• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

2. Diagnosa

Penulisan diagnosa keperawatan yang di tegakkan berdasarkan prioritas keperawatan. Diagnosa prioritas adalah nyeri akut berhubungan dengan kontaksi uterus. Faktor berhubungan dengan kontraksi uterus

karena menurut Fraser, Diane M (2009, p. 205) bahwa kontraksi uterus akan menyebabkan keluarnya isi yang ada di dalam rahim, sehingga kemungkinan terjadi abortus yang tidak dapat di hindari. Akibat dari kontraksi uterus menurut Reeder Martin (2014, p. 601) adalah dapat menghasilkan penutupan banyak pembuluh darah yang berada di dalam celah uterus, menyebabkan banyak kehilangan darah.

Prioritas masalah di angkat berdasarkan keluhan utama yang di rasakan pasien saat penulis melakukan pengkajian. Hal ini sesuai dengan pendapat Ai Yeyeh dan Lia Yulianti (2010, p.143) yang menjelaskan bahwa adanya serviks terbuka karena masih ada benda di dalam uterus yang dianggap corpus luteum maka uterus berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi tetapi kalau keadaan ini dibiarkan lama, serviks akan menutup kembali, uterus sesuai usia kehamilan, kram atau nyeri perut bagian bawah dan terasa mules-mules.

Batasan karakteristik untuk menegakkan diagnosis nyeri akut meliputi gejala subjektif dan objektif. Gejala subyektif adalah klien mengatakan nyeri di alat kemaluan dan mulas di daerah perut bawah dan, nyeri hilang timbul dan saat di tekan, kualitas nyeri terasa perih, skala 4, diakibatkan adanya kontraksi uterus. Klien mengatakan masih keluar darah setelah tindakan kuretase jam 09:30 WIB dengan warna darah merah segar dan masih terasa kenceng-kenceng (kontraksi uterus), klien mengetahui penyebabnya adalah tindakan kuretase dan kontraksi perut, lamanya selama masih ada darah keluar. Gejala objektif yaitu Hasil pengukuran

tanda-tanda vital TD: 140/80 mmHg, S: 36,4ºC, RR: 20x/menit, N:

68x/menit, klien tampak meringis kesakitan saat abdomen ditekan. klien menghindari nyeri saat abdomen ditekan. Hal ini sesuai dengan pendapat Reeder Martin (2014, p. 351) bahwa sebagian besar wanita mengalami nyeri selama dan setelah evakuasi uterus yang dilakukan dengan penyedotan atau kuretase vakum. Derajat nyeri yang dialami wanita bervariasi. Nyeri akibat aborsi dikategorikan sebagai nyeri dengan intensitas yang moderat (nyeri sedang). Penulis mengangkat diagnosa ini sesuai dengan faktor berhubungan dan sesuai dengan keluhan yang di rasakan klien dan pengamatan yang dilakukan penulis. Dampak apabila masalah nyeri tidak teratasi maka klien akan lebih merasakan nyeri hebat (tak tertahankan), klien tidak bisa melakukan aktivitas dan proses penyembuhan klien lebih lama.

Diagnosa selanjutnya yang penulis tulis pada kasus ini adalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. Faktor berhubungan yang tepat yaitu mual, faktor berhubungan dengan anoreksia tidak muncul karena klien tidak merasakan anoreksia pada saat pengkajian.

Faktor berhubungan penulis mengambil mual sesuai dengan pendapat Cunningham (2013) bahwa penyebab mual muntah adalah stress emosi, cemas, infeksi, obstruksi usus, konstipasi, efek samping obat-obatan (amtibiotik). Hal ini sesuai dengan program terapi yang diberikan yaitu obat cefadroxil. Penulis mengangkat masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sesuai dengan data obyektif dan data subyektif yang di

katakan klien. Gejala subyektif adalah klien mengatakan nafsu makan menurun karena lidah terasa pahit, malam hari tanggal 3 Maret 2015 klien merasa mual tapi tidak muntah, klien menghabiskan makan seperempat porsi rumah sakit dan minum habis ±100 cc setelah tindakan kuretase.

