• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V INOVASI KOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM PADA

A. Pandemi Covid-19 dan Kebaruan Sumber Belajar PAI

1. Pendidik

147

daring.194 Praktis, ruang-ruang kelas seluruh jenjang pendidikan kosong melompong dari praktik pembelajaran yang ditengarai berpotensi menjadi pencetus tersebarnya pandemi COVID-19.

Kebijakan luar biasa (extraordinary policies) Pemerintah Pusat di atas menjadi pilihan yang wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia. NTB salah satunya.

Atas dasar itulah, Pemerintah Provinsi NTB menerbitkan Surat Edaran No. 420/3320.UM/Dikbud tentang Penyelenggaraan Pembelajaran di Satuan Pendidikan Pada Tahun Pelajaran 2020/2021 di Masa Pandemi COVID-19.

Surat Edaran Gubernur ditujukan kepada Bupati/Walikota se-NTB, Kepala Dinas Dikbud NTB dan Kakanwil Kemenag NTB tertanggal 7 Juli 2020. Surat Edaran ini dipertegas dengan Surat Sekda NTB kepada bupati/walikota se-NTB dengan Nomor 420/3495.UM/DIKBUD agar menghentikan seluruh aktivitas pembelajaran selama musim pandemi COVID-19 untuk seluruh jenjang satuan pendidikan, baik daerah zona hijau, kuning, oranye, dan merah di masa pandemi COVID-19.

Akibatnya adalah sejak Tahun Ajaran 2019/2020 di NTB, sebanyak 4.899 jumlah satuan lembaga pendidikan yang menghentikan pembelajaran secara konvensional, face to face dan atau tatap, sebanyak 856.312 peserta didik yang harus menerima asupan dan asuhan pendidikan dari rumah, dan sebanyak 68.855 pendidik harus melakukan alih pengetahuan serta nilai (transfer of knowledge and values) dari rumah dan atau jarak jauh. Kota Mataram sendiri yang merupakan lokus episenter penyebaran COVID-19 di NTB terdapat 84.723 peserta didik yang harus belajar dari rumah pada tahun ajaran 2019/2020. Khususnya jumlah peserta didik SMA di Mataram yang terisolir untuk dipulangkan belajar dari rumah akibat COVID-19 pada tahun ajaran 2019/2020 lalu sebanyak 11.512

194Data Pokok Pendidikan Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Ajaran 2019/2020, diakses tanggal 11 Mei 2021.

148

orang.195 Skenario pembelajaran yang mampu menjarakkan secara fisik antara peserta didik dengan pendidik maupun antara peserta didik dengan peserta didik walaupun di tempat yang berbeda dengan memanfaatkan daring/luring/modul dan atau sumber lainnya secara optimal.

Tak ada pilihan lain yang lebih ideal terkecuali memindahkan proses pembelajaran kembali ke rumah (back to home). Situasi ini sangat dilematis, namun proteksi kesehatan dan keselamatan jiwa peserta didik lebih diutamakan timbang alih pengetahuan dalam ruang-ruang kelas. Namun demikian, proses pembelajaran tak boleh diabaikan. Hak-hak peserta didik harus dipenuhi sekalipun pilihannya adalah menganulir praktik pembelajaran untuk sementara dari ruang-ruang kelas dengan memanfaatkan berbagai macam fasilitas pendukung yang mendukung proses tersebut.196

Pembelajaran Jarak Jauh ini dilakukan selama situasi dan kondisi masih dinilai rawan penyebaran COVID-19.197 Kebijakan social distancing sekaligus physical distancing dianggap dapat mereduksi transmisi COVID-19. Seiring dengan kebijakan itu, pemerintah mendorong semua elemen pendidikan agar dapat mengaktifkan kelas secara daring meskipun secara fisik sekolah telah tutup sementara.

Penutupan sekolah menjadi salah satu langkah mitigasi yang dianggap paling efektif untuk mereduksi penyebaran virus pada anak-anak.

