BAB IV PEMBAHASAN DAN SIMPULAN
B. Simpulan
Evaluasi dari diagnosa keperawatan kurang pengetahuan sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil akan teratasi dalam sehari pada tanggal 4 Maret 2015 tetapi dalam tindakan keperawatan diagnosa keperawatan dapat teratasi dalam dua hari di karenakan klien belum bisa menjawab dari evaluasi pendidikan kesehatan mengenai abortus di buktikan dengan respon obyektif adalah klien dan kakak klien antusias dan aktif bertanya, melibatkan keluarga dalam pendidikan kesehatan. klien antusias bertanya, klien dapat menjawab pengertian abortus, 2 penyebab abortuss, dan belum dapat menjawab pencegahan abortus. Diagnosa keperawatan kurang pengetahuan teratasi pada tanggal 4 Maret 2015 di buktikan dengan evaluasi suyektif klien mengatakan bisa mencuci tangan dengan benar dan evaluasi obyektif suhu 36,4ºC, leukosit 8,1 10^3/ul.
Rumah Sakit Tidar Magelang bangsal Budi Rahayu. Klien sebelumnya sudah pernah di rawat di rumah sakit dengan operasi sectio caesaria (SC) pada saat melahirkan anak pertamanya (bayi aterm) dengan ateresia ani satu tahun yang lalu dan meninggal dunia usia bayi 14 hari dengan BB bayi 2200 gram. Klien mengatakan belum pernah mengalami keguguran sebelumnya.
Riwayat penikahan adalah klien menikah usia 41 tahun. Riwayat reproduksi menarche pada usia 15 tahun, lama haid 7 hari, siklus menstruasi 28 hari, banyak darah ± 50 cc/hari. Riwayat kehamilan P1A1.
Pemeriksaan Fisik meliputi KU lemah, kesadaran composmentis, tanda – tanda vital : TD 140/80 mmHg, N 68 x/menit, RR 20 x/menit, S 36,40 C. Pemeriksaan payudara areola mamae menghitam dan payudara bentuk normal. Pemeriksaan abdomen simestris, auskultasi bising usus 6 kali per menit, ada nyeri tekan abdomen bawah, perkusi tympani.
Genetalia terpasang pembalut dengan darah merah segar ± 50 ccdan nyeri pada porsio digoyang.
Pengkajian fokus meliputi pengkajian sirkulasi perdarahan pervaginam ±50 cc, hematokrit 32,6%, TD 140/80 mmHg, N 68x/menit, S 36,4º C, RR 20x/menit, turgor kulit baik kembali <2 detik, Capillary Refill Time (CRT) <2 detik, tidak ada edema/sianosis dan akral hangat.
Pengkajian makanan/cairan meliputi BB sebelum sakit 43kg BB saat sakit 42,3 kg dan TB 148 cm, nafsu makan menurun lidah pahit, malam hari tanggal 3 Maret 2015 klien mual, mukosa bibir kering, makan
seperempat porsi rumah sakit dan minum habis ±100 cc setelah tindakan kuretase. Diit TKTP.
Pengkajian nyeri meliputi klien merasakan nyeri dan mulas di daerah perut bawah, nyeri hilang timbul dan saat di tekan, kualitas nyeri terasa perih, skala 4, diakibatkan kontraksi uterus, terlihat menghindari nyeri ketika abdomen ditekan.
Pengkajian penyuluhan atau pembelajaran meliputi klien kurang mengetahui tentang keguguran, penyebab keguguran dan penanganan pasca keguguran.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus
b. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual c. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber informasi yang diperoleh
3. Perencanaan Keperawatan
Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah nyeri akut, yaitu lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keperahan nyeri, dan factor presipitasinya, observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur, ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (misalnya,
umpan balik biologis, hypnosis, relaksasi, imajinsi terbimbing, terapi music, distraksi, kompres hangat atau dingin, dan bersama penggunaan tindakan peredaan nyeri yang lain, dan kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik jika tindakan tidak berhasil atau perubahan bermakna dari pengalaman nyeri pasien masa lalu.
Rencana keperawatan untuk mengatasi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, meliputi pantau nilai laboratorium, khususnya transferin, albumin dan elektrolit, serta pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan, timbang pasien pada interval yang tepat, ajarkan keluarga dan pasien tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal, berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.
