Ryantori
Diplomasi Perjuangan
Soeharto, Presiden Republik Indonesia di era Orde Lama, pernah mencanangkan sebuah gagasan mengenai perlunya diplomasi perjuangan—yaitu suatu gaya diplomasi yang dibekali keteguhan prinsip dan pendirian, ketegasan dalam sikap dan gigih dalam upaya namun luwes dan rasional dalam pendekatan—pada rapat kerja yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri RI pada bulan Maret 1977 (Kusumaatmadja, 1983). Diplomasi perjuangan adalah keuletan dan kelincahan dalam memperjuangkan aspirasi, cita-cita, dan kepentingan nasional. Diplomasi perjuangan mengharuskan para diplomat agar tidak hanya mengikatkan diri pada kebiasaan-kebiasaan resmi, dan keprotokolan saja, melainkan harus dapat menemukan dan mengembangkan cara-cara lain yang efektif. Untuk itu diperlukan sebuah bentuk diplomasi
yang aktif. Semuanya itu bersumber pada kepercayaan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain dalam perwujudan operasionalnya, melalui diplomasi perjuangan ini, Politik Luar Negeri Indonesia perlu selalu dan terus-menerus menyesuaikan diri terhadap berbagai perkembangan dan perubahan yang terkadang sangat mendasar yang terjadi di lingkungan internasional.
Ciri-ciri khusus diplomasi perjuangan adalah sebagai berikut:
1. Harus mendukung secara aktif pelaksanaan pembangunan di segala bidang;
2. Membina persahabatan dengan sebanyak mungkin bangsa di dunia;
3. Ditujukan untuk kepentingan nasional Politik Luar Negeri Indonesia (PLNI)
Tujuan pokok PLNI adalah menegaskan kemerdekaan, perdamaian, serta keadilan di dunia melalui pembangunan bangsa-bangsa, pembinaan persahabatan, dan kerja sama internasional tanpa membeda-bedakan sistem politik, ekonomi, sosial budaya masing-masing negara (Embassyof Indonesia, 2021). Hal ini didasarkan pada dua dasar pokok, yaitu: (1) Kepentingan nasional yang diperhitungkan secara realistis dan (2) Kenyataan-kenyataan yang terdapat di dunia internasional agar dapat digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan Indonesia dalam penciptaan tatanan masyarakat, bangsa, dan dunia yang baru.
Sasaran umum dari PLNI adalah melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif berdasarkan prinsip hidup berdampingan secara damai dalam hubungan bilateral, regional, dan global untuk kepentingan nasional
Sasaran khusus dari PLNI mencakup hal-hal sebagai berikut (Sabir, 1987):
a. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diartikan kepada kepentingan nasional yang dilandasi oleh prinsip- prinsip bebas aktif;
b. Hubungan luar negeri dikembangkan untuk meningkatkan persahabatan dan kerja sama bilateral dan multilateral, baik regional maupun global sesuai dengan kepentingan nasional;
c. Peranan Indonesia dalam upaya menyelesaikan berbagai masalah dunia khususnya yang mengancam perdamaian dunia dan yang bertentangan dengan rasa keadilan dan kemanusiaan terus ditingkatkan memalui tahapan dan langkah yang konstruktif dan konsisten yang dilandasi oleh semangat Dasa Sila Bandung;
d. Perkembangan, perubahan, dan gejolak dunia terus diikuti dengan seksama agar secara dini dapat diperkirakan terjadinya masalah yang dapat mempengaruhi stabilitas nasional dan yang menghambat pembangunan nasional dan pencapaian tujuan nasional agar dapat diambil langkah yang tepat dan cepat untuk mengatasinya;
e. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerja sama yang saling menguntungkan antarbangsa terus diperluas dan ditingkatkan;
f. Perjuangan menegakkan tatanan dunia baru, termasuk tata ekonomi dunia baru berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian dan keadilan terus ditingkatkan melalui upaya penggalangan dan pemupukan solidaritas dan kesatuan sikap serta kerjasama diantara negara berkembang melalui forum internasional seperti PBB, ASEAN, GNB, OKI, dan lain-lain serta meningkatkan peran Indonesia dalam upaya restrukturisasi, revitalisasi, dan demokratisasi PBB;
g. Langkah bersama antarnegara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara-negara industri maju terhadap ekspor dari negara-negara berkembang dan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan teknik antarnegara berkembang terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi dan tata informasi dan komunikasi dunia baru;
h. Kerja sama antarnegara anggota ASEAN baik antarpemerintah maupun antarmasyarakat terutama di bidang ekonomi, sosial-budaya, iptek terus ditingkatkan dalam rangka memperkukuh ketahan nasional masing-masing negara anggota serta memperkuat ketahanan regional menuju terwujudnya kawasan Asia Tenggara yang damai, bebas, netral, sejahtera, dan bebas senjata nuklir. Lebih jauh dari itu, hubungan dan kerja sama di kawasan Asia Pasifik perlu terus ditingkatkan.
