• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengkajian merupakan tahap awal dalam melakukan asuhan keperawatan. Menurut (Elvira 2020) & (HIPERCCI, 2020), proses pengkajian pada pasien kritis meliputi pre arrival assessment, admission and quick check, comprehensive assessment dan on going assessment

a. Pre arrival assessment

Pengkajian ini dimulai ketika perawat sudah mendapatkan informasi dari unit lain bahwa akan ada pasien kritis yang akan dirawat. Pengkajian ini dilakukan sebelum pasien masuk ke ruang ICU. Untuk pasien post operasi, unit kamar bedah akan memberikan catatan mengenai kondisi pasien selama pre dan intra operasi serta alat-alat kesehatan dan obat-obatan yang akan diberikan ke pasien. Tujuan dilakukan pengkajian ini adalah agar saat pasien datang ke ruang ICU, semua peralatan kesehatan sudah tersedia dan siap digunakan.

b. Admission and quick check

Pengkajian ini dimulai saat pasien masuk dan dirawat di ICU, kemudian perawat mengobservasi secara general dan melakukan pengkajian ABCDE (airway, breathing, circulation, drugs and equipment).

c. Comprehensive assessment

Pengkajian ini merupakan pengkajian lengkap meliputi riwayat kesehatan masa lalu, status kesehatan sekarang, bio psiko, sosio, spiritual dan pengkajian fisik. Pengkajian fisik yang dilakukan meliputi :

1) Status Kardiovakular

Meliputi frekuensi dan irama jantung, tekanan darah arteri, central venous pressure (CVP), tekanan arteri paru, tekanan baji paru/pulmonal capilary wedge pressure (PCWP), bentuk gelombang pada tekanan darah invasif, curah jantung dan cardiacindex, drainase rongga dada, fungsi pacemaker.

41 2) Status Respirasi

Pengkajian terhadap status respirasi bertujuan untuk mengetahui secara dini tanda dan gejala tidak adekuatnya ventilasi dan oksigenasi. Perawat mengkaji status respirasi pasien selama bedah, ukuran endotrakeal tube, masalah yang dihadapi selama intubasi, lama penggunaan alat mesin jantung paru. Selanjutnya kaji gerakan dada, suara nafas, setting ventilator (frekuensi pernafasan/RR, volume tidal, konsentrasi oksigen, Mode, PEEP), kecepatan nafas, tekanan ventilator, saturasi oksigen, analisa gas darah.

3) Status Neurologi

Kesadaran dipantau sejak klien mulia bangun atau masih diberikan obat sedatif. Jika klien mulai bangun maka minta klien untuk menggerakkan seluruh ekstremitas. Kaji juga tingkat responsifitas, ukuran pupil dan reaksi terhadap cahaya, reflex, gerakan ekstremitas, dan kekuatan genggaman tangan.

Untuk pasien yang tersedasi skoring tingkat kesadaran menggunakan Metode Riker Sedation Agitation Scale (SAS).

SKOR ITEM DESKRIPSI KONDISI

7 Agitasi/gelisah berbahaya

Menarik selangETT,mencoba melepas cateter, menaiki bed rail, menyerang staff,berontak ke setiap Sisi

SADAR

6 Sangat gelisah Membutuhkan restrain dan

mengingatkansecara lisan dengan sering, menggit ETT

SADAR

5 Tidak tenang Cemas atau gelisah secara fisik,tenang dengan instruksi lisan

SADAR

4 Tenang dan kooperatif Tenang, mudah bangun dan mengikuti perintah

SADAR

3 Diberikan obat penenang Sulit untuk dibangkitkan tetapi terbangun oleh rangsangan lisan atau digoyangkan,mengikuti perintah sederhana namun kembali ke kondisi tidak sadar.

SADAR

43

2 Sangat tenang (efeksedasi) Bangkit oleh

rangsangan fisik tetapi tidak ada komunikasi dan tidak mengikuti perintah,bisa bergerak seacra spontan

TIDAK SADAR

1 Tidak bangkit (Unarousable) Sedikit atau tidak adarespon terhadap rangsangan berbahaya,tidak

berkomunikasi atau mengikuti perintah

TIDAK SADAR

4) Sistem Pencernaan

Observasi status cairan, asupan nutrisi 5) Status Pembuluh Darah Perifer

Denyut nadi perifer, warna kulit, warna kuku, mukosa bibir, suhu kulit, edema, CRT.

6) Sistem Perkemihan

Observasi produksi urin setiap jam dan perubahan warna yang terjadi akibat hemolisis dan lain-lain. Pemeriksaan ureum kreatinin harus dikerjakan jika fasilitas memungkinkan.