Rencana keperawatan untuk mengatasi masalah resiko infeksi, yaitu pantau tanda dan gejala infeksi (misalnya : suhu tubuh, denyut jantung, penampilan luka, sekresi, penampilan urine, lesi kulit, keletihan, dan malaise), kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi (misalnya usia lanjut, luluh imun, dan malnutrisi), pantau hasil laboratorium (hitung darah lengkap, hitung protein serum, dan albumin), jelaskan kepada pasien dan keluarga mengapa sakit dan risiko infeksi, ajarkan pasien dan keluarga teknik mencuci tangan yang benar, bersihkan lingkungan dengan benar setelah dipergunakan masing-masing pasien, kolaborasi pemberian terapi antibiotik.
Perencanaan keperawatan untuk mengatasi masalah kurang pengetahuan meliputi lakukan penilaian terhadap tingkat pengetahuan klien saat ini dan pemahaman terhadap abortus, kaji gaya belajar klien, beri penyuluhan sesuai tingkat pemahaman klien dan keluarga, beri informasi tentang sumber-sumber dalam mempertahankan program terapi, ikut sertakan keluarga dan orang terdekat dalam pemberian pendidikan kesehatan.
4. Tindakan keperawatan
Tindakan keperawatan yang dilakukan untuk setiap diagnosa keperawatan berbeda-beda di sesuaikan dengan kondisi dan respon klien.
Implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus dilakukan selama empat hari.
Implementasi untuk mengatasi masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dilakukan selama tiga hari.
Implementasi untuk mengatsi masalah resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dilakukan selama satu hari. Implementasi untuk mengatasi masalah kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi yang diperoleh dilakukan selama dua hari.
5. Evaluasi
Evaluasi atau masalah keperawatan nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus teratasi dalam empat hari. Masalah nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual teratasi dalam tiga hari.
Masalah resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif teratasi
dalam satu hari. Masalah kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi yang diperoleh teratasi dalam dua hari.
C. Hambatan
Hambatan-hambatan yang penulis temukan ketika mengelola pasien abortus inkomplit dengan post kuretase adalah penulis kurang teliti dalam mengkaji ke dalam hal-hal fokus klien seperti mengkaji keadaan umum dan tanda-tanda vital setiap dua jam setelah dilakukan tindakan kuretase. Penulis seharusnya mengkaji keadaan umum dan tanda-tanda vital klien setiap dua jam untuk memantau perkembangan kesehatan klien setelah kuretase, dimana kuretase adalah tindakan prosedur invasif dan dilakukan anestesi spinal sehingga pemantauan setiap dua jam diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, Irene M. (2005). Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC.
Cunningham ,F. Gary.(2006). Obstetri Williams Edisi 21 Volume 2. Jakarta : EGC.
Doengoes, M.E. Moorhouse, M.F, Burley, J.T. (2001). Penerapan proses Keperawatan dan Diagnosa Rencana Asuhan Keperawatan (Terjemahan).
Jakarta : Edisi 13, EGC.
Effendy, N. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat, Ed 2.
Jakarta : EGC
Lamadhah, Dr. Athif. 2012. Buku Pintar kehamilan dan Melahirkan. Yogjakarta : DIVA press.
Manuaba, I. B. G. (2007). Pengantar kuliah Obstetric. Jakarta : EGC.
Mabruroh. 2015. Cara mencegah Abortus.
http://www.madupenyuburalmubruroh.com/cara-mencegah-keguguran- berulang/ di akses tanggal 2-3-2015 jam 20:35 WIB
Maryunani, Anik. (2009). Asuhan Kegawatdaruratan dalam Kebidanan. Jakarta : CV. Trans Info Media.
Moore, Hacker. (2001). Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Hipokrates Nugroho, Taufan.2010. Buku Ajar Obstetric. Yogyakarta: Nuha Medika.
Prawirohardjo, Sarwono. (2010). Ilmu Kebidanan Edisi keempat Cetakan Ketiga.
Jakarta : Tridasa Printer.