Berdasarkan kepentingan nasional, maka politik luar negeri Indonesia harus menunjang usaha pembangunan ekonomi sebagai prioritas dalam rangka pembangunan nasional secara total. Untuk mencapai peningkatan taraf kehidupan bangsa Indonesia perlu diwujudkan kestabilan dan keamanan politik
dan ekonomi bersamaan dengan kerja sama yang efektif dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya dengan negara- negara tetangga, serta negara-negara lainnya. Pelaksanaan PLNI yang demikian diharapkan akan dapat meningkatkan ketahanan nasional sebuah negara.
Konsep ketahahan nasional tidak hanya menitikberatkan pada politik kekuatan (power politics) yang sangat bergantung pada kekuatan militer sendiri, melainkan lebih mengedepankan pentingnya konsultasi dan saling menghormati dalam hubungan antarnegara dengan menghindari ancaman atau penggunaan kekerasan (the renunciation of threat or the use of force) (Sabir, 1987). Oleh karena, itulah di dalam pelaksanaan politik luar negerinya Indonesia mengenal apa yang disebut sebagai concentric circles yang merupakan sebuah alat bantu untuk melihat skala prioritas dalam melakukan hubungan dengan luar negeri berdasarkan kedekatan wilayah. Berdasarkan concentric circles tersebut maka wilayah Asia Tenggara merupakan wilayah terdekat dan terpenting yang Indonesia harus terlebih dahulu dekati agar konsep ketahanan nasional tadi dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, pada masa Orde baru hingga saat ini, ASEAN memiliki posisi yang strategis di dalam politik luar negeri Indonesia.
ASEAN dalam PLNI
ASEAN berdiri berdasarkan Deklarasi Bangkok 8 Agustus 1967. Sebelumnya di kawasan ini juga ada pengelompokan sejenis seperti ASA (The Association of Southeast Asia) dan MAPHILINDO (Malaysia, Philipina dan Indonesia). ASA didirikan pada bulan Juli 1961 terdiri dari Malaysia, Philipina dan Thailand untuk memulai kerja sama yang aktif dan saling menguntungkan terhadap masalah-masalah yang menyentuh
kepentingan bersama dalam konteks ekonomi, sosial, budaya, teknis, ilmu pengetahuan, dan masalah administrasi. Pada tahun 1963, pada saat memuncaknya konflik antara Philipina- Malaysia-Indonesia mengenai Sabah, kepala pemerintahan dari ketiga negara sepakat untuk bertemu di Manila dan setuju untuk bekerjasama dalam konteks keamanan, pembangunan ekonomi, dan sosial budaya dalam kerangka MAPHILINDO (Dirjen Kerja Sama ASEAN, 2007).
Setelah kejatuhan Soekarno, rejim Orde Baru di Indonesia, khususnya menteri luar negeri Adam Malik mempunyai kesempatan terbaik untuk memngambil kesempatan yang besar dalam penciptaan kesepakatan yang lebih luas di antara negara- negara di kawasan Asia Tenggara. ASEAN dalam kebijakan luar negeri Indonesia salah satunya ditujukan sebagai sebuah langkah penting dalam strategi untuk merehabilitasi perekonomian Indonesia semenjak 1966-1967 adalah penekanan yang diberikan untuk mengangkat kerja sama kawasan dengan para tetangganya, yang diformalkan dengan pembentukan ASEAN.
Pembentukan ASEAN merupakan sebuah kesuksesan dalam hal perubahan visi Soeharto yang pada bulan Agustus 1966 telah mengemukakan visi “Asia Tenggara yang bekerjasama” (a co-operating Southeast Asia) yang akan menjadi basis terkuat untuk menghadapi imperialisme dan kolonialisme dalam bentuk apapun dan darimana pun mereka datang. Pada tanggal 4 April 1966 Menlu Adam Malik menadaskan bahwa politik luar negeri Indonesia akan ditujukan pada peningkatan kerja sama ekonomi dan keuangan dengan negara-negara lain selama kerja sama tersebut tidak membahayakan kepentingan Indonesia (Anwar, 1994).
Kebijakan PLNI mengenai ASEAN pertama-tama dilandaskan atas TAP MPRS no. XII/MPRS/1965 yang di
dalamnya terkandung tujuan untuk membentuk persahabatan dengan semua negara di dunia dan terutama dengan negara- negara Asia dengan pedoman perjuangan politik luar negeri yang diantaranya didasarkan atas prinsip bahwa masalah Asia hendaknya dipecahkan oleh bangsa Asia sendiri secara Asia dan kerja sama regional. Dalam rangka perumusan politik luar negeri RI untuk tahun 1970-an, ASEAN diharapkan akan dapat memberikan sumbangan dalam perwujudan stabilitas yang menyeluruh di dalam wilayah Asia Tenggara pada khususnya dan Asia Pasifik pada umumnya (Dirjen Kerja Sama ASEAN, 2007).
