseimbangan antara ketersedian dan kebutuhan oksigen miokard.

Observasi

 Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)

 Monitor EKG :

 Monitor elektrolit yang dapat meningkatkan risiko aritmia

 Monitor enzim jantung (mis: CK, CK-MB, Troponin T, Troponin I)

 Monitor saturasi oksigen

 Identifikasi stratifikasi pada sindrom koroner akut (mis: skor TIMI, Killip, Crusade)

 Monitor bunyi napas tambahan (misalnya:

gurgling, mengi, wheezing, ronchi kering)

 Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)

Terapeutik

 Pertahankan tirah baring minimal 12 jam

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi - Lama waktu CPB : 97

menit

- Total intake dan output Intra Operasi : Total intake 893 ml, total urine 830 ml, total perdarahan 500 ml dan balance cairan -251 ml

- Lab Hematologi : Hb : 11,8 mg/dl, Hematokrit :34,6 %, Leukosit 22.390, Trombosit 225

- Hasil Foto thoraks Post Operasi : Hasil Foto thoraks Post Op

28/7/2023 : Cardiomegali dengan efusi pleura sinistra minimal - Hasil Lab AGDA

28/7/2023 jam 13.30:

pH : 7,33 pCO2 : 40,8 pO2 : 187 HCO3 : 21,9 BE : -3,1 SaO2 : 99,9 Asam laktat : 6,8 Hasil : Asidosis metabolik dengan hiperlaktatemia.

 Pasang akses intravena

 Sediakan lingkungan yang kondusif untuk beristirahat dan pemulihan Edukasi

 Anjurkan menghindari manuver Valsava (mis:

batuk) Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian antiplatelet, jika perlu

 Kolaborasi pemberian antianginal (mis:

nitrogliserin, beta

blocker, calcium channel blocker)

 Kolaborasi pemberian morfin, jika perlu

 Kolaborasi pemberian inotropic, jika perlu

 Kolaborasi pemeriksaan x-ray dada, jika perlu

93

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

- Hasil EKG Post Operasi 28/7/2023: Sinus rithym dengan Elevasi V1-V4, ST Depresi II,III,AVF - Pemeriksaan Angiografi :

(tanggal 17/4/2023) LM : normal

LAD : diskret stenosis 80% diproximal, subtotal oklusi di mid LCx : subtotal oklusi di distal

RCA : CTO diproximal, distal mendapat aliran dari kontralateral

(RENTROP II) Kesimpulan : CAD3VD

- Hasil Echocardiografi tanggal 15/2/2022:

RA, RV, LA dan LV dilatasi

Fungsi sistolik LV

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi menurun EF Teicholz

24% dan Simpson 28%

MR mild, TR mild Kontraktilitas RV menurun, TAPSE 9 mm Fungsi diastolik LV tidak dapat dievaluasi

Efusi perikardial (+) minimal

b. Gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan (efek farmakologis) (D.0004)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Gangguan ventilasi spontan

berhubungan dengan Kelemahan otot pernapasan ditandai dengan :

DS :

- Pasien sementara tersedasi dan terintubasi DO :

- Terpasang Endotracheal Tube (ETT) no.

8 kedalaman 22

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama 3 x 24 Jam, maka ventilasi spontan meningkat

(L.01007), dengan kriteria hasil:

 Dispnea menurun

 Penggunaan otot bantu napas menurun

 Volume tidak membaik

 PCO2 membaik

 PO2 membaik

 SaO2 membaik

 Pemantauan respirasi (I.01014)

Intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengumpulkan dan menganalisis data untuk memastikan kepatenan jalan napas dan keefektifan pertukaran gas

Observasi

 Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas

 Monitor pola napas (seperti bradypnea, takipnea, hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes, biot, ataksik)

