i
INOVASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI SMA KOTA MATARAM
Oleh:
AHSANUL HALIK NIM. 170401002
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
2022
iii
iv
vi
vii
INOVASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI SMA KOTA MATARAM
Oleh:
AHSANUL HALIK NIM: 170401002
ABSTRAK
Kajian ini dilatari oleh pandemi COVID-19 yang memaksa berbagai kehidupan berubah begitu cepat serta drastis. Salah satu yang berdampak adalah dunia pendidikan yang memaksanya harus menyesuaikan diri di tengah kekacauan yang serba tidak pasti, sekaligus mengancam keselamatan warga belajar. Situasi ini mendorong Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov. NTB) menelorkan inovasi kebijakan pembelajaran sebagai jangkar bagi sistem dan moda interaksi pembelajaran yang mengubah secara drastis praktik pembelajaran, termasuk di antaranya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan mata pelajaran lain. Atas dasar itulah melihat urgensinya untuk melakukan riset soal inovasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Masa Pandemi COVID-19 di Kota Mataram.
Disertasi ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat kualitatif- deskriptif. Data yang terkumpul dianalisis dengan paradigma grounded research di mana penggalian datanya dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD) dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Studi ini merefleksikan pikiran bahwa Pertama, inovasi pembelajaran PAI dalam situasi dan kondisi apapun akan terus memberikan kontribusi selama menerapkan model dinamis, negosiatif, akomodatif, dan kolaboratif.
Model inovasi DNAK dalam pembelajaran PAI merupakan sebuah keharusan untuk memantaskan diri serta tanggap dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat massif. Kedua, redesain-rekonseptual implementasi pembelajaran PAI. Redesain pembelajaran PAI pada masa kebencanaan merupakan sebuah keharusan karena penerapan desain pembelajaran PAI pada kondisi normal dibawa ke dalam situasi abnormal, jelas pilihan praktik-
viii
implementatif pembelajaran yang rentan melahirkan ketidakmampuan (maladjustment), baik dari pendidik, peserta didik, orang tua peserta didik, dan juga lembaga pendidikan. Ketiga, redefinisi komponen pembelajaran PAI.
Redefinisi dan atau perluasan makna komponen PAI menjadi sesuatu yang terlelakkan, lebih-lebih dalam situasi kebencanaan. Dengan demikian, praktik pembelajaran yang berorientasikan pada peningkatan aspek kognisi, afeksi, dan psikomotorik peserta didik dapat dilaksanakan dalam kondisi bencana sekalipun. apapun.
Kata Kunci: Inovasi, Kebijakan, Pembelajaran, PAI, COVID-19, SMA Kota Mataram
ix
x
xi MOTTO
ٍۗ تٍۗ ج َرَدٍٍَۗۗمْلِعْلاٍۗاوُت ْوُاٍَۗنْيِذَّلا َو ٍۗ ْمُكْنٍِۗم ا ْوُنَمٍۗ اٍٍَۗۗنْيِذَّلاٍُٰۗاللٍِّۗعَف ْرَي Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (Q.S. Al- Mujadilah: 11).1
ٍۗ ِسانلِل ٍْۗمُهُعَفْنَأ ٍۗ ِسانلاٍٍُۗۗرْيَخ Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. HR. Al- Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab No. 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al- Ausath No. 5787).2
1Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019 (Jakarta: Kemenag RI, 2019).
2HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab No. 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al- Ausath No. 5787.
xii
PERSEMBAHAN
Untukmu Ibu Untukmu Ibu Untukmu Ibu Untukmu Ayah (Disadur dari Hadist)
Disertasi ini kami persembahkan untuk Almarhum Ayahanda H. Abdul Qadir Jaelani yang Telah menyentuh kami dengan kebijaksanaan untuk mencintai ilmu, Ibunda Hj. Sulhayani Laili Kaeroni yang mengaliri dengan kelembutan
cinta. Istriku tercinta Hj. Zahrah Samanhudy dan biji mataku: Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, Nadzira Zahrawani Alhaq, dan Kayla Elysia Alhaq. Mereka adalah bintang, bulan dan matahari yang telah membakar jiwa
kami dengan cawan cinta. Cinta tidak pernah mengaku melakukan kebaikan karena Cinta adalah kebaikan itu sendiri. Andaipun terlahir kembali, aku akan
tetap memilih dalam kehadiran dan kerahiman cinta yang sama. Mereka adalah jiwa yang telah mendekap jiwa kami, hati yang telah mencurahkan rahasia-rahasianya, pemilik tangan yang telah menyalakan obor emosi asa dan harapan. Dari kejernihan hati mereka, kami dapat meneteskan airmata
kerinduan dan kesyukuran.
xii
KATA PENGANTAR
Segala Puji ke hadirat Allah SWT atas Rahmat, Nikmat dan Taufiknya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan disertasi yang berjudul “Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Pada Masa Pandemi COVID- 19 di SMA Kota Mataram”. Disertasi ini diajukan sebagai bagian dari tugas akhir dalam rangka menyelesaikan studi di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Mataram, pada Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Dalam penyelesaian disertasi ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih setulusnya-tulusnya:
1. Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram selaku promotor I dan Dr. H. Ali Jadid Al Idrus, selaku promotor II, yang telah banyak membantu penulis dalam memberikan ide, saran dan kritiknya.
2. Dr. Iwan Fitriani, M.Pd.I., sebagai Ketua Prodi Program Doktor Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.
3. Prof. Dr. H. Fahrurozi, sebagai Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram
4. Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram
5. Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc. dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, yang telah memberikan izin belajar sekaligus motivasi yang dalam penyelesaian Program Doktor ini.
6. Para narasumber Dr. TGH. M. Zainul Majdi, M.A., Drs. Lalu Gita Aryadi, M.Si., Irjen. Pol. Muhammad Iqbal, S.I.K., M.H., Brigjen TNI, Ahmad Rizal Ramdhani, S.Sos., S.H., M.Han., Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., Drs. Lalu Muhammad Hidlir, Dr. TGH. Palahuddin, S.Ag., M.Ag., Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi, M.A.
7. Segenap kepala sekolah, tenaga kependidikan, pendidik, peserta didik, orang tua peserta didik, dan stakehoulder yang menjadi narasumber utama dalam penyusunan disertasi ini. Umumnya, semua pihak yang terlibat, langsung maupun tidak langsung, dalam penyelesaian disertasi ini.
xiii
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut menjadi amal- kebaikan amal-jariyah ilmiah dari Allah SWT. Semoga riset ini bermanfaat bagi kita semua. Amin…!!! Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penelitian ini karenanya saran dan kritik yang konstruktif akan sangat membantu agar disertasi ini dapat menjadi lebih baik.