Saktyaairlangga. (2012). Pedoman Mahasiswa Keperawatan Kumpulan Asuhan Keperawatan.www.academia.edu/5776110/PEDOMAN_MAHASISWA_
KEPERAWATAN. di akses tanggal 5 Januari 2015.
Suryawan, Ari. (2013). Askep Abortus Inkomplit.
https://arisuryawan58.wordpress.com/2013/11/20/askep-abortus- inkomplit/ di akses tanggal 5 Januari 2015.
Viviparitha. 2013. Asuhan Keperawatan Abortus . (http://viviparitha.wordpress.com/asuhan-keperawatan-abortus/ di akses tanggal 6 januari 2015.
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Wilkinson, J. (2013). Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Edisi 9. Jakarta : EGC.
Yeyeh Ai, Lia Yulianti. (2010). Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan).
Jakarta : CV. Trans Info Media
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik : Abortus
Sasaran : Ny. A dan keluarga
Tempat : Bangsal Bersalin Budi Rahayu RSUD Tidar Kota Magelang Hari/Tanggal : Selasa, 3 Maret 2015
Waktu : 1 X 25 menit I. Tujuan Instruksional umum
Setelah proses penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga pasien mengerti tentang abortus dan pencegahannya
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan peserta mampu : 1. Menyebutkan pengertian abortus
2. Menyebutkan penyebab abortus inkomplit
3. Menyebutkan klasifikasi abortus dan tanda gejala abortus inkomplit 4. Menyebutkan risiko akibat abortus
5. Mengetahui cara pencegahan abortus
III. Materi
1. Pengertian abortus
2. Penyebab abortus inkomplit
3. Klasifikasi abortus dan tanda gejala abortus inkomplit 4. Risiko akibat abortus
5. Cara pencegahan abortus 6. Perawatan post kuretase
IV. Metode 1. Ceramah 2. Diskusi 3. Tanya jawab
IV. Media Leaflet
V. Pengorganisasian
Penyaji : Dyah Sari Romadona VI. Kegiatan Penyuluhan
NO WAK
TU KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN
PESERTA 1 3
menit
Pembukaan :
Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam
Memperkenalkan diri
Menjelaskan tujuan dari penyuluhan Menyebutkan materi yang akan diberikan
Menyampaikan kontrak waktu
Mendengarkan pembukaan
2 7 menit
Pelaksanaan
Penyampaian materi oleh penyaji:
Menggali pengetahuan peserta tentang abortus
Menjelaskan tentang pengertian abortus
Menjelaskan tentang penyebab abortus
Menjelaskan tentang klasifikasi abortus dan tanda gejala abortus inkomplit
Menjelaskan tentang risiko akibat terjadinya abortus
Menjelaskan tentang pencegahan abortus
Mendengarkan dan memberikan umpan balik tehadap materi yang disampaikan.
3 7 menit
Tanya jawab
Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya tentang materi yang kurang dipahami
Mengajukan pertanyaan
3 5 menit
Evaluasi
Menanyakan kembali kepada peserta tentang materi yang telah diberikan dan reinforcement kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan
Menjawab pertanyaan
4 3 menit
Penutup
Menjelaskan kesimpulan dari materi penyuluhan
Ucapan terima kasih Salam penutup
Mendengarkan dengan seksama dan menjawab salam
VIII. Kriteria Evaluasi 1. Evaluasi Struktur
a) Peserta klien dan keluarga ditempat penyuluhan
b) Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di bangsal bersalin Budi Rahayu
c) Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
2. Evaluasi Proses
a) klien dan keluarga antusias terhadap materi penyuluhan
b) klien dan keluarga mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
3. Evaluasi Hasil
Setelah penyuluhan diharapkan sekitar 80% penyuluhan mampu di mengerti dan memahami penyuluhan yang diberikan sesuai dengan tujuan khusus
LAMPIRAN MATERI
ABORTUS 1. DEFINISI
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin dapat hidup diluar kandungan
(dr.Taufan, 2010).
