BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
4. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan, pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap dengan tujuan agar data yang diperoleh dapat memadai dengan mengandalkan fieldwork dan studi kepustakaan. Data-data tersebut dikumpulkan melalui tahapan:
a. Observasi, yaitu pengamatan secara langsung, pencatatan, serta perekaman secara sistemik dan komprehensif terhadap fenomena dan atau praktik di lapangan selama proses penelitian. Dalam hal ini, teknik yang digunakan adalah complete observer atau kerap disebut sebagai observasi pasif (passive participation),101 di mana peneliti mengamati objek penelitian secara saksama, namun peneliti tidak terlibat sama sekali dalam praktik yang dilakukan oleh narasumber.102
b. Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden.103 Wawancara mendalam (in-depth interview) dilakukan melalui wawancara tak terstruktur (unstructured interview) atau wawancara terbuka,104 di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang tersusun secara sistematis dan lengkap, tetapi pertanyaannya hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang menjadi fokus penelitian dengan memberikan kata pendahuluan terhadap objek yang diteliti.105 Hal ini bertujuan agar informasi yang diperoleh lebih dari apa yang dipikirkan oleh peneliti sebagai hypothetical
101Sugiono, Metode Penelitian, 310.
102Sugiono, Metode Penelitian, 311.
103Gulo, Metodologi, 84.
104Sugiono, Metode Penelitian, 310.
105Sugiono, Metode Penelitian, 318-319.
65
deductive.106 Saat melakukan wawancara, peneliti terlebih dahulu memberikan pengantar kepada para informan. Informan penting dalam penelitian ini adalah mengacu pada fokus penelitian. Informan yang diwawancarai antara lain: Gubernur NTB, Wakil Gubernur NTB, Sekda NTB, Kadis Dikbud NTB, Kabid Pembinaan SMA Dikbud NTB, Danrem 162/Wira Bhakti, Kapolda NTB, tokoh masyarakat dan tokoh agama NTB, kepala-kepala sekolah beserta jajarannya, khususnya guru PAI, orang tua/ wali siswa, dan peserta didik.
Pengumpulan data melalui wawancara dilakukan secara langsung, yang mana peneliti bertemu dengan para informan di berbagai tempat dan waktu yang telah disepakati dengan pertimbangan-pertimbangan khusus. Bilamana terdapat informasi yang terlewatkan atau terlupakan, wawancara dapat dilakukan lebih dari satu kali, khususnya jika informannya adalah pejabat pembuat kebijakan, guru, siswa maupun wali murid atas persetujuan para informan. Wawancara dapat dilakukan melalui sambungan telepon/WA untuk memperdalam analisis penelitian. Penentuan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu teknik penentuan informan dengan pertimbangan bahwa yang bersangkutan dianggap paling mengetahui tentang subjek dan objek penelitian ini,107 dengan pertimbangan agar data penelitian yang terkumpul dianggap lengkap dan representatif. Peneliti juga menganggap sangat relevan untuk menggunakan teknik snowball sampling dalam wawancara. Snowball
106Itu sebabnya metode kualitatif disebut sebagai hypothetic deductive method, yang memulai dengan penyusunan sebuah hipotesis: suatu penjelasan tentatif yang dapat diuji dengan pengumpulan data. Lihat, Emzir, Metodologi, 2.
107Sugiono, Metode Penelitian, 297-329.
66
sampling108 digunakan sebagai informasi tambahan untuk membuka kemungkinan adanya informan baru yang dianggap penting tentang objek penelitian setelah mendapatkan informasi dari informan terdahulu yang telah ditentukan.
Untuk mendukung aktivitas wawancara, peneliti menggunakan alat bantu pendukung berupa:109 (1) buku kecil yang dapat dimasukkan di saku baju atau celana. Buku ini berfungsi untuk merekam secara tertulis informasi yang didapatkan dari para informan terkait dengan hal-hal yang dianggap penting yang tidak tercover oleh alat rekam; (2) alat rekam; semua hasil wawancara akan direkam menggunakan alat rekam handphone. Saat wawancara dilakukan, peneliti akan menyampaikan kepada para informan bahwa prosesi wawancara akan direkam dan akan dijadikan dokumen penelitian, dan (3) Kamera HP yang berfungsi untuk menyimpan gambar kegiatan wawancara, termasuk juga dengan kegiatan penelitian selain wawancara.110 Hal ini dianggap penting untuk meningkatkan validitas dan pertanggungjawaban penelitian.111
c. Dokumentasi, yaitu pengumpulan dokumen-dokumen yang terkait dengan fokus serta lokus penelitian,112
108Jonathan Sarwono, Mixed Method, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2011), 146.
109James P. Spradey, Metode Etnografi, terj. Misbah Elizabet (Yogyakarta:
Tiara Wacana, 1997), 98.
110Dalam melakukan wawancara, peneliti sangat memperhatikan kode etik wawancara, yaitu [1] memperhatikan dan menghargai hak-hak informan, [2]
menyampaikan maksud peneliti kepada informan dengan bahasa yang etis, [3]
memperhatikan privasi informan, [4] fokus pada subjek dan objek penelitian dan tidak bertele-tele, [5] menyampikan informasi mengenai hasil laporan (jika diperlukan), [6] menghargai pendangan informan, [7] dengan ijin informan, lokasi penelitian dan nama informan tidak disamarkan, dan (8) penelitian dilakukan secara cermat agar tidak mengganggu aktivitas harian informan.
111Sugiono, Metode Penelitian, 350.
112Anas Sudijono, Teknik Evaluasi Pendidikan: Suatu Pengantar, (Yogyakarta:
Rama, 1986), 36.
67
berupa dokumen Peraturan Pemerintah dan dokumentasi sekolah yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah dalam mengatur pembelajaran dan implementasi serta implikasi pembelajaran PAI di masa pandemi COVID-19. Dokumentasi juga berhubungan dengan studi pustaka atau studi literatur, yaitu menelusuri sejumlah literatur sebagai referensi yang diterbitkan, baik secara rutin atau berkala113 yang relevan dengan objek penelitian, terutama terkait dengan regulasi di masa COVID-19, pembelajaran PAI, implementasi dan implikasinya.
d. Focuss Group Discussion (FGD). Selain observasi, wawancara, dan dokumentasi, untuk melengkapi data, memverifikasi, mendalami, dan membandingkan, digunakan juga teknik diskusi kelompok yang melibatkan informan kunci dan yang lain. FGD ini pada dasarnya mirip dengan wawancara karena yang dilakukan adalah bincang-bincang secara tatap muka.
Bedanya: kalau wawancara dilakukan secara sendiri- sendiri, maka FGD adalah “wawancara” yang dilakukan dalam waktu dan tempat yang sama terhadap sejumlah informan/narasumber. Karena itu, dalam pelaksanaannya, alur pembicaraan lebih tertata dan terstruktur. Topik pembicaraannya pun juga lebih fokus. Perhatian FGD dalam penelitian ini lebih diarahkan pada pendalaman informasi terhadap suatu masalah, di samping menjadi wahana untuk melakukan klarifikasi, konfirmasi, dan verifikasi data.
Dalam banyak hal, FGD dapat menjadi mekanisme
“triangulasi” data. Peserta FGD terbatas 10-15 orang yang dapat mencakup 3 kategori kelompok diskusi: 1) para informan kunci, 2) para informan lain yang tidak tercakup dalam informan kunci tetapi relevan: 3)
113M. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2005), 154.
68
gabungan informan kunci dengan informan bukan kunci. Pelaksanaan diskusi kelompok ini sangat tergantung kepada perkembangan data di lapangan.