Mataram, 18 Maret 2022
Promovendus,
Ahsanul Halik
xiv
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN
Pedoman transliterasi Arab-Latin yang digunakan merujuk Library of Congress Romanization of Arabic sebagai berikut:
Konsonan
Konsonan
Transliterasi
Akhir Tengah Awal Tunggal
ﺎ ا Tidak
dilambangkan
ﺑ ﺒ ﺐ ﺏ b
ﺗ ﺘ ﺖ ﺕ t
ﺛ ﺜ ﺚ ﺙ th
ﺟ ﺠ ﺞ ﺝ j
ﺣ ﺤ ﺢ ﺡ ḥ
ﺧ ﺨ ﺦ ﺥ kh
ﺪ ﺩ d
ﺬ ﺫ dh
ﺮ ﺭ r
ﺰ ﺯ z
ﺳ ﺴ ﺲ ﺱ s
ﺷ ﺸ ﺶ ﺵ sh
ﺻ ﺼ ﺺ ﺹ ṣ
ﺿ ﻀ ﺾ ﺽ ḍ
ﻃ ﻄ ﻂ ﻁ ṭ
ﻇ ﻈ ﻆ ﻅ ẓ
ﻋ ﻌ ﻊ ﻉ ‘ (ayn)
xv
ﻏ ﻐ ﻎ ﻍ gh
ﻓ ﻔ ﻒ ﻑ f
ﻗ ﻘ ﻖ ﻕ q
ﻛ ﻜ ﻚ ﻙ k
ﻟ ﻠ ﻞ ﻝ l
xvi DAFTAR ISI
COVER LUAR ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN PENGUJI ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
LEMBAR PENGECEKAN PLAGIARISME ... vi
ABSTRAK ... vii
MOTO ... xi
PERSEMBAHAN ... xii
KATA PENGANTAR ... xiii
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xv
DAFTAR ISI ... xvii
DAFTAR TABEL ... xxi
DAFTAR GAMBAR ... xxii
DAFTAR LAMPIRAN... xxiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 7
1. Tujuan Penelitian ... 7
2. Manfaat Penelitian ... 8
xvii
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 9
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 9
F. Kerangka Teori ... 15
1. Inovasi ... 15
2. Kebijakan ... 20
3. Sumber Belajar ... 28
4. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 32
5. Teknologi Pendidikan ... 45
6. Media Pembelajaran Internet ... 48
7. Teologi Covid-19 dalam Islam ... 50
G. Metode Penelitian ... 61
1. Pendekatan Penelitian ... 61
2. Kehadiran Peneliti ... 62
3. Lokus Penelitian ... 63
4. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data ... 64
5. Teknik Analisis Data ... 68
6. Pengecekan Keabsahan Data ... 70
H. Sistematika Pembahasan ... 73
BAB II GAMBARAN UMUM LOKUS PENELITIAN ... 75
A. Selintas Tentang Mataram ... 75
B. Mataram di Tengah Kepungan Masyarakat Industri ... 77
C. Mataram sebagai Episentrum Pendidikan ... 84
D. Mataram Sebagai Lokus Penyebaran Covid-19 ... 89
BAB III DINAMIKA INOVASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN PEMERINTAH PADA SATUAN PENDIDIKAN TINGKAT SMA MASA PANDEMI COVID-19 ... 94
xviii
A. Kebijakan Penanganan Covid-19 Pemerintah Daerah NTB ... 96 B. Inovasi Kebijakan Pembelajaran dan Dampaknya Terhadap
Praktek Pembelajaran PAI di SMA Kota Mataram Masa
Pandemi Covid-19 ... 123 1. Belajar PAI dari Rumah: Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis
Daring/Luring ... 124 2. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Sistem
Zonasi ... 132 C. Inovasi kebijakan Pembelajaran Pemerintah dan Dampaknya
terhadap Pembelajaran PAI: Proyek Kebijakan untuk
Kebencanaan ... 145 D. Dinamika Inovasi kebijakan Pembelajaran Pemerintah: Sudut
Pandang Islam ... 156
BAB IV IMPLEMENTASI INOVASI KEBIJAKAN PEMBELAJARAN
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA KOTA MATARAM MASA PANDEMI COVID-19 .... 180 A. Inovasi Konsep Pembelajaran Jarak Jauh (PPJ) dan
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Mata Pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) pada masa Covid-19 ... 182 1. Konsep Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Mata Pelajaran
PAI pada masa Pandemi Covid-19 ... 182 2. Konsep Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Mata
Pelajaran PAI Masa Pandemi Covid-19 ... 189 B. Implementasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Pada Masa Pandemi
COVID-19 ... 198
xix
C. Inovasi Pembelajaran PAI Masa Pandemi COVID-19: Menuju Redesain Pembelajaran Berbasis
Kebencanaan……….. 252
BAB V INOVASI KOMPONEN PENDIDIKAN ISLAM PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) MASA PANDEMI COVID-19 DI SMA KOTA MATARAM ... 266
A. Pandemi Covid-19 dan Kebaruan Sumber Belajar PAI ... 268
1. Pendidik ... 269
2. Bahan Ajar PAI ... 279
3. Media Pembelajaran ... 286
4. Metode Pembelajaran ... 302
5. Lingkungan Belajar ... 311
B. Definisi Komponen PAI pada masa Pandemi Covid 19: Refleksi Pembelajaran ... 321
BAB VI PENUTUP ... 334
A. Kesimpulan ... 334
B. Implikasi Teoritis ... 334
C. Saran dan Rekomendasi ... 336
DAFTAR PUSTAKA ... 338
LAMPIRAN ... 352
xx
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Kota Mataram ... 81 Tabel 2.2 Indeks Pembangunan Manusia Menurut Kabupaten/Kota dari 2014-2019 ... 85 Tabel 2.3 Jumlah sekolah, murid dan guru Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Mataram ... 87 Tabel 2.4 Jumlah Sekolah, Murid dan Guru Sekolah Menengah Kejuruan
Menurut Kecamatan di Kota Mataram ... 88 Tabel 3.1 Sumber dan Media Pembelajaran PAI Sistem Zonasi ... 128 Tabel 3.2 Tabel PPKM Level 1 – 4 ... 141 Tabel 4.1 Sampel model Pembelajaran jarak jauh, daring maupun
luring mata pelajaran PAI masa Pandemi Covid-19 di
Kota Mataram ... 204 Tabel 4.2 Moda Pembelajaran Jarak Jauh Pada Mata Pelajaran PAI di Kota
Mataram Berdasarkan Penghantaran Materi dan Teknik
Pembelajaran ... 220 Tabel 4.3 Moda Pembelajaran Jarak Jauh Pada Mata Pelajaran PAI
untuk Daerah Terluar-Terpencil dan Miskin ... 223 Tabel 4.4 Sampel Model Pembelajaran Pembelajaran Tatap Muka
(PTM) Mata Pelajaran PAI Masa Pandemi COVID-19 di
Kota Mataram ... 231 Tabel 5.1 Sumber belajar masa Pandemi/Bencana ... 326
xxi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Infografik Jumlah Anak Terpapar COVID-19 di NTB ... 90 Gambar 2.2 Peta Zona Penyebaran COVID-19 di Mataram
pada 31 Agustus 2021... 91 Gambar 3.1 Alur Kebijakan Covid-19 ... 144 Gambar 3.2 Kebijakan Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19 ... 178 Gambar 4.1 Alur kebijakan perencanaan sebelum pembelajaran tatap muka terbatas... 196 Gambar 4.2 Alur Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama islam
Pada Masa Pandemi Covid-19 satuan pendidikan tingkat SMA di Kota Mataram ... 250
xxii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Keterangan Penelitian Lampiran 2 Panduan Wawancara
Lampiran 3 Daftar Informan
Lampiran 4 Foto-foto Wawancara dengan Informan Lampiran 5 Lembar Konsultasi
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Sejak Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) muncul di belahan bumi Asia, tepatnya di Wuhan Cina, seluruh negara mengangkat bendera waspada. Merebaknya pandemi ini memunculkan chaos yang tak terprediksi sebelumnya. Tak terkecuali di Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia sangat rentan sebagai lahan persebaran COVID-19.
Pasang surut penyebaran COVID-19 sangat sulit diprediksi. Kaum epidemiologi kerap kali gagap menganalisis pola persebaran yang terjadi di tengah masyarakat. Itu sebabnya prediksi yang mengemuka acapkali meleset. Tak ayal, kepanikan pun terjadi akibat pandemi COVID-19 yang merambat dengan sangat cepat ke seluruh dunia dan membalikkan kondisi di segala sektor kehidupan. Imbasnya, COVID-19 telah menggeser tatanan kehidupan masyarakat di seluruh dunia dengan sekejap.
