• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

3. Sumber Belajar

28

relevan dengan kebijakan tentang ketidak sesuaian antara kinerja kebijakan yang diharapkan dengan kebijakan yang dihasilkan. Penilaian kebijakan menghasilkan premis-premis nilai dengan kebutuhan untuk menjawab pertanyaan masalah, sebab dalam evaluasi kebijakan ini menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan dari konsekuensi pemecahan atau mengatasi masalah”.

Penjelasan dan uraian Dunn di atas akan sangat membantu dalam menganalisis kebijakan Pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan tentang ketentuan- ketentuan penyelenggaraan pembelajaran di tingkat SMA di Kota Mataram. Jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut merupakan data penting ketika mengkonfrontasikannya dengan fakta yang terjadi di lapangan, sehingga dapat diambil kesimpulan-kesimpulan atau temuan yang berarti dalam penelitian ini.

29

dan dengan mana seseorang mempelajari sesuatu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi, sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu. 51 Dageng memaknai sumber belajar sebagai segala sesuatu yang berwujud benda dan orang yang dapat menunjang kegiatan belajar sehingga mencakup semua sumber yang mungkin,52 berwujud benda dan orang yang dapat menunjang kegiatan belajar serta situasi belajar yang sengaja atau tidak sengaja diciptakan agar peserta didik secara individual dan atau secara bersama-sama dapat belajar.53

Beberapa definisi tentang sumber belajar yang dikemukakan oleh para expert dunia pendidikan di atas setidaknya menghamparkan learning resources yang sangat melimpah: pertama, pesan (message), segala jenis informasi yanng dapat berupa makna, fakta, ide, dan data. Contohnya:

materi tentang COVID-19, tenga NTB, tentang PAI, tentang Pembelajaran, dan lain sebagainya. Kedua, orang (people), yaitu manusia yang menjadi sumber informasi/pesan seperti pendidik, peserta didik, orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tetangga, dan lainnya. Ketiga, bahan (materials), yaitu media atau perangkat lunak (software) yang berisi pesan seperti slides, transparansi, teks tertulis, cetak, rekaman elektronik, website, film strip, rekaman, video tape, tape audio, bahan pengajaran terprogram, program pengajaraan dengan menggunakan komputer, buku, jurnal. Keempat, peralatan (devices), yang lazimnya disebut dengan perangkat keras (hardware) digunakan untuk menyampaikan pesan yang terdapat pada bahan. Perangkat keras seperti proyektor

51AECT, The definition, 12

52A. Januszewski dan Molenda, Educational Technology: A Definition with Complementary, (New York: Lawrence Erlbaum Associates. 2008), 214.

53I Nyoman Sudana Degeng, Ilmu Pembelajaran: Taksonomi Variabel, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 1990), 83.

30

slide, overhead projector (OHP), proyektor filmstrip, proyektor film 8 mm, proyektor film 16 mm, perekaman video tape, televisi, radio, VCD/DVD, mesin penyimpan informasi, mesin belajar, mesin tulis dilengkapi suara, komputer, perekaman tape, dan perangkat keras lainnya.

Kelima, teknik (tehcniques), yaitu langkah-langkah tertentu untuk menyampaikan pesan dengan menggunakan bahan, alat, tempat. Tehnik dapat berupa pendekatan, metode, tehnik, strategi, dan cara. Keenam, lingkungan (settings), yaitu tempat peserta didik menerima pesan yang dapat berupa lingkungan fisik: sekolah, perpustakaan, museum, rumah, ruang kelas, auditorium, studi, dan lain sebagainya.

Sedangkan, lingkungan nonfisik dapat berupa ruang kedap suara, sirkulasi udara, penerangan, dan lainnya.54

Aneka sumber belajar di atas dapat dimanfaatkan secara terpisah dan atau dikombinasikan antara sumber belajar yang satu dengan sumber belajar lainnya sejauh memudahkan alih pengetahuan (knowledge) dan sikap (value) bagi peserta didik. Setali tiga uang dengan ini, Breivik melihat bahwa “Resource-based learning is the instructional strategy where students construct meaning through interaction with a wide range of print, non-print and human resources” (Pembelajaran Berbasis Aneka Sumber merupakan strategi pembelajaran dimana peserta membangun makna melalui interaksi dengan berbagai sumber cetak, non-cetak danmanusia).55

Pendidik, lagi-lagi bukan merupakan pemilik tunggal pengetahuan, sumber belajar, sumber informasi, laiknya dalam paradigma konvensional (teacher center).

54Sumber belajar dikelompokkan menjadi dua tipe: pertama, sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yaitu sumber belajar yang didesain secara spesifik untuk mencapai tujuan pembelajaran; kedua, sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan (learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain secara khusus, akan tetapi dapat dipergunakan untuk praktek pembelajaran.

55P. S. Breivik, Resource-based Learning, dalam http://www. saskschool.

ca/curr_content/bestpractice/resource/, diakses tanggal 12 Mei 2021.

31

Pendidikan model monologis ini akan menghalangi peserta didik membangun sendiri pengetahuannya dan menghilangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

Dengan demikian, peserta didik harus didorong untuk belajar dari berbagai sumber ilmu untuk memperkaya pengetahuannya karena bagaimanapun juga keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh faktor pendidik, melainkan sangat dipengaruhi oleh keaktifan peserta didik sebagai warga belajar dan pusat pembelajaran (student center) untuk mengakses sumber-sumber belajar, di dalam kelas maupun di luar kelas.

Sebagai alat bantu pembelajaran, prinsip penentuan sumber belajar adalah ekonomis, praktis, mudah didapatkan, fleksibel, dan sesuai dengan tujuan. Menurut Morrison,56 pemanfaatan aneka sumber belajar dapat: (1) meningkatkan produktivitas pembelajaran, melalui:

percepatan laju belajar dan membantu pengajar untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan pengurangan beban guru dalam menyajikan informasi sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah belajar siswa; (2) memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, melalui: pengurangan kontrol peserta didik yang kaku dan tradisional serta pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan kemampuannya; (3) memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, melalui: perencanaan program pembelajaran yang lebih sistematis dan pengembangan bahan pembelajaran berbasis penelitian; (4) lebih memantapkan pembelajaran, melalui: meningkatkan kemampuan manusia dalam penggunaan berbagai media komunikasi serta penyajian data dan informasi secara lebih konkrit; (5) memungkinkan belajar secara seketika, melalui:

pengurangan jurang pemisah antara pelajaran yang bersifat

56G. R. Morrison, Designing Effective Instruction, (New York: John Wiley &

Sons, Inc, 2004), 23-26.

32

verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya konkret dan memberikan pengetahuan yang bersifat langsung; (6) memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, terutama dengan adanya media massa, melalui pemanfaatan secara bersama yang lebih oleh luas tenaga tentang kejadian- kejadian yang langka, dan penyajian informasi yang mampu menembus batas geografis.

Karena itu, learning resources menemukan momentum yang tepat untuk menjadi landasan teori dan fitur kunci untuk menelaah praktik pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA di Kota Mataram sejak pandemi COVID-19 menggelinding.