Pandemi yang berkepanjangan telah mengantarkan dunia pada lompatan untuk tidak mengantar revolusi pada segala lini kehidupan. Perubahan yang jauh lebih cepat

195Data Pokok Pendidikan Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun Ajaran 2019/2020, diakses tanggal 11 Mei 2021

196L.D. Herliandry, N. Nurhasanah, M. E. Subhan & Kuswanto,

“Pembelajaran pada Masa Pandemi COVID-19, dalam Jurnal Teknologi Pendidikan, 22(1), 65-70.

197 Baber, “Determinants of Students’ Perceived Learning Outcome and Satisfaction in Online Learning During the Pandemic of Covid 19, in Journal of Education and e-Learning Research, 7 (3), 285-292.

149

dibandingkan perkiraan para futurolog. Lompatan paradigma yang suka tidak suka harus direspons secara cepat. Akselerasi yang tak terhindarkan salah satunya adalah payung kebijakan untuk menjadi payung hukum agar tidak dianggap sebagai praktik illegal. Menurut Roger, kebijakan yang bernilai kebaruan yang berbeda dari praksis yang lampau juga adalah inovasi.198

Inovasi tak melulu harus dimaknai sebagai temuan empiris dalam lingkaran dunia sains. Pun karenanya pelbagai kebaruan kebijakan juga dapat dimaknai sebagai inovasi sejauh status ontologis, epistemologi, juga aksiologisnya jelas.

Pembelajaran Jarak Jauh dan atau Belajar dari Rumah berbasis Daring/Luring adalah langkah dramatis-evolutif sebagai model kebijakan di tengah pandemi. Pembelajaran Jarak Jauh tidak sepenuhnya baru. Jauh sebelumnya Pembelajaran berbasis elektronik (e-learning) atau pembelajaran daring (online) merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh yang secara khusus mengawinkan teknologi elektronika dengan teknologi berbasis internet.199 Model ini telah dipergunakan di Amerika Serikat sejak tahun 1892 ketika Universitas Chicago meluncurkan program ini pertama kali untuk pendidikan tinggi.

Metode Pembelajaran Jarak Jauh terus berkembang dengan menggunakan berbagai teknologi komunikasi dan informasi termasuk radio, televisi, satelit, dan internet.200 Meluasnya pemanfaatan internet oleh publik di berbagai negara pada tahun 1996 menjadi penanda tumbuhnya pelbagai konten digital yang semakin memperkaya Pembelajaran Jarak

198Everett M. Rogers, Diffusion of Innovations, (New york, A Division of Macmillan Publishing Co., Inc, 1983).

199Michael Simonson, Sharon Smaldino, Michael Albright, and Susan Zvacek, Eds., Teaching and Learning at a Distance: Foundations of Distance Education, 3rd edition, (Upper Saddle River, NJ: Pearson, 2000).

200Simonson Eds., Teaching and Learning at a Distance..., 10 – 27.

150

Jauh.201 Pada tahun yang sama pula, John Bourne mengembangkan Asynchronous Learning Network Web yang merujuk kepada kemampuan untuk menawarkan pembelajaran kapan saja dan di mana saja melalui internet.202

Sementara itu, di Indonesia, Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning) merupakan bagian dari Pendidikan Jarak Jauh (Distance Education) tercantum dalam Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 31, bahwa (1) Pendidikan Jarak Jauh diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis kependidikan; (2) Pendidikan Jarak Jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau regular; (3) Pendidikan Jarak Jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Sekalipun baru diundangkan pada tahun 2003, praktik Pendidikan Jarak Jauh sudah diterapkan di Indonesia sejak tahun 1984 sekalipun pada level andragogi dan atau level universitas.

Dalam konteks pembelajaran PAI. tak disangkal bahwa Pembelajaran Jarak Jauh mendedahkan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan model pembelajaran konvensional di mana: (1) pengajar dan peserta didik berada dalam ruang yang sama pada waktu yang sama untuk melakukan kegiatan pembelajaran; (2) kegiatan pembelajaran dilakukan dalam bentuk pertemuan tatap muka; (3) pengajar menentukan tujuan belajar, materi ajar, dan evaluasi proses belajar dari peserta didiknya; (4) proses komunikasi antara pengajar dan peserta didik dilakukan secara langsung atau bersifat analog;

(5) menitikberatkan pada peran pengajar sebagai sumber

201Lihat, http://edweek.org/ew/issues/technology-in-education/, diakses 20 September 2021; http://evolution-of-distance-learning.com/ Diarsipkan 2015- 11-10 di Wayback Machine, diakses 20 September 2021.