Pada saat yang sama, dunia tengah menghadapi satu gelombang revolusi di dunia teknologi yang disebut sebagai era 4.0. Era dimana digitalisasi berkuasa penuh terhadap keberlangsungan kehidupan manusia. COVID-19 seakan-akan menjadi semacam batu loncatan yang dapat mempercepat gelombang keberanjakan dari era 3.0 menuju 4.0.1 Prediksi futuris macam Yuval Noah Harari dalam Homo Deus sepertinya menemui momentumnya di abad ke-21 ini.2
Disrupsi yang berlangsung ternyata bukan hanya berhenti pada perkembangan teknologi informasi, melainkan juga mempengaruhi perubahan di setiap sektor kehidupan.
1Nirwan Ahmad Arasuka, “Sains di Tengah Wabah Corona”, dalam kumpulan tulisan Sains, Filsafat, Pandemi, Agama: Sebuah Diskursus Pemikiran, (Jakarta: Tidak Diterbitkan, 2020), 50.
2Lihat Yuval Noah Harari, Homo Deus, (Jakarta: Penerbit Alvabet, 2007), 30.
2
Nyaris segala yang bersifat fisik terpental dari hadapan umat manusia. Virtualitas menggantikan itu semua. Orang-orang di tengah pandemi akhirnya dapat menjalin relasi lewat layar monitor di depannya. Dengan kata lain, gelombang revolusi 4.0 berjalan beriringan dengan dampak yang ditimbulkan oleh pandemi.3
Salah satu sektor yang mengalami efek disruptif di masa pandemi COVID-19 adalah dunia pendidikan.
Mengingat, pendidikan menjadi salah satu sektor vital yang terdampak cukup signifikan. Di Indonesia, sejak pertengahan Maret 2020, sekolah-sekolah dan berbagai jenjang pendidikan lainnya terpaksa menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar tatap muka karena dikhawatirkan kerumunan serta interaksi dalam lembaga pendidikan akan menjadi ruang empuk bagi persemaian COVID-19.4 Dalam konteks ini, memberhentikan aktivitas proses belajar-mengajar merupakan langkah yang paling aman di tengah kesimpangsiuran pengetahuan tentang Corona. Langkah ini tepat, hanya saja tidak dapat dipertahankan karena rentan terjadinya abusive, verbal maupun fisik, dalam lingkungan keluarga dan atau lingkaran sosial peserta didik. Berbagai kemerosotan moral dan ketakutan terjadinya kemunduran intelektualitas adalah dalih utama Pemerintah mewacanakan kembali praktik pembelajaran dalam ‘baju’ yang berbeda dengan lahirnya berbagai macam inovasi kebijakan. Regulasi ini menjadi sangat mendesak untuk untuk mewadahi alih pengetahuan di tengah pandemi COVID-19 yang mengancam keselamatan umat manusia sekaligus memberikan hak dasar peserta didik untuk tetap mendapatkan hak pendidikannya dengan merombak ulang desain pembelajaran dengan ‘memaksakan’
platform digital sebagai piranti utama interaksi pembelajaran.
3Zizek, Wabah, Sains dan Politik, terj. Khoiril Maqin (Yogyakarta:
Antinomi, 2020), 10.
4Herliandry, Nurhasanah, Subhan & Kuswanto, “Pembelajaran pada Masa Pandemi Covid-19”, Jurnal Teknologi Pendidikan, 22(1), hlm 65-70.
3
Keberanjakan pembelajaran ini bermula sejak hadirnya inovasi kebijakan Pemerintah melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19 pada tanggal 24 maret 2020. Dalam Surat Edaran tersebut dijelaskan tentang rasionalisasi praktik pembelajaran yang dilaksanakan di rumah melalui Pembelajaran Daring/Pembelajaran Jarak Jauh yang konsekuensinya menggusur model pembelajaran klasik yang meniscayakan talaqqi (tatap muka) dalam ruang-ruang kelas sebagai modus praxis transfer of knowledge dan juga transfer of value. Ini berarti, COVID-19 telah menjadi bidan lahirnya kebaruan moda pembelajaran di tengah gempuran disrupsi yang sejatinya menuntut cara-cara konvensional, termasuk dalam dunia pendidikan dan pembelajaran untuk ditinggalkan. Alhasil, pembelajaran pun mesti ‘disuntik’ dari rumah dan dilaksanakan secara virtual atau dalam jaringan.
Menindaklanjuti kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah Pusat tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB mengeluarkan kebijakan menghentikan pembelajaran tatap muka pada seluruh satuan lembaga pendidikan yang ada di wilayah NTB untuk sementara waktu dan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh:
Daring dan Luring,5 yang belakangan dilakukan melalui moda Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.
Kebaruan-perubahan bentuk sistem pembelajaran ini dapat dipahami sebagai praxis inovasi searah dengan konsep inovasi yang dikemukakan oleh Everet M. Rogger yang menjelaskannya sebagai “Segala sesuatu baik berupa gagasan, praktik, barang atau objek perubahan yang dilakukan dengan perencanaan sistematis untuk memberi perubahan yang positif serta dianggap baru bagi seseorang atau sekelompok orang
5Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB Nomor 441/1640. UM/Dikbud tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19 di NTB.
4
yang menggunakannya untuk mencapai tujuan tertentu atau memecahkan suatu masalah.6 Karenanya, inovasi kebijakan pembelajaran yang digulirkan oleh Pemerintah merupakan respons yang paling rasional sebagai jawaban atas sengkarut dunia pendidikan di tengah situasi pandemi COVID-19, terutama bagaimana seharusnya postur ideal proses pembelajaran di sekolah.
Keberanjakan metodologis, sistem, pendekatan, dan moda transmisi pengetahuan sebagai konsekuensi dari kebijakan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi NTB, telah memaksa seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan, termasuk di dalamnya satuan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk melakukan adjustment (penyesuain) dan langkah-langkah inovatif dalam praktik pembelajaran untuk semua mata pelajaran yang salah satunya adalah Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan mata pelajaran lainnya.
Kekhasan pada mata pelajaran PAI tersebut misalnya, dapat dilihat dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sekolah disebutkan sebagai “Pendidikan yang memberikan Pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan”. Tidak jauh berbeda dengan PMA di atas, dalam Permendikbud No. 21 Tahun 2016 dikemukakan bahwa tujuan dari pembelajaran PAI adalah: pertama, membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia dan berbudi pekerti yang luhur.
Kedua, menghargai, menghormati dan mengembangkan potensi diri yang berlandaskan pada nilai-nilai keimanan dan
6Everett M. Rogers, Diffusion of Innovations, (New york, A Division of Macmillan Publishing Co. , Inc, 1983), 1.
5
ketakwaan. Ketiga, menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar-umat beragama serta menumbuhkembangkan akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur. Keempat, penyesuaian mental keIslaman terhadap lingkungan fisik dan sosial.7
Dalam suasana pagebluk COVID-19, mewujudkan postur ideal dari tujuan pembelajaran PAI di atas tidak ringan.
Dalam situasi normal misalnya, pembelajaran PAI di SMA lebih banyak menitikberatkan pada internalisasi nilai-nilai agama pada perilaku peserta didik yang diperlihatkan melalui pengalaman dan pengamalan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentunya membutuhkan model pembelajaran tatap muka, serta pengamatan langsung yang intensif oleh pendidik terhadap perubahan tingkah laku serta pengamalan ajaran/nilai agama.
