BAB X
PENDIDIKAN SEBAGAI INSTITUSI SOSIAL DAN PERUBAHAN SOSIAL
Mahlizah
politik, ekonomi dan sosial dalam rangka mencapai tujuan pembangunan bangsa.190
Dewasa ini, perkembangan zaman membawa perubahan dalam berbagai aspek. Dampak perubahan yang sangat cepat dan mudah diamati adalah dimensi sosial. Perubahan sosial tidak hanya mengarah pada kemajuan, tetapi juga kemunduran. Itu sudah terjadi sejak dahulu kala. Perubahan yang terjadi datang sangat cepat dan dapat membingungkan bagi mereka yang menghadapinya. Semua perubahan sosial selalu membawa risiko kehidupan sosial dan keresahan sosial
.
191Masyarakat modern melihat lembaga pendidikan sebagai sarana atau kunci untuk mencapai tujuan sosial. Alokasi pendidikan yang disiapkan oleh pemerintah bertujuan untuk mencapai kemajuan sosial dan pembangunan nasional dalam hal ekonomi, politik dan sosial.
Namun kini perkembangan zaman telah membawa perubahan dalam banyak aspek, salah satunya yang terjadi sangat pesat dalam aspek sosial. Tentunya perubahan yang terjadi bukan hanya perubahan yang konstruktif, tetapi juga perubahan yang bersifat destruktif yang berujung pada hilangnya nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat dan kemerosotannya. Karena setiap perubahan selalu meningkatkan risiko kehidupan sosial.192
Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan tingkat rendah berdampak besar pada proses perubahan sosial di masyarakat,
190Ryan Indy, dkk. “Peran Pendidikan dalam Proses Perubahan Sosial di Desa Tumaluntung Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara”, HOLISTIK, Journal Of Social and Culture, Vol. 12, No. 4, 2019, h. 2.
191Ryan Indy, dkk. “Peran Pendidikan dalam Proses Perubahan Sosial di Desa Tumaluntung Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara”, h.
2-3
192Ramdan Hanif, “Peran Pendidikan Islam dalam Perubahan Sosial di RW 02 Desa Cipadung Wetan Kota Bandung”, PROCEEDINGS UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG, Vol. 1, No. 14, 2021, h. 126.
tetapi pendidikan tingkat tinggi membawa perubahan sosial yang besar di masyarakat. Sebagaimana disebutkan di atas, pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam mengubah kepribadian seseorang menjadi lebih maju.
Sebelum membahas tentang pendidikan sebagai institusi sosial, ada baiknya untuk menjelaskan secara singkat tentang institusi sosial. Berbagai istilah digunakan untuk menggambarkan tentang institusi sosial yang merupakan terjemahan dari istilah Bahasa Inggris “social institution”.
Kuntjaraningrat
menyebutnya sebagaipranata sosial
. Yaitu, sistem perilaku dan relasional yang berfokus pada kegiatan untuk memenuhi kebutuhan spesifik yang kompleks dalam kehidupan masyarakat.193 Selain pranata sosial, juga digunakan istilah bangunan sosial, dan lembaga sosial.Bangunan sosial yang dalam Bahasa Jerman dikenal dengan
“die soziale gebielde” yang menunjuk pada bentuk dan susunannya, atau lebih menunjuk pada bentuk luarnya.
Lembaga sosial, di sisi lain, adalah istilah yang dikemukakan oleh Soemardjan dan Soelaiman sebagaimana di kutip oleh Ary Gunawan yakni, semua norma di semua tingkatan, seperti lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, dan lain-lain, yang berkisar pada kebutuhan dasar dalam kehidupan masyarakat.194
Institusi sosial adalah organisasi norma untuk melakukan sesuatu yang dianggap penting. Institusi berkembang secara bertahap dari kehidupan sosial manusia. Setelah kegiatan utama distandarisasi, rutin dan disetujui, perilaku menjadi dilembagakan. Peran yang dilembagakan adalah peran yang dibakukan, disepakati, diharapkan, dan biasanya dimainkan
193Kuntjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Cet. II; Jakarta:
Penerbit Universitas, 1964), h. 113.