 Monitor kemampuan batuk efektif

 Monitor adanya produksi sputum

 Monitor adanya sumbatan jalan napas

 Palpasi kesimetrisan ekspansi paru

95

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

cm dengan Ventilasi mekanik mode ASV 100%

PEEP 5 FiO2 50%

- Hasil Foto thoraks Post Op 28/7/2023 : Cardiomegali dengan efusi pleura sinistra minimal dan tampak ETT pada trakea antara

intercostal space 3 & 4

- Efek agen farmakologis : pemberian sedasi (Morphin dan Recofol) - Pada

pemeriksaan sistem pernapasan : pengembangan dada simetris, pasien

mengikuti irama ventilasi

 Auskultasi bunyi napas

 Monitor saturasi oksigen

 Monitor nilai analisa gas darah

 Monitor hasil -ray thoraks Terapeutik

 Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien

 Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi

 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

 Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi mekanik dan

belum ada usaha napas spontan.

Tidak didapatkan suara napas tambahan (ronchi maupun wheezing) - Hasil Lab

AGDA 28/7/2023 jam 13.30:

pH : 7,33 pCO2 : 40,8 pO2 : 187 HCO3 : 21,9 BE : -3,1 SaO2 : 99,9 Asam laktat : 6,8

Hasil : Asidosis metabolik dengan

hiperlaktatemia.

97

c. Risiko ketidakseimbangan elektrolit dibuktikan dengan efek samping prosedur (pembedahan), gangguan mekanisme regulasi (D.0037)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Risiko

ketidakseimbangan elektrolit dibuktikan dengan :

Faktor risiko:

- Tindakan pembedahan (CABG) dengan On pump - Terpasang

drain Substernal dan

Intrapleura Sinistra dengan jumlah drain inisiasi dari kamar operasi : 83 ml

- Jumlah perdarahan Intra Operasi : 500 ml - Nilai lab :

Kalium 2,6

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 x 24 Jam, maka keseimbangan elektrolit meningkat (L.03021), dengan kriteria hasil:

 Serum natrium membaik

 Serum kalium membaik

 Serum klorida membaik

 Pemantauan elektrolit (I.03122)

Intervensi yang

dilakukan oleh perawat untuk mengumpulkan dan menganalisis data terkait regulasi

keseimbangan elektrolit.

Observasi

 Monitor kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit

 Monitor kadar elektrolit serum

 Monitor mual, muntah, diare

 Monitor kehilangan cairan, jika perlu

 Monitor tanda dan gejala

hipokalemia (mis: kelemahan otot, interval QT memanjang, gelombang T datar atau terbalik, depresi

segmen ST, gelombang U, kelelahan, parestesia, penurunan refleks, anoreksia, konstipasi, motilitas usus menurun, pusing, depresi pernapasan)

 Monitor tanda dan gejala

hiperkalemia (mis: peka rangsang, gelisah, mual, muntah, takikardia mengarah ke bradikardia,

fibrilasi/takikardia ventrikel, gelombang T tinggi, gelombang P datar, kompleks QRS tumpul, blok jantung mengarah asistol)

 Monitor tanda dan gejala

hiponatremia (mis: disorientasi, otot berkedut, sakit kepala, membrane mukosa kering, hipotensi postural, kejang, letargi, penurunan

kesadaran)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi mmol/L

- Riwayat penyakit DM Type 2, GDS PreOp : 142 mg/dl, HbA1c 5,0

 Monitor tanda dan gejala

hipernatremia (mis: haus, demam, mual, muntah, gelisah, peka rangsang, membrane mukosa kering, takikardia, hipotensi, letargi, konfusi, kejang)

 Monitor tanda dan gejala

hipokalsemia (mis: peka rangsang, tanda Chvostek [spasme otot wajah]

dan tanda Trousseau [spasme karpal], kram otot, interval QT memanjang)

 Monitor tanda dan gejala

hiperkalsemia (mis: nyeri tulang, haus, anoreksia, letargi, kelemahan otot, segmen QT memendek, gelombang T lebar, komplek QRS lebar, interval PR memanjang)

 Monitor tanda dan gejala hypomagnesemia (mis: depresi pernapasan, apatis, tanda Chvostek, tanda Trousseau, konfusi, disritmia)

 Monitor tanda gan gejala

hypermagnesemia (mis: kelemahan otot, hiporefleks, bradikardia, depresi SSP, letargi, koma, depresi) Terapeutik

 Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien

 Dokumentasikan hasil pemantauan

99

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Edukasi

 Jelaskan tujuan dan procedure pemantauan

 Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

Kolaborasi

 Kolaborasi koreksi elektrolit

d. Risiko perdarahan dibuktikan dengan tindakan pembedahan (operasi CABG) (D.0012)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Risiko perdarahan dibuktikan dengan (d.d)

Faktor risiko : - Tindakan

pembedahan

(CABG) dengan On pump dan

penggunaan warfarin

- Terpasang drain Substernal dan Intrapleura Sinistra dengan jumlah drain inisiasi dari kamar operasi : 83 ml

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 Jam, maka tingkat perdarahan menurun (L.02017), dengan kriteria hasil:

 Hemoglobin membaik

 Hematokrit membaik

 Pencegahan perdarahan (I.02067)

Intervensi yang

dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan menurunkan risiko atau komplikasi

stimulus yang menyebabkan

perdarahan atau risiko perdarahan.

Observasi

 Monitor tanda dan gejala perdarahan

 Monitor nilai

hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah

 Monitor tanda-tanda vital

 Monitor koagulasi (mis:

prothrombin time (PT), partial thromboplastin time (PTT), fibrinogen, degradasi fibrin dan/atau platelet)

Terapeutik

 Pertahankan bed rest Edukasi

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi - Jumlah perdarahan

Intra Operasi : 500 ml

- Hasil laboratorium koagulasi pre Op PT:10,8 APPT:26,5 kontrol 28,9 INR 1,04 dan post Op PT:11,8 APPT:28,2 kontrol 28,9, INR 1,14

 Efek

 Jelaskan tanda dan gejala perdarahan

Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu

 Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu

e. Ketidakstabilan glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia, nilai gula darah tinggi (D.0027)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Ketidakstabilan glukosa darah berhubungan dengan (b.d) DS :

- Pasien sementara tersedasi dan terintubasi DO :

- Riwayat penyakit DM Type 2, GDS PreOp : 142 mg/dl, HbA1c 5,0, GDS

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama … x … Jam, maka kestabilan glukosa darah meningkat (L03022), dengan kriteria hasil:

 Kadar glukosa darah

membaik

 Manajemen Hiperglikemia (I.03115)

Intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola kadar glukosa darah diatas normal..

Observasi

 Monitor kadar glukosa darah, secara berkala

 Monitor tanda dan gejala hiperglikemia

 Monitor intake dan output cairan

 Monitor keton urin, kadar Analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi

Terapeutik

 Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk

101

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

IntraOp : 278 mg/dl - Hasil Glukosa darah

sewaktu Post Operasi: 343 mg/dl (tinggi)

- Riwayat obat DM pre op : Glimipiride 2 mg/24 jam/PO

 2

Edukasi

 Ajarkan pengelolaan diabetes (mis: penggunaan insulin) Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian insulin, jika perlu

f. Risiko perfusi perifer tidak efektif dibuktikan dengan prosedur Pemasangan IABP, kurang pergerakan pada ekstremitas bawah (D.0015)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Risiko perfusi perifer tidak efektif dibuktikan dengan (d.d)

Faktor risiko : - Prosedur

Endovascular (Pemasangan IABP)

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 Jam, maka perfusi perifer meningkat (L.02011), dengan kriteria hasil:

 Perawatan sirkulasi (I.02079)

Intervensi yang

dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan merawat area lokal dengan keterbatasan sirkulasi perifer.