Pemilihan inovasi pembelajaran PAI pada satuan pendidikan tingkat SMA dirasa sangat penting karena kondisi peserta didik pada tingkat ini sedang dalam masa pertumbuhan-perkembangan fisik dan psikisnya di mana penghayatan remaja terhadap ajaran dan amalan-amalan keagamaannya banyak berhubungan dengan perkembangan dirinya seperti pertumbuhan pikiran dan mental, perkembangan perasaan (emotion) pertimbangan sosial (social consideration), perkembangan moral (moral growth), sikap dan minat (attitude and interest), ibadah dan sembahyang (worship and prayer).8 Dalam konteks ini, peserta didik usia remaja adalah masa yang penuh kegoncangan jiwa, masa berada dalam peralihan atau di atas jembatan goyang yang menghubungkan antara masa kanak-kanak yang penuh
7Permendikbud No. 21 Tahun 2016, tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menenga
8Baca misalnya dalam Abu Ahamadi dan Munawar Sholeh, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991); Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada, 1996); Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011); Robert Thouless, Pengantar Psikologi Agama, (Jakarta: Penerbit CV.Rajawali, 1992); Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991).
6
kebergantungan dengan masa dewasa yang matang.9 Mereka seolah-olah tidak memiliki tempat yang jelas, terayun-ayun antara psikis anak-anak-anak dan dewasa.
Di tengah keterasingan ini, anak-anak usia SMA sangat rentan terjadinya konflik dengan dirinya, lingkungannya, kelabilan dalam bersikap dan bertindak, juga perilaku keagamaan nya. Sisi lain, pengamatan peneliti menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik pada masa SMA cenderung kurang memiliki motivasi yang kuat dalam mempelajari agama Islam. Hal ini berbeda dengan realitas peserta didik yang belajar di pondok pesantren ataupun Madrasah Aliyah yang secara sistemik didesain oleh kurikulum pembelajaran agama Islam yang dominan. Hal ini ditambah dengan kondisi peserta didik tingkat SMA yang dilatari oleh beragamnya kondisi sosial ekonomi dan budaya, diferensiasi pengamalan beragama dan pola penilaian diri (self-evaluation) mereka yang berbeda- beda. Dengan deskripsi alasan sosio psikologis di atas, maka inovasi pembelajaran PAI pada tingkat SMA, baik pada sisi materi, pendekatan, pola/strategi pembelajaran, pemanfaatan media belajar maupun sumber-sumber belajar lain memerlukan inovasi dan kreativitas yang kekinian (up to date).
Seiring dengan perkembangan teknologi baru saat ini yang mampu menyajikan berbagai informasi yang lebih cepat dan menarik melalui pelbagai media teknologi, maka perkembangan ini menjadi tantangan para guru PAI untuk menguji fleksibilitas dan aksesibilitas mereka untuk memodifikasi gaya mengajar mereka dalam mengakomodasi sekurang-kurangnya sebagian dari perkembangan baru tersebut yang memiliki suatu potensi untuk meningkatkan proses pembelajaran. Pandemi COVID-19 dan juga distrupsi pendidikan telah menghadirkan kondisi yang pilihannya harus beradaptasi dengan teknologi pembelajaran sebagai media pembelajaran utama. Situasi inilah yang memaksa semua elemen sekolah di jenjang SMA, khususnya pendidik di Kota
9Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, 82.
7
Mataram yang merupakan lokus episentrum persebaran COVID-19 di NTB, melakukan berbagai inovasi pembelajaran pada Mata Pelajaran PAI.
Fakta ini menarik perhatian peneliti untuk melakukan kajian secara mendalam terhadap inovasi pembelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19 di tingkat satuan pendidikan SMA di Kota Mataram. Inovasi dalam studi pandang kebijakan, bagaimana implementasinya, serta implikasinya dalam praktik pembelajaran PAI di Kota Mataram. Studi ini menjadi sangat penting untuk dihadirkan untuk mendapatkan formulasi moda pembelajaran yang tepat serta dapat diadopsi dalam situasi dan kondisi kebencanaan apapun.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti mengajukan tiga rumusan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apa inovasi pembelajaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Daerah NTB pada masa pandemi COVID-19?
2. Bagaimana implementasi inovasi pembelajaran Mata Pelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19 di SMA Kota Mataram?
3. Bagaimana implikasi inovasi pembelajaran Mata Pelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19 di SMA Kota Mataram?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk menganalisis inovasi pembelajaran aspek kebijakan Pemerintah Pusat maupun Provinsi NTB terkait regulasi pembelajaran pada tingkat satuan Pendidikan SMA masa pandemi COVID-19
8
b. Untuk menganalisis implementasi inovasi kebijakan Pemerintah pada Mata Pelajaran PAI masa pandemi COVID-19 di SMA Kota Mataram.
c. Untuk mengetahui dan menemukan implikasi inovasi kebijakan Pemerintah pada Mata Pelajaran PAI masa pandemi COVID-19 di SMA Kota Mataram.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dapat diperoleh dapat dibagi menjadi dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis:
1. Manfaat Teoretis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Pemerintah untuk menyusun kebijakan pendidikan dan praktik pembelajaran yang berbasis kebencanaan.
b. Penelitian ini diharapkan menghadirkan kebaruan metodologis-praktis praktik pembelajaran PAI yang dapat diadopsi dalam suasana kebencanaan.
c. Penelitian ini juga diharapkan dapat menawarkan kebaruan sumber-sumber belajar PAI yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran dalam suasana kebencanaan.
2. Manfaat Praktis
a. Pemerintah; dapat menjadi bahan pertimbangan yang melahirkan kerangka konseptual praktik pembelajaran PAI yang acceptable dan practiceable dalam situasi kebencanaan apapun.
b. Sekolah; dapat menjadi rujukan implementatif untuk melaksanakan pembelajaran dalam situasi kebencanaan sehingga peserta didik tetap mendapat hak pendidikannya, khususnya untuk Mata Pelajaran PAI tingkat SMA.
c. Guru; dapat menjadi rujukan bagi guru untuk terus mengembangkan model-model inovasi pembelajaran pada Mata Pelajaran PAI, khususnya dapat diadopsi
9
pada masa pandemi COVID-19 atau situasi kebencanaan lainnya di tingkat SMA.
d. Akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan; sebagai sumbangan positif dan tambahan informasi dalam upaya mengembangkan konsep inovasi pembelajaran pada Mata Pelajaran PAI secara mendalam dan komprehensif pada masa COVID-19 atau situasi kebencanaan lainnya di tingkat SMA.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada masalah inovasi kebijakan pembelajaran yang diinisiasi oleh Pemerintah serta praktik implementasi dan implikasi inovasi kebijakan pembelajaran pada Mata Pelajaran PAI jenjang satuan pendidikan SMA di Kota Mataram. Inovasi pembelajaran PAI tersebut muncul sebagai akibat kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi NTB untuk merespons munculnya pandemi COVID-19 yang melanda dan mengubah sistem pendidikan dan pembelajaran secara masif.
E. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Penelitian adalah upaya untuk menemukan kebaruan yang dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di lapangan.