194Ary H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi Tentang Pelbagai Problem Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 23.
dengan cara yang sangat dapat diprediksi, terlepas dari siapa yang mengisinya. Institusi sosial muncul dan eksis dalam masyarakat tanpa memandang tingkat budayanya, apakah tingkat itu masih sederhana atau kontemporer. Karena setiap masyarakat memiliki kebutuhan dasar atau basic needs yang muncul secara alami. Lembaga didirikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Misalnya, kebutuhan akan pendidikan memunculkan lembaga pendidikan seperti taman kanak- kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah, dan seterusnya.
Kebutuhan akan kehidupan kekerabatan memunculkan pranata sosial seperti perkawinan, dan kebutuhan untuk mengekspresikan keindahan melahirkan karya sastra, seni, dan sebagainya.195
Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan bahwa institusi sosial muncul karena manusia memiliki kebutuhan yang harus mereka penuhi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, manusia tidak sendiri, mereka membutuhkan kerjasama dari orang lain. Dari sini dapat di simpulkan bahwa institusi sosial adalah kumpulan norma-norma yang berkisar seputar kebutuhan dasar dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat memiliki institusi sosial yang berbeda, yang ditujukan untuk jenis kebutuhan masyarakat. Semakin banyak kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi secara bersama- sama, maka akan semakin banyak pula institusi sosial yang akan terbentuk dalam masyarakat.
Institusi sosial muncul dalam masyarakat berdasarkan norma-norma yang semula dihasilkan secara kebetulan, dan lama kelamaan norma-norma tersebut menjadi sadar.
Misalnya norma (ukuran) yang berkaitan dengan pendidikan.
Pendidikan pada awalnya bukan ukuran status seseorang.
Seiring berjalannya waktu, pendidikan menjadi kebutuhan
195Sulaiman Saat, “Agama Sebagai Institusi (lembaga) Sosial (kajian sosiologi agama)”, Jurnal Inspiratif Pendidikan, Vol. 5, No. 2, 2016, h.
267.
yang harus dipenuhi karena dipenuhi oleh anggota masyarakat. Pendidikan dilembagakan dalam masyarakat karena dianggap sebagai sesuatu yang memberi status. Jadilah pendidikan sebagai sistem sosial.196
Dalam masyarakat yang bersahaja/primitif, mereka tidak memiliki lembaga pendidikan, apalagi yang formal. Orang tua mendidik anaknya dengan jalan memberi contoh dan anak menyaksikan secara langsung suatu pekerjaan. Cara seperti inilah yang dapat dikatakan sebagai pendidikan dalam masyarakat yang bersahaja. Sekolah mulai lahir ketika kebudayaan telah menjadi sangat kompleks, sehingga pengetahuan yang dianggap perlu tidak mungkin lagi ditangani dalam lingkungan keluarga. Dalam perkembangan beberapa generasi selanjutnya lahirlah “guru” yaitu orang yang waktunya dipergunakan sepenuhnya untuk mengajar. Pada tahap itulah ketika telah terdapat orang-orang yang berspesialisasi guru dan anak-anak didik dalam kelas yang formal yang berlangsung di luar lingkungan keluarga, dan ketika itulah ditemukan cara yang pantas untuk mendidik anak-anak tersebut, barulah dapat dikatakan lembaga pendidikan telah lahir.197
Pendapat tersebut mendeskripsikan bahwa forum pendidikan lahir, tumbuh, dan berkembang sejalan dengan menggunakan perkembangan kebudayaan yang dicapai oleh manusia. Akibatnya, pendirian lembaga pendidikan pada awalnya merupakan kebutuhan yang dipenuhi daripada sesuatu yang direncanakan atau dicapai. Perkembangan selanjutnya yaitu dengan melihat dari kemampuan memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga kemanfaatannya diakui, dipahami, diikuti, dan diapresiasi. Oleh karena itu, dalam
196Sulaiman Saat, “Agama Sebagai Institusi (lembaga) Sosial (kajian sosiologi agama)”, h. 269.
197Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, Sociology, terj. Aminuddin Ram, Sosiologi, Jil. 1, (Cet. IV; Jakarta: Erlangga, 1996), h. 333.
analisis fungsional, pertumbuhan lembaga pendidikan berkaitan dengan kebutuhan akan pekerjaan. Artinya, munculnya lembaga pendidikan di masyarakat menyesuaikan dengan tumbuh dan berkembangnya budaya yang dimiliki masyarakat. Artinya lembaga pendidikan tumbuh dan berkembang seiring dengan tumbuh dan berkembangnya kebudayaan manusia. Semakin kompleks kebudayaan yang dicapai manusia, semakin kompleks pula kebutuhan akan pendidikan manusia.
