• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

4. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

32

verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkret dan memberikan pengetahuan yang bersifat langsung; (6) memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, terutama dengan adanya media massa, melalui pemanfaatan secara bersama yang lebih oleh luas tenaga tentang kejadian- kejadian yang langka, dan penyajian informasi yang mampu menembus batas geografis.

Karena itu, learning resources menemukan momentum yang tepat untuk menjadi landasan teori dan fitur kunci untuk menelaah praktik pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA di Kota Mataram sejak pandemi COVID-19 menggelinding.

33

(learner centered). Istilah pembelajaran digunakan untuk menggantikan istilah “pengajaran” yang lebih bersifat sebagai aktivitas yang berfokus pada guru (teacher centered).

Oleh karenanya, kegiatan pengajaran perlu dibedakan dari kegiatan pembelajaran.61 Lebih lanjut, Miarso menyatakan bahwa pengajaran merupakan istilah yang diartikan sebagai penyajian bahan ajaran yang dilakukan oleh seorang pengajar. Berbeda dengan istilah pengajaran, kegiatan pembelajaran tidak harus diberikan oleh pengajar karena kegiatan itu dapat dilakukan oleh perancang dan pengembang sumber belajar, misalnya seorang teknologi wan pembelajaran atau suatu tim yang terdiri dari ahli media dan ahli materi ajaran tertentu. Istilah pembelajaran telah digunakan secara luas bahkan telah dikuatkan dalam perundang-undangan, yaitu dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Seirama dengan perspektif di atas, Gagne membedakan antara pengajaran dengan pembelajaran bahwa pembelajaran mengandung makna yang lebih luas dari pada istilah pengajaran. Pengajaran hanya merupakan upaya transfer of knowledge an sich dari guru kepada siswa, sedangkan pembelajaran memiliki makna yang lebih luas, yaitu kegiatan yang dimulai dari mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi kegiatan yang dapat menciptakan terjadinya proses belajar62 secara terstruktur dan terencana dengan menggunakan sebuah atau beberapa jenis media. Proses pembelajaran mempunyai tujuan agar siswa dapat mencapai kompetensi seperti yang diharapkan. Karenanya, proses pembelajaran perlu dirancang secara sistematik dan

61Yusuf Hadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta:

Kencana, 2005).

62Gagne, Principle, 1.

34

sistemik, melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan dan melibatkan beberapa komponen: siswa, guru, tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi.63

Singkatnya, pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar sehingga memungkinkan terjadinya alih ilmu, transmisi pengetahuan, skill, dan pembentukan karakter peserta didik. Oleh sebab itu, praktik pembelajaran dibangun oleh dua substansi aktivasi:

pertama, bagaimana peserta didik melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar; kedua, bagaimana pendidik tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui praktik mengajar. Dengan demikian, makna pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan belajar yang- antara lain dilakukan oleh pendidik dalam mengkondisikan seseorang untuk belajar memperoleh pengetahuan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) peserta didik.

Dalam pada itu, masyarakat Indonesia sebagai masyarakat religius disadari betul oleh Founding Fathers yang mengakomodasi postur tubuh citra diri masyarakat.

Pandangan dunia (worldview) ini dengan sendirinya menegaskan juga mengharuskan negara untuk memfasilitasi pendidikan agama di semua jenjang pendidikan.

Setidaknya dasar yuridis dari pendidikan agama di Indonesia adalah: (a) Dasar ideal, yaitu dasar falsafah negara Pancasila, sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa;

(b) Dasar Struktural/ Konstitusional, yaitu UUD 1945 dalam bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2, yang berbunyi: (1)

63Walter Dick & Lou Carey, The Systematic Design of Instruction, (New York:

Pearson, 2006).

35

Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu; (3) Dasar Operasional, yaitu terdapat dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Sisdiknas Pasal 30 Nomor 3 pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, non formal, dan informal. Dan Pasal 12 No 1/a setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Lebih jauh dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Pasal 1 Ayat 1 bahwa Pendidikan Agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pasal 1 Ayat 2 Pendidikan Keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya.