Salah satu cara untuk menemukan kebaruan adalah dengan mengamini sebuah state of the art; ruang tempat melakukan penjelajahan teori dan fakta sekaligus dengan merekatkan penelitian yang satu dengan penelitian yang lain sehingga dapat memperoleh kebaruan (novelties). Karenanya, bagian ini membentangkan telaah-telaah yang pernah dilakukan sebelumnya. Pelbagai penelitian-penelitian terdahulu ditampilkan untuk melihat persinggungan dengan penelitian yang hendak dihelat, sehingga dapat terlihat kebaruan dari penelitian ini. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang relevan sebagai berikut:
10
1. Siti Maryam Munjiat, dengan judul penelitian:
Implementation of Islamic Religious Education Learning in Higher Education on Education on The Pandemic Period.10 Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi pada masa pandemi. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan desain penelitian menggunakan deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran PAI di Perguruan Tinggi pada masa pandemi COVID-19 dilaksanakan di Program Studi PAI Pondok Pesantren KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto melalui tiga tahapan yaitu: 1) Perencanaan pembelajaran 2) Pelaksanaan pembelajaran dan 3) Evaluasi pembelajaran. Tahap perencanaan meliputi: a) kesiapan sarana prasarana dosen dan mahasiswa melaksanakan pembelajaran online sesuai dengan rencana pembelajaran semester (RPS), b) capaian pembelajaran harus sesuai dengan target yang telah ditentukan agar dosen dan mahasiswa dapat membuat pembelajaran menjadi maksimal. Tahap pelaksanaan pembelajaran PAI meliputi:
a) dosen dan mahasiswa berhak menentukan media atau alat yang dibuat untuk pembelajaran; b) metode pembelajaran menggunakan ceramah, diskusi dan tugas;
c) dosen dituntut kreatif agar mahasiswa tidak bosan dalam kegiatan belajar. Tahap evaluasi pembelajaran PAI meliputi: a) keaktifan dan kedisiplinan siswa dalam melaksanakan pembelajaran, b) pemberian tugas kepada siswa berupa presentasi, pengerjaan makalah, c) ujian tengah semester, d) ujian tulis dan tugas akhir semester Perbedaan mendasar antara penelitian yang peneliti lakukan dengan saudari Siti Maryam Munjat dan
10Siti Maryam Munjiat, “Implementation of Islamic Religius Education Learning in Higher Education on Education on The Pandemic Period”, Pendidikan Islam 3, No. 2 (Juni 2020): 285-295, diakses 16 Juli 2021, https://doi. org/10.
31538/nz v3i2. 757.
11
Nazhruna adalah, bahwa peneliti fokus kajiannya pada analisis kebijakan inovasi pembelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19, sementara penelitian saudara Siti Maryam Munjat dan Nazhruna terfokus pada gambaran pelaksanaan pembelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19. Perbedaan lain adalah pada objek penelitian, penelitian oleh saudara Siti Maryam Munjat dan Nazhruna adalah di perguruan tinggi, sementara objek penelitian yang peneliti lakukan pada jenjang satuan Pendidikan SMA.
2. Irfan Fauzi dan Iman Hermawan Sastra Khusuma, Teachers’ Elementary School in Online Learning of COVID- 19 Pandemic Conditions.11 Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan secara detail tentang perspektif guru sekolah dasar tentang pembelajaran online dalam kondisi pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah guru memang memahami konteks pembelajaran online, tetapi dalam pelaksanaannya terdapat pelbagai permasalahan yang menjadi tantangan, di antaranya: 1) ketersediaan fasilitas, 2) penggunaan jaringan dan internet, 3) perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, dan 4) kerjasama dengan orang tua. Namun di satu sisi, pembelajaran online semakin memudahkan guru di masa pandemi COVID-19, meski dianggap kurang efektif. Kendati demikian, 80% guru merasa tidak puas dan tuntas melaksanakan pembelajaran online.
Pembelajaran online sebagai suatu sistem yang dapat membantu guru untuk melaksanakan proses pembelajaran di masa pandemi COVID-19, namun hal ini tidak berbanding lurus terhadap efektivitasnya. 73,9% guru menganggap bahwa pembelajaran online tidak efektif.
11Irfan Fauzi dan Iman Hermawan Sastra Khusuma, “Teachers’ Elementary School in Online Learning of COVID-19 Pandemic Conditions”, Iqra’: Kajian Ilmu Pendidikan 5, No. 1 (Juni 2020): 58-70, diakses tanggal 16 Juli 2021, http://journal. iaimnumetrolampung. ac. id/index. php/ji/.
12
Selain itu dalam membuat bahan ajar, sebagian besar guru memodifikasi materi dari berbagai sumber dan konten yang sering dibuat adalah audio visual. Sebanyak 37%
guru menggunakan aplikasi WhatsApp sebagai media pembelajaran online. Selama ini kegiatan belajar online dianggap oleh 80% guru tidak memuaskan. Perbedaan mendasar antara penelitian yang dilakukan oleh Irfan Fauzi dan Iman Hermawan Sastra Khusuma dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah terletak pada fokus penelitian. Penelitian yang peneliti lakukan fokus kajiannya pada analisis kebijakan inovasi pembelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19. Sementara itu fokus penelitian saudara Irfan Fauzi dan Iman Hermawan Sastra Khusuma, adalah pada perspektif guru sekolah dasar tentang pembelajaran online dalam kondisi pandemi COVID-19. Selain itu pendekatan penelitian yang digunakan juga berbeda, saudara Irfan Fauzi dan Iman Hermawan Sastra Khusuma menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, sementara itu peneliti menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif.
3. Rasmitadila, Rusi Rusmiati Aliyyah, The Perceptions of Primary School Teachers of Online Learning during the COVID-19 Pandemic Period: A Case Study in Indonesia.12 Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi guru sekolah dasar tentang pembelajaran online dalam program yang dikembangkan di Indonesia bernama School from Home selama Pandemi COVID-19. Hasil penelitian ini mengemukakan empat hal utama yaitu, strategi pembelajaran, tantangan, dukungan, dan motivasi guru.
Secara garis besar, keberhasilan pembelajaran online di Indonesia di masa Pandemi COVID-19 ditentukan oleh kesiapan teknologi yang sejalan dengan kurikulum
12Rasmitadila, Rusi Rusmiati Aliyyah, “The Perceptions of Primary School Teachers of Online Learning during the COVID-19 Pandemic Period: A Case Study in Indonesia”, Journal of Ethnic and Cultural Studies 7, No. 2, (July 2020):
90-109, diakses tanggal 16 Juli 2021, http://dx. doi. org/10. 29333/ejecs/388.
13
humanis nasional, dukungan dan kerjasama dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Sekolah dari Rumah selama Pandemi COVID-19 telah berdampak signifikan pada sistem pendidikan semua negara di seluruh dunia.
Menanggapi krisis di dunia pendidikan semacam ini, negara-negara telah menerapkan aturan dan metode yang berbeda untuk menghadapi perubahan dalam sistem pembelajaran. Dalam beberapa bulan, sistem pendidikan nasional beralih dan menemukan solusi seperti metode online menggunakan aplikasi online, TV, radio dan metode offline termasuk buku dan modul cetak. Seiring dengan perubahan ini, bentangan transformasi diperlukan untuk strategi pembelajaran, kesiapan teknologi saat ini dituntut hadir untuk menerapkan pembelajaran online serta memberikan dukungan dan motivasi kepada semua pihak terkait. Sementara itu, perubahan kurikulum nasional harus dilakukan untuk meningkatkan fleksibilitas, dan kesiapan teknologi harus dipercepat.
Penelitian ini juga merekomendasikan bahwa dunia pendidikan harus diafirmasi dan dipandang sebagai upaya kolaboratif masyarakat antara pemerintah, guru, orang tua, dan sekolah untuk meningkatkan efektivitas metode belajar-mengajar yang terdampak COVID-19 dan memastikan bahwa siswa tidak boleh ketinggalan materi pembelajaran. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Perbedaan mendasar antara penelitian yang dilakukan oleh Irfan Rasmitadila, Rusi Rusmiati Aliyyah dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah terletak pada fokus penelitian. Penelitian yang peneliti lakukan fokus kajiannya pada analisis kebijakan inovasi pembelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19 pada jenjang Pendidikan SMA. Sementara itu fokus penelitian saudara Rasmitadila, Rusi Rusmiati Aliyyah, adalah mengeksplorasi persepsi guru sekolah dasar tentang pembelajaran online dalam program yang
14
dikembangkan di Indonesia bernama School from Home selama pandemi COVID-19.