Analisis aliran fungsional di atas ditolak oleh para pendukung aliran yang bersaing. Menurut aliran ini, faktor terpenting penyebab munculnya lembaga pendidikan bukanlah kebutuhan akan tenaga kerja. Di negara-negara maju, banyak orang memiliki pendidikan yang jauh lebih tinggi daripada yang dibutuhkan oleh pekerjaan mereka. Penganut teori konflik, berpendapat bahwa terdapat banyak faktor yang mungkin lebih penting, lebih berpengaruh, dan merupakan penyebab lahirnya lembaga pendidikan, yaitu
:
1981. Untuk memenuhi kebutuhan akan status bagi orang- orang yang ingin merasa lebih hebat.
2. Ingin terbebas dari persaingan untuk memperoleh jabatan tertentu yang diperebutkan oleh orang-orang yang tidak memiliki ijazah.
3. Mempertegas jurang antar kelompok etnik dan subkultur (kebudayaan khusus) serta menganaktirikan orang-orang yang tidak diajar tata krama secara baik.
Menganalisa pandangan kedua aliran sosiologi tersebut, pandangan aliran fungsional memahami bahwa lembaga pendidikan ada sesuai dengan tingkat budaya manusia dan dengan demikian memandang pendidikan sebagai kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sesuai dengan tingkat
198Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, Sociology, terj. Aminuddin Ram, Sosiologi, h. 334.
budaya. Pendidikan hidup berdampingan dengan kebutuhan manusia dan memenuhi kebutuhannya. Pendidikan tumbuh seiring dengan pertumbuhan budaya masyarakat. Semakin maju masyarakat, semakin kompleks masalahnya dan dengan demikian semakin besar kebutuhan akan pendidikan. Teori konflik berpendapat bahwa pendidikan ada hubungannya dengan status seseorang, yang dapat membedakan seseorang dari orang lain dan memegang status, menyoroti perbedaan antara yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan.
Kedua pandangan tersebut memiliki derajat kebenarannya masing-masing jika dilihat dari pendekatan yang digunakan.
Sekolah fungsional mengambil pendekatan kronologis terhadap perkembangan budaya manusia, dengan alasan bahwa pendidikan berfungsi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Teori konflik melihatnya dari sudut lain.
Mereka percaya bahwa lembaga pendidikan dapat menonjolkan perbedaan antara orang terdidik dan tidak berpendidikan dan melihat keberadaan lembaga pendidikan dalam konteks masyarakat maju.199
Pendidikan sebagai pranata sosial dalam pengertian uraian ini lebih mencakup pendidikan formal (pendidikan sekolah).
Hal ini karena ketika orang berbicara tentang pendidikan, mereka berpikir bahwa yang dimaksud adalah pendidikan yang lebih formal. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ada tiga jalur pendidikan yaitu, pendidikan formal, informal, dan nonformal. Lembaga pendidikan dikembangkan sebagai upaya sistematis untuk mengajarkan bahwa belajar di lingkungan rumah tidaklah mudah. Sekolah dasar adalah sekolah formal yang diselenggarakan baik oleh lembaga negara maupun lembaga khusus, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
199Sulaiman Saat, “Pendidikan Sebagai Institusi Sosial”, h. 184.
Salah satu aspek pendidikan yang terdapat dalam setiap masyarakat adalah adanya asumsi yang menyangkut siapakah yang memerlukan pendidikan dan berapa banyak pendidikan yang diperlukan. Sistem pendidikan persaingan (contes education) berpandangan bahwa setiap orang harus diberi kesempatan untuk bersaing dan tidak diperlukan sponsor khusus. Sistem pendidikan sponsor (sponsored education) berpandangan bahwa setiap orang sudah masuk dalam suatu kelas sosial sejak lahir, dan jika ia memiliki kemampuan yang luar biasa dapat masuk ke kelas sosial yang lebih tinggi.200
Sekolah merupakan suatu sistem sosial yang memiliki jumlah peranan, status, dan hubungan-hubungan sendiri.