202Simonson Eds., Teaching and Learning at a Distance..., 121 – 130.

151

informasi dan dalam pengelolaan kelas selama proses pembelajaran berlangsung.203

Proses pembelajaran PAI ‘dadakan’ ini jelas tidak mudah. Ketuntasan materi, keterbatasan fasilitas, kekurangmampuan pendidik memanfaatkan teknologi, orang tua yang tak siap menjadi ‘guru’ di rumah adalah persoalan umum yang paling banyak dikeluhkan selama transmisi pengetahuan dilakukan di rumah dan atau jarak jauh an sich.204 Perbedaan akses dan kualitas Pembelajaran Jarak Jauh mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama anak dengan latar belakang sosio-ekonomi berbeda. Minimnya interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan luar ditambah tekanan akibat sulitnya Pembelajaran Jarak Jauh dapat menyebabkan stress dan depresi pada anak. Rendahnya literasi digital orang tua dalam mendampingi putra dan puteri mereka masih merupakan masalah yang perlu diberi perhatian khusus.

Beberapa keluarga dengan anak lebih dari satu misalnya di mana semua mengikuti Belajar dari Rumah, kerapkali dihadapkan pada keterbatasan laptop, ponsel, dan kuota data.205

Atas dasar itulah, Pemerintah Pusat memperbarui kembali dengan keputusan bersama Empat Menteri terkait pelaksanaan pembelajaran dengan membuka kran bahwa pembelajaran dapat dilakukan secara tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan ketat yang dikombinasikan dengan secara daring sejak digagasnya Pembelajaran Berbasis Zonasi, yang dalam teori pendidikan dikenal dengan Pembelajaran Bauran (Blended Learning). Formulasi pembelajaran ini merupakan konsekuensi dari kebijakan Pemerintah Pusat yang mulai melonggarkan aturan vaksin

203Munir, Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Bandung: Alfabeta, 2009), 18-19.

204Hasil observasi awal di beberapa SMA di Kota Mataram pada bulan April – Juli 2021.

205Nakayama M, Yamamoto H, & S. R., “The Impact of Learner Characterics on Learning Performance in Hybrid Courses among Japanese Students”, in Elektronic Journal E-Learning, Vol. 5(3), 2007, 1.

152

sosial dengan mengarahkan masyarakat untuk masuk dalam tatanan baru tentang Tatanan Baru (new normal life).

Dengan segala keterbatasannya, Pembelajaran Jarak Jauh pada mata pelajaran PAI merupakan pilihan yang paling aman untuk diterapkan pada skala level kebencanaan yang bersifat pandemik, bencana apapun dengan skala dampak yang besar bagi kemanusiaan, dan kategori bencana/pandemi yang tatalaksana medisnya masih belum dijawab secara pasti. Tak jauh berbeda dengan Pembelajaran Jarak Jauh, Pembelajaran berbasis Zonasi pun pada mata pelajaran PAI dengan segala keterbatasan yang ada, juga dapat menjadi jalan tengah untuk dipertimbangkan dan disempurnakan Juklak Juknis nya sebagai strategi pasca bencana berada pada level yang dapat didamaikan dengan fakta empiris sosio-psiko dan faktor kesehatan-keselamatan masyarakat yang terdampak bencana.

Pandemi COVID-19 kita akui adalah petaka bagi dunia, tapi juga menuntun warga dunia untuk keluar dari cangkang praktik konvensional. Dunia pendidikan adalah salah satu yang didorong-didesak untuk melakukan revolusi pembelajaran yang lebih cepat dari apa yang dibayangkan, sekaligus menawarkan gagasan yang bernas bagaimana seharusnya postur pembelajaran yang dapat diadopsi dalam suasana kebencanaan, apapun bentuknya.