4. Irwan Abdullah (2020), COVID-19: Threat and Fear in Indonesia.13 Artikel ini bertujuan untuk mengulas kondisi penduduk Indonesia begitu menghadapi gelombang awal pandemi COVID-19 dalam 2 bulan pertama sejak pembentukan gugus tugas cepat tanggap COVID-19 pada 13 Maret. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif- deskriptif untuk memperoleh data dilakukan wawancara mendalam untuk mengetahui kondisi psikologis informan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya dampak trauma yang dialami penduduk karena kurangnya kesiapsiagaan, sistem perawatan kesehatan yang tidak lengkap, dan kebijakan penguncian dalam menghadapi penyebaran virus corona. Empat jenis trauma psikologis yang berbeda semakin diamati, berdasarkan komunikasi digital dengan orang-orang yang terkena dampak dan laporan dari berita dan media sosial. Jenis trauma psikologis tersebut adalah penarikan sosial, histeria, kekerasan individu, dan kekerasan kolektif. Berdasarkan konsekuensi psikologis pandemi yang dijelaskan, dapat diasumsikan bahwa reaksi individu dan kolektif harus dipertimbangkan untuk mengurangi bahaya pandemi virus corona. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana dampak psikologis terhadap peserta didik di sekolah saat menghadapi pandemi COVID-19. Fokus penelitian menjadi perbedaan mendasar antara penelitian yang dilakukan saudara Iwan Abdullah dengan peneliti yang peneliti lakukan. Saudara Iwan Abdullah melakukan penelitian dengan fokus menganalisis kondisi psikologis masyarakat Indonesia ketika mengalami pandemi COVID-19 di awal-awal kejadiannya, pada awal tahun 2020. Sementara itu Penelitian yang peneliti lakukan
13Irwan Abdullah, “COVID-19: Threat and Fear in Indonesia”, American Psychological Association 12, No. 5, (June 2020): 488-490, diakses tanggal 17 Juli 2021, http://dx. doi. org/10. 1037/tra0000878.
15
fokus kajiannya pada analisis kebijakan inovasi pembelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19 pada jenjang Pendidikan SMA
Patut diakui bahwa studi 'dadakan' dampak COVID-19 terhadap sistem penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran tumpah ruah, baik dalam bentuk tulisan-tulisan di jurnal, webinar, dan pelbagai platform digital. Buku-buku yang hadir menjawab problema pembelajaran masih sangat minim sekali dan tidak lebih dari kompilasi buku seputar pengalaman, good practices, dan pendapat para praktisi pendidikan yang cenderung parsial.
Riset yang peneliti lakukan ini karenanya melakukan peta konsep terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah, Pusat maupun Pemprov. NTB, soal inovasi pembelajaran, bagaimana implementasinya, dan juga implikasinya dalam praktek pembelajaran PAI SMU di Kota Mataram. Lebih dari itu, peneliti yang kebetulan menjadi bagian dari sistem pemerintahan di NTB yang kerap bergelut dan menangani persoalan kebencanaan memiliki tanggung jawab moral untuk menggali kemungkinan-kemungkinan praxis- implementatif postur pembelajaran yang acceptable dan dapat diadopsi dalam suasana kebencanaan yang starting poinnya adalah pembelajaran PAI di Kota Mataram.
F. Kerangka Teori 1. Inovasi
Inovasi kerap menjadi topik yang selalu bernas didiskusikan. Isu ini selalu diketengahkan sebagai respons terhadap hal-hal baru yang membutuhkan cara penyikapan yang konstruktif dengan tujuan spesifik dan atau untuk memecahkan suatu masalah. Secara etimologi, inovasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu innovation yang berarti pembaharuan dan perubahan. Kata kerjanya innovo, yang artinya memperbaiki dan mengubah. Jadi, inovasi adalah perubahan baru menuju arah perbaikan dan berencana
16
(tidak secara kebetulan).14 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi diartikan sebagai pemasukan satu pengenalan hal-hal yang baru; penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, yang (gagasan, metode atau alat).15
Para pakar mengungkapkan berbagai pengertian, persepsi, interpretasi tentang inovasi dengan susunan kalimat dan penekanan yang berbeda, tetapi mengandung makna yang sama, seperti White (1987), Kouraogo (1987), dan Kennedy (1987). White misalnya seperti dikutip Rusdiana mengatakan, “Innovation …more than change, although all innovations involve change” (Inovasi lebih dari sekadar perubahan, walaupun semua inovasi melibatkan perubahan).16 Rogers memaknai inovasi sebagai, “An innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption.”17 Sementara, Zaltman dan Duncan berpendapat, “An innovation is an idea, practice, or material artifact perceived to be new by the relevant unit of adoption. Innovation is the change object.”18
Peter M. Drucker dalam bukunya Innovation and Entrepreneurship sebagaimana dikutip Tilaar mengemukakan beberapa prinsip inovasi, yaitu sebagai berikut: (1) Inovasi memerlukan analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan yang terbuka. Artinya, inovasi hanya dapat terjadi apabila mempunyai kemampuan analisis; (2) Inovasi bersifat konseptual dan perseptual, artinya yang bermula dari keinginan untuk menciptakan
14 Zahara Idris & Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan (Jakarta:
Grasindo , 1992), 70.
15Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 333.
16A. Rusdiana, M. M, Konsep Inovasi Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2014), 45.
17M Everett Rogers, Diffusion of Innovation (New York: The Free Press, 1983), 11.
18Zaltman, Gerald, Robert Duncan, Strategy of Planned Change (New York:
A. Willey-Interscience Publication John Wiley & Sons. , 1973), 7.
17
sesuatu yang baru yang dapat diterima masyarakat; (3) Inovasi harus dimulai dengan yang kecil. Tidak semua inovasi dimulai dengan ide-ide besar yang tidak terjangkau oleh kehidupan nyata manusia. Keinginan yang kecil untuk memperbaiki suatu kondisi atau kebutuhan hidup ternyata kelak mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap kehidupan manusia selanjutnya; (4) Inovasi diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan. Inovasi selalu diarahkan bahwa hasilnya akan menjadi pelopor dari suatu perubahan yang diperlukan. Apabila tidak demikian maka intensi suatu inovasi kurang jelas dan tidak memperoleh apresiasi dalam masyarakat.19
Dengan demikian, inovasi adalah ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang, baik berupa hasil invensi maupun discovery yang diadakan untuk mencapai tujuan tertentu. ‘Baru’ di sini dapat diartikan mencakup ketidaktentuan artinya sesuatu yang mengandung berbagai alternatif. Sesuatu yang tidak tentu masih memiliki kemungkinan bagi orang yang mengamati, baik mengenai arti, bentuk, maupun manfaat.20 Dengan adanya informasi berarti mengurangi ketidaktentuan tersebut karena dengan informasi itu berarti memperjelas arah pada satu alternatif tertentu.21
Rogers membedakan dua macam informasi.
Pertama, informasi yang berkaitan dengan pertanyaan,
“Apa inovasi (hal yang baru) itu?”, “Bagaimana menggunakannya?” “Mengapa diperlukan?” Kedua, berkaitan dengan penilaian inovasi atau berkaitan dengan pertanyaan, “Apa manfaat menerapkan inovasi?” “Apa konsekuensi nya menggunakan inovasi?”22
19 A. R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), 356.
20Rusdiana, Konsep Inovasi, 62.