Dari ketentuan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan (agama dan keagamaan) yang dilaksanakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa. Demikian halnya juga dengan kurikulum, diarahkan untuk memperhatikan peningkatan iman dan takwa serta peningkatan akhlak mulia.

Dasar yuridis di atas menjadi dasar Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia bagi pemeluk agama Islam yang merupakan anutan mayoritas. Berbagai definisi yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan Islam tentang

36

Pendidikan Agama Islam Islam. Muhaimin misalnya memaknai Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.64 Zuhairimi mengartikan Pendidikan Agama Islam sebagai asuhan- asuhan secara sistematis dalam membentuk anak didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.65 Menurut Zakiah Daradjat pendidikan agama Islam adalah suatu usaha dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung didalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat kelak.66 Abdul Majid dan Dian Andayani mendefinisikan Pendidikan Agama Islam sebagai upaya sadar yang terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunannya untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.67

Berdasarkan pelbagai pendapat pakar di atas dapat dipahami kemudian bahwa Pendidikan Agama Islam adalah otorisasi peserta didik (beragama Islam) secara sistemik

64Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), 183.

65Zuhairimi, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Offset Printing, 1981), 25.

66Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), 38.

67Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 130.

37

dan terukur untuk memeroleh konsep/pengetahuan, memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan serta memosisikan (ajaran) Islam sebagai pandangan dunianya sehingga menjadi Muslim beriman dan bertaqwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya, Pendidikan Agama Islam harus mampu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.68

Rumusan ini setidaknya memperkuat jangkar Pendidikan (Agama) Islam yang dirumuskan dari para pakar pendidikan Islam semisal al-Attas, Athiyah, al- Abrasy, Munir, Mursi, Ahmad D. Marimba, Muhammad Fadhil al-Jamali Mukhtar Yahya, Muhammad Quthb, dan sebagainya dalam Kongres se-Dunia Pendidikan Islam.

Dikemukakan bahwa pendidikan harus ditujukan untuk menciptakan keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal pikiran, perasaan, dan fisik manusia. Karenanya, Pendidikan Agama Islam harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi peserta didik, baik yang bersifat spiritual, intelektual, daya khayal, fisik, ilmu pengetahuan, maupun bahasa, baik secara perorangan maupun kelompok, dan mendorong tumbuhnya seluruh aspek tersebut agar terlaksananya pengabdian yang penuh kepada Allah.

Proses pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen yang satu sama lain saling berinteraksi, di mana pendidik harus memanfaatkan komponen tersebut dalam proses kegiatan untuk mencapaitujuan yang telah direncanakan. Antara lain

68Abd. Rozak, Fauzan, dan Ali Nurdin, Kompilasi Undang-undang &

Peraturan Bidang Pendidikan, (Jakarta: FITK PRESS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2010), 6.

38

komponen pembelajaran ada pendidik, materi, metode, media, dan lingkungan belajar.

Pertama, pendidik. Dalam UU. RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB IV Pasal 29 ayat 1 menyatakan bahwa pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, memiliki hasil belajar, menyelenggarakan bimbingan dan pelatihan, serta menyelenggarakan punditan dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya bagi para pendidik di perpendidikan tinggi.69

Pendidik merupakan aktor utama yang merencanakan, mengarahkan, dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang terdapat dalam upaya memberikan sejumlah Pendidik pengetahuan kepada peserta didik di sekolah. Seorang pendidik harus memiliki kemampuan untuk mengajar, membimbing dan membina peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.70 Karenanya, pendidik memegang peranan yang sangat menentukan bagi tujuan pendidikan. Pendidik harus meningkatkan kemampuan profesionalnya agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Pendidik merupakan komponen yang sangat menentukan dalam pelaksanaan strategi pembelajaran.