Dunia pendidikan, Indonesia, khususnya Mataram- NTB, dalam situasi pandemi COVID-19 seakan berada dalam sebuah laboratorium besar, latihan bersama dan workshop massal yang melahirkan skema pembelajaran: (1) Belajar dari Rumah: Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Daring/Luring; (2) Pembelajaran Berbasis Sistem Zonasi. Menurut hemat peneliti, nampaknya perjalanan panjang metamorfosa formulasi pembelajaran telah sampai pada ‘akhir perjalanan’ di mana model skala zonasi akan menjadi pilihan yang paling elastis dan fleksibel.

Artinya adalah bencana yang kerap terjadi di Indonesia, NTB: Pulau Lombok yang pernah disasar gempa bumi besar, dan atau bencana lainnya seperti banjir, tanah

153

longsor, gunung meletus, dan bencana lainnya tidak boleh mengorbankan hak-hak anak sebagai subjek pendidikan untuk memperoleh layanan pendidikan kedepannya. Karena faktanya, hak-hak pendidikan anak cenderung dilupakan- terabaikan seiring dengan terjadinya bencana alam. Tunjuk misalnya, gempa Lombok yang terjadi 2018 telah menyebabkan kevakuman berbulan-bulan untuk dunia pendidikan.

Lumpuhnya dunia pendidikan saat itu mungkin dimaklumi oleh karena dampak gempa Lombok telah menyebabkan 564 jiwa meninggal dunia, 1.584 orang luka- luka, dan 445.343 penduduk mengungsi. Kerusakan prasarana dan sarana skala besar seperti rumah penduduk 222.580 unit, gedung kantor, prasarana transportasi darat, prasarana sumber daya air, fasilitas kesehatan, pendidikan, tempat ibadah, hotel, toko dan berbagai fasilitas umum. Lebih khusus untuk fasilitas pembelajaran: jumlah sekolah yang rusak dan terdampak mencapai 1.194 unit di mana 53% atau sekitar 639 unit adalah bangunan SD, disusul PAUD 254 unit, SMP 155 unit, SMA 72 unit, SMK 56 unit, serta SLB 8 unit.206

Dengan skala kehancuran yang dahsyat ini, wajar kemudian dunia pendidikan mengalami kematian suri. Hanya saja, peliburan dalam rentang waktu yang panjang dunia pendidikan tidak akan terjadi apabila Pemerintah telah memiliki kebijakan kontijentif terkait model pembelajaran berbasis kebencanaan. Oleh karenanya ke depan, Pembelajaran Berbasis Zonasi dapat menjadi jalan tengah antara keselamatan dan hak dasar setiap anak untuk mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan level kebencanaan.

Kebijakan pembelajaran yang ditelorkan oleh Pemerintah bukannya tanpa cela. Setidaknya, Pertama, berbagai kebijakan Pemerintah tentang sistem pembelajaran

206Ahsanul Khalik, Napas Panjang Membersamai NTB: Catatan, Pikiran, dan Aksi (Mataram: Insan Madani Institute, 2020). Baca juga dalam F. Mustafa dkk., Gempa Lombok 2018: Sejumlah Kisah dan Catatan dari Lapangan (Mataram: Dinas Sosial, 2019).

154

di masa pandemik dalam upaya proteksi serta mitigasi kebencanaan nampak membuahkan hasil dengan rendahnya tingkat fatality rate pada lembaga-lembaga pendidikan. Hanya saja, kebijakan pembelajaran tersebut cenderung membias hanya pada aspek kognitif saja yang dapat diakomodasi, baik pada Pembelajaran Jarak Jauh maupun Pembelajaran Muka Terbatas. Aspek afektif dan psikomotorik, selain aspek kognitif, yang juga merupakan tujuan dari pembelajaran, cenderung terabaikan seperti mata pelajaran PAI. Penekanan aspek kognitif pada kebijakan pembelajaran yang tercakup dalam SKB 4 Menteri boleh jadi disebabkan gagapnya Pemerintah dalam menelorkan kebijakan pembelajaran pada masa pandemi dan juga karena masih belum jelasnya moda pembelajaran untuk aspek psikomorik, lebih-lebih aspek afektif. Oleh karena itu, menurut hemat peneliti, Pemerintah dalam hal ini dapat membuat kebijakan afirmatif di mana aspek afektif dan psikomotorik yang tidak dapat tercover dalam praktik pembelajaran daring, menjadi aspek yang diarusutamakan dalam praktik pembelajaran tatap muka terbatas.