Observasi

 Periksa sirkulasi perifer (mis:

nadi perifer, edema, pengisian kapiler, warna, suhu, ankle- brachial index)

 Identifikasi faktor risiko

gangguan sirkulasi (mis: diabetes, perokok, hipertensi, dan kadar kolesterol tinggi)

 Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi - Pemeriksaan

fisik

cardiavaskular yg berhub dengan perfusi - Pemeriksaan

Duplex sonography ekstremitas bawah : (tanggal 6/6/2023)

• Penebalan intima media pada artery femoralis communis kanan

• Chronic Venous Insuficiency sedang pada vena vena dalam kedua tungkai

 Kekuatan nadi perifer

meningkat

 Warna kulit pucat menurun

 Pengisian kapiler membaik

 Akral membaik

 Turgor kulit membaik

Terapeutik

 Hindari pemasangan infus, atau pengambilan darah di area keterbatasan perfusi

 Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan keterbatasan perfusi

 Hindari penekanan dan

pemasangan tourniquet pada area yang cidera

 Lakukan pencegahan infeksi

 Lakukan perawatan kaki Edukasi

 Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan (mis: rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh, hilangnya rasa).

103

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

• Chronic Venous Insuficiency berat pada vena saphena magna below the knee kanan

• Chronic Venous Insuficiency negatif pada vena saphena magna below the knee kiri

• Tidak ditemukan trombus pada vena vena dalam dikedua tungkai

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

• Normal flow arteri pada kedua tungkai

g. Risiko Infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasif (D.0142)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Risiko Infeksi dibuktikan dengan (d.d)

 Efek Prosedure invasif : pemasangan alat ; ETT, CVC,Arteryline, Swan ganz kateter, Drain, IABP, dan kateter urine

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 Jam, maka tingkat infeksi menurun (L14137), dengan kriteria hasil:

 Demam menurun

 Kemerahan menurun

 Nyeri menurun

 Bengkak menurun

 Pencegahan Infeksi (I.14539)

Intervensi yang

dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organisme patogenik.

Observasi

 Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik

Terapeutik

 Batasi jumlah pengunjung

 Berikan perawatan kulit pada area edema

 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien

 Pertahankan Teknik aseptic pada pasien berisiko tinggi

Edukasi

 Jelaskan tanda dan gejala infeksi

 Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar

 Ajarkan etika batuk

105

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

 Kadar sel darah putih membaik

 Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi

 Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi

 Anjurkan meningkatkan asupan caira Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu

d. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

a. Gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan Kelemahan otot pernapasan (efek farmakologis) (D.0004)

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi

Gangguan ventilasi

spontan 28/7/2023

(13.00-20.00)

• Kolaborasi setting ventilator : Pasien masih terpasang ETT dengan Ventilasi mekanik mode ASV 100% PEEP 5 FiO2 50% Saturasi 100% dengan TV: 327 – 719 ml, RR:15 x/menit, MV 4,9-10 L, pergerakan dada simetris

• Menjaga kepatenan jalan napas : ETT terfiksasi dengan baik dan tampak bersih kedalaman 22 cm, tidak tertekuk dan selang ventilator tidak ada obstruksi dan kondensasi.

• Memonitor adanya efek yang merugikan dari ventilasi mekanik : barotrauma dan penurunan curah jantung

• Memberikan posisi semifowler : Head up 300

• Memonitor bunyi napas tambahan : tidak ada bunyi napas tambahan seperti ronchi, wheezing maupun gurgling.

• Kolaborasi pemberian obat sedasi : Morphin 20 mcg/kgBB/jam

Recofol 30 mg/jam

• Kolaborasi pemeriksaan nilai analisa gas darah setelah Cardiac arrest : AGDA jam 18.00 WIB:

Subyektif

• Pasien sementara tersedasi dan terintubasi

Obyektif

- Pasien belum ada napas spontan - Pasien belum mampu batuk efektif :

• Pasien dengan posisi semi fowler : Head up 300

- Pasien masih terpasang ETT dengan Ventilasi mekanik mode CMV TV 450 RR 15 x/menit PEEP 5 FiO2 50% Saturasi Oksigen100%

- Tidak ada suara napas tambahan (ronchi dan wheezing)

- Suctioning : produksi lendir sedang konsistensi kental warna kekuningan - Hasil AGDA jam 18.00 WIB :

pH : 7,35 pCO2 : 32,4 pO2 : 231,9 HCO3 : 18,1 BE : -6,1 SaO2 : 99,9 Asam laktat : 9,9

