ASEAN RCEP sebagai Moda
Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India, Volume Perdagangan Global juga menurun akibat mata rantai pasokan global mengalami gangguan dan membuat permintaan barang-barang ekspor dan impor menurun seperti penurunan permintaan ekspor dari Tiongkok, mitra dagang utama Amerika dan Eropa (BI.go.id, 2020). Sedangkan penurunan jasa global ditunjukkan pada indikator PMI Global Service yang turun dari 36,8 pada Maret menjadi 24,0 pada April tahun 2020. Sektor pariwisata tercatat sebagai sektor yang paling terkena dampak dengan adanya penurunan pendapatan sebesar USD 730 miliar pada Agustus 2020 (Suksmonohadi, 2020).
Peristiwa besar tersebut membawa pada satu pembelajaran bahwa proteksionisme hanya akan menghambat proses pemulihan ekonomi global dan diplomasi ekonomi berperan penting untuk menjaga perdagangan agar tetap terbuka.
Utamanya dalam menangkap peluang dan beradaptasi dari lahirnya trend baru yang timbul, seperti regional and global supply chains, Fourth Industrial Revolution (4IR) dan era digital serta meningkatnya Free Trade Agreement/Regional Trade Agreement di dunia, salah satunya adalah ASEAN Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang dipelopori oleh Indonesia sejak tahun 2011 dan telah resmi ditanda tangani pada 15 November 2020 yang digadang akan menjadi salah satu mega regionalisme di Kawasan Asia Pasifik dan berkontribusi pada pemulihan ekonomi global akibat pandemi Covid-19 (Gandara, 2020).
Terdapat beberapa hal yang patut menjadi sorotan Indonesia dalam menjalankan misi Diplomasi Ekonominya dalam perundingan ASEAN RCEP diantaranya ialah menyoroti dan menyikapi langkah penarikan India, keikutsertaan Australia yang saat ini tengah meredam eskalasi ketegangan
dengan Tiongkok dan hubungan dagang yang memburuk antara Jepang dan Korea Selatan. Fakta bahwa Amerika Serikat memilih untuk keluar dari Trans-Pacific Partnership atau saat ini dikenal sebagai The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), tentunya menjadi koreksi besar tentang pemberian makna keberadaan perundingan Regional Free Trade Area (RFTA) yang selama ini dinyatakan oleh banyak pakar dapat mempercepat proses negosiasi ekonomi di tingkat kawasan dibandingkan multilateral dan mengatur FTA bilateral yang tumpang tindih. Kajian ini akan berfokus untuk menggambarkan bagaimana Indonesia melihat ASEAN RCEP sebagai moda strategis penguatan diplomasi ekonomi di Kawasan.
Mega Regionalisme Ekonomi di Asia Pasifik dan Integrasi Ekonomi ASEAN
Istilah Mega Regionalisme ini merupakan indikasi munculnya era baru pada kesepakatan regional perdagangan bebas yang lebih besar dan menyangkut regional dengan persebaran utama pada perdagangan dunia (Junifta, 2017). Adapun Mega Regionalisme yang dimaksudkan disini yaitu Free Trade Area of Asia-Pacific (FTAAP) dan Trans-Pacific Partnership (TPP) yang semulanya dari Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) kemudian perkembangannya berlanjut di regional ASEAN beserta negara mitra di luar keanggotaan. Hal ini juga mempertimbangkan adanya kekuatan dominasi negara dengan ekonomi kuat, yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok.
Pada tahun 2006, dalam pertemuan puncak di Hanoi, Vietnam, dicetuskanlah FTAAP. Munculnya FTAAP merupakan respon dari lambannya kemajuan perundingan dalam Putaran Doha di WTO. FTAAP dihadirkan untuk mengatasi hambatan-
hambatan dagang akibat dari tumpang tindih serta unsur- unsur yang saling bertentangan antar perjanjian perdagangan bebas (FTA). Misalnya pada 2007 terdapat 60 FTA plus 117 yang masih dirundingkan di Asia Tenggara dan Asia Pasifik.
