A. Pandangan Para Ahli Sosiologi tentang Paradigma Definisi Sosial
7. Edwin Hadin Sutherland (Differential Association)
umum.80 Tujuan tersebut dilakukan agar masyarakat merasa tertarik kepada suatu polotik maupun individu untuk diberikan hak suara pada saat pemilihan. Sebagian dari kampanye politik memberikan rayuan, iming-iming maupun janji-janji palsu demi mendapatkan tujuannya. Namun tidak semua kampanye politik melakukan hal tersebut, sebagian lainnya adapula yang bersaing secara secara sehat atau jujur.
7. Edwin Hadin Sutherland (Differential
(teori transmisi budaya dan lingkungan), kedua, symbolic interactionism (interaksi simbolik), dan ketiga adalah culture conflict (konflik budaya).82 Dalam perkembangan pemikirannya, ia mengatakan bahwa semua tingkah laku dipelajari yang merupakan karakteristik dari teorinya, yaitu sebagai berikut:
a. Criminal behavior is learned (tingkah laku kriminal dipelajari).
b. Criminal behavior is learned in interaction with other person in a process of communication (tingkah laku kriminal dipelajari dalam hubungan interaksi dengan orang lain melalui suatu proses komunikasi).
c. The principal part of the learning ofcriminal behavior occurs within intimate personal groups (bagian penting dari mempelajari tingkah laku kriminal terjadi dalam kelompok yang intim). Jadi dalam hal ini bahwa semakin dekat hubungan dalam suatu kelompok atau masyarakat maka semakin memicu munculnya perilaku kriminal atau konflik.
d. When criminal behavior is learned, the learning includes: (a) techniques of committing the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very simple; (b) the specific direction of motives, drives, rationalizations, and attitudes (mempelajari tingkah laku kriminal, termasuk di dalamnya: (a) teknik atau cara melakukan kejahatan, mulai dari hal yang mudah hingga padahal yang sulit, (b) motif-motif tertentu, dorongan, alasan pembenar serta sikap).
e. The specific direction of motives and achieves is learned from definitions of the legal codes as favorable or
82M. Arief Amrullah, Perkembangan Kejahatan Korporasi Dampak dan Permasalahan Penegakan Hukum (Cet. I; Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), h. 21-22.
unfavorable (arah dan motif serta dorongan dipelajari melalui batasan perundang-undangan baik yang menguntungkan maupun yang merugikan).
f. A person becomes delinquent because of an excess definitions favorable to violation of law over definitions unfavorable to violation of law (seseorang menjadi delinkuen disebabkan lebih banyak berhubungan dengan pola-pola tingkah laku jahat daripada yang baik).
g. Differential association may vary in frequency, duration, priority, and intensity (differential association dapat berbeda dalam frekuensi, lamanya, prioritasnya, serta intensitasnya).
h. The process of learning criminal behavior by association with criminal and anticriminal patterns involves all of the mechanisms that are involved in any other learning (proses mempelajari perilaku kriminal melalui pergaulan dengan pola kriminal dan antikriminal melibatkan semua mekanisme yang berlaku dalam setiap proses belajar).
i. While criminal behavior is an expression of general needs and values, it is not explained by those general needs and values, since non-criminal behavior is an expression of the same needs and values (sekalipun tingkah laku kriminal merupakan pencerminan dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum, namun hal itu tidak dapat dijelaskan melalui kebutuhan-kebutuhan umum dan nilai-nilai tersebut, karena perilaku non- kriminal pun merupakan pencerminan dari kebutuhan- kebutuhan dan nilai-nilai yang sama).83