21Rusdiana, Konsep Inovasi, 62.
22Rogers, Diffusion of Innovation, 11.
18
Jika anggota sistem sosial (warga masyarakat) yang menjadi sasaran inovasi dapat memperoleh informasi yang dapat menjawab berbagai pertanyaan tersebut dengan jelas, hilanglah ketidaktentuan terhadap inovasi. Mereka telah memperoleh pengertian yang mantap tentang inovasi dan akan menerima serta menerapkan inovasi. Cepat lambatnya proses penerimaan inovasi dipengaruhi juga oleh atribut dan karakteristik inovasi.23
Dalam konteks pendidikan, inovasi adalah usaha untuk memecahkan masalah dalam pendidikan. Inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik dalam arti sempit, yaitu tingkat lembaga pendidikan, maupun arti luas, yaitu sistem pendidikan Nasional.24 Inovasi dalam dunia pendidikan dapat berupa apa saja, produk ataupun sistem. Inovasi dapat dikreasikan sesuai pemanfaatannya, yang menciptakan hal baru, memudahkan dalam dunia pendidikan, serta mengarah pada kemajuan. Inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invensi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Secara lebih terperinci, Hasbullah menjelaskan tujuan dari dilakukannya inovasi pendidikan adalah pembaruan pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah pendidikan dengan menawarkan solusi- solusi yang konkret untuk mengurai problema-masalah yang dijumpai dalam dunia pendidikan dengan cara-cara baru yang inovatif.25
23Rusdiana, Konsep Inovasi, 62
24Rusdiana, Konsep Inovasi, 46.
25 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), 199-201.
19
Dalam dunia pendidikan, praxis dari arah pembaharuan inovasi pendidikan diarahkan pada:
1. Invention (penemuan). Invention meliputi penemuan/penciptaan tentang suatu hal yang baru.
Invention merupakan adaptasi dari hal-hal yang telah ada. Akan tetapi, pembaharuan yang terjadi dalam pendidikan terkadang menggambarkan suatu hasil yang sangat berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.
2. Development (pengembangan). Pembaharuan harus mengalami pengembangan sebelum masuk dalam dimensi skala yang besar. Development sering bergandengan dengan riset sehingga prosedur- prosedur “research and development” (R & D) digunakan dalam pendidikan.
3. Diffusion (penyebaran). Persebaran ide baru dari sumber kepada pemakai/penyerap yang terakhir.
4. Adaption (penyerapan). Beberapa tahap yang penting dalam penerapan inovasi pendidikan.26
Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus melibatkan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti innovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan siswa.
Di samping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh satu atau dua faktor, tetapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan. Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model inovasi yang baru, yaitu sebagai berikut:27
Pertama, Top-down model, yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Kemendikbud dan
26Rusdiana, Konsep Inovasi, 50.
27Rusdiana, Konsep Inovasi, 56-57.
20
Kemenag merupakan inovasi “top down inovation”. Inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebagainya. Contoh inovasi yang dilakukan oleh Kemendikbud antara lain Sistem Pengajaran Modul, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pembelajaran Jarak Jauh Dalam Ruangan dan Pembelajaran Jarak Jauh Luar Ruangan, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, dan lain- lain.
Kedua, Bottom-up Model. Inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat, mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan. Oleh karena itu, masing-masing bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan. Bottom-up model adalah model inovasi dan hasil ciptaan dari bawah serta dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Model inovasi yang diciptakan berdasarkan ide, pikiran, kreasi, dan inisiatif dari sekolah, guru atau masyarakat yang umumnya disebut model Bottom-up Innovation.
2. Kebijakan
Dari segi bahasa “kebijakan” berasal dari bahasa Yunani dan Sansekerta “Polis” (negara kota) dan “Pur”
(kota), masuk ke dalam bahasa Latin menjadi “Politea”
(negara) dan dalam bahasa Inggris pertengahan disebut sebagai “Policie”, yang berkenaan dengan pengendalian masalah-masalah politik atau administrasi pemerintahan.
Asal kata “policy” sama dengan kata lain “police an politics”.28 Istilah “policy” (kebijaksanaan) seringkali penggunaannya
28Awan Y. Abdullah dan Rudi Rusfiana, Teori dan Analisis Kebijakan Publik, (Bandung: Alfabeta, 2016), 7.
21
saling dipertukarkan dengan istilah-istilah lain seperti kata
“goals” (tujuan) program, keputusan, Undang-Undang, ketentuan-ketentuan.
Dalam kamus The Advanced Learner's Dictionary of Current English kata “policy” diartikan sebagai berikut: (1) wise, sensible conduct; practical wisdom; (2) a plan action or statement of aims and ideals made by a government, a business company, an individual, di/.(3) the art of government; state- craft. (4). cunning; craft (kelicikan, kecerdasan, keahlian).29 Sedangkan Kata Policy dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kebijakan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kebijakan diartikan sebagai: kepandaian; kemahiran;
kebijaksanaan; rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tentang pemerintahan, organisasi, dan sebagainya).30
Menurut Chief J.O. Udoji mendefinisikan kebijaksanaan publik sebagai “An sanctioned course of action addressed to a particular problem or group of related problems that affect society at large.” Maksudnya ialah suatu tindakan bersanksi yang mengarah pada suatu tujuan tertentu yang diarahkan pada suatu masalah atau sekelompok masalah tertentu yang saling berkaitan yang mempengaruhi sebagian besar warga masyarakat.31 Frederock kebijakan diartikan sebagai suatu tindakan yang mengarah kepada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu sehubungan dengan adanya hambatan-hambatan tertentu, seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan. Definisi ini berarti pemerintah harus mempunyai kemampuan yang dapat diandalkan apapun bentuknya untuk merespon dan menanggulangi
29The Advanced Learner's, Dictionary of Current English (Hornby: Oxford University 1962), 261.
30 https://kbbi. web. id/bijak, diakses tanggal 14 Mei 2020.
31Abdullah dan Rusfiana, Teori dan Analisis Kebijakan Publik. 17.
22
permasalahan yang dihadapi, dengan memperhatikan sumber daya yang dimiliki serta menerima masukan atau usulan dari seseorang/kelompok, sehingga ada jalan keluar yang terbaik, dihasilkan melalui proses yang adil.32
Sementara itu, David Easton mendefinisikan public policy sebagai: “The authoritative allocation of value for the whole society, but it turns out that only the government can authoritatively act on the ‘whole’ society, and everything the government choose do or not to do result in the allocation of values.” Maksudnya, public policy tidak hanya berupa apa yang dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi juga apa yang tidak dikerjakan oleh pemerintah karena keduanya memiliki kebutuhan dan alasan-alasan yang harus dipertanggungjawabkan.33 Mengikuti definisi Thomas Dye misalnya, hampir semua yang diputuskan atau tidak diputuskan oleh pemerintah termasuk dalam definisi sebagai kebijakan (Whatever governments choose to do or not to do).34 Friedrich mengatakan bahwa kebijakan adalah keputusan yang diusulkan oleh individu, kelompok atau pemerintah yang bertujuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sejalan dengan Friedrich, Sharkansky mendefinisikan kebijakan sebagai tindakan pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Definisi-definisi tersebut memandang bahwa kebijakan publik merupakan instrumen untuk mencapai tujuan.35 Selanjutnya definisi kebijakan publik juga bisa dilihat dari sisi aktor pembuat kebijakan, yang menekankan pentingnya peran aktor dalam membuat kebijakan. Anderson mendefinisikan kebijakan publik sebagai serangkaian tindakan yang dipilih secara
32Abdullah dan Rusfiana, Teori dan Analisis Kebijakan Publik. 17
33Lihat, The Journal of Politics, Vol. 15, No. 4 (Nov. , 1953), pp. 544-547 (4 pages) Published By: The University of Chicago Press.