107

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi

pH : 7,35 pCO2 : 32,4 pO2 : 231,9 HCO3 : 18,1 BE : -6,1 SaO2 : 99,9 Asam laktat : 9,9

Hasil : Asidosis metabolik terkompensasi penuh

• Kolaborasi mengubah settingan ventilasi mekanik: mode CMV TV 450 RR 15 x/menit PEEP 5 FiO2 50%

• Kolaborasi pemberian muscle relaxan : Ecron 2 mg/jam

• Memantau efektifitas Ventilasi mekanik memonitor saturasi oksigen

• Lanjut ditanggal 29/7/2023

Hasil : Asidosis metabolik terkompensasi penuh - Pasien tersedasi dengan :

Morphin 20 mcg/kgBB/jam Recofol 50 mg/jam

Ecron 2 mg/jam - Tanda tanda vital :

ABP : 120-60 /70-20 mmHg

HR : 200-70 x/menit RR : 15 x/menit Temp : 36,4 0C CVP : 14-18 mmHg

Assessment

Masalah gangguan ventilasi spontan Belum teratasi

Planning

Intervensi dilanjutkan

Gangguan ventilasi

spontan 29/7/2023

(07.30-14.00)

• Kolaborasi pemeriksaan AGDA jam 06.00 WIB :

pH : 7,40 pCO2 : 35,1 pO2 : 151,6 HCO3 : 22 BE : -1,6 SaO2 : 99,8

Subyektif

- Pasien sementara tersedasi dan terintubasi

Obyektif

- Pasien belum mampu batuk efektif

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi Asam laktat : 3,4

Hasil : Normal dengan Hiperlaktatemia

• Kolaborasi setting ventilator : Pasien masih terpasang ETT dengan Ventilasi mekanik mode ASV 100% PEEP 5 FiO2 40% Saturasi 100% dengan TV: 490-578 ml, RR:14 x/menit, MV 6,8-8 L, pergerakan dada simetris, tidak ada tanda tanda sianosis

• Menjaga kepatenan jalan napas : ETT terfiksasi dengan baik dan tampak bersih kedalaman 22 cm, tidak tertekuk dan selang ventilator tidak ada obstruksi dan kondensasi.

• Memonitor adanya efek yang merugikan dari ventilasi mekanik : barotrauma dan penurunan curah jantung

• Memberikan posisi semifowler : Head up 300-450

• Memonitor bunyi napas tambahan : tidak ada bunyi napas tambahan seperti ronchi, wheezing maupun gurgling.

• Melakukan suctioning dengan teknik steril : konsistensi lendir kental, jumlah sedang warna kekuningan

• Melakukan perawatan mulut dengan oral higiene.

• Memantau efektifitas Ventilasi mekanik

• Pasien dengan posisi semi fowler : Head up 300

- Pasien masih terpasang ETT dengan Ventilasi mekanik mode ASV 100%

PEEP 5 FiO2 40% Saturasi Oksigen100%

- Tidak ada suara napas tambahan (ronchi dan wheezing)

- Suctioning : produksi lendir sedang konsistensi kental warna kekuningan - Hasil AGDA jam 14.00 WIB :

pH : 7,47 pCO2 : 36,1 pO2 : 124,8 HCO3 : 26,9 BE : 3,0 SaO2 : 98,9 Asam laktat : 1,6

Hasil : Alkalosis metabolik - Pasien tersedasi dengan :

Morphin 20 mcg/kgBB/jam Recofol 50 mg/jam

Ecron 2 mg/jam (STOP jam 09.00 WIB)

- Tanda tanda Vital

ABP : 130-90 /70-50 mmHg HR : 110-95 x/menit

RR : 15 x/menit Temp : 37,5 0C CVP : 20-18 mmHg

109

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi

memonitor saturasi oksigen

• Lanjut intervensi tanggal 30/7/2023

Assessment

Masalah gangguan ventilasi spontan belum teratasi

Planning

Intervensi dilanjutkan Gangguan ventilasi

spontan 30/7/2023

(07.30-14.00)