Gejala Obyektif dari berat badan klien adalah antropometri : BB sebelum sakit 43 kg, BB saat sakit 42,3 kg, berat badan ideal (BBI) sebesar 40,5 kg.

Antropometri yaitu hemoglobin 11,4 g/dl, hematokrit 32,6%. Clinis (Clinical Sign) yaitu mukosa bibir kering. Diit nasi (tinggi kalori tinggi protein/TKTP) habis seperempat porsi rumah sakit.

Tujuan yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah klien mempertahankan berat badan atau bertambah berat badannya dan mengungkapkan tekad untuk mematuhi diet. Akibat apabila diagnosa nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ini tidak di tangani akan terjadi malnutrisi pada klien sehingga terjadi penurunan berat badan dan berdampak pada penurunan daya imun.

Penulis mengangkat diagnosa lain seperti resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif. Diagnosa ini di angkat berdasarkan data obyektif yaitu klien dilakukan tindakan kuretase tanggal 3 Maret 2015 pukul 9:00 sampai 9:30 WIB dan nilai hemoglobin 11,4 g/dL (menunjukkan adanya penurunan hemoglobin). Tindakan kuretase menurut F Gary Cunningham (2006, p. 968) adalah tindakan mendilatasi serviks dan kemudian mengososngkan uterus (kuretase tajam) secara mekanis, melakukan asipirasi vakum (kuretase isap), dilatasi serviks lebar

diikuti oleh destruksi dan evakuasi mekanis bagian-bagian janin, dengan mendilatasi serviks dapat menyebabkan resiko infeksi pada vagina. Hal ini yang mendasari penulis untuk mengangkat diagnosa resiko infeksi berhubungan dengan jaringan yang trauma. Apabila masalah ini tidak di angkat maka akan terjadi infeksi dan memperlambat penyembuhan klien.

Penulis juga mengangkat diagnosa selanjutnya yaitu kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi yang diperoleh. Diagnosa yang di tulis seharusnya tertulis kurang pengetahuan tentang abortus dan perawatan pasca kuretase berhubungan dengan kurangnya informasi yang diperoleh. Penulis mengangkat diagnosa ini karena saat pengkajian klien kurang mengetahui tentang keguguran, penyebab keguguran dan penanganan pasca keguguran. Batasan karakteristik hanya sesuai dengan satu batasan karakteristik dari pendapat Judith M Wilkinson (2010, P.236), tiga batasan karakteristik lainnya tidak muncul yaitu tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat, perfoma uji tidak akurat, dan perilaku yang tidak sesuai atau terlalu berlebihan. Apabila masalah ini tidak segera tertangani maka klien tidak akan mengerti tentang keguguran, penyebab keguguran dan penanganan pasca keguguran (Doengoes, 2001). Diagnosa ini sebagai prioritas ketiga karena tidak memerlukan tindakan segera dan dampak jika tidak tertangani tidak membahayakan. Pengetahuan yang cukup keluarga akan berperilaku hidup sehat sehingga dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit

(WHO, 2000). Apabila diagnosa kurang pengetahuan ini tidak di angkat maka klien dan keluarga salah dalam perawatan pasca abortus.

Secara teori diagnosa yang muncul terdapat sembilan diagnosa namun dalam kasus terdapat empat diagnosa yang muncul. Diagnosa- diagnosa yang tidak muncul yaitu

a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan

Diagnosa ini tidak diangkat oleh penulis karena klien tidak ada tanda kekurangan cairan, sedangkan untuk menegakkan diagnosa kekurangan volume cairan harus ada batasan karakteristik subyektif dan obyektif. Batasan karakteristik subyektif kekurangan volume cairan menurut Judith M. Wilkinson (2013) adalah haus. Batasan karakteristik obyektif adalah Perubahan status mental, penurunan turgor kulit dan lidah, penurunan haluaran urine, penurunan pengisian vena, kulit dan membrane mukosa kering, hematokrit meningkat, suhu tubuh meningkat, peningkatan frekuensi nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume dan tekanan nadi, konsentrasi urine meningkat, penurunan berat badan tiba-tiba, kelemahan.

