2.2 Konsep dasar Intra Aortic Balloon Pump (IABP) .1 Definisi IABP
2.2.10 Monitoring dan Perawatan IABP
Pemeriksaan foto Rontgen dada sebaiknya dilakukan setiap hari untuk memastikan IABP berada pada tempatnya dan berfungsi optimal. Idealnya ujung balon IABP ditempatkan 2-3 cm distal dari pangkal arteri subklavia kiri. Posisi yang tepat ini akan meminimalkan risiko embolisasi ke otak serta oklusi arteri subklavia kiri. Penempatan ujung IABP sebaiknya menggunakan landmark carina, 2 cm lebih ke atas, (bila ditarik garis horizontal) akan memberikan jarak ujung IABP – pangkal arteri subklavia kiri sekitar 1,5-3,5 cm.
Pada foto thoraks, struktur karina terlihat jelas, dan memiliki hubungan yang konsisten dengan arcus aorta. Sedangkan penggunaan aortic knob sebagai panduan, sering memberikan batasan yang kurang konsisten karena bayangannya yang luas pada foto x-ray dada. Cara praktis lain untuk menentukan lokasi percabangan arteri subklavia kiri adalah dengan panduan iga kedua, sedang percabangan arteri renalis kiri dan kanan, berlokasi sekitar antara corpus vertebra lumbal pertama dan kedua (Oktaviano, 2020).
1. Kaji sistem kardiovaskular, perifer vaskular dan statushemodinamik setiap 15- 60 menit, meliputi :
a. Tingkat kesadaran
Perubahan tingkat kesadaran disebabkan karena adanya trombus yang lepas selama therapy IABP, migrasi kateter IABP dan penurunan aliran darah ke arteri karotis.
b. Tanda-tanda vital dan PAP
Ketidakstabilan tanda – tanda vital dan perubahan hemodinamik menunjukan ketidakefektifan terapy IABP.
c. Arteri line dan gelombang IABP.
Cek semua sambungan selang dari kebocoran dan yakinkankeefektifan terapy dan timing IABP.
d. Nilai CO, CI, SVR
Menunjukan keefektifan terapy IABP dengan adanya perubahan nilai CO, CI, SVR ke nilai normal.
e. Sirkulasi ekstermitas
Tujuannya menilai keadekuatan perfusi perifer. Jika terjadi gangguan pada perfusi perifer di daerah pemasangan IABP dapat diindikasikan adanya obstruksi yang disebabkan oleh kateter IABP atau emboli. Indikasi adanya perubahan posisi kateter IABP dapat di nilai khususnya dengan adanya penurunan perfusi ke tangan kiri.
Tanda dan gejalanya : 1) CRT > 3 detik
2) Penurunan atau tidak adanya pulsasi , pada arteri radial,antecubital, popliteal, tibia dan dorsalis pedis 3) Warna pucat, mottled ayau sianosis
4) Penurunan atau tidak adanya sensasi 5) Nyeri
6) Akral dingin f. Urine output
Validasi keadekuatan perfusi ke ginjal , bila terjadi penurunan urine output < 0,5 ml/KgBB/jam maka perfusi ke ginjal tidak adekuat.
g. Kaji bunyi jantung dan paru seriap 4 jam atau bila perlu Keabnormalan bunyi jantung dan paru mengindikasikan butuhtherapy tambahan. Bila kondisi pasien mengizinkan posisi IABP di “standby” sehingga dapat mendengar keakuratan bunyi jantung dan paru. Karena IABP
31
menciptakan suaratambahan yang akan mengganggu saat aukultasi.
h. Kaji keluhan nyeri , apakah pasien mengeluh nyeri dada, ketidaknyamanan karena terpasang IABP atau keterbatasan aktivitas.
2. Pertahankan posisi kepala 30 - 45º , untuk mencegah kateter IAB terjepit atau migrasi.
3. Observasi EKG dan gelombang IABP
a. Observasi gelombang IABP atau timing IABP setiap awal shift dan setiap jam selanjutnya.
b. Cek frekuensi IABP dengan perubahan irama (perubahan HR
> 20 x/m) dan adanya perubahan hemodinamik, alarm dan perubahan signal trigger.
c. Rekam 2 strip EKG setiap shift dan didokumentasikan Rekam 1 strip EKG dari monitor dan 1 lagi mesin IABP.
d. Gelombang IABP frequensi 1 : 2 harus menunjukan gelombang yang tidak dibantu (Unassisted) dan dibantu (assisted).
4. Yakinkan alarm augmentasi “on” dan set 10 -15 mmHg di bawah pressure optimal.
5. Pertahankan pressure system flush
a. Level/ zero , pressure bag diatas 300 mmHg dan digantung 40 inchi diatas transduser.
b. Tidak boleh ada darah di line IABP maka pastikan cairan flush Nacl 0,9 % + heparin 500 unit dan line diflush 3 cc / jam guna menjaga kepatenan line.
c. Flushing tidak boleh > 15 detik dan IABP dalam kondisi standby.
d. Tidak boleh mengflush ketika IABP berinflasi / deflasi.
e. Hindari ambil sampel darah dari arteri line IABP, karena dapat menimbulkan resiko thrombus dan emboli.
f. Bila arteri line pada IABP tidak dapat di aspirasi lagi maka tidak boleh di flush, hal ini akan membahayakan pasien.
g. Perhatikan line IABP dari gelembung udara.
h. Ganti line sesuai protokol institusi.
i. Cek semua sambungan selang dari kebocoran dan tertekuk.
6. Monitor tanda-tanda posisi IABP tidak tepat.Posisi kateter IABP ketinggian terjadi obstruksi arteri subclavia dan arteri celiac dan posisi kateter kerendahan terjadi obstruksi inferior atau superior arteri mesenterika dan arteri renal.