Selanjutnya di tahun 2012, ASEAN plus enam memiliki 339 FTA, yang kebanyakan adalah perjanjian secara bilateral (Subarkah, 2014). Dalam periode kepemimpinan Tiongkok sebagai ketua APEC pada 2014, negara ini secara gencar mempromosikan percepatan implementasi FTAAP sambil bergerak maju ke barat dengan Belt and Road Initiative/BRI (Wicaksana, Dugis,
& Wardhani). Sebagaimana yang dinyatakan dalam hasil pertemuan puncak APEC tahun 2014, jangkauan FTAAP lebih progresif dibanding Putaran Doha, namun masih terbatas pada pemangkasan hambatan-hambatan perdagangan (Subarkah, 2014).
Awal mula TPP terbentuk ialah dari pertemuan di tahun 1994 yang membahas perihal negosiasi kerja sama Asia Pacific Economic Cooperation Free Trade Area (APEC FTA) di Bogor, Indonesia. Selanjutnya di tahun yang sama, pada negosiasi kerja sama dalam Free Trade Area of The Americas (FTAA) di Miami, Amerika Serikat. Pada tahun 2000, Singapura, Selandia Baru, dan Chile mengadakan pembicaraan mengenai Trans Pacific Strategic Economic Partnership Agreement (Pacific-3). Dengan diadakannya pertemuan-pertemuan tersebut serta diikuti dengan pembicaraan lanjutan, maka dibentuklah TPP dengan jumlah anggota 12 negara yaitu AS, Chile, Singapura, Brunei, Selandia Baru, Australia, Vietnam, Peru, Malaysia, Kanada, Meksiko, dan Jepang.
TPP yang begitu identik dengan AS sebagai dalangnya, kemudian dianggap mulai kehilangan kekuatan utamanya ketika Presidensi AS di bawah Donald Trump memutuskan
untuk menarik diri dari keanggotaan TPP. Presiden Trump mengklaim bahwa administrasinya memiliki strategi yang lebih jitu dibandingkan dengan pendekatan AS di masa Presiden Bush dan Obama melalui keanggotaannya di TPP, yaitu menggunakan pendekatan proteksionis yang dianggap mampu membawa kembali kejayaan kekuatan ekonomi AS. Selain itu pendekatan ekonomi internasional AS dijalin secara bilateral dengan negara mitra (Briando, 2018).
Kendati demikian, TPP masih tetap bertahan bersama negara anggotanya yang masih aktif, bahkan di bawah kepemimpinan Jepang tahun 2018, TPP bertransformasi menjadi Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership/CPTPP (Australian Government : Department of Foreign Affairs and Trade , 2021). Di awal 2021 ini, Inggris pun mulai tertarik dengan mengajukan proses aksesi formal, dan bahkan pada November 2020, Presiden Xi Jinping menyatakan bahwa Tiongkok mulai melirik prospek partisipasinya. Namun Negara Tirai Bambu ini mengalami kesulitan dalam proposal keanggotaannya, hal ini ditimbang dari peraturan dalam CPTPP yang memberatkan Tiongkok dalam hal Perusahaan Milik Negara (state-owned enterprises), dan lemahnya standar tenaga kerja, standar lingkungan, serta rezim perlindungan kekayaan intelektual di negara tersebut. Sudah sewajarnya apabila AS masih ingin turut andil dalam pembentukan arah kebijakan dan peraturan perdagangan global, pemerintahan Biden perlu berpikir ulang untuk kembali ke meja perundingan CPTPP saat ini. Namun hingga sekarang, pemerintahan Biden masih menunjukkan kecenderungan yang minim dalam menentukan sikap terhadap partisipasinya di CPTPP masa kini. (Cutler, 2021).
Berlanjut ke fokus wilayah Asia Tenggara, kerja sama ekonomi dalam bentuk perjanjian perdagangan bebas di regional ASEAN pada mulanya terjalin melalui kerja sama antara negara anggotanya yang kemudian berkembang pada tingkat regional ditambah negara di luar keanggotaan. Hingga sekarang, ASEAN telah tercatat menjalin beberapa kerja sama perjanjian perdagangan bebas dengan negara mitra kawasan Asia-Pasifik.