• Kolaborasi pemeriksaan AGDA jam 06.00 WIB :

pH : 7,40 pCO2 : 35,1 pO2 : 151,6 HCO3 : 22 BE : -1,6 SaO2 : 99,8 Asam laktat : 3,4 Hasil : Normal

• Kolaborasi setting ventilator : Pasien masih terpasang ETT dengan Ventilasi mekanik mode ASV 100% PEEP 5 FiO2 40% Saturasi 100% dengan TV: 490-578 ml, RR:14 x/menit, MV 4,9-10 L, pergerakan dada simetris, tidak ada tanda tanda sianosis

• Menjaga kepatenan jalan napas : ETT terfiksasi dengan baik dan tampak bersih kedalaman 22 cm, tidak tertekuk dan selang ventilator tidak ada obstruksi dan

Subyektif

• Pasien sementara tersedasi dan terintubasi

Obyektif

• Pasien dengan kesadaran SAS 2-3, GCS E2M2VETT

• Pasien belum mampu batuk efektif

• Pasien dengan posisi semi fowler : Head up 300

• Pasien masih terpasang ETT dengan Ventilasi mekanik mode ASV 100%

PEEP 5 FiO2 40% Saturasi

Oksigen100% dengan TV: 490-578 ml, RR:14 x/menit, MV 4,9-10 L

• Tidak ada suara napas tambahan (ronchi dan wheezing)

• Suctioning : produksi lendir sedang konsistensi kental warna kekuningan

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi kondensasi.

• Memonitor adanya efek yang merugikan dari ventilasi mekanik : barotrauma dan penurunan curah jantung

• Memberikan posisi semifowler : Head up 300-450

• Memonitor bunyi napas tambahan : tidak ada bunyi napas tambahan seperti ronchi, wheezing maupun gurgling.

• Melakukan suctioning dengan teknik steril : konsistensi lendir kental, jumlah sedang warna kekuningan

• Melakukan perawatan mulut dengan oral higiene.

• Memantau efektifitas Ventilasi mekanik memonitor saturasi oksigen

• Hasil AGDA jam 14.00 WIB : pH : 7,45

pCO2 : 35,2

pO2 181

HCO3 25

BE : 1,7 SaO2 : 99,9 Asam laktat : 1,1 Hasil : Normal

• Pasien tersedasi dengan : Morphin 10 mcg/kgBB/jam Recofol 80 mg/jam

• Tanda tanda vital :

ABP : 120-110 /60-50 mmHg HR : 120-100 x/menit

RR : 15 x/menit Temp : 37,5 0C CVP : 12-15 mmHg Assessment

Masalah gangguan ventilasi spontan belum teratasi

Planning

Intervensi dilanjutkan

111

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi

Gangguan ventilasi

spontan 30/7/2023 Evaluasi Subyektif

• Pasien sementara tersedasi dan terintubasi

Obyektif

• Pasien dengan kesadaran SAS 3, GCS E3M3VETT

• Pasien tersedasi dengan : Morphin 10 mcg/kgBB/jam Recofol 80 mg/jam

• Pasien belum mampu batuk efektif

• Pasien dengan posisi semi fowler

• Pasien masih terpasang ETT dengan Ventilasi mekanik mode ASV 100%

PEEP 5 FiO2 40% Saturasi

Oksigen100% dengan TV 452-661 ml RR 14-17 x/menit MV 6,3-11,2 L

• Respon napas spontan pasien ada tetapi belum adekuat

• Monitor efek Ventilasi Mekanik : tidak ada tanda barotrauma

• Pengkajian pernapasan :

pengembangan dada simetris, tidak ada tanda sianosis, ETT terfiksasi dengan baik dengan kedalaman 22 cm, tidak ada tanda krepitasi, dan tidak ada suara napas tambahan (ronchi dan wheezing)

• Suctioning : produksi lendir sedang

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi

konsistensi kental warna kekuningan

• Hasil AGDA jam 20.00 WIB : pH : 7,47

pCO2 : 37,9 pO2 : 149,3 HCO3 : 27,7 BE : 4,5 SaO2 : 99,9 Asam laktat : 1,1

Hasil : Alkalosis metabolik

• Tanda tanda vital :