Tanda dan gejala IABP tidak tepat :
a. Penurunan atau tidak adanya pulsasi arteri antecubital dan radial.
b. Warna tangan kiri pucat, mottled dan sianotik c. Penurunan dan tidak adanya sensasi di tangan kiri d. Gambaran gelombang arteri radial damping
e. Penurunan atau tidak ada pergerakan pada tangan kiri f. Penurunan atau tidak adanya bising usus
g. Abdomen tegang h. Tympani
i. Nyeri abdominal
j. Penurunan urine output < 0,5 ml/KgBB/jam k. Peningkatan BUN, Ureum dan creatinin.
l. Augmentasi IABP berkurang.
7. Monitor tanda- tanda balon pecah.
Pecahnya balon menyebabkan helium tercampur dengan darah diaorta, menyebabkan potensial terjadinya emboli.
Tanda – tanda balon pecah adalah:
a. Adanya darah atau flek pada selang b. Augmentasi IABP tidak ada
c. Alarm control mesin aktif misalnya gas loss.
8. Pertahankan keakuratan time IABP, jika time IABP tidak akuratcardiac output dapat menurun.
9. Lakukan kolaborasi : rongent thorak setiap hari. Bertujuan untuk menilai keakuratan kateter IABP.
33 10. Rubah posisi pasien tiap 2 jam.
Meningkatkan rasa nyaman bagi pasien dan mencegah terjadinya dekubitus. Pada saat merubah posisi harus memperhatikan kondisi hemodinamik pasien dan pertahankan posisi kateter IABP agar tidak tertekuk, sebaiknya menggunakan kasur anti decubitus.
11. Immobilisasikan ekstermitas yang terpasang kateter IABP dengan restrain yang nyaman bagi kaki, tujuannya mencegah perubahan posisi atau migrasi kateter IABP.
12. Lakukan Range Of Motion (ROM) setiap 2 jam . Bertujuan mencegah vena statis dan otot atropi.
13. Kaji daerah sekitar penusukan kateter IABP setiap 2 jam, kaji apakah terjadinya hematom atau perdarahan. Karena inflasi dan deflasi kateter IABP dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah dan platelet. Dan therapi antikoagulan dapat merubah nilai hemoglobin, hematokrit dan faktor koagulasi.
14. Cek laboratorium APTT tiap 6 – 12 jam, guna memonitor potensialperdarahan atau cloting.
15. Pertahankan therapy antikoagulan sesuai dengan nilai APTT dan instruksi dokter. Therapi antikoagulan digunakan untuk mencegah thrombus dan emboli.
16. Monitor pasien dari kejadian perdarahan sistemik atau kelainan koagulan. Perubahan hematologi dan faktor pembekuan dapat diakibatkan karena perdarahan pada saat insersi balon IABP, efek antikoagulan, kelainan platelet akibat trauma mekanikal pada saat inflasi dan deflasi balon IABP.
Perawat segera melaporkan bila terjadi kondisi, seperti:
a. Perdarahan dari insersi site IABP b. Perdarahan membrane mukosa c. Petechiae
d. Hematemesis atau melena e. Hematuria
f. Penurunan hemoglobin atau hematokrit g. Penurunan filling pressure
h. Penurunan HR
i. Hematom retroperitoneal
j. Nyeri di abdomen bawah, flank, paha dan ekstermitas bawah.
17. Ganti balutan kateter IABP setiap 24 jam dan line IABP sesuai protocol institusi. Bertujuan menurunkan kejadian infeksi dan memberi kesempatan untuk mengkaji tanda gejala infeksi.
18. Monitor tanda dan gejala diseksi aorta.
Diseksi aorta dapat terjadi akibat penempatan IABP yang tidak tepat ke dalam false lumen di aorta. Tanda dan gejala diseksi aorta, adalah:
a. Nyeri punggung, nyeri dada, flank, dan testicular.
b. Penurunan pulsasi
c. Adanya perbedaan tekanan darah di tangan kanan dan kiri.
d. Penurunan cardiac output e. Peningkatan HR
f. Penurunan hemoglobin dan hematokrit.
g. Penurunan filling pressure.
19. Pastikan therapy vassopresor dan inotropik sudah minimal sebelum dilakukan weaning IABP. Bertujuan untuk memastikan kondisi hemodinamik pasien sudah stabil karena kondisi jantungnya sudah membaik dengan atau minimal suport vassopresor. Sehingga pasien bisa segera di weaning dari IABP.
20. Identifikasi Parameter kondisi yang dapat dilakukan proses weaning IABP, adalah :
a. Tidak ada angina b. HR < 110 x/m c. Tidak ada disritmia
d. MAP > 70 mmHg dengan sedikit/tanpa bantuan vasopressor
35 e. PAWP < 18 mmHg f. CI > 2,4
g. SvO2 60 – 80 % h. CRT < 3 detik
i. Urine output > 0,5 ml/ kg BB/ jam 2.2.11 Komplikasi Saat Pemasangan IABP
1. Saat pemasangan a. Perforasi arteri b. Diseksi aorta
2. Pada saat terpasang IABP a. Limb iskemia
b. Emboli sistemik atau serebral oleh karena gas, thrombus, udara
c. Trombositopenia
d. Infeksi local dan sistemik e. Ruptur aorta
f. Perdarahan
g. Obstruksi pembuluh darah (renal, subklavia kiri) h. Kompartemen syndrome.
3. Saat pencabutan kateter IABP
a. Emboli oleh plak atau thrombus kateter b. Perdarahan
c. Infeksi
2.2.12 Penanganan Pemecahan Masalah Pada Pemasangan IABP