BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
1. Inovasi
15
fokus kajiannya pada analisis kebijakan inovasi pembelajaran PAI pada masa pandemi COVID-19 pada jenjang Pendidikan SMA
Patut diakui bahwa studi 'dadakan' dampak COVID-19 terhadap sistem penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran tumpah ruah, baik dalam bentuk tulisan-tulisan di jurnal, webinar, dan pelbagai platform digital. Buku-buku yang hadir menjawab problema pembelajaran masih sangat minim sekali dan tidak lebih dari kompilasi buku seputar pengalaman, good practices, dan pendapat para praktisi pendidikan yang cenderung parsial.
Riset yang peneliti lakukan ini karenanya melakukan peta konsep terobosan yang dilakukan oleh Pemerintah, Pusat maupun Pemprov. NTB, soal inovasi pembelajaran, bagaimana implementasinya, dan juga implikasinya dalam praktek pembelajaran PAI SMU di Kota Mataram. Lebih dari itu, peneliti yang kebetulan menjadi bagian dari sistem pemerintahan di NTB yang kerap bergelut dan menangani persoalan kebencanaan memiliki tanggung jawab moral untuk menggali kemungkinan-kemungkinan praxis- implementatif postur pembelajaran yang acceptable dan dapat diadopsi dalam suasana kebencanaan yang starting poinnya adalah pembelajaran PAI di Kota Mataram.
F. Kerangka Teori
16
(tidak secara kebetulan).14 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, inovasi diartikan sebagai pemasukan satu pengenalan hal-hal yang baru; penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya, yang (gagasan, metode atau alat).15
Para pakar mengungkapkan berbagai pengertian, persepsi, interpretasi tentang inovasi dengan susunan kalimat dan penekanan yang berbeda, tetapi mengandung makna yang sama, seperti White (1987), Kouraogo (1987), dan Kennedy (1987). White misalnya seperti dikutip Rusdiana mengatakan, “Innovation …more than change, although all innovations involve change” (Inovasi lebih dari sekadar perubahan, walaupun semua inovasi melibatkan perubahan).16 Rogers memaknai inovasi sebagai, “An innovation is an idea, practice, or object that is perceived as new by an individual or other unit of adoption.”17 Sementara, Zaltman dan Duncan berpendapat, “An innovation is an idea, practice, or material artifact perceived to be new by the relevant unit of adoption. Innovation is the change object.”18
Peter M. Drucker dalam bukunya Innovation and Entrepreneurship sebagaimana dikutip Tilaar mengemukakan beberapa prinsip inovasi, yaitu sebagai berikut: (1) Inovasi memerlukan analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan yang terbuka. Artinya, inovasi hanya dapat terjadi apabila mempunyai kemampuan analisis; (2) Inovasi bersifat konseptual dan perseptual, artinya yang bermula dari keinginan untuk menciptakan
14 Zahara Idris & Lisma Jamal, Pengantar Pendidikan (Jakarta:
Grasindo , 1992), 70.
15Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), 333.
16A. Rusdiana, M. M, Konsep Inovasi Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2014), 45.
17M Everett Rogers, Diffusion of Innovation (New York: The Free Press, 1983), 11.
18Zaltman, Gerald, Robert Duncan, Strategy of Planned Change (New York:
A. Willey-Interscience Publication John Wiley & Sons. , 1973), 7.
17
sesuatu yang baru yang dapat diterima masyarakat; (3) Inovasi harus dimulai dengan yang kecil. Tidak semua inovasi dimulai dengan ide-ide besar yang tidak terjangkau oleh kehidupan nyata manusia. Keinginan yang kecil untuk memperbaiki suatu kondisi atau kebutuhan hidup ternyata kelak mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap kehidupan manusia selanjutnya; (4) Inovasi diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan. Inovasi selalu diarahkan bahwa hasilnya akan menjadi pelopor dari suatu perubahan yang diperlukan. Apabila tidak demikian maka intensi suatu inovasi kurang jelas dan tidak memperoleh apresiasi dalam masyarakat.19
Dengan demikian, inovasi adalah ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang, baik berupa hasil invensi maupun discovery yang diadakan untuk mencapai tujuan tertentu. ‘Baru’ di sini dapat diartikan mencakup ketidaktentuan artinya sesuatu yang mengandung berbagai alternatif. Sesuatu yang tidak tentu masih memiliki kemungkinan bagi orang yang mengamati, baik mengenai arti, bentuk, maupun manfaat.20 Dengan adanya informasi berarti mengurangi ketidaktentuan tersebut karena dengan informasi itu berarti memperjelas arah pada satu alternatif tertentu.21
Rogers membedakan dua macam informasi.