Strategi pembelajaran tidak dapat diterapkan tanpa seorang pendidik. Keberhasilan suatu penerapan strategi pembelajaran sangat bergantung pada pendidik dalam menggunakan metode, teknik dan taktik pembelajaran.

Seorang pendidik yang memberikan materi pelajaran hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran, akan berbeda

69 UU. RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, BAB IV Pasal 29 ayat 1

70Abudin Nata, Perspektif islam Tentang Strategi Pembelajaran, (Jakarta:

kencana, 2009), 315.

39

dengan pendidik yang menganggap mengajar sebagai proses pemberian bantuan kepada peserta didik.71

Dalam konteks pendidikan Islam, pendidik adalah semua pihak yang berusaha memperbaiki orang lain secara Islami. Mereka ini bisa orang tua (ayah-ibu), paman, kakak, tetangga, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat luas. Khusus orang tua, Islam memberikan perhatian penting terhadap keduanya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, serta sebagai peletak fondasi yang kokoh bagi pendidikan anak-anaknya di masa depan.72

filosofi Ki Hajar Dewantara, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”, maka peserta didik diberi kebebasan untuk belajar dari sumber yang beragam, dari guru, teman-teman, orang tua, buku, internet, dan sebagainya. Juga bisa belajar di manapun, terutama dari rumah yang menjadi kunci pendidikan karakter.

Hal demikian dikuatkan oleh Haidar Putra daulay bahwa dalam konsep pendidikan Islam dalam aplikasi dan praktik setiap hari bahwa seorang guru bukan satu satunya seorang pendidik, tetapi orangtua, dan para pemuka masyarakat/tokoh agama, yang terpenting telah memenuhi syarat salah satunya berakhlak baik, agar bisa dijadikan contoh, role model, uswatun khazanah bagi anak didik.73

Peserta didik dan pendidik, masing-masing memiliki kedaulatan yang sama dalam hal bekerja sama dalam proses pembelajaran. Konsep seperti ini membuat dua pilihan, berpusat pada pendidik atau berpusat pada peserta didik.

Jika dilihat dari kedudukan pendidik yang merupakan aktor aktif, maka harus memberikan kesempatan bagi terselenggaranya proses pembelajaran yang berpusat pada

71 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2010), 52.

72 Mohammad Kosim , Guru dalam Perspektif Islam, http://ejournal.iainmadura.ac.id/index.php/tadris/article/view/223/214 diakses tanggal 02 Maret 2022.

73Haidar Putra Daulay, Pendidikan islam Dalam Perspektif filsafat, (Jakarta:

Kencana, 2014), 103-104.

40

pendidik. Sebaliknya jika dilihat dari posisi peserta didik yang juga merupakan pelaku aktif, dapat juga diberikan kesempatan untuk melakukan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.74

Kedua, materi pembelajaran. Materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan ajar, proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Oleh karena itu, pendidik yang akan mengajar harus memiliki dan menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Materi pelajaran merupakan sumber belajar bagi peserta didik. Bahan yang dimaksud sebagai sumber belajar adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pembelajaran.

Suharsimi Arikunto berpandangan bahwa materi pelajaran merupakan inti keyakinan dalam kegiatan belajar mengajar, karena materi pelajaran adalah yang dicari peserta didik untuk dikuasai. Dengan demikian, seorang pendidik atau pengembang kurikulum tidak boleh lupa untuk menjelaskan sejauh mana materi yang tercantum pada topik terkait dengan kebutuhan peserta didik pada usia tertentu dan dalam lingkungan tertentu.75

Pada umumnya aktivitas peserta didik akan berkurang jika materi pelajaran yang diberikan oleh pendidik tidak menarik perhatiannya karena metode pengajaran yang berdasarkan prinsip-prinsip pengajaran.

Seringkali pendidik merasa telah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa peserta didik sekalipun, sehingga pendidik akan mengalami kegagalan dalam menyampaikan materi dan sebaliknya peserta didik akan mengalami kegagalan dalam menerima pelajaran.76

74 Nata, Perspektif Islam..., 314.

75Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar mengajar, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2006), 44.

