Konsepsi Islam Wasathiyah
aksi teror yang dilakukan tersebut apakah dibenarkan dalam Islam?
Dalam konteks Indonesia, sebagian pengamat menilai gejala ekstremisme menemukan momentumnya setelah rezim Orde Baru tumbang (Endang, Turmudi, 2005: 120). Reformasi 1998 menjanjikan demokrasi yang membuka kran kebebasan bagi seluruh elemen dan organisasi maupun gerakan keagamaan untuk mengemukakan ide dan gagasannya. Kebangkitan agama secara global dan jaringan Islam transnasional yang telah terbentuk ekstremisme keagamaan lebih menampakkan identitasnya ketika masa reformasi. Kelahiran Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan kafilah yang sejenis tidak dapat dipisahkan dari kebebasan yang dijanjikan masa reformasi. Kesan ekstremisme tersebut dapat ditemukan dari bahasa keagamaan yang berkonotasi kekerasan dan militeristik.
Kemunculan kelompok-kelompok Islam transnasional yang dianggap ekstrim tersebut tidak terlepas dari posisi daya tawar negara yang lemah. Pasca Orde Baru (pada awal-awal era reformasi), kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia tidak stabil. Lembaga-lembaga negara tidak mampu memainkan perannya secara baik. Konflik horizontal kerap terjadi dikarenakan tidak tegasnya penegakan hukum dari aparat negara. Akibatnya, sebagian masyarakat bertindak sendiri- sendiri. Dalam fakta lapangan jelas tergambar bagaimana kelahiran organisasi seperti Laskar Jihad yang bertujuan untuk melindungi umat Islam yang menjadi korban dalam kerusuhan di Maluku. Kemudian adanya Front Pembela Islam (FPI) yang tidak lepas dari ketidakmampuan aparat keamanan dalam menindak pelaku-pelaku pelanggaran norma hukum dan masyarakat.
Terorisme dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama kerap dilancarkan oleh kelompok-kelompok yang dicap ekstremis. Dalam konteks tersebut, agama menjadi legitimasi dan katalisator yang secara langsung memunculkan ekstremisme dan terorisme keagamaan. (George Martin, 2003:
190). Pemahaman dan praksis keagamaan yang mereka yakini sebagai satu-satunya kebenaran yang mutlak. Karena itu, tidak ada toleransi dan kompromi dalam beragama.
Musyawarah Nasional (Munas) IX MUI di Surabaya, 24-27 Agustus 2015 yang mengambil tema, “Islam wasathiyah untuk Indonesia dan Dunia yang Berkeadilan dan Berperadaban”, menandai kemunculan wacana Islam wasathiyah kalangan Muslim Indonesia. Dalam pidato pembukaan Munas, Prof Dr Din Syamsuddin selaku Ketua Umum MUI 2014-2015 menegaskan bahwa tema Islam wasathiyah memiliki relevansi dengan perkembangan dunia muslim kontemporer sekaligus melengkapi tema dua muktamar ormas Islam: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah (Din Syamsudin, 2016: 6).
Pada tahun 2018 Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof.
Dr. Din Syamsuddin mengundang ulama dan cendekiawan muslim dunia dalam Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) di Bogor, Pertemuan tersebut bertujuan untuk mempromosikan pengalaman Indonesia dalam mengembangkan wasathiyah Islam ke dunia (www.suaramuhammadiyah.id/2018/03/12).
Sedangkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Dr. Said Aqil Siradj yang menjadi salah satu pembicara dalam pertemuan tersebut menyampaikan bahwa NU sebagai salah satu organisasi Islam di Indonesia mengusung Islam wasathiyah mengajak umat Islam Indonesia agar dapat menekankan Islam wasathiyah dalam setiap gerak langkah kehidupannya, Islam yang membangun kesejahteraan di
dunia dan tidak meninggalkan keimanan dengan Tuhan, jadi wasathiyah menurut konsepsi NU adalah Iman dan bekerja, Iman dan beramal (merdeka.com, 2021).
Melalui pernyataan dari pimpinan ormas terbesar di Indonesia tersebut cukup menjadi landasan bahwa kehadiran NU dan Muhammadiyah di Indonesia merupakan interpretasi dari Islam yang moderat. Dengan memadukan konsep keislaman dan kebangsaan sebagai perwujudan dari nilai-nilai Islam yang damai, mengajak kemajuan tanpa memusuhi perbedaan sebagai pewaris ajaran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.
Konsep Islam Wasathiyah
Kata wasathan/wasathiyah diambil dari istilah wasatha/wustha yang bermakna tengah, dan menjadi istilah wasith-alwasith artinya penengah (Malik Usman, 2015). Dalam Al-Quran Surat Al Baqarah ayat 143 dijelaskan:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمّ ةً وّ سَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النّ اسِ
وَيَكُوْنَ الرّ سُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الّ تِيْ
كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلّ ا لِنَعْلَمَ مَنْ يّ تّ بِعُ الرّ سُوْلَ مِمّ نْ يّ نْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلّ ا عَلَى الّ ذِيْنَ هَدَى اللّ هُ ۗوَمَا كَانَ
اللّ هُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنّ اللّ هَ بِالنّ اسِ لَرَءُوْفٌ رّ حِيْمٌ
Artinya: “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan40) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya
(pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Qs. Al Baqarah: 143).