Pertama, informasi yang berkaitan dengan pertanyaan,
“Apa inovasi (hal yang baru) itu?”, “Bagaimana menggunakannya?” “Mengapa diperlukan?” Kedua, berkaitan dengan penilaian inovasi atau berkaitan dengan pertanyaan, “Apa manfaat menerapkan inovasi?” “Apa konsekuensi nya menggunakan inovasi?”22
19 A. R. Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), 356.
20Rusdiana, Konsep Inovasi, 62.
21Rusdiana, Konsep Inovasi, 62.
22Rogers, Diffusion of Innovation, 11.
18
Jika anggota sistem sosial (warga masyarakat) yang menjadi sasaran inovasi dapat memperoleh informasi yang dapat menjawab berbagai pertanyaan tersebut dengan jelas, hilanglah ketidaktentuan terhadap inovasi. Mereka telah memperoleh pengertian yang mantap tentang inovasi dan akan menerima serta menerapkan inovasi. Cepat lambatnya proses penerimaan inovasi dipengaruhi juga oleh atribut dan karakteristik inovasi.23
Dalam konteks pendidikan, inovasi adalah usaha untuk memecahkan masalah dalam pendidikan. Inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik dalam arti sempit, yaitu tingkat lembaga pendidikan, maupun arti luas, yaitu sistem pendidikan Nasional.24 Inovasi dalam dunia pendidikan dapat berupa apa saja, produk ataupun sistem. Inovasi dapat dikreasikan sesuai pemanfaatannya, yang menciptakan hal baru, memudahkan dalam dunia pendidikan, serta mengarah pada kemajuan. Inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invensi (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Secara lebih terperinci, Hasbullah menjelaskan tujuan dari dilakukannya inovasi pendidikan adalah pembaruan pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah pendidikan dengan menawarkan solusi- solusi yang konkret untuk mengurai problema-masalah yang dijumpai dalam dunia pendidikan dengan cara-cara baru yang inovatif.25
23Rusdiana, Konsep Inovasi, 62
24Rusdiana, Konsep Inovasi, 46.
25 Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), 199-201.
19
Dalam dunia pendidikan, praxis dari arah pembaharuan inovasi pendidikan diarahkan pada:
1. Invention (penemuan). Invention meliputi penemuan/penciptaan tentang suatu hal yang baru.
Invention merupakan adaptasi dari hal-hal yang telah ada. Akan tetapi, pembaharuan yang terjadi dalam pendidikan terkadang menggambarkan suatu hasil yang sangat berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.
2. Development (pengembangan). Pembaharuan harus mengalami pengembangan sebelum masuk dalam dimensi skala yang besar. Development sering bergandengan dengan riset sehingga prosedur- prosedur “research and development” (R & D) digunakan dalam pendidikan.
3. Diffusion (penyebaran). Persebaran ide baru dari sumber kepada pemakai/penyerap yang terakhir.
4. Adaption (penyerapan). Beberapa tahap yang penting dalam penerapan inovasi pendidikan.26
Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus melibatkan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti innovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan siswa.
Di samping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh satu atau dua faktor, tetapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan. Dalam inovasi pendidikan, secara umum dapat diberikan dua buah model inovasi yang baru, yaitu sebagai berikut:27
Pertama, Top-down model, yaitu inovasi pendidikan yang diciptakan oleh pihak tertentu sebagai pimpinan/atasan yang diterapkan kepada bawahan. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Kemendikbud dan
26Rusdiana, Konsep Inovasi, 50.
27Rusdiana, Konsep Inovasi, 56-57.
20
Kemenag merupakan inovasi “top down inovation”. Inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebagainya. Contoh inovasi yang dilakukan oleh Kemendikbud antara lain Sistem Pengajaran Modul, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Pembelajaran Jarak Jauh Dalam Ruangan dan Pembelajaran Jarak Jauh Luar Ruangan, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, dan lain- lain.
Kedua, Bottom-up Model. Inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat, mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan. Oleh karena itu, masing-masing bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan. Bottom-up model adalah model inovasi dan hasil ciptaan dari bawah serta dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan penyelenggaraan dan mutu pendidikan. Model inovasi yang diciptakan berdasarkan ide, pikiran, kreasi, dan inisiatif dari sekolah, guru atau masyarakat yang umumnya disebut model Bottom-up Innovation.