BAB IX
PERAN GURU PAI DALAM PEMBINAAN KARAKTER PESERTA DIDIK
Majdatul Fuadi
A. Peran Guru PAI dalam Pembinaan Karakter
(pendorong masyarakat), sosial innovator (penemu masyarakat), dan sebagai sosial agent (agen masyarakat).179
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 dan UU No. 14 Tahun 2005, peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai, dan pengevaluasi dari peserta didik.180 Adapun peran guru ini dapat dijelaskan berikut ini:
1. Guru sebagai Pendidik
Guru merupakan pendidik yang menjadi teladan dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya.
Standar kualitas pribadi tertentu yang harus dimiliki guru mencakup tanggung jawab, kewibawaan, kemandirian, dan kedisiplinan. Guru seyogyanya memahami berbagai nilai, norma moral dan sosial, serta berperilaku sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebagai pendidik, harus memiliki keberanian dalam mengambil keputusan secara mandiri terhadap hal yang berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan.
2. Guru sebagai Pengajar
Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahui, membentuk kompetensi, dan memahami materi standar yang dipelajari. Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran, menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal tersebut dikarenakan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan berkembang sehingga
179Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014), h. 165.
180Hamzah B. Uno dan Nina Lamatenggo, Tugas Guru dalam Pembelajaran: Aspek yang Memengaruhi (Cet.I; Jakarta: Bumi Aksara, 2016), h. 3-5.
tersedia berbagai buku dengan harga relatif murah, selain itu peserta didik dapat belajar melalui internet tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio, dan surat kabar. Semakin pesatnya perkembangan IPTEK memberikan kemudahan kepada peserta didik. Untuk itu, perlu adanya pengembangan profesi secara profesional dan inovasi agar tugas dan peran guru sebagai pengajar masih tetap diperlukan dan dibutuhkan.
3. Guru sebagai Pembimbing
Guru diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan yang memberikan arah berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya dengan penuh tanggung jawab. Perumusan tujuan secara jelas, penetapan waktu perjalanan, penetapan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan, serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Kegiatan yang dilakukan oleh guru dilaksanakan berdasarkan kerja sama yang baik antara guru dengan peserta didik. Guru mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya.
4. Guru sebagai Pengarah
Guru sebagai pengarah bagi peserta didik dan orang tua.
Sebagai pengarah, guru mengajarkan peserta didik dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil keputusan, dan penemuan jati dirinya. Guru dituntut mengarahkan peserta didik mengembangkan potensinya sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik dalam menghadapi kehidupan di masyarakat.
5. Guru sebagai Pelatih
Pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan intelektual maupun motorik sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih. Guru
bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi setiap peserta didik.
Selain itu, harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, pelatihan yang dilakukan harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu, guru harus memiliki pengetahuan yang banyak dalam pembelajaran dan mengenali karakter peserta didiknya, meskipun tidak mencakup semua hal secara sempurna.
6. Guru sebagai Penilai
Aspek pembelajaran yang paling kompleks adalah penilaian atau evaluasi karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang tidak terpisahkan dari setiap segi penilaian. Setiap pembelajaran terdapat penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian pembelajaran peserta didik.
Penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan teknik yang sesuai, meliputi tes atau nontes. Teknik yang dilakukan dalam penilaian harus sesuai prosedur yang jelas meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut.
Karakter dapat dilihat dari tingkah laku dalam berinteraksi yang memiliki arti psikologis dan etis. Karakter dalam arti psikologis adalah sifat-sifat yang tampak yang mewakili pribadinya. Sedangkan dalam arti etis, karakter harus berdasarkan nilai-nilai yang baik dan menunjukkan sifat-sifat yang dapat dipercaya, sehingga orang berkarakter dapat menunjukkan sifat teguh pendirian, baik, terpuji dan dapat dipercaya. Berkarakter berarti memiliki prinsip moral
sehingga perbuatan atau tingkah lakunya dapat dipertanggung jawabkan.181
Banyak kualitas karakter yang harus dikembangkan, namun untuk memudahkan pelaksanaannya Ratna Megawangi bersama tim IHF mengembangkan konsep pendidikan 9 pilar karakter yang memuat nilai-nilai luhur universal (lintas agama, budaya dan suku). Adapun nilai-nilai 9 pilar karakter,182 sebagai berikut:
1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaannya.
2. Mandiri, disiplin, dan tanggung jawab.
3. Jujur, amanah, dan berkata baik.
4. Hormat, santun, dan pendengar yang baik.
5. Dermawan, suka menolong, dan kerja sama.
6. Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah.
7. Pemimpin yang baik dan adil.
8. Baik dan rendah hati.
9. Toleransi, cinta damai, dan bersatu.
Pembelajaran yang efektif untuk membentuk karakter peserta didik dapat dilakukan dengan cara, antara lain:
melakukan pembiasaan-pembiasaan baik yang termuat dalam program sekolah, adanya sinergitas dari setiap warga sekolah, dan melakukan pembelajaran dengan benda-benda yang konkret. Hal tersebut dikarenakan, perkembangan kognitif setiap peserta didik berbeda-beda. Semakin banyak informasi,
181Sukadari, Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah (Cet. I; Yogyakarta: Kanwa Publisher, 2018), h. 25.
182Endang Kartikowati dan Zubaedy, Pola Pembelajaran 9 Pilar Karakter pada Anak Usia Dini dan Dimensi-Dimensinya (Cet. I; Jakarta:
Prenadamedia Group, 2020), h. 58.
justru tidak membuat pikiran anak lebih maju sebab kualitas kemajuannya berbeda-beda.183
Peran guru khususnya guru PAI dalam pembinaan karakter kepada siswa tentunya guru harus mampu menjadi contoh teladan terhadap siswanya, memberikan materi dengan lemah lembut, memberikan perhatian kepada siswa, melakukan pembiasaan-pembiasaan seperti mengucapkan salam saat memasuki kelas, melatih untuk disiplin, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, serta melakukan kegiatan yang bermanfaat baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Selain itu, membiasakan siswa agar materi yang telah diajarkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Strategi yang digunakan Guru PAI dalam