Perjanjian yang dimaksud diantaranya ialah ASEAN Plus 3, ASEAN Plus 6, Republik Rakyat Tiongkok (ACFTA), Republik Korea (AKFTA), Jepang (AJCEP), India (AIFTA) serta Australia dan Selandia Baru (AANZFTA) dan RCEP (Sitinjak, 2019).
Tabel persentase GDP Global Negara Anggota ASEAN RCEP 2020–2021
Negara
GDP (triliun US$)
Persentase Global (%)
Presentase Global 2020 (Proyeksi) 2020
2021
Tiongkok 14,722.84 16,642.32 17.7 2
Jepang 5,048.69 5,378.14 5.73 3
Korea
Selatan 1,630.87 1,806.71 1.92 10
Australia 1,359.33 1,617.54 1.72 13
Indonesia 1.059.64 1,158.78 1.23 16
Thailand 501.89 538.74 0.574 26
Filipina 362.24 402.64 0.429 32
Vietnam 340.82 354.87 0.378 38
Singapura 339.98 374.39 0.399 39
Malaysia 338.28 387.09 0.412 40
Selandia
Baru 209.33 243.33 0.259 <50
Brunei Darussalam
- - - <50
Kamboja - - - <50
Laos - - - <50
Myanmar - - - <50
Total Persentase GDP anggota RCEP ±31.00%
Sumber: IMF World Economic Outlook (April – 2021) dimuat dalam Statisics Times, 2021
Data GDP di atas terhitung kurang lebih sebesar 31%
persentase kontribusi terhadap GDP Global oleh 15 negara anggota RCEP. Hal ini jelas menjadi kekuatan mega regionalisme baru bagi kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Terlebih lagi RCEP adalah gagasan yang dicetuskan oleh Indonesia yang pada saat menjabat sebagai ketua di ASEAN Summit 2011 di Bali.
Gagasan ini ditujukan untuk menggabungkan 10 negara anggota ASEAN dan 6 mitra ASEAN dalam perjanjian Perdagangan Bebas, yaitu Australia, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru yang kemudian di 2019 India menarik diri keanggotaanya. Dengan demikian Indonesia menempati posisi yang krusial dan sentral dalam perundingan RCEP. Meskipun perundingan ini merupakan ASEAN-led, disebutkan juga bahwa negara anggota ASEAN lain tidak akan melakukan ratifikasi jika Indonesia tidak menandatangani perjanjian ini (Hartati, 2021).
ASEAN RCEP: Bentuk Penguatan Sentralitas ASEAN
Bagaimanapun juga ASEAN tetap memiliki peranan penting sebagai lingkaran konsentris utama politik luar negeri Indonesia.
Pendekatan lingkaran-lingkaran konsentris menggambarkan
kedekatan dan lingkup geografis eksternal yang dapat memberi dampak kepada Indonesia. Maka sebagai kawasan yang paling dekat geografisnya dengan Indonesia, hubungan yang stabil, damai, aman, dan baik dengan negara-negara Asia Tenggara menjadi sangat penting karena dapat mempengaruhi pembangunan nasional Indonesia (Dirjen Kerja sama ASEAN, 2007). Kunci untuk menjaga perdamaian dan stabilitas Kawasan, serta untuk melindungi ASEAN agar tidak menjadi ‘proxy’
bagi negara-negara besar adalah Sentralitas ASEAN (Kanan
& Nuradhawati, 2020). Begitupun dalam bidang ekonomi, Indonesia memiliki kepentingan yang tinggi untuk memastikan Sentralitas ASEAN sebagai organisasi yang memiliki kualitas internal yang kuat dan patut untuk dipertimbangkan dengan serius di dunia internasional (Setnas ASEAN - Indonesia, n.d.).
Sehingga dalam sebuah FTA, Indonesia perlu menilai apakah FTA tersebut dapat mendorong Sentralitas ASEAN atau tidak.