b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan, kepekaan uterus Diagnosa ini tidak diangkat penulis karena TD klien : 140/80 mmHg, N : 68x/menit, S: 36,4ºC, RR : 20x/menit, aktivitas klien mandiri, sedangkan untuk menegakkan diagnosa ini harus ada batasan karakteristik subyektif atau obyektif menurut Judith M. Wilkinson (2013) pada batasan karakteristik subyektif yaitu ketidaknyamanan atau

dispnea saat beraktivitas dan melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal. Batasan karakteristik obyektif adalah frekuensi jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respons terhadap aktivitas dan perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia.

c. Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen

Alasan penulis tidak mengangkat diagnosa ini karena klien BAB sehari sekali, sedangkan menurut Judith M. Wilkinson (2013) untuk menegakkan diagnosa konstipasi harus ada batasan karakteristik subyektif yaitu nyeri abdomen, nyeri tekan abdomen, anoreksia, perasaan penuh pada rektum, kelelahan umun, sakit kepala, peningkatan tekanan abdomen, indigesti, mual, nyeri saat defekasi, serta batasan karakteristik obyektif yaitu darah merah segar menyertai pengeluaran feses, perubahan suara abdomen (borborigmi), perubahan pola defekasi, penurunan frekuensi, penurunan volume feses, distensi abdomen, feses kering keras padat, bising usus hipoaktif, masa abdomen dapat di palpasi, bunyi pekak pada perkusi abdomen, flatus berat, mengejan saat defekasi, tidak mampu mengeluarakan feses, dan muntah.

d. Ansietas berhubungan dengan defisiensi pengetahuan mengenai prosedur dan perawatan pasca prosedur.

Diagnosa ini tidak diangkat oleh penulis karena klien tidak tampak ansietas, sedangkan untuk menegakkan diagnosa ansietas menurut Judith M. Wilkinson (2013) harus ada batasan karakteristik yaitu Perilaku (penurunan produktivitas, gelisah, memandang sekilas,

insomnia, kontak mata buruk, resah, menyelidik dan tidak waspada);

afektif (gelisah, kesedihan yang mendalam, distress, ketakutan, gugup, perasaan tiak adekuat, gembira berlebihan, marah, menyesal, perasaan takut, ketidakpastian, dan khawatir); fisiologis (wajah tegang, peningkatan keringat, peningkatan ketegangan, terguncang, gemetar, dan suara bergetar); parasimpatis (diare, pingsan, keletihan, gangguan tidur, mual, nyeri abdomen, dan urgensi berkemih); simpatis (anoreksia, mulut kering, jantung berdebar-debar, peningkatan nadi, peningkatan refleks, dan dilatasi pupil); kognitif (konfusi, blocking pikiran, penurunan lapang pandang, dan kesulitan berkonsentrasi).

e. Berduka berhubungan dengan kematian janin sekunder akibat kehilangan, rasa bersalah.

Diagnosa ini tidak di angkat karena klien tidak menunjukkan respon kehilangan, sedangkan menurut Judith M. Wilkinson (2013) untuk menegakkan diagnosa berduka harus ada batasan karakteristik subyektif dan obyektif. Subyektif yaitu marah, menyalahkan, merasa terpisah, putus asa, mengalami peredaan, nyeri, pertumbuhan personal, distress psikologis, dan kepedihan, serta obyektif adalah perubahan tingkat aktivitas, perubahan pola mimpi, perubahan fungsi imun, perubahan fungsi neuroendokrin, perubahan pola tidur, disorganisasi, member makna terhadap kehilangan, serta perilaku panik.

Dokumen terkait