Pendidikan memiliki sejumlah fungsi, yang oleh Marton, seorang fungsinalis, dikenal dengan fungsi manifest (nyata), yaitu akibat-akibat obyektif yang menyumbang pada perubahan atau adaptasi dari sistem yang disengaja dan diakui oleh para peserta dalam sistem itu. Lalu hal-hal itu bersifat terbuka, disengaja, dikenal, diakui dan diterima. Selain fungsi manifest, pendidikan juga memiliki fungsi laten yaitu fungsi yang tidak disengaja mapun diakui. Fungsi ini lebih bersifat tertutup, tidak begitu luas diakui dan diterima.201 Fungsi utama manifes adalah untuk membantu orang menyadari potensi mereka dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Fungsi laten (terpendam/terselubung) antara lain memperpanjang masa ketidakdewasaan, melemahkan pengawasan orang tua, mempertahankan atau mengubah kelas sosial, dan memberikan tempat perlindungan bagi pertikaian pendapat.
200Sulaiman Saat, “Pendidikan Sebagai Institusi Sosial”, h. 184.
201Frank Jefflen, Sydney C. Mifflen, Sosiology of Education diterjemahkan oleh Joost Kullit dengan judul “Sosiologi Pendidikan”, Bandung: Tarsito, 1986, h. 437.
Menurut S. Nasution, sekolah mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
1. Mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan.
2. Memberikan keterampilan dasar.
3. Membuka kesempatan untuk memperbaiki nasib.
4. Menyediakan tenaga pembangunan.
5. Membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
6. Mentransmisi kebudayaan.
7. Membentuk manusia yang sosial.
8. Merupakan alat mentransformasikan kebudayaan.
9.
Sebagai tempat menitipkan anak.202Mengingat pentingnya sistem sosial sebagai norma pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan fungsi pendidikan (sekolah) sebagaimana dirumuskan oleh Nasution sebelumnya, pendidikan seharusnya menjadi bagian dari sistem sosial bersama keluarga, agama, politik, dan ekonomi yang diklasifikasikan sebagai satu.Lembaga pendidikan merupakan sumber kontrol sosial yang bertujuan untuk membawa perubahan. Pendidikan adalah tempat untuk berpikir dan menganalisis apa yang terjadi di masyarakat.
Dalam menganalisis keadaan masyarakat, lembaga pendidikan harus mandiri (tidak terikat) dari faktor-faktor lain, meskipun mereka sadar berhadapan dengan pihak-pihak yang berusaha mempertahankan status quo.
Sekolah adalah “agent of change”, lembaga perubahan.
Sekolah memiliki kemampuan transformatif. Minimal, sekolah harus mampu mengikuti perkembangan agar masyarakat tidak ketinggalan dalam keterampilan dan pengetahuan
202S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Cet. III; Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 14-17.
dibandingkan dengan negara lain. Dalam dunia yang dinamis, setiap masyarakat mengalami perubahan. Sekolah harus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, karena jika tidak, kelangsungan hidup masyarakat dipertaruhkan. Perubahan tersebut menuntut sekolah untuk melakukan perubahan berupa pembaruan kurikulum dan sistem pendidikan.203
Peran lembaga pendidikan memang sangat penting dan strategis. Karena pendidikan merupakan salah satu lembaga yang dapat dijadikan sebagai wahana reformasi sosial.
Kebijakan pendidikan harus mempertimbangkan perubahan sosial yang berbeda di berbagai bidang kehidupan dan oleh karena itu perlu menjadi lebih realistis dan responsif terhadap tantangan era yang selalu berubah. Artinya, strategi pengembangan pendidikan fokus pada investasi sumber daya manusia. Pendidikan dapat menjadi katalis yang paling penting dalam pengembangan sumber daya manusia.204
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan institusi sosial karena dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat berupa ilmu pengetahuan.
Pendidikan selalu hadir dalam masyarakat di semua tingkatan budaya, dari yang paling sederhana hingga yang kontemporer.
Pendidikan menjawab tantangan zaman yang selalu berubah, mempertahankan kelangsungan hidup masyarakat, dan memenuhi berbagai fungsi pendidikan sebagaimana diuraikan di atas. Namun pendidikan tidak identik dengan persekolahan saja, karena pendidikan dapat melalui jalur informal, formal, dan nonformal, tetapi pada umumnya persekolahan lebih identik dengan pendidikan formal.
203S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, h. 22-23.
204Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: Ciputat Press, 2004), h. 6.