Salah satu contohnya adalah kerja sama ekonomi dengan negara- negara besar untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi dengan membentuk perdagangan bebas dengan mitra wicara (Kemlu RI, 2009). Pada tahun 2019, ASEAN memiliki 11 mitra wicara yaitu Tiongkok, Kanada, Australia, Selandia Baru, India, Uni Eropa, Jepang, Amerika Serikat, Republik Korea, Rusia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Banyaknya mitra wicara yang ingin meningkatkan status kerja sama menjadi kemitraan strategis, membuktikan ASEAN memiliki posisi dan peran penting pada penciptaan perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan di kawasan (Kemlu RI, 2019). Dorongan untuk melakukan kerja sama dengan ASEAN semakin meningkat ketika mitra wicara seperti Tiongkok untuk membentuk ASEAN+3 dan Jepang untuk membentuk ASEAN+6. Sehingga Indonesia berinisiatif untuk membentuk RCEP sebagai respon desakan mitra, kenaikan liberalisasi perdagangan barang dan
kerja sama ASEAN (ATIGA), ASEAN+1, dan untuk menjaga sentralitas ASEAN (Ragimun & Rosjadi).
Fenomena perdagangan bebas di dunia mendorong negara- negara di dunia untuk membuat FTA secara bilateral dan FTA Regional seperti RCEP. Pada tahun 2017, terjadi perubahan ekonomi dengan munculnya kemunculan kekuatan ekonomi Tiongkok selain Amerika Serikat dan UE (Uni Eropa). Dominasi besar Tiongkok dan ketergantungan ekonomi mendorong negara kawasan ekonomi Asia untuk membentuk RCEP (Ragimun & Rosjadi). RCEP dinilai sangat menguntungkan Tiongkok mengingat rencana Belt Road Initiative (BRI) untuk membangun rute perdagangan Asia-Pasifik hingga Eropa berjalan dengan mudah. Dikhawatirkan Tiongkok akan membuat negara-negara ASEAN terutama Indonesia semakin bergantung dan terjadi kebanjiran barang impor dari Tiongkok.
Maka sebaiknya Indonesia meningkatkan hubungan kerja sama lebih erat dengan Jepang, Australia, Amerika Serikat dan Korea Selatan yang menjadi lawan dagang Tiongkok untuk mengurangi dominasi Tiongkok di Kawasan (The Conversation, 2020). Gagasan ASEAN RCEP jelas merupakan sebuah langkah bagi Indonesia untuk tetap memperkokoh hubungan bilateral dengan mitra strategis Indonesia dalam kerangka FTA. (*)
Referensi
Antara News. (2020). Australia harap RCEP akan perbaiki relasinya dengan China. Diambil dari AntaraNews.com: https://
www.antaranews.com/berita/1840252/australia-harap- rcep-akan-perbaiki-relasinya-dengan-china#mobile-nav Armstrong , S., & Shannon, E. (2021). Can an Australia–India
FTA succeed where RCEP failed? Diambil dari East Asia Forum: https://www.eastasiaforum.org/2021/03/08/
can-an-australia-india-fta-succeed-where-rcep-failed/
Australian Government : Department of Foreign Affairs and Trade . (2021). Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Diambil dari Australian Government : Department of Foreign Affairs and Trade Web site: https://www.dfat.gov.au/trade/agreements/in- force/cptpp/comprehensive-and-progressive-agreement- for-trans-pacific-partnership#:~:text=Pacific%20 Partnership%20(CPTPP)-,The%20Comprehensive%20 and%20Pro gressive%20A greement%20for%20 Trans%2DPacific%20Partnershi
BI.go.id. (2020). Krisis Kemanusiaan Covid-19 dan Implikasinya Pada Tatanan Perekonomian GLobal. BI.
Briando, B. (2018). Trans Pacific Partnership (Tpp) Dalam Bingkai Nawacita. Kajian Ekonomi Keuangan Nomor 2 Volume 3, 239-254.