83 M. Arief Amrullah, Perkembangan Kejahatan Korporasi Dampak dan Permasalahan Penegakan Hukum, h. 22-23.
Sutherland hendak menjadikannya sebagai teori yang dapat menjelaskan semua penyebab kejahatan melalui teorinya tersebut. Oleh sebab itu, dia melakukan studi terhadap kejahatan white-collar (white-collar crime), sehingga melalui dasar teori tersebut, dapat menjelaskan sebab-sebab kejahatan konvensional serta kejahatan white- collar. Ketika Sutherland mengkaji mengenai pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pelaku bisnis, pada hakikatnya dimaksudkan untuk membuktikan pandangan umum mengenai perilaku kriminal, yang ketika itu teori-teori tentang kejahatan masih menekankan pada penyakit sosial serta gangguan mental sebagai penyebab terjadinya suatu kejahatan, terlebih terhadap kemiskinan dan keadaan sosial yang berkaitan dengan kemiskinan, misalnya: rumah yang tidak layak dihuni, kurangnya sarana rekreasi, dan lain sebagainya. Kebalikan dari teori tersebut, bahwa suatu perilaku kriminal terjadi karena telah dipelajari, oleh karena itu teorinya itu menerangkan serta menjelaskan salah satu contoh dari teori tersebut yaitu bahwa para pelaku bisnis bukanlah termasuk orang-orang yang miskin, kumuh, atau kekurangan fasilitas rekreasi, meskipun dalam kenyataannya mereka melakukan kejahatan.
Istilah white-collar crime telah dikemukakan oleh Edwin H. Sutherland pada tahun 1939 di hadapan American Sosiological Society. Melalui konsep white-collar crime tersebut, Suther land mengartikan bahwa suatu kejahatan dilakukan oleh orang terhormat, terpandang serta mempunyai status sosial yang tinggi dalam pekerjaannya (a crime committed by a person of respect ability and high social status in the course of his occupation). Adapun tesisnya mengenai white-collar crime adalah orang dari golongan sosial-ekonomi kelas atas melakukan kejahatan serta kejahatan yang dilakukan berbeda dari kejahatan yang
di lakukan oleh golongan sosial-ekonomi kelas bawah.84 Jadi secara singkat bahwa penetapan hukum terlalu sempit untuk menentukan ciri-ciri dari perilaku kejahatan.. Namun, hukum terlalu sempit dalammenangani ciri-ciri kejahatan.
Korupsi juga merupakan bagian dari perilaku kejahatan.
Dalam penelitiannya, Sutherland menumpulkan semua catatan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh korporasi- korporasi tersebut sesuai dengan putusan resmi pejabat pengadilan yang meliputi undang-undang mengenai pengendalian perdagangan, seperti: penyajian yang keliru dalam periklanan, pelanggaran paten (infringe ament of patents), hak cipta, serta merek dagang potongan harga (rebates), praktik-praktik curang dalam perburuhan yang dilarang oleh National Labor Relations Law, penipuan kenangan, pelanggaran peraturan perang, serta kelompok kecil lainnya yang melanggar hukum. Ketertarikan Sutherland terhadap topik tersebut sudah dimulai sekitar tahun 1920-an, meskipun penelitiannya mengenai white- collar crime dimulai pada saat terjadinya depresi dunia tahun 1930-an, publikasi pertamanya adalah pada tahun 1939 di hadapan American Sociological Society, yang dia berjudul The White Collar Criminal. Sutherland menjelaskan hasil penelitiannya itu yang disebutnya sebagai suatu teori umum tentang kejahatan, karena yang biasa penjelasan-penjelasan serupa selalu menekankan pada faktor kemiskinan dan kondisi-kondisi penyakit sosial lainnya.85 Dalam hal kejahatan atau tindak kriminal, bukan hanya kelas bawah yang melakukannya, akan tetai kelas atau pun seringkali melakukan tidak kriminal.
84M. Arief Amrullah, Perkembangan Kejahatan Korporasi Dampak dan Permasalahan Penegakan Hukum, h. 23-24.
85M. Arief Amrullah, Perkembangan Kejahatan Korporasi Dampak dan Permasalahan Penegakan Hukum, h. 25-26.
B. Kasus Teori Sosiologi (Paradigma Definisi Sosial)