2. PENYEBAB ABORTUS
a. Kelainan kromosom, seperti trisomi 18, trisomi 21 dan poliploidi.
b. Lingkungan kurang sempurna dalam rahim
c. Pengaruh dari luar, seperti radiasi, obat-obatan, dan lain sebagainya.
d. Kelainan pada plasenta
e. Penyakit ibu seperti tifus abdominalis dan malaria
f. mioma uteri atau kelainan bawaan rahim (Hanifa Wiknjosastro, 2005) 3. KLASIFIKASI ABORTUS
a. Abortus imminiens adalah perdarahan yang terjadi pada rahim sehingga mengakibatkan keluarnya darah dalam jumlah sedikit dan kandungan masih bisa diselamatkan
4. Abortus Insipiens adalah perdarahan yang cenderung diikuti rasa mulas, sehingga mengakibatkan rahim menjadi terbuka.
5. Abortus Inkomplit adalah perdarahan dimana sebagian calon janin telah keluar dari rahim dan masih ada yang tertinggal mengakibatkan ibu hamil drop dan syok.
6. Abortus Komplit adalah perdarahan dimana seluruh calon janin telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20 minggu.
7. Missed Abortion adalah ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan seluruhnya masih dalam kandungan.
8. Abortus Infeksius dan abortus septik adalah adanya perdarahan yang disertai dengan infeksi alat kelamin.
9. Abortus Habitualis adalah ibu hamil yang telah mengalami keguguran 3kali atau lebih secara berturut-turut.
TANDA DAN GEJALA ABORTUS INKOMPLIT :
d. Perdarahan sedikit atau banyak dan terdapat bekuan darah.
e. Rasa mulas (kontraksi) tambah hebat.
f. Pengeluaran sebagian calon janin.
g. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan dapat menyebabkan syok (Anik dan Yulianingsih, 2009).
4. RISIKO ABORTUS a. Perdarahan hebat
b. Infeksi serius disekitar rahim c. Rahim robek
d. Kanker payudara e. Tidak bisa hamil lagi
5. PENCEGAHAN ABORTUS BERULANG
a. Hindari melakukan kegiatan yang terlampaui berat.
b. Hindari asap rokok, minuman beralkohol, kopi, dan semua zat yang terbukti membahayakan kehamilan.
c. Tetap menjaga nutrisi ibu hamil dengan baik
d. Bersikap tenang dalam menghadapi masalah untuk menghindari stress e. Periksakanlah kehamilan secara rutin di pelayanan kesehatan (mabruroh,
2015)
6. PERAWATAN POST KURETASE
Perawatan pasca kuretase menurut Bibilung (2007), perawatan setelah kuretase pada umumnya sama dengan operasi-operasi lain sebagai berikut :
7. Ibu harus menjaga bekas operasinya dengan baik 8. Tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat.
9. Tidak melakukan hubungan intim untuk jangka waktu tertentu sampai keluhannya benar-benar hilang.
10. Meminum obat secara teratur, seperti antibiotik dan analgetik.
11. Konsumsi makanan tinggi kalori tinggi protein.
12. Personal hygiene yang baik.
Menganjurkan untuk ibu beristirahatkan uterus pasca tindakan kuretase sampai kondisi sehat dan siap hamil kembali, terutama bila kuretase saat kondisi kehamilan tua karena kondisi uterus sudah membesar sehingga perlu istirahat. Teknik kuretase dilakukan pada saat kehamilan masih muda (batasannya hingga 20 minggu) kehamilan bisa dilakukan lebih cepat jika ibu sudah merasa siap.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP A. Data Diri
1. Nama Lengkap : Dyah Sari Romadona 2. NIM : P17420512013 3. Tanggal Lahir : 26 Maret 1994 4. Tempat Lahir : Semarang 5. Jenis Kelamin : Perempuan
6. Alamat Rumah: a. Jalan : Erlangga b. kelurahan : Langensari c. kecamatan : Ungaran d. kab/ Kota : Semarang e. provinsi : Jawa Tengah
7. Telepon Rumah: a. Rumah : (024)6926878 / 085727625003 b. Email :[email protected]
B. Riwayat Pendidikan
1. Pendidikan SD di SD Negeri 2 Langensari, lulus tahun 2006 2. Pendidikan SMP di SMP Negeri 1 Ungaran, lulus tahun 2009 3. Pendidikan SMA di SMA Negeri 1 Ungaran, lulus tahun 20 C. Riwayat Organisasi : Anggota TONTI SMA Negeri 1 Ungaran
Magelang, Mei 2015
DYAH SARI ROMADONA