• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Sosialisasi dalam Pendidikan Berbasis Karakter

Dalam dokumen Sosiologi Pendidikan Islam (Halaman 159-164)

tersebut telah menekankan pada nilai-nilai universal atau nilai inti dari pendidikan karakter, namun mereka masih menyiratkan adanya perbedaan fokus kajian, apakah kajian pendidikan karakter itu ditekankan pada aspek kebajikan (virtue), nilai (value), perilaku (behavior), atau dari aspek kapasitas penalaran (reasoningcapacity).

E. Proses Sosialisasi dalam Pendidikan Berbasis

memberikan pengajaran dan contoh perilaku positif yang merupakan cerminan dari nilai pendidikan karakter, sehingga anak mampu menginternalisasi nilai pendidikan karakter tidak hanya melalui pengajaran secara lisan tetapi juga melalui proses imitasi yang diperoleh dari tingkah laku individu di sekitarnya.

Terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan oleh keluarga dalam mensosialisasikan nilai pendidikan karakter terhadap anak yakni, pertama, metode keteladanan adalah konsep dan persepsi diri seorang anak di pengaruhi oleh unsur yang berada di luar dirinya. Hal itu disebabkan karena sejak lahir anak melihat, mendengar, dan mempelajari hal-hal yang terjadi di sekitarnya termasuk kegiatan yang dilakukan oleh orang tua maupun anggota keluarga yang lain. Anak akan banyak belajar melalui proses imitasi/peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, orang tua ataupun anggota keluarga yang lain hendaknya membiasakan diri untuk melakukan tindakan yang positif dengan tujuan sebagai media sosialisasi bagi anak sehingga anak juga melakukan tindakan positif yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.

Kedua, metode genjaran dan hukuman (reward and punishment). Ganjaran (reward) merupakan alat pendidikan preventif dan represif yang bersifat menyenangkan. Pemberian ganjaran dimaksudkan untuk memotivasi anak agar giat belajar dan melakukan tindakan yang positif. Ganjaran yang diberikan dapat melalui lisan berupa kata-kata pujian ataupun pemberian materi yang dapat berupa uang ataupun benda lain yang dapat membuat anak merasa senang. Sedangkan yang dimaksud dengan hukuman (punishment) adalah alat pendidikan preventif dan represif yang bersifat tidak menyenangkan. Pemberian hukuman merupakan balasan dari perbuatan/tingkah laku anak yang tidak baik. Tujuan dari pemberian hukuman adalah agar anak menyadari kesalahan

yang telah di lakukan dan memberikan efek jera sehingga anak tidak mengulangi kesalahannya lagi. Hukuman dapat diberikan secara lisan melalui teguran, dan hukuman fisik seperti menjewer, mencubit, memukul, dan lain sebagainya tetapi dengan catatan bahwa hukuman fisik yang diberiikan tidak melalmpaui batas.

Ketiga, metode cerita/kisah, dan metode pembiasaan.

Tujuan metode bercerita ini adalah untuk memberikan pengajaran sekaligus hiburan bagi anak. Dalam suatu cerita pasti terkandung unsur nilai-nilai positif dan negatif, dari nilai- nilai tersebut anak belajar membedakan antara yang baik dan buruk kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan. Oleh karena itu, pendidik/orang tua harus selektif dalam memberikan cerita atau bahan bacaan bagi sang anak agar nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut mampu menjadi teladan yang baik bagi anak. Pembiasaan yang dilakukan sejak kecil akan melekat dengan kuat dan akan menjadi kebiasaan sehingga secara tidak langusng akan membentuk karakter sang anak. Sebagai pendidik/orang tua, berperan penting dalam proses pembiasaan. Sejak kecil anak harus dikenalkan dengan hal-hal yang mengandung nilai positif dan membiasakannya melakukan perbuatan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan yang diterapkan pada anak hendaknya dimulai dengan hal-hal kecil misalnya untuk berlaku jujur, saling menolong terhadap sesama, dan kegiatan sehari-hari lainnya.160

Berikut contoh kasus analisis kasus yang terjadi di sekolah dalam hubungannya dengan Proses sosialisasi dalam pendidikan berbasis karakter dengan baik. Berdasarkan kasus yang terjadi di sekolah dalam hubungannya dengan proses sosialisasi dalam pendidikan berbasis karakter dengan baik yang ditelaah oleh penulis, kebanyakan peserta didik di sekolah

160Yuli Surya Dewi, Pola Sosialisasi Pendidikan Karakter, Volume 01 No. 01 Tahun 2012, h. 2-3

latar belakang keluarga menempati posisi sentral sebagai agen sosialisasi primer. Keluarga memainkan peranan yang signifikan dalam menyiapkan anak-anak untuk berperan serta dalam kehidupan masyarakatnya khususnya di lingkungan skolahnya. Sosialisasi dalam keluarga akan membekali peserta didik untuk memperoleh nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan berguna dalam kehidupan di luar lingkup keluarganya. Nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan yang ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka dipengaruhi oleh karakteristik suatu keluarga yang terbentuk dari kombinasi sejumlah elemen, antara lain etnis, agama, budaya, dan strata sosial. Di samping itu, perubahan-perubahan dalam lingkugan bermain turut pula mempengaruhi karakteristik peserta didik. Kondisi itu pada gilirannya juga akan mempengaruhi nilai-nilai dan norma-norma serta kebiasaan-kebiasaan dalam diri anak, baik yang bersifat positif maupun negatif. Sosialisasi primer yang bersandar pada interaksi dalam keluarga merupakan cara yang efektif untuk menginternalisasikan nila-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itu, betapapun kuat dan besar pengaruh dari agen-agen sosialisasi yang lain, khususnya dalam fase sosialisasi sekunder dan tersier, keluarga tetap dapat diandalkan sebagai benteng pertahanan terhadap pengaruh-pengaruh itu.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Sosiologi Pendidikan. Penerbit Rineka Cipta:

Jakarta, 2004.

Ali, Aisyah M. Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya. Cet. I; Jakarta: Kencana, 2018.

Dewi, Yuli Surya. Pola Sosialisasi Pendidikan Karakter. Vol.

01 No. 01 Tahun 2012.

Maryati, Kun. Sosiologi untuk SMA dan MA Jilid 1. Esis:

Jakarta, 2001.

Purwanto, Ngalim. Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis.

Bandung: PT. RemajaRosdakarya Offset, 2007.

Rahmawati, Nur Indah. Sosialisasi Menumbuhkan Minat Siswa-Siswi Akan Investasi Jangka Panjang Diera Milineal 4.0 Bidang Pendidikan di Desa Wates Kecamatan Way Ratai, DEDIKASI: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Vol. 1 No. 2 Juli, Desember 2019.

Sudirman N. Ilmu Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1987.

Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi. Cet. III; Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia:

Jakarta, 2004.

Syarbini, Amirullah. Buku Pintar Pendidikan Karakter. Prima Pustaka: Jakarta 2012.

Tobroni, Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam.

Dikutip dalam http://tobroni.staff.umm.ac.id/2010/11/

24/pendidikan-karakter-

dalamperspektifislampendahulan/, Diakses pada 3 Agustus 2022.

Waluyo. Ilmu Pengetahuan Sosial, Balai Pustaka: Jakarta, 1977.

Yaumi, Muhammad. Pendidikan Karakter: Landasan, Pilar Dan Implementasi. Cet. II; Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2016

BAB VIII

PENDIDIKAN SEBAGAI MOBILITAS SOSIAL Akbar Syamsuddin

Dalam dokumen Sosiologi Pendidikan Islam (Halaman 159-164)