Terlihat bahwa sejak awal isu ASEAN ini telah menempati posisi yang strategis di rumusan kebijakan PLNI karena tidak hanya semata-mata di lingkup kawasan Asia Tenggara saja namun juga berimbas pada perkembangan serta kestabilan di kawasan Asia Pasifik. Dan terbukti, belakangan muncul sebuah kerja sama di kawasan ini semacam Asia Pacific Economic Forum (APEC). ASEAN menganut prinsip tidak melakukan intervensi terhadap masalah dalam negeri negara-negara anggotanya.
Namun, Indonesia melalui semangat diplomasi perjuangan dapat mendorong ASEAN dalam berperan untuk membantu membendung konflik yang melibatkan antar anggotanya seperti krisis Sabah antara Malaysia dengan Philipina, krisis Indonesia dengan Singapura akibat digantungnya dua anggota Marinir Indonesia di singapura akibat dituduh sebagai mata- mata pada tahun 1968, serta yang terkini terkait dengan masalah pengungsi Rohingya di Myanmar serta isu ancaman keamanan di Laut Cina Selatan.
Berikut ini adalah beberapa pernyatan penting penegas pentingnya ASEAN di dalam politik luar negeri Indonesia:
1. Adam Malik selaku Wapres dan Menlu RI pada sidang Menlu ASEAN IV di Manila, Maret 1971, menyatakan bahwa ASEAN adalah soko guru (corner stone) PLNI dalam artian ASEAN merupakan suatu organisasi yang fleksibel yang dapat meningkatkan kerja sama ekonomi negara- negara di Asia tanpa memandang perbedaan sistem politik mereka (Anwar, 1994).
2. Di dalam pedoman PLNI mengenai ASEAN, TAP no. IV/
MPR/1973 tentang GBHN masalah hubungan luar negeri telah menetapkan bahwa dalam rangka terus melaksanakan PLNI yang bebas dan aktif untuk kepentingan nasional, khususnya pembangunan ekonomi, maka perlu diambil langkah-langkah untuk memantapkan stabilitas wilayah Asia Tenggara dan Asia Pasifik yang memungkinkan memungkinkan negara-negara di kawasan tersebut untuk menetukan hari depannya sendiri melalui peningkatan ketahahan nasional mereka masing-masing dan dengan memperkuat wadah dan kerja sama antarnegara anggota PBB di kawasan Asia Tenggara (Dirjen Kerja Sama ASEAN, 2007).
3. Pada 6 Agustus 1981, Presiden Soeharto menyatakan bahwa salah satu tujuan penting PLNI adalah terus memperkokoh ASEAN. Melalui kerja sama, setiap negara anggotanya dapat meningkatkan ketahanan nasional masing-masing yang secara keseluruhan akan memperkuat ketahanan regional. Melalui ketahanan regional tersebut dapat diwujudkan masa depan wilayah menjadi wilayah yang damai, bebas, dan netral (Anwar, 1994).
4. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di KTT Asean ke-23 tahun 2013 menekankan pembentukan ASEAN Community yang salah satu pilarnya, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dapat terealisasi pada 2015 (Pradana, 2013).
5. Pada KTT ASEAN ke-36 tahun 2020, Menlu RI Retno Marsudi menyampaikan pesan dari Presiden Joko Widodo agar ASEAN menjadi penjaga kawasan agar tidak menjadi arena pertarungan kekuasaan dari negara-negara besar serta ASEAN harus menjadi subyek, bukan menjadi obyek, di dalam perpolitikan global (Setkab, 2020). (*)
Referensi
Anwar, Dewi Fortuna. (1994). Indonesia in ASEAN: Foreign Policy and Regionalism,. Jakarta: Sinar Harapan.
Dirjen Kerja Sama ASEAN. (2007). ASEAN Selayang Pandang.
Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI.
EmbassyofIndonesia. (2021). Indonesia’s Foreign Policy/
The Principles of the Foreign Policy. https://www.
embassyofindonesia.org/foreign-policy/
Kusumaatmadja, Mochtar. (1983). Politik Luar Negeri Indonesia dan Pelaksanaannya Dewasa Ini. Bandung: Penerbit Alumni.
Pradana, Rio Sandy. (2013). KTT Asean: Presiden SBY Tekankan 4 Hal Utama. https://ekonomi.bisnis.com/
read/20131009/12/168171/ktt-asean-presiden-sby- tekankan-4-hal-utama
Sabir, M. (1987). Politik Bebas Aktif. Jakarta: CV H. Masagung Setkab. (2020). President Jokowi Highlights Importance of
ASEAN Countries Cooperation. https://setkab.go.id/
en/president-jokowi-highlights-importance-of-asean- countries- cooperation/