7) Status Cairan Dan Elektrolit

Haluaran semua selang drainase, parameter curah jantung dan indikasi ketidakseimbangan elektrolit

8) Nyeri

Salah satu gangguan yang sering dialami oleh pasien kritis (tidak sadar) yang dirawat di ruang perawatan intensif adalah nyeri dan ketidaknyamanan. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa insiden nyeri pada pasien kritis lebih dari 50%, nyeri dialami dalam proses perawatan khususnya saat menjalani terapi prosedur klinis rutin di ruang ICU. Nyeri saat ini dikenal sebagai tanda vital kelima serta merupakan signal dari menurunnya fungsi fisiologis dari kebanyakan organ tubuh.

Nyeri pada pasien kritis dapat bermanifestasi sebagai gelisah dan delirium.

Nyeri yang tidak ditangani secara optimal mengakibatkan dampak yang buruk terhadap fungsi fisiologis (fluktuasi tanda-tanda vital, infeksi nosokomial), meningkatkan lama rawat inap, dan meningkatkan penggunaan ventilator. Manajemen nyeri harus dilakukan pada pasien kritis baik secara farmakologi maupun non-farmakologi. Manajemen

nyeri pada pasien kritis yang tepat tergantung bagaimana pengkajian atau penilaian nyeri yang dilakukan. Salah satu instrumen atau alat ukur nyeri pada pasien kritis atau tidak sadar adalah Behavioral Pain Scale (BPS).

No Parameter Skor

1 Face (wajah)

• Tenang/rileks

• Mengerutkan alis

• Kelopak mata tertutup

• Meringis

1 2 3 4 2 Anggota badan sebelah atas

• Tidak ada pergerakan

• Sebagian ditekuk

• Sepenuhnya ditekuk dengan fleksi jari-jari

• Retraksi permanen

1 2 3 4 3 Ventilasi

• Pergerakan dapat ditoleransi

• Batuk dengan pergerakan

• Melawan ventilator

• Tidak dapat mengontrol dengan ventilasi

1 2 3 4

Keterangan:

0 = Tidak ada nyeri (no pain) 1-3 = Nyeri ringan (mild pain) 4-6 = Nyeri sedang (moderate pain)

≥6 = Nyeri yang tidak terkendali (uncontrolled pain) 9) Status Gastro Intestinal

Auskultasi bising usus, palpasi abdomen, nyeri pada saat palpasi.

10) Status Alat yang Dipakai

Kepatenan alat dan pipa untuk menentukan baik atau tidak kondisinya meliputi, pipa endotrakeal, ventilator, monitor saturasi, kateter arteri paru, infus intravena, pacemaker, sistem drainase dan urin. Selanjutnya jika pasien sudah sadar dan mengalami perkembangan yang baik, perawat harus mengembangkan pengkajian terhadap status psikologis dan emosional pasien dan risiko akan komplikasi.

d. On going assessment

Pada fase ini pengkajian lebih terfokus dan lebih sering dilakukan untuk mengetahui kondisi kestabilan pasien. Pemantauan lanjutan

45

berikutnya,setelah pasien stabil observasi tiap 1 jam sekali. Hal-hal yang dikaji meliputi tanda vital, hemodinamik,respon pasien terhadap obat-obatan yang diberikan, dan patensi alat-alat yang terpasang pada pasien. Selanjutnya jika pasien sudah sadar dan mengalami perkembangan yang baik, perawat harus mengembangkan pengkajian terhadap status psikologis, emosional pasien dan resiko akan komplikasi.

2. Diagnosa

Standar Diagnosa keperawatan berdasarkan (PPNI, Standar Diagnosis dan Indikator Diagnostik, 2017) yang mungkin terjadi antara lain : a. Risiko Penurunan curah jantung (D.0008).

b. Gangguan ventilasi spontan (D.0004).

c. Nyeri akut (D.0077).

d. Risiko perdarahan (D.0012) e. Risiko Infeksi (D.0142)

3. Intervensi keperawatan

a. Risiko Penurunan curah jantung (D.0008).