34Thomas R. Dye, Understanding Public Policy (New jersey: Prentice Hall, 1995), 3.
35Erna Irawati & Ambar Widaningrum, “Konsep dan Studi Kebijakan Publik”, dalam Modul Pelatihan Analis Kebijakan (Jakarta: Kementerian PPN/Bapenas, 2005), 11-12.
23
sengaja oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang dimaksudkan untuk mengatasi suatu masalah. Lester dan Stewart mengartikan kebijakan sebagai proses atau rangkaian kegiatan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan publik. Selanjutnya Somit dan Peterson mendefinisikan kebijakan publik sebagai aksi pemerintah.
Pada beberapa definisi tersebut, ada penekanan peran penting beberapa aktor dan bukan aktor tunggal dalam pengambilan keputusan. Kebijakan publik merupakan aksi kolektif dari beberapa aktor. Aksi kolektif tersebut menjadi hal yang tidak mungkin dihindari mengingat proses menghasilkan kebijakan publik itu tidaklah sederhana.36
William N. Dunn mengemukakan bahwa analisis kebijakan adalah: “Policy analysis is a problem-solving discipline that draws on theories, method, and substantive findings of the behavioral and social sciences, social professional and political philosophy, as is usual with complex activities there are several ways to define policy analysis. The one adopted here is that policy analysis is a process of multidisciplinary inquiry designed to create, critically assess, and communicate information that is useful in understanding and improving policies”.37 Untuk menganalisis persoalan ini, Dunn mengemukakan lima bentuk pertanyaan, yaitu:
1. Masalah apakah yang dihadapi?
2. Kebijakan apa yang telah dibuat untuk memecahkan masalah tersebut, baik pada masa sekarang maupun masa lalu, dan hasil apakah yang telah dicapai?
3. Bagaimana nilai dari hasil kebijakan tersebut dalam memecahkan masalah? adalah tingkat (derajat) sampai di mana hasil suatu kebijakan membantu pencapaian suatu nilai (tujuan yang diinginkan)
36Erna Irawati & Ambar Widaningrum, “Konsep dan Studi”, 11-12.
37Dunn, Public Policy, 1.
24
4. Alternatif-alternatif kebijakan apakah yang tersedia untuk memecahkan masalah tersebut, dan apakah kemungkinan di masa depan?
5. Alternatif-alternatif tindakan apakah yang perlu dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut?38
Nanang Fattah dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan menjelaskan dan merangkum lima tahap dan pertanyaan di atas sebagai berikut:39
1. Perumusan Masalah. Kebijakan Perumusan masalah ini sama dengan mendefinisikan suatu masalah dengan menghasilkan informasi mengenai kondisi- kondisi yang menimbulkan masalah kebijakan.40 Perumusan masalah dilakukan berdasarkan pengenalan masalah terhadap suatu persoalan yang memerlukan perhatian pemerintah yaitu dengan melakukan eksplorasi berbagai alternatif, dan perumusan seperangkat tindakan yang lebih dipilih, usaha-usaha untuk mencapai konsensus atau kompromi, dan otorisasi pengaturan arahan- arahan.41 Menyusun masalah kebijakan terdiri dari tiga langkah, yaitu: mengartikan, mengkonsep dan mengkhususkan masalah. Tiap-tiap langkah ini menghasilkan informasi tentang situasi, dan bentuk masalah. Permasalahan yang dihadapi tersebut berimbas pada perlunya dibuat kebijakan karena permasalahan merupakan titik tolak sebuah kebijakan harus dibuat. Metode menyusun masalah ini dengan mengidentifikasi masalah yang ada secara mendalam dan mensinkronisasikan dengan pengetahuan yang relevan dengan kebijakan dan
38Dunn, Public Policy, 18.
39Nanang Fattah, Analisis Kebijakan Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013), 8.
40Fattah, Analisis Kebijakan, 54.
41Mudjia Rahardjo, Pemikiran Kebijakan Pendidikan Kontemporer, (Malang:
UIN Maliki Press, 2010), 4.
25
asumsi-asumsi yang mendasarinya guna memasuki proses pembuatan kebijakan melalui penyusunan agenda setting.
2. Meramalkan Alternatif Kebijakan (Prediksi). Para ahli analisis kebijakan harus meramalkan apa yang akan terjadi berkenaan dengan masalah kebijakan dan mencari tindakan yang tepat untuk menangani masalah-masalah itu di dalam waktu yang akan datang, setelah itu menyediakan sejumlah alternatif objektif yang dapat dicapai, karena pada tahapan ini menyediakan informasi mengenai konsekuensi pada masa datang dari penerapan alternatif kebijakan, termasuk tidak melakukan sesuatu. Tahapan analisis pertama akan menghasilkan kebijakan-kebijakan alternatif melalui pencarian solusi dari permasalahan yang telah ditetapkan dengan mengumpulkan informasi, mengidentifikasi dan mengorganisasikan data yang relevan, teori dan fakta tentang permasalahan yang akan terjadi dimasa depan akibat dari alternatif yang dirumuskan atau tidak melakukan alternatif tersebut dan dilakukan dalam tahap formulasi kebijakan.
3. Merekomendasikan Penerapan Kebijakan (Preskripsi). Rekomendasi adalah informasi mengenai jangkauan penerapan kebijakan yang menyediakan hasil yang berguna untuk kelompok orang atau komunitas tertentu secara umum. Hal ini berhubungan dengan nilai, maka dari itu rekomendasi kebijakan tidak hanya evaluasi empiris saja akan tetapi berhubungan dengan aspek normatif. Untuk itu pada tahapan ini menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan relatif dari konsekuensi di masa depan dari suatu pemecahan masalah.42 Penerapan kebijakan meliputi usaha-
42Fattah, Analisis Kebijakan, 55.
26
usaha untuk mentransformasi keputusan ke dalam istilah operasional, maupun usaha yang berkelanjutan untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang diamanatkan oleh keputusan- keputusan kebijakan. Penerapan kebijakan sebagai bagian penting dari proses kebijakan, karena kegagalan dan keberhasilan suatu kebijakan akan tergantung pada proses penerapan kebijakan.
Kegagalan suatu kebijakan dapat diakibatkan karena pelaksanaan implementasi kebijakan yang tidak tepat. Program-program kebijakan akan ditentukan pada tahap pelaksanaan dan implementasi kebijakan.
Seringkali kebijakan yang dibuat tidak dapat dilaksanakan karena sulit untuk diimplementasikan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Patton dan Sawicki bahwa “Suatu kebijakan justru akan menemukan banyak masalah pada tahapan pengimplementasian, karena tidak semua kebijakan memuaskan semua orang. Dengan demikian, maka alternatif-alternatif yang dipilih oleh pembuat kebijakan, haruslah yang dapat diimplementasikan.43 Selanjutnya secara singkat, Dunn mengemukakan bahwa “policy implementation involves the execution and steering of a course of action over time”.44 Purwanto mengemukakan bahwa “Implementasi kebijakan intinya adalah kebijakan untuk mendistribusikan keluaran kebijakan yang dilakukan oleh para implementor kepada kelompok sasaran (target group) sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan kebijakan”.45
43Patton dan Sawicki, Basic Methods of Policy Analysis And Planning,