A. Pandangan Para Ahli Sosiologi tentang Paradigma Definisi Sosial
4. Herbert Blumer (Interaksionisme simbolik) Teori interaksi simbolik diperkenalkan oleh Herbert
yang ada melainkan masyarakat dalam ruang lingkup yang lebih mikro, yaitu organisasi sosial tempat akal budi (mind) serta diri (self) muncul. Bagi Mead dalam pembahasan ini, masyarakat itu sebagai pola-pola interaksi dan institusi sosial yang adalah hanya seperangkat respon yang biasa terjadi atas berlangsungnya pola-pola interaksi tersebut, karena Mead berpendapat bahwa masyarakat ada sebelum individu dan proses mental atau proses berpikir muncul dalam masyarakat.59 Jadi, dapat disimpulkan bahwa teori interaksionisme simbolik menganggap bahwa manusia bertindak berdasarkan atas makna-makna, makna tersebut berasal dari hasil interaksi dengan orang lain serta makna- makna tersebut terus berkembang dan kemudian disempurnakan pada saat berlansungnya interaksi tersebut.
4. Herbert Blumer (Interaksionisme simbolik)
sebelumnya oleh George Herbert Mead yang merupakan pencetus dari teori interaksi simbolik ini.61
Manusia berinteraksi dengan manusia lain dengan berbagai cara termasuk dengan simbol-simbol. Dalam konteks teori interaksionisme simbolik menurut Herbert Blumer, interaksi dengan simbol, isyarat dan juga bahasa menunjuk kepada sifat khas dari interaksi antar manusia.
Kekhasannya adalah bahwa manusia saling menterjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya sekadar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain. Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung terhadap tindakan orang lain, akan tetapi didasarkan pada makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain itu.62 Tindakan yang dilakukan harus memiliki makna atau kesan terhadap orang lain.
Menurut Blumer cara kerja interaksionisme simbolik ditandai oleh tiga konsep, individu, interaksi, dan interpretasi. Tiga konsep ini merupakan elemen dasar untuk bisa mempelajari dan memahami teori interaksionisme simbolik secara mendalam dan meyeluruh, baik secara teoritik maupun pada tataran kenyataan sosialnya. Konsep individu di sini mengandung arti bahwa model analisa dan kerja interaksionisme simbolik memfokuskan dirinya pada eksistensi aktor beserta perilaku sosialnya. Individu dilihat sebagai realitas aktif, bukan sebagai realitas pasif sebagaimana diyakini kalangan penganut struktural.
Individu menerima rangsangan melalui inderanya, kemudian mempertimbangkan sebelum mengakhirinya dengan tindakan sosial. Karenanya, untuk dapat memahami tindakan sosial tersebut perlu memahami subjektivitas atau
61Munir Fuady, Teori-Teori dalam Sosologi Hukum (Cet, III; Jakarta:
Prenadamedia Group, 2011), h. 299.
62Hasnati, Sosiologi Hukum, Bekerjanya Hukum di Tengah Masyarakat (Cet. I; Yogyakarta: Absolute Media, 2015), h. 146.
makna tindakan dari aktor, bukan dari realitas eksternal di luar dirinya. Sedangkan konsep interaksi mengandaikan pada makna bahwa dalam kehidupannya sehari-hari, individu menjalin hubungan sosial dengan lingkungan, dirinya menjalin interaksi dan komunikasi. Pada situasi ini, individu menyerap banyak informasi dan menandai setiap apa yang diserap olehnya. Individu mendefinisikan diri sekaligus mendefinisikan lingkungannya, sehingga kemudian mengungkapkannya dalam bentuk simbol-simbol tertentu.
Konsep dasar interaksionisme simbolik terakhir menurut Blumer yaitu interpretasi. Konsep ini erat hubungannya dengan pemaknaan. Bahwa apa yang muncul dari individu, dapat berupa sikap, pemikiran, maupun tindakan sosial, semuanya adalah produk penafsiran dirinya atas realitas di luar dirinya.63
Seperti contoh ketika kita berbicara kepada seseorang kemudian kita dapat melihat dari wajah orang tersebut yang kemudian menunjukkan wajah muram dan tidak bersemangat atau tidak respek, maka kita dalam mengintepretasikan bahwa orang tersebut sedang tertimpa suatu masalah yang tidak dibicarakan kepada kita atau bisa juga mengintepretasi bahwa orang tersebut sedang tidak nyaman untuk berbicara kepada kita.64 Jadi, dengan melihat wajahnya sajakita dapat mengetahui kondisi hati atau hal yang sedang dirasakan orang tersebut tanpa orang tersebut mengungkpkan secara lisan.
Pandangan interaksi simbolik sebagaimana yang ditegaskan Blumer, proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan aturan- aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan
63Abd. Hanan, Pengantar Sosiologi Sejarah, Teori, Paradigma, dan Metodologinya (t.c; Pamekasan: Duta Media Publishing, 2017), h. 166.
64Radita Gora, Hermeneutika Komunikasi (Cet. I; Yogyakarta:
Deepublish, 2014), h. 28.
menegakkan kehidupan kelompok. Konteks ini bermakna dikonotasikan dalam proses interaksi, dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya, melain kan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial. Bagi penganut Interaksi simbolik masyarakat adalah proses interaksi simbolik. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan, makna dibentuk sebagai hasil suatu interaksi dengan orang lain dalam suatu masyarakat sosial dengan budaya yang sama. Dalam tataran Individu proses pemaknaan dapat dijabarkan dengan menggunakan interaksi simbolik. Dengan Interaksi simbolik dapat dipahami proses pembentukan konsep diri sebagai akibat berinteraksi dengan orang lain.65 Jadi, dengan melakukan proses interaksi dengan orang lain, makaakan sangat berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri atau makna dalamdiri seseorang.