Cutler, W. (2021). America Must Return to the Trans-Pacific Partnership : Washington Can’t Shape Global Trade From the Sidelines. Diambil kembali dari Foreign Affairs Web site : https://www.foreignaffairs.com/articles/2021-09-10/
america-must-return-trans-pacific-partnership?utm_
medium=promo_email&utm_source=lo_flows&utm_
c a m p a i g n = r e g i s t e r e d _ u s e r _ w e l c o m e & u t m _ term=email_1&utm_content=20211013
Dirjen Kerja sama ASEAN. (2007). ASEAN Selayang Pandang.
Jakarta: Kementrian Luar Negeri RI.
Gandara, S. C. (2020). Kerja Sama Regional Comprehensive Economic Partnership. Bank Indonesia.
Hartati, E. (2021). Bedah Bab Trade in Goods (TIG) dan Rules of Origin (ROO) dalam Perjanjian RCEP. (Sari Mutiara Aisyah, Pewawancara)
Junifta, D. (2017). JimFEB : Article. Diambil kembali dari JIMFEB : https://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/
article/viewFile/3753/3318
Kanan, N. N., & Nuradhawati, R. (2020). Optimalisasi Sentralitas ASEAN Dalam Rangka Menghadapi Isu Kemanan Kawasan Saat Ini dan Di Masa Depan. Jurnal Academia Prja, 3(2).
Kemlu RI. (2009). Tentang ASEAN. Dikutip pada 13 Oktober 2021, dari https://kemlu.go.id/portal/id/read/122/
halaman_list_lainnya/tentang-asean
Kemlu RI. (2019). Kerja Sama Eksternal ASEAN. Dikutip pada 14 Oktober 2021, dari https://kemlu.go.id/portal/i/
read/15/halaman_list_lainnya/kerja-sama-eksternal- asean-mitra-wicara-organisasi-internasional-asean Putriani, I. (2021). Motivasi India Mengundurkan Diri Dari
Regional Comprehensive Economic Partnership (Rcep) Tahun 2019. JOM FISIP Vol. 8: Edisi I Januari-Juni, 1-15.
Raghavan, P. (2020). Explained: The economic implications of India opting out of RCEP. Diambil dari: https://indianexpress.
com/article/explained/india-out-of-rcep-china- economy-trade-angle-7053877/
Ragimun, & Rosjadi, I. (t.thn.). Penguatan Produk Loser Sector Menjadi Produk Unggulan Kerja Sama RCEP. Dikutip pada 14 Oktober 2021, dari https://fiskal.kemenkeu.go.id/
files/berita-kajian/file/1630299480_kajian_rcep.pdf Setnas ASEAN - Indonesia. (t.thn.). Peranan Indonesia. Dikutip
pada 13 Oktober 2021, dari http://setnas-asean.id/
peranan-indonesia
Sitinjak, N. (2019). Artikel, Sekretariat Aptika. Diambil dari Perkembangan E-commerce dalam Perundingan RCEP:
https://aptika.kominfo.go.id/2019/08/perkembangan- e-commerce-dalam-perundingan-rcep/
Statisics Times. (2021). Projected GDP Ranking. Diambil dari Statisics Times Web Site: https://statisticstimes.com/
economy/projected-world-gdp-ranking.php
Subarkah, I. (2014). Antara TPP, RCEP, dan FTAAP. Diambil dari Berita Satu: https://www.beritasatu.com/
ekonomi/224778/antara-tpp-rcep-dan-ftaap
Suksmonohadi, M. (2020). Travel Bubble: Upaya Memulihkan Sektor Pariwisata. BI.go.id.
The Conversation. (2020). Bagaimana RCEP bisa menguntungkan dan merugikan Indonesia. Diambil dari https://theconversation.com/bagaimana-rcep-bisa- menguntungkan-dan-merugikan-indonesia-150453 Wicaksana, I., Dugis, V., & Wardhani, B. (t.thn.). Asean Rcep,
Mega Regionalisme & Prospek Diplomasi Perdagangan Di Asia Pasifik. Dikutip pada 14 Oktober 2021, dari Sekretariat Nasional ASEAN - Indonesia: http://setnas-