Dalam Tafsir Al Misbah dijelaskan bahwa umat Islam dijadikan sebagai ummatan wasathan (pertengahan) adalah moderat dan teladan, sehingga dengan demikian keberadaan umat Islam dalam posisi pertengahan tersebut, sesuai dengan posisi Ka’bah yang berada di pertengahan juga. Posisi pertengahan menjadikan manusia tidak memihak ke kiri dan ke kanan, suatu hal di mana dapat mengantar manusia berlaku adil. Posisi pertengahan menjadikan seseorang dapat dilihat oleh siapapun dalam penjuru yang berbeda, dan ketika itu ia dapat menjadi teladan bagi semua pihak (Quraish Shihab, 2015:
346).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa Islam wasathiyah akan terwujud apabila sikap dan perilaku orang Islam yang inklusif, humanis dan toleran terhadap perbedaan. Sikap tersebut juga harus mampu diterapkan dalam bingkai kebhinekaan seperti Indonesia, selain itu umat Islam juga harus mampu tampil sebagai penengah yang adil dan jujur dalam hubungan antar kelompok yang berbeda-beda.
Konsepsi Islam Wasathiyah Nahdlatul Ulama (NU) Moderatisme Islam yang ditampilkan NU paling tidak dapat dilihat dari beberapa sisi. Di bidang teologi, NU mengklaim sebagai penganut ahlussunah wal jama’ah (aswaja). Dalam kajian Ilmu Kalam, pahami ini berdiri di antara dua ekstremitas paham muktazilah dan khawarij, antara qadariyah dan jabbariyah yang berkarakteristik rasionalis-liberal. Dalam bidang fikih, NU memilih mazhab Syafi’i sebagai kiblat rujukan doktrin
keagamaannya. Sikap tawasuth yang diperlihatkan NU nampak dalam pandangan-pandangan politiknya. Tiga prinsip yang sering dijadikan dasar pengambilan keputusan politik NU adalah kebijaksanaan, keluwesan, dan moderatisme. Tradisi memilih jalan damai dalam wacana politik NU umumnya melalui prinsip-prinsip yurisprudensi dan kaidah-kaidah yang menganjurkan minimalisasi risiko, pengutamaan asas manfaat, dan menghindari hal-hal yang ekstrem.
Terkait dengan makna jihad, NU berpandangan bahwa jihad tidak semata-mata perang melainkan segala kesungguhan dan kerja keras dalam setiap kebaikan adalah salah satu bentuk dari jihad. Termasuk bersungguh-sungguh memerangi kebodohan, kemiskinan, korupsi, dan bentuk kezaliman yang lain. Jihad berbentuk perang dilakukan ketika umat Islam diserang oleh pihak musuh, sebagai tindakan defensif, bukan ofensif.
Mengenai konsep dar al harb dan dar al-Islam, di mana kelompok salafi mengatakan bahwa wilayah di mana syariah Islam belum ditegakkan, NU berpendapat bahwa di wilayah manapun umat Islam bisa beribadah dengan bebas maka wilayah tersebut adalah dar al-Islam yang tidak boleh diperangi.
Dari upaya ormas Islam terbesar di Indonesia ini, diharapkan Islam Indonesia mampu kembali dipandang sebagai Islam yang ramah, toleran, dan moderat (Zakiya Darajat, 2017).
Dengan melihat konsep dan sikap yang ditunjukkan oleh NU di atas, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa NU mempunyai tujuan untuk terus menampilkan Islam yang damai yaitu Islam yang mampu berinteraksi dengan keberagaman Indonesia, baik suku, ras maupun agama. Hal ini dapat dikatakan bahwa NU telah menampilkan Islam yang wasathiyah, yang dapat menjadi penengah di antara arus kiri dan kanan model keberagamaan
Islam serta mampu untuk menjadikan Islam sebagai agama yang inklusif, humanis dan toleran di Indonesia dan bahkan di dunia. (*)
Referensi
Darajat, Zakiya. (2017). Muhammadiyah dan NU: Penjaga Moderatisme Islam di Indonesia, Jurnal Hayula:
Indonesian Journal of Multidiciplinary Islamic Studies, Vol.
1, No. 1, P-ISSN: 2549-0761, E-ISSN: 2548-9860.
Martin, George. 2003. Understanting Terorism: Challenges, Perspectives, and Issues. London: Sage Publication.
Shihab, M.Qurasih, 2002. Tafsir Al misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran, volume 1, Jakarta: Lentera Hati.
Syamsuddin, Din. (2016). “Islam Washatiyah: Solusi Jalan Tengah.” Jakarta: Mimbar Ulama.
Turmudi, Endang, dan Riza Sihbudi, ed. 2005. Islam Radikalisme di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
Usman, Abd. Malik, (2015). Islam Rahmah dan Wasathiyah:
Paradigma Keberislaman Inklusif, Toleran dan Damai, Jurnal Humanika Vol. 15, No, 1
Suara Muhammadiyah (2021). http://www.
suaramuhammadiyah.id/2018/03/12/din-syamsuddin- ajak-ulama-dunia-kembangkan-islam-wasathiyah/
(diakses 12 Oktober 2021)
Merdeka.com (2021). https://www.merdeka.com/peristiwa/
Said-Aqil-harap-KT T-ulama- sedunia-di-Bogor- kerjasama-negara-Islam.html (diakses 14 Oktober 2021).