Bagaimana dampak sebenarnya siaran media massa?
Fuller dan Jacobs (1973) mengemukakan bahwa dampak televisi sebagai agen sosialisasi belum diketahui dengan pasti.
Urie Bronfenbrenner (1970), setelah mempelajari berbagai data penelitian terhadap dampak televisi terhadap perilaku anak, merasa yakin bahwa media massa ini memberikan sumbangan berarti bagi tumbuh dan dipertahankannya suatu tingkat kekerasan tinggi dalam masyarakat Amerika.
Light, Keller dan Calhoun, di pihak lain, mengemukakan bahwa menurut penelitian Robert Hodge dan David Tripp pada tahun 1966 televisi tidak memberikan pesan tunggal yang sederhana melainkan menyajikan berbagai pesan yang rancu dan saling bertentangan, dan bahwa pesan televisi membawa banyak dampak positif seperti merangsang interaksi, eksperimen dan pertumbuhan mental serta sosial anak.
Dengan sendirinya agen sosialisasi yang ada dalam masyarakat tidak terbatas pada agen-agen yang telah disebutkan Fuller dan Jacobs suatu hal yang telah mereka sadari pula. Kita tentu tahu bahwa di bidang pendidikan dijumpai sistem pendidikan seumur hidup yang memungkinkan warga masyarakat yang telah bekerja untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi, dan bahwa di luar lembaga pendidikan formal sosialisasi dilakukan pula oleh agen-agen informal atau nonformal seperti kursus-kursus dan lembaga-lembaga pendidikan agama seperti pesantren, pengajian atau sekolah minggu.
demikian, pendidikan dapat dipahami sebagai usaha mempersiapkan peserta didik agar dapat tumbuh kembang secara baik dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi dalam menjalani kehidupannya.151 Dalam dunia pendidikan, terdapat dua istilah yang berdekatan dan hampir sama bentuknya, yaitu paedagogie dan paedagogiek. Paedagogie secara bahasa berarti pendidikan, sementara itu paedagogiek berarti ilmu pendidikan.
Paedagogia berarti pergaulan dengan anak-anak.
Paedagogiek berasal dari bahasa Yunani; diserap ke bahasa Indonesia menjadi pedagogik, Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik.152
Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam dan masyarakatnya.
Sementara itu, D. Marimba menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Berbeda dengan kedua defenisi di atas, Doni Koesoema A. mengartikan pendidikan sebagai proses internalisasi budaya ke dalam diri individu dan masyarakat menjadi beradab.Sementara itu, Sudirman N. menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk memengaruhi seseorang atau sekelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mantap.153
151Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, (Bandung: PT RemajaRosdakarya Offset, 2007), h. 3.
152Aisyah M. Ali, Pendidikan Karakter: Konsep Dan Implementasinya, (Cet. I; Jakarta: Kencana, 2018), h. 10
153Sudirman N., Ilmu Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1987), h. 4.
Berdasarkan definisi di atas pendidikan bertujuan agar manusia dapat dan mampu membangun harmonisasi dengan alam dan masyarakat, memiliki kepribadian yang utama, beradab, dan menjadi dewasa, sehingga dapat mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi (mantap). Dengan demikian, pendidikan merupakan suatu proses mempersiapkan peserta didik dengan jalan membina fisik, membangun jiwa, mengasah akal pikiran, dan menginternalisasikan nilai-nilai budaya dan agama yang hidup di tengah-tengah masyarakat.
Kata karakter berasal dari bahasa Latin kharakter, kharassein, kharax, dalam bahasa Inggris: character dan Indonesia karakter, Yunani character, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Dalam kamus Poerwadaminta sebagaimana dikutip oleh Abdul Madjid dan Dian Andayani, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat- sifat kejiwaan, akhlak, dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Adapun menurut Kamus Ilmiah Populer Bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai watak, tabiat, pembawaan, kebiasaan. Sementara itu, dalam kamus sosiologi karakter diartikan sebagai ciri khusus struktur dasar kepribadian seseorang (karakter; watak).154
Adapun secara terminologi, istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan
154Aisyah M. Ali, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya, h. 11.
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.155
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan, dapatlah disimpulkan bahwa karakter merupakan sekumpulan tata nilai yang tertanam atau terinternalisasi dalam jiwa seseorang yang membedakannya dengan orang lain serta menjadi dasar dan panduan bagi pemikiran, sikap, dan perilakunya. Dengan demikian cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang ditampilkan oleh seseorang merupakan gambaran karakter seseorang yang dapat dilacak dari proses internalisasi nilai yang dialaminya.
Lickona mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan nilai-nilai etis. Pendidikan karakter menurut Lickona mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiringthe good), dan melakukan kebaikan (doing the good).156
Berkowitz and Bier dalam Yaumi mengumpulkan beberapa definisi tentang pendidikan karakter yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Pendidikan karakter adalah gerakan nasional dalam menciptakan sekolah untuk mengembangkan peserta didik dalam memiliki etika, tanggung jawab, dan kepedulian dengan menerapkan dan mengajarkan karakter-karakter yang baik melui penekanan pada nilai- nilai universal. Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja, proaktif yang dilakukan oleh sekolah dan pemerintah (daerah dan pusat) untuk menanamkan nilai-
155Tobroni, Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam (http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/24/pendidikan-karakter- dalam-perspektifislampendahulan/, diakses pada 3 Agustus 2022).
156Aisyah M. Ali, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya, h. 12
nilai inti, etis seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap diri dan orang lain (Character Education Partnership).
2. Pendidikan karakter adalah mengajar peserta didik tentang nilai-nilai dasar kemanusiaan termasuk kejujuran, kebaikan, kemurahan hati, keberanian, kebebasan, kesetaraan, dan penghargaan kepada orang lain. Tujuannya adalah untuk mendidik anak-anak menjadi bertanggung jawab secara moral dan warga negara yang disiplin (Association for Supervision and Curriculum Development).
3. Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan nilai- nilai inti yang baik untuk individu dan baik untuk masyarakat (Thomas Lickona).
4. Pendidikan karakter adalah pendekatan apa saja yang disengaja oleh personel sekolah, yang sering berhubungan dengan orangtua dan anggota masyarakat, membantu peserta didik dan remaja menjadi peduli, penuh prinsip, dan bertanggung jawab (National Commission on Character Education).157
Berdasarkan uraian tersebut, terdapat beberapa nilai universal yang menjadi tujuan untuk dikembangkan pada diri peserta didik dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Nilai- nilai inti universal yang dimaksud adalah beretika, bertanggung jawab, peduli, jujur, adil, apresiatif, baik, murah hati, berani, bebas, setara, dan penuh prinsip.
Karakter-karakter seperti ini seharusnya menjadi bagian yang terintegrasi dalam perwujudan diri peserta didik dalam berpikir, berkehendak, dan bertindak. Walaupun definisi
157Muhammad Yaumi, Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar dan Implementasi (Cet. II; Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2016), h. 9-10.
tersebut telah menekankan pada nilai-nilai universal atau nilai inti dari pendidikan karakter, namun mereka masih menyiratkan adanya perbedaan fokus kajian, apakah kajian pendidikan karakter itu ditekankan pada aspek kebajikan (virtue), nilai (value), perilaku (behavior), atau dari aspek kapasitas penalaran (reasoningcapacity).
E. Proses Sosialisasi dalam Pendidikan Berbasis