Kedua, ketidaksetaraan infrastruktur. Meluasnya penyebaran Covid-19 telah memaksa pemerintah untuk menutup sekolah-sekolah dan mendorong Pembelajaran Jarak Jauh di rumah. Berbagai inisiatif dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung meskipun tidak adanya sesi tatap muka langsung. Teknologi, lebih spesifiknya internet, ponsel pintar, dan laptop sekarang digunakan secara luas untuk mendukung pembelajaran jarak jauh. Akan tetapi, gangguan terhadap sistem pendidikan tradisional ini telah merugikan siswa-siswa yang yang berasal dari keluarga prasejahtera dan yang berada di daerah pedesaan. Mereka adalah siswa yang, bahkan dalam kondisi normal, sudah menghadapi hambatan untuk mengakses pendidikan.

Sekarang mereka perlu menghadapi hambatan tambahan yang muncul akibat ketidaksetaraan untuk mengakses infrastruktur teknologi. Kesenjangan konektivitas tersebut membuat siswa

155

yang berasal dari keluarga prasejahtera sangat tidak diuntungkan. Perubahan mendadak dari metode tatap muka di ruang kelas menjadi pembelajaran jarak jauh di rumah juga menunjukkan kebutuhan peningkatan kapasitas guru. Akses internet yang tidak merata, kesenjangan kualifikasi guru, dan kualitas pendidikan, serta kurangnya keterampilan ICT menjadi kerentanan dalam inisiatif pembelajaran jarak jauh di Indonesia.

Ketiga, ketiadaan afirmasi kebijakan anggaran untuk Luring. Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp7,2 triliun untuk menyubsidi pulsa dan kuota internet bagi guru, dosen, siswa dan mahasiswa dapat mengatasi salah satu masalah atau kendala PJJ, yakni mahalnya biaya paket data.

Meskipun permasalahan PJJ sejak awal pandemi bukan hanya masalah mahalnya tarif paket data. Namun juga ada masalah lain yang harus diselesaikan, yaitu ketiadaan gawai atau laptop dan akses internet yang terkendala di sejumlah daerah. Bantuan kuota hanya untuk anak-anak yang memiliki gawai dan akses sinyal tidak terkendala di wilayahnya. Bagi anak-anak miskin dan di pelosok, yang tidak punya gawai dan susah sinyal, bantuan itu tidak bisa mereka nikmati.

Kelompok itu hanya bisa dilayani secara luring (offline), namun tak ada bantuan pemerintah untuk luring.

Pembelajaran luring karenanya membutuhkan dukungan anggaran pemerintah berupa dukungan transportasi untuk para guru kunjung. Afirmasi anggaran untuk program pembelajaran Luring nyaris tak terpikirkan oleh Pemerinntah, padahal moda ini merupakan pilihan alternatif untuk memfasilitasi pembelajaran yang tidak dapat dilakukan secara online dan atau virtual.

Keempat, kebijakan afimatif untuk sekolah swasta.

Sekolah swasta murah menarik biaya rendah untuk mendidik siswa yang berasal dari keluarga prasejahtera, dan di saat yang bersamaan sekolah-sekolah ini juga tetap menjaga agar mereka tetap independen secara finansial dan tidak tergantung pada anggaran pemerintah. Sekolah-sekolah

156

swasta ini seringkali terlupakan di dalam sistem pendidikan, tetapi sebenarnya mereka memainkan peranan penting dalam mengedukasi anak-anak yang berasal dari keluarga prasejahtera dengan menyediakan pendidikan murah dan berkualitas tinggi. Sekolah swasta murah memiliki sumber daya yang sangat terbatas untuk beralih ke pembelajaran jarak jauh. Pemerintah karenanya harus memberikan perhatian khusus kepada sekolah swasta murah yang memainkan peran penting dalam menyediakan pendidikan kepada kalangan prasejahtera di perkotaan yang memiliki sumber lebih sedikit dibandingkan sekolah negeri dan sekolah swasta yang lebih mapan.