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Risiko Penurunan curah jantung berhubungan dengan (b.d)

 Perubahan irama jantung

 Perubahan preload

 Perubahan afterload

 Perubahan kontraktilitas Ditandai dengan (d.d)

 Palpitasi (dada terasa berdebar kencang)

 Bradikardia/takikardia

 Gambaran EKG Aritmia atau gangguan konduksi

 Lelah

 Edema

 Distensi vena jugularis Central venous pressure (CVP)

meningkat/menurun

 Hepatomegali

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama … x … Jam, maka curah jantung

meningkat (L.02008), dengan kriteria hasil:

 Kekuatan nadi perifer

meningkat

 Ejection fraction (EF) meningkat

 Palpitasi menurun

 Bradikardia menurun

 Takikardia menurun

 Gambaran

 Perawatan jantung (I.02075)

Intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi, merawat, dan

membatasi komplikasi akibat

ketidakseimbangan antara suplai dan konsumsi oksigen miokard.

Observasi

 Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung (meliputi:

dispnea, kelelahan, edema, ortopnea, PND, peningkatan CVP).

 Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung (meliputi:

peningkatan berat badan, hepatomegaly, distensi vena jugularis, palpitasi, ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)

 Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik, jika perlu)

 Monitor intake dan output cairan

 Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama

 Dispnea (sesak napas)

 Tekanan darah meningkat/menurun

 Nadi perifer teraba lemah

 Capillary refill time (CRT) > 3 detik

 Oliguria

 Warna kulit pucat dan/atau sianosis

 Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) Ortopnea

 Batuk

 Terdengar suara jantung S3 dan/atau S4

 Ejection fraction (EF) menurun

EKG Aritmia menurun

 Lelah menurun

 Edema menurun

 Distensi vena jugularis menurun

 Dispnea menurun

 Oliguria menurun

 Pucat/sianosis menurun

 Paroximal nocturnal dyspnea (PND) menurun

 Ortopnea menurun

 Batuk menurun

 Suara jantung S3 menurun Suara jantung

 S4 menurun

 Tekanan darah membaik

 Pengisian kapiler membaik

 Monitor saturasi oksigen

 Monitor keluhan nyeri dada (mis: intensitas, lokasi, radiasi, durasi, presipitasi yang mengurangi nyeri)

 Monitor EKG 12 sadapan

 Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)

 Monitor nilai

laboratorium jantung (mis: elektrolit, enzim jantung, BNP, NTpro- BNP)

 Monitor fungsi alat pacu jantung

 Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum dan sesudah aktivitas

 Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum pemberian obat (mis: beta blocker, ACE Inhibitor, calcium channel blocker, digoksin)

 Ajarkan pasien dan keluarga mengukur berat badan harian

 Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan harian

Terapeutik

 Posisikan pasien semi- fowler atau fowler dengan kaki ke bawah atau posisi nyaman

 Berikan diet jantung yang sesuai (mis: batasi asupan kafein, natrium, kolesterol, dan makanan tinggi lemak)

 Gunakan stocking elastis atau pneumatik

intermitten, sesuai indikasi

 Fasilitasi pasien dan keluarga untuk

modifikasi gaya hidup sehat

 Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stress, jika perlu

 Berikan dukungan emosional dan spiritual

 Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen > 94%

Edukasi

 Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi

 Anjurkan beraktivitas fisik secara bertahap

 Anjurkan berhenti merokok

 Ajarkan pasien dan keluarga mengukur berat badan harian

 Ajarkan pasien dan keluarga mengukur intake dan output cairan harian

Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian antiaritmia, jika perlu

 Rujuk ke program rehabilitasi jantung

 Perawatan jantung akut (I.02076)

Intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi, dan mengelola pasien yang baru mengalami episode ketidakseimbangan antara ketersedian dan kebutuhan oksigen miokard.

Observasi

 Identifikasi karakteristik nyeri dada (meliputi faktor pemicu dan Pereda, kualitas, lokasi, radiasi, skala, durasi, dan frekuensi)

 Monitor aritmia (kelainan irama dan frekuensi)

 Monitor EKG 12 sadapan untuk perubahan ST dan T

 Monitor elektrolit yang dapat meningkatkan risiko aritmia (mis:

kalium, magnesium serum)

 Monitor enzim jantung (mis: CK, CK-MB, Troponin T, Troponin I)

 Monitor saturasi oksigen

 Identifikasi stratifikasi pada sindrom koroner akut (mis: skor TIMI, Killip, Crusade)

 Monitor bunyi napas tambahan

(misalnya:

gurgling, mengi, wheezing, ronchi kering)

 Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)

Terapeutik

 Pertahankan tirah baring minimal 12 jam

 Pasang akses intravena

 Puasakan hingga bebas nyeri

 Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi ansietas dan stress

 Sediakan lingkungan yang kondusif untuk beristirahat dan pemulihan

 Siapkan menjalani intervensi koroner perkutan, jika perlu

 Berikan dukungan emosional dan spiritual

Edukasi

 Anjurkan segera melaporkan nyeri dada

 Anjurkan menghindari manuver Valsava (mis:

mengedan saat BAB atau batuk)

 Jelaskan Tindakan yang dijalani pasien

 Ajarkan Teknik

menurunkan kecemasan dan ketakutan

Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian antiplatelet, jika perlu

 Kolaborasi pemberian antianginal (mis:

nitrogliserin, beta

blocker, calcium channel blocker)

 Kolaborasi pemberian morfin, jika perlu

 Kolaborasi pemberian inotropic, jika perlu

 Kolaborasi pemberian obat untuk mencegah manuver Valsava (mis:

pelunak tinja, antiemetik)

 Kolaborasi pencegahan trombus dengan

antikoagulan, jika perlu

 Kolaborasi pemeriksaan x-ray dada, jika perlu

b. Gangguan ventilasi spontan (D.0004).

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Gangguan ventilasi spontan

berhubungan dengan (b.d)

 Gangguan metabolism

 Kelelahan otot pernapasan Ditandai dengan (d.d)

 Penggunaan otot bantu napas meningkat

 Volume tidak menurun

 PCO2 meningkat

 PO2 menurun

 SaO2 menurun

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama

… x … Jam, maka ventilasi spontan meningkat

(L.01007), dengan kriteria hasil:

 Dispnea menurun

 Penggunaan otot bantu napas menurun

 Volume tidak membaik

 PCO2 membaik

 PO2 membaik

 SaO2 membaik

 Pemantauan respirasi (I.01014)

intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengumpulkan dan menganalisis data untuk memastikan kepatenan jalan napas dan keefektifan pertukaran gas

Observasi

 Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas

 Monitor pola napas (seperti bradypnea, takipnea, hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes, biot, ataksik)

 Monitor kemampuan batuk efektif

 Monitor adanya produksi sputum

 Monitor adanya sumbatan jalan napas

 Palpasi kesimetrisan ekspansi paru

 Auskultasi bunyi napas

 Monitor saturasi oksigen

 Monitor nilai analisa gas darah

 Monitor hasil -ray thoraks Terapeutik

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

 Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien

 Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi

 Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

 Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

c. Nyeri akut (D.0077).

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Nyeri akut berhubungan dengan (b.d)

 Agen pencedera fisiologis (mis:

inflamasi, iskemia, neoplasma)

 Agen pencedera kimiawi (mis:

terbakar, bahan kimia iritan)

 Agen pencedera fisik (mis: abses, amputasi, terbakar, terpotong,

mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, Latihan fisik berlebihan).

Ditandai dengan (d.d)

 Mengeluh nyeri

 Tampak meringis

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama … x … Jam, maka tingkat Nyeri menurun (L.08066), dengan kriteria hasil:

 Keluhan nyeri menurun

 Meringis menurun

 Sikap protektif menurun

 Gelisah menurun

 Kesulitan tidur menurun

 Frekuensi nadi membaik

 Manajemen Nyeri (I.08238)

Intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan.

Observasi

 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

 Identifikasi skala nyeri

 Idenfitikasi respon nyeri non verbal

 Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

 Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri

 Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri

 Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup

 Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan

 Monitor efek samping penggunaan analgetik

 Bersikap protektif (mis:

waspada, posisi menghindari nyeri)

 Gelisah

 Frekuensi nadi meningkat

 Sulit tidur

Terapeutik

 Berikan Teknik

nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (mis:

TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, Teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)

 Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)

 Fasilitasi istirahat dan tidur

 Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri Edukasi

 Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri

 Jelaskan strategi meredakan nyeri

 Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

 Pemberian analgetik (I.08243)

Intervensi yang

dilakukan oleh perawat untuk menyiapkan dan memberikan agen farmakologis untuk mengurangi atau

menghilangkan rasa sakit

 Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat

 Ajarkan Teknik farmakologis untuk mengurangi nyeri Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu Observasi

 Identifikasi karakteristik nyeri (mis: pencetus, pereda, kualitas, lokasi, intensitas, frekuensi, durasi)

 Identifikasi Riwayat alergi obat

 Identifikasi kesesuaian jenis analgesik (mis:

narkotika, non-narkotik, atau NSAID) dengan tingkat keparahan nyeri

 Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesik

 Monitor efektifitas analgesik

Terapeutik

 Diskusikan jenis analgesik yang disukai untuk

mencapai analgesia optimal, jika perlu

 Pertimbangkan

penggunaan infus kontinu, atau bolus opioid untuk mempertahankan kadar dalam serum

 Tetapkan target efektifitas analgesik untuk

mengoptimalkan respons pasien

 Dokumentasikan respons terhadap efek analgesik dan efek yang tidak diinginkan

Edukasi

 Jelaskan efek terapi dan efek samping obat

Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesik, sesuai indikasi

d. Risiko perdarahan (D.0012)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Intervensi

Risiko perdarahan dibuktikan dengan (d.d)

 Aneurisma

 Gangguan gastrointestinal (misalnya ulkus lambung, polip, varises)

 Gangguan fungsi hati (misalnya sirosis hepatis)

 Komplikasi kehamilan

(misalnya ketuban pecah sebelum waktunya)

 Komplikasi pasca partum (misalnya atoni uterus, retensi plasenta)

 Gangguan koagulasi (misalnya

trombositopenia)

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama … x … Jam, maka tingkat perdarahan menurun (L.02017), dengan kriteria hasil:

 Membran mukosa lembab meningkat

 Kelembaban kulit

meningkat

 Hemoptisis menurun

 Hematemesis menurun

 Hematuria menurun

 Pencegahan perdarahan (I.02067)

Intervensi yang

dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan menurunkan risiko atau komplikasi

stimulus yang menyebabkan

perdarahan atau risiko perdarahan.

Observasi

 Monitor tanda dan gejala perdarahan

 Monitor nilai

hematokrit/hemoglobin sebelum dan setelah kehilangan darah

 Monitor tanda-tanda vital ortostatik

 Monitor koagulasi (mis:

prothrombin time (PT), partial thromboplastin time (PTT), fibrinogen,

degradasi fibrin dan/atau platelet)

Terapeutik

 Pertahankan bed rest selama perdarahan

 Batasi tindakan invasive, jika perlu

 Gunakan kasur pencegah decubitus

 Hindari pengukuran suhu rektal

 Efek agen farmakologis

 Tindakan pembedahan

 Trauma

 Kurang terpapar informasi tentang pencegahan perdarahan

 Proses keganasan

 Hemoglobin membaik

 Hematokrit membaik

Edukasi

 Jelaskan tanda dan gejala perdarahan

 Anjurkan menggunakan kaus kaki saat ambulasi

 Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari konstipasi

 Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan

 Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K

 Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu

 Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu

 Kolaborasi pemberian pelunak tinja, jika perlu

e. Risiko infeksi (D.0142)

Diagnosis Luaran Intervensi Rasional Implementasi

Risiko Infeksi dibuktikan dengan (d.d)

 Penyakit kronis (mis: diabetes melitus)

 Efek prosedur invasif

 Malnutrisi

 Peningkatan paparan organisme patogen

lingkungan

 Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer (gangguan peristaltik;

kerusakan integritas kulit;

perubahan sekresi pH; penurunan kerja siliaris;

ketuban pecah lama; ketuban pecah sebelum waktunya;

Setelah dilakukan intervensi

keperawatan selama … x … Jam, maka tingkat infeksi menurun

(L14137), dengan kriteria hasil:

 Demam menurun

 Kemerahan menurun

 Nyeri menurun

 Bengkak menurun

 Kadar sel darah putih membaik

 Pencegahan Infeksi (I.14539)

Intervensi yang

dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organisme patogenik

Observasi

 Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik Terapeutik

 Batasi jumlah pengunjung

 Berikan perawatan kulit pada area edema

 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien

 Pertahankan teknik aseptic pada pasien berisiko tinggi Edukasi

 Jelaskan tanda dan gejala infeksi

 Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar

 Ajarkan etika batuk

 Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi

 Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi

merokok; statis cairan tubuh)

 Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder

(penurunan hemoglobin;

imunosupresi;

leukopenia; supresi respon inflamasi;

vaksinasi tidak adekuat)

 Anjurkan meningkatkan asupan cairan

Kolaborasi

 Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

4. Implementasi

Implemetasi keperawatan adalah kategori serangkaian perilaku perawat yang berkoordinasi dengan pasien, keluarga, dan anggota tim kesehatan lain untuk membantu masalah kesehatan pasien yang sesuai dengan perencanaan dan kriteria hasil yang telah ditentukan dengan cara mengawasi dan mencatat respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai. Evaluasi ini dilakukan dengan cara membandingkan hasil akhir yang teramati dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat dalam rencana keperawatan. Evaluasi ini akan mengarahkan asuhan keperawatan, apakah asuhan keperawatan yang dilakukan ke pasien berhasil mengatasi masalah pasien ataukan asuhan yang sudah dibuat akan terus berkesinambungan terus mengikuti siklus proses keperawatan sampai benar-benar masalah pasien teratasi.

BAB III