Kehidupan kelompok adalah keseluruhan tindakan yang sedang berlangsung. Kendati demikian, masyarakat tidak dibuat dari tindakan yang terisolasi. Didalamnya terdapat tindakan kolektif yang melibatkan individu- individu yang menyesuaikan tindakan mereka terhadap satu sama lain.
Dengan kata lain, mereka saling mempengaruhi dalam tindakan. Mead menyebut ini sebagai social act (perbuatan sosial) dan Blumer menyebutnya sebagai joint action (tindakan bersama).
Blumer tetap mengakui eksistensi dari struktur-struktur sosial yang bersifat makro. Tetapi dalam pandangannya struktur-struktur itu memiliki pengaruh yang sangat terbatas di dalam interaksionisme simbolik. Blumer sering berpendapat bahwa struktur yang bersifat makro tidak lebih penting daripada semacam kerangka kerja, yang didalamnya
65Citra Rosalyn Anwar, Komunikasi Pendidikan Dosen dan Budaya Kampus (Cet. I; Klaten: Penerbit Lakeisha, 2020), h. 101-102.
aski-aksi kerja kehidupan social beserta interaksinya terjadi.
Struktur- struktur makro memang menetapkan kondisi dan batasan terhadap tingkah laku manusia, tetapi itu tidak menentukan tingkah laku itu. Struktur- struktur makro menjadi penting sejauh mereka menyiapkan simbol-simbol yang berguna bagi aktor untuk bertindak. Struktur- struktur itu tidak memiliki arti apabila aktor tidak melekatkan suatu arti. Sebuah organisasi tidak secara otomatis berfungsi karena dia memiliki struktur atau aturan-aturan melainkan karena aktor di dalamnya berbuat sesuatu dan perbuatan itu merupakan hasil dari definisi situasi yang mereka buat.66 Dalam hal ini tindakan sangat berpengaruh terhadap hasil.
Herbert Blumer menyatakan terdapat tiga premis dasar interaksi simbolik, yaitu: meaning, language and thought.
Premisnya tentang meaning, dijelaskan blumer dengan menyatakan humans act toward people or things on the basics of the meaning they assign to those people or things.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tindakan seseorang baik kepada orang lain atau kepada subjek didasarkan pada pemaknaan yang mereka berikan. Premis yang kedua berkaitan dengan language. Menurut Blumer, Meaning arise out of the social Interaction that people have with each other, pemaknaan yang dimaksud seperti pada premis pertama tidak melekat pada seseorang atau suatu objek begitu saja, melainkan merupakan suatu proses interaksi dengan orang lain. Interaksi ini merupakan suatu proses bersama. Dalam interaksi ini, makna yang diperoleh merupakan suatu negoisasi dengan penggunaan bahasa, atau yang lebih te patnya pengunaan simbol-simbol, baik itu verbal dengan bahasa maupun non-verbal. Premis ketiga adalah Thought, Blumer menyatakan an individual interpretation of simbols is modified by his or her own
66Muhammad Ulil Abshor, Sosiologi Hukum (Cet. I; Semarang: CV Lawwana, 2022), h. 89-90.
thought process, interpretasi yang dilakukan melibatkan proses berpikir. Di maksudkan sebagai adanya jeda untuk berpikir dalam menginterpretasi suatu simbol, jeda ini lalu menjadi cara untuk mempertimbangkan beberapa alternatif tin dakan dan memikirkan reaksi yang mungkin muncul dari orang lain. Alternatif tindakan yang muncul bisa bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku, begitu pun sebaliknya.67 Premis ketiga, merupakan pemikiran utama Blumer tentang pembentukan makna yaitu proses aktual dari suatu interpretasi. Dengan cara pandang lainnya, dia melihat pada penggunaan makna sebagai aplikasi dari situasi tertentu di mana makna tersebut ditetapkan.68 Ketiga premis ini memiliki kaitan satu sama lain.
Ketiga premis tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan satu sama lain saling berhubungan dan mempengaruhi.
premis tersebut memberikan dasar untuk memahami tentang self/diri, seperti yang disampaikan oleh mead. Menurutnya, self/diri merupakan suatu proses kombinasi antara i/aku dan me/aku. Menurut Mead, sebagai suatu proses sosial, diri terdiri dari dua fase yaitu i/ aku dan me/aku. Aku merupakan kecenderungan in dividu yang impulsive, spontan, pengalaman tidak terorganisasikan atau dengan kata lain merepresentasikan kecenderungan individu yang tidak terarah. Sedangkan daku menunjukkan individu yang bekerjasama dengan orang lain. Meliputi seperangkat sikap dan definisi berdasarkan pengertian dan harapan dari orang lain pikir tentang kita. Citra diri adalah produk dari proses interpretif alokasi makna antara satu orang dengan orang lain yang bagi teori tindakan adalah akar dari semua interaksi sosial. Kepribadian kita dikonstruksi dengan menggunakan
67Citra Rosalyn Anwar, Komunikasi Pendidikan Dosen dan Budaya Kampus, h.102-103.
68Yusuf Deni Kristanto, Sejarah dan Kearifan Lokal di Era Globalisasi (Cet. I; Klaten: Penerbit Lakeisha, 2021), h. 23.
proses interpretasi tersebut. Konsep diri seseorang tidak lebih dari rencana tindakan terhadap diri sendiri, identitas, ketertarikan, kebencian, tujuan, ideologi, serta evaluasi diri.
Konsep diri memberikan acuan dalam menilai objek lain.
Seluruh rencana tindakan ini berawal dari konsep diri.69 Konsep diri ini sangat penring bagi segala perencanaan untuk terlaksananya suatu tindakan.