D. Dinamika Inovasi Kebijakan Pembelajaran Pemerintah:

Sudut Pandang Islam

Pandemi COVID-19 bukan hanya sekedar dinamika yang kilan-berkelindan dengan dunia medis an sich, namun juga bersinggungan erat dengan ranah ‘dunia lain’ yang salah satunya adalah kawasan agama. Belahan lain dari citra diri masyarakat Indonesia yang agamis serta religius di mana praktik peribadatan sebagai bentuk kesalehan teologis- eskatologis kaum beriman terhadap Tuhan merupakan sebuah keniscayaan. Himbauan, anjuran, batasan ketat, bahkan larangan (sementara) Pemerintah untuk tidak beribadah di rumah-rumah peribadatan cenderung ditafsirkan secara prejudice oleh kaum beriman sebagai cara Pemerintah untuk menjauhkan mereka dengan Tuhan. Tak urung kemudian masyarakat membangun makna yang negatif terhadap pelbagai kebijakan Pemerintah yang terkesan ikut campur mengatur ‘persoalan peribadatan’. Negara melihat bahwa ritual serta praktik keagamaan secara berjama’ah sangat rentan membentuk embrio baru lahirnya klaster baru COVID- 19, tepatnya klaster agama. Konsekuensinya adalah agama akan menjadi tertuduh sebagai biang tersemainya mata rantai COVID-19, dus paradoks dengan klaim doktrinal agama

157

sebagai sumber kebaikan serta kebajikan. Jelas ini tidak elok karena dalam banyak kasus, tafsir-tafsir yang kaku atas agama telah melahirkan pelbagai ketimpangan dan kekerasan atas nama agama.

Pemerintah berada di kaki yang tidak mudah: antara melakukan proteksi kesehatan dengan persebaran penyintas COVID-19 yang semakin merebak, di sisi yang lain harus menjawab tudingan sebagian masyarakat melihat Pemerintah sedang melakukan praktik penjarakkan yang berpegangan dengan agama. Umat Islam sebagai komunitas kaum beriman yang mayoritas di Indonesia sangat concern dengan wacana praxis keagamaan. Kegelisahan umat yang hadap-berhadapan dengan protokol kesehatan yang diusung oleh Pemerintah gemanya sampai juga ke ‘meja’ para ilmuan agama, khususnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merupakan badan keagamaan yang dianggap paling otoritatif memberikan pedoman-pedoman praktik keagamaan demi menghadirkan kenyamanan teologis bagi kaum Muslim tentang bagaimana seharusnya beragama dalam situasi pandemi COVID-19.

Ketegangan kreatif teologis inilah yang mendasari MUI untuk mengeluarkan fatwa Nomor: 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaran Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19 pada tanggal 21 Rajab 1441 H atau 16 Maret 2020 M, yang isinya:

1. Setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Ḍarūriyah al- Khams).

2. Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jum’at dapat diganti dengan shalat Dhuhur, karena shalat Jum’at merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.

158

Baginya haram melakukan aktivitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jama’ah shalat lima waktu/rawatib, shalat tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

3. Orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jum’at dan menggantikannya dengan shalat Dhuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jama’ah shalat lima waktu/rawatib, tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya; (b) dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

4. Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat Jum’at di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat Dhuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jama’ah shalat lima waktu/rawatib, shalat tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

5. Dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jum’at dan boleh

159

menyelenggarakan aktivitas ibadah yang melibatkan orang banyak, seperti jama’ah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19.

6. Pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam menetapkan kebijakan penanggulangan COVID- 19 terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya.

7. Pengurusan jenazah (tajhyz al-janāiz) yang terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.

8. Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan/atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan/atau menimbun bahan kebutuhan pokok serta masker dan menyebarkan informasi hoax terkait COVID-19 hukumnya haram.

9. Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak shalawat, sedekah, serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya (daf’ al-balā’), khususnya dari wabah COVID-19.207

207Baca, fatwa Nomor: 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaran Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19 pada tanggal 21 Rajab 1441 H atau 16 Maret 2020 M. Sementara itu, maklumat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor:

A-30/DP.P-XXVIII/IV/2020 Perihal: Pelaksanaan Kegiatan Ibadah Dalam Masa Tanggap Darurat Pandemi Virus Corona (COVID-19) Tanggal 6 April 2020: (1).