ABP : 120-110 /60-50 mmHg HR : 120-100 x/menit

RR : 15 x/menit Temp : 37,5 0C CVP : 12-15 mmHg Assessment

Masalah gangguan ventilasi spontan belum teratasi

Planning

Intervensi dilanjutkan observasi dan monitoring status pernapasan

113 b. Penurunan curah jantung (D.0008)

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi

Penurunan curah jantung

28/7/2023

(jam 13.00-20.00) - Memonitor EKG : Gambaran EKG pada monitor Pacing Ritme dengan TPM (Rate 90 x/menit, Sensitivitas 2 Output 10)

- Memonitor kondisi pasien : akral teraba dingin

- Memasang blanket warmer - Kolaborasi pemberian inotropik :

Adrenalin 0,1 mcg/kgBB/menit Dobutamin 5 mcg/kgBB/menit

Nitrogliserin 0,25 mcg/kgBB/menit - Kolaborasi pemeriksaan

laboratorium post op : Hb : 11,8 mg/dl Hematokrit :34,6 % Leukosit 22.390 Trombosit 225

- Memonitor saturasi oksigen : saturasi oksigen 100%

- Kolaborasi pemeriksaan nilai analisa gas darah 30 menit setelah pasien masuk jam 13.30 WIB :

pH : 7,33 pCO2 : 40,8 pO2 : 187 HCO3 : 21,9

Subyektif

- Pasien sementara terintubasi dan tersedasi

Obyektif

- Gambaran EKG : Off TPM : Sinus ritme

- Tanda tanda Vital :

ABP : 120-60/70-20 mmHg HR : 200-70 x/menit

RR : 15 x/menit Temp : 36,4 0C CVP : 18-14 mmHg PAP : 74/35 mmHg - Riwayat aritmia dengan

gambaran EKG VT/VF jam 16.20 dilakukan resusitasi jantung paru dan DC Shock 1x200 joule kemudian gambaran kembali Sinus ritme tambahan terapi amiodarone 360 mg selama 6 jam dilanjutkan 540 mg selama 18 jam berikutnya

- Tidak ada suara napas tambahan (ronchi dan wheezing)

Diagnosis Tanggal Implementasi Evaluasi BE : -3,1

SaO2 : 99,9 Asam laktat : 6,8 K : 2,6

Na : 141 Cl : 109 Ca : 1,16 Mg : 0,46

Hasil : Asidosis metabolik dengan hiperlaktatemia, Hipokalemia - Memonitor aritmia : gambaran EKG

VT/VF jam 16.20 dilakukan

resusitasi jantung paru dan DC Shock 1x200 joule kemudian gambaran kembali Sinus ritme tambahan terapi amiodarone 360 mg selama 6 jam - Kolaborasi merubah settingan

ventilator mode CMV TV CMV TV 450 RR 15 x/menit PEEP 5 FiO2 50% Saturasi Oksigen100%

- Monitor bunyi napas tambahan : tidak terdengar adanya bunyi napas

tambahan seperti ronchi dan wheezing

- Kolaborasi pemberian obat Dobutamin 5 mcg/kgBB/menit - Memantau kondisi pasien setelah

ROSC : TPM sementara dihentikan, pupil isokor 2+/2+, tidak ada tanda fraktur pada sternum

- Kolaborasi pengambilan sampel AGDA post Cardiac Arrest :Hasil jam 18.00 post cardiac arrest :

- Hasil AGDA jam

18.00 post cardiac arrest : pH : 7,35

pCO2 : 32,4 pO2 : 231,9 HCO3 : 18,1 BE : -6,1 SaO2 : 99,9 Asam laktat : 9,9 Hasil Elektrolit : K : 2,6

Na : 145 Cl : 112 Ca : 1,21 Mg : 0,43

- Sementara Koreksi Kalium : 50 meq secara bertahap

- Terpasang IABP mode autopilot ratio 1:1 trigger EKG

- Hasil Echocardiografi (jam 19.50) :

EF 16-18%, TAPSE 15-