Peran Paradiplomacy dalam
Paradiplomasi menjadi isu hangat dalam SHI (Studi Hubungan Internasional). Hal ini tidak lepas dari transformasi isu dan aktor diplomasi yang berubah seiring berjalannya waktu.
Kemajuan teknologi informasi penuntut aktor diplomasi.
Paradiplomasi menjadi bagian dari perubahan itu sehingga geliat kajian diplomasi semakin menarik. Penulis menggarisbawahi akan perbedaan antara paradiplomasi dan diplomasi kota.
Menurut penulis paradiplomasi adalah aktornya sedangkan diplomasi kota adalah aktivitasnya. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Melisen (Melissen, 2007) menyampaikan bahwa paradiplomacy adalah bentuk jamak dari aktivitas diplomasi.
Artinya aktor yang terlibat sangat banyak merujuk pada kata
‘para’. Sejalan dengan itu, Soldatos (Soldatos, 1990) menyatakan bahwa kata ‘para’ berasal dari Bahasa Yunani yang berarti dekat, samping dan asisten. Paradiplomasi dimaknai dengan aktivitas diplomasi internasional yang dilakukan oleh aktor subnasional untuk melengkapi, menggandakan, mendukung, memperbaiki beserta negara bangsa lainya (Tavares, 2016). Lebih lanjut, Duchacek (1990) menjelaskan bahwa paradiplomasi adalah aktivitas hubungan eksternal dan tindakan pemerintah non pusat (Kota, Provinsi, Federasi, Organisasi Kemasyarakatan, dll.) dalam keterlibatannya di level internasional (Aldecoa, 2013) (Kuznetsov, 2014) (Schiavon, 2019).
Namun yang menjadi salah satu tantangan paradiplomasi (pemerintah lokal) adalah kasus kesehatan global seperti wabah penyakit menular atau epidemik yang mendera sejumlah negara. Wabah Covid-19 yang menyerbu seantero belahan dunia. Penyebaran yang sangat masif membuat Negara-negara semakin kewalahan untuk menangani wabah Covid-19 ini.
Berawal dari Wuhan China pada lahir 2019, virus ini mampu
menjangkau beberapa belahan dunia dan konsekuensinya sangat fatal.
Wabah pandemi ini isunya bersifat global tetapi penanganannya melalui pemerintah lokal. Fakta di Indonesia terdapat beberapa kepala daerah yang juga menjadi sasaran penyebaran wabah tersebut. Beberapa diantaranya adalah Anies Baswedan Gubernur DKI Jakarta yang sembuh, Bima Arya (Walikota Bogor yang dikabarkan sembuh, Achmad Purnomo Walikota Solo juga dikabarkan sembuh, Isdianto Gubernur Kepri, Akhyar Nasution Plt.Wali kota Medan dan kabar duka dari Nadmi Adhani Walikota Banjarbaru yang meninggal dunia serta Syahrul Walikota Tanjung Pinang yang juga meninggal dunia.
Sejumlah konsekuensi-konsekuensi ini adalah merupakan bagian dari tantangan penanggulangan kasus Covid-19 yang terus meningkat. Oleh sebab itulah, paper ini akan mengkaji apa tantangan paradiplomasi untuk bisa menanggulangi Covid-19 di daerahnya masing-masing agar aman dan nyaman menjadi tempat tinggal, berusaha, pendidikan, komunitas dan lainnya.
Isu kesehatan internasional berfokus pada penyakit yang tersebar di berbagai wilayah negara yang memiliki populasi geografis terutama penyebarannya di negara dunia ketiga yang beriklim tropis dan berdampak sosial dan ekonomi. Isu kesehatan internasional juga menekankan pada isu respons kebijakan setiap negara dan keterkaitan isu nasional tersebut dalam fenomena global. Selain itu, fokus ke isu kesehatan menyangkut distribusi geografis baru dari sektor penyakit, munculnya infeksi baru, peningkatan resistensi obat, perubahan epidemiologis pola kesehatan dan penyakit dan pandemik, inovasi dalam teknologi informasi dan komunikasi global yang mempengaruhi kesehatan, perubahan pola perilaku manusia terkait kesehatan, restrukturisasi global industri
terkait kesehatan, dan inovasi dalam mekanisme kelembagaan untuk tindakan kolektif pada kesehatan (Colin Mcinnes, 2012;
IlonaKickbusch, 2013; Sara E Davies, 2015; Thomas E Novontny, 2013). Dengan demikian, paper ini akan memaparkan peran paradiplomacy dalam menanggulangi Covid-19 studi kasus Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pada tahun 2019- 2021.
Peran Paradiplomacy dalam Penanggulangan Covid-19
Pada dasarnya keterlibatan paradiplomasi