76Djamarah & Zain, Strategi Belajar, 45.

41

Materi pembelajaran juga perlu dipilih dengan baik agar dapat membantu peserta didik mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pada hakikatnya, jenis bahan ajar membutuhkan strategi, media, dan metode evaluasi yang berbeda. Cakupan dan kedalaman materi pembelajaran sangat perlu diperhatikan agar sesuai dengan tingkat kompetensi. Menpendidiktkan bahan pembelajaran yang perlu diperhatikan agar pembelajaran menjadi terarah. Metode penyampaian materi pembelajaran juga perlu dipilih dengan benar agar tidak salah dalam penyampaiannya.

Materi PAI adalah materi pelajaran atau pokok bahasan dalam bidang studi Islam yang dilaksanakan secara terencana dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, meyakini, mengamalkan ajaran Islam dan berakhlak Islami serta diikuti dengan bimbingan untuk menghormati. agama lain dalam rangka kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketiga, metode pembelajaran. Menurut J.R David dalam Teaching Strategy for College Class Room yang dikutip oleh Abdul Majid, mengatakan bahwa pengertian metode adalah cara untuk mencapai sesuatu. Untuk menerapkan strategi digunakan seperangkat metode pengajaran tertentu. Dalam pengertian ini, metode pembelajaran menjadi salah satu unsur dalam strategi belajar mengajar. Metode pembelajaran digunakan oleh pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar dan mengkhususkan pada aktivitas pendidik dan peserta didik yang terlibat selama proses pembelajaran.77

Metode pembelajaran diartikan sebagai cara yang digunakan pendidik dalam menjalankan fungsinya dan merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.

77Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung:

Remaja Rosdakarya, 2014), 132.

42

Metode pembelajaran dengan teknik adalah dua hal yang berbeda. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural, yang mengandung tahapan-tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah metode yang digunakan dan dapat dilaksanakan. Dengan kata lain, metodenya bisa sama, tetapi tekniknya berbeda.78

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat dibutuhkan oleh pendidik, penggunaan metode dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Penggunaan metode pembelajaran yang variatif akan memberikan suasana belajar yang menarik, dan tidak membosankan bagi peserta didik.

Metode dalam pendidikan Islam cukup banyak untuk dijadikan opsioleh seorang pendidik untuk digunakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkugan dan tipe peserta didikyang dihadapi, sehingga bisa adaptif dan fleksibel ketika proses pembelajaran, seorang pendidik bisa menggunakan metode nasihat, pembiasaan, diskusi dan lain-lain.79

Keempat, media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat atau perangkat untuk memperlancar pelaksanaan pembelajaran agar lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Alat atau media pembelajaran dapat berupa orang, makhluk hidup, benda, dan segala sesuatu yang dapat digunakan oleh pendidik sebagai perantara untuk menyajikan materi pembelajaran.80 Pada dasarnya setiap perangkat pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini sejalan dengan fungsi alat dalam setiap penggunaan. Oleh karena itu,

78Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 7.

79Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam, 128.

80Ani cahyadi, pengembangan media dan sumber belajar; teori dan prosedur (Serang Baru: Laksita Indonesia, 2019), 4.

43

dalam menggunakan perangkat pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Alat pendidikan harus cocok atau sesuai dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

b. Pendidik memahami dengan baik peranan alat pembelajaran yang digunakan serta dapat memanfaatkannya secara baik sesuai dengan bahan/

materi pelajaran serta tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

c. Peserta didik dapat menerima dengan baik penggunaan alat pembelajaran sesuai dengan kondisi dan latar belakang usianya, dan bakat- bakatnya

d. Alat pembelajaran haruslah memberikan dampak atau hasil yang baik serta tidak menimbulkan dampak negative terhadap perkembangan akhlak agamanya, maupun terhadap perkembangan fisik dan psikologisnya.

Penggunaan media dalam pembelajaran haruslah disesuaikan dengan kondisi yang sedang berlangsung.

Media atau alat pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan materi yang diajarkan, dengan adanya media atau alat pembelajaran ini sudah seharusnya dapat memudahkan pendidik dalam mengajar.

Kelima, lingkungan belajar. Peserta didik akan berinteraksi dengan lingkungan selama proses pembelajaran berlangsung. Lingkungan memberikan rangsangan kepada individu dan sebaliknya individu memberikan respons terhadap lingkungan. Dalam proses interaksi dapat terjadi perubahan perilaku individu.

Perubahan perilaku yang terjadi dapat berupa perubahan positif maupun negatif.

Lingkungan belajar adalah suatu kawasan dengan segala isinya yang saling berhubungan dengan kegiatan belajar. Lingkungan belajar perlu dirancang untuk mendukung kegiatan belajar sehingga dapat meningkatkan

44

kenyamanan individu yang menempati lingkungan tersebut untuk melakukan kegiatan belajar. Lingkungan belajar mempengaruhi proses dan hasil perilaku peserta didik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyediaan lingkungan belajar bagi peserta didik harus mendapat prioritas utama. Ini merupakan faktor penentu keberhasilan dalam membangun kemampuan perilaku peserta didik.

Arif Rochman menyatakan bahwa lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang melingkupi proses pembelajaran yang berlangsung.81 Lebih lanjut Rita Mariyana menyatakan bahwa lingkungan belajar merupakan sarana bagi peserta didik untuk mengabdikan diri pada aktivitas, berkreasi, hingga mendapatkan sejumlah perilaku baru dari aktivitasnya. Dengan kata lain, lingkungan belajar dapat diartikan sebagai “laboratorium”

atau tempat peserta didik bereksplorasi, bereksperimen dan berekspresi untuk mendapatkan konsep dan informasi baru sebagai bentuk hasil belajar.82

Menurut Muhibbin Syah menyatakan bahwa lingkungan belajar yang mempengaruhi proses belajar anak terdiri dari dua macam, yaitu:

a. Lingkungan sosial terdiri dari lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial peserta didik, dan lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah yang termasuk dalam lingkungan sosial meliputi seluruh warga sekolah baik itu pendidik, karyawan, maupun teman sekelas, yang kesemuanya dapat mempengaruhi semangat belajar peserta didik. Pendidik yang dapat menunjukkan sikap dan perilaku yang baik dan juga dapat memberikan contoh yang baik terutama dalam hal belajar seperti rajin membaca, dapat memberikan motivasi yang positif bagi belajar peserta didik. Begitu

81Arif Rochman, Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta:

Laksbang Mediatama, 2009), 195.

82Rita Mariyana, Pengelolaan Lingkungan Belajar, (Jakarta: Kencana, 2017), 34.

45

juga jika teman sekelas peserta didik di sekolah memiliki sikap dan perilaku yang baik serta memiliki etos kerja yang baik, misalnya rajin belajar akan berpengaruh positif terhadap belajar peserta didik.

b. Lingkungan non sosial menyangkut gedung sekolah dan letaknya, tempat tinggal keluarga peserta didik dan letaknya, alat belajar, sumber belajar, kondisi cuaca, penerangan, dan waktu belajar yang digunakan peserta didik.

Bangunan merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi oleh sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Peserta didik dapat belajar dengan baik jika gedung sekolah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Rumah dengan kondisi sempit dan berantakan serta kondisi pemukiman peserta didik yang ramai dan bising tidak mendukung pembelajaran peserta didik. Peserta didik membutuhkan tempat yang nyaman dan tenang untuk berkonsentrasi belajar. Sumber belajar peserta didik seperti buku dapat mempermudah dan mempercepat belajar anak.

Ketersediaan sumber belajar akan mendorong peserta didik untuk belajar. Sumber belajar peserta didik yang terbatas akan menghambat peserta didik dalam belajar.

Faktor lingkungan memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dalam proses belajar peserta didik adalah tempat belajar, alat belajar, suasana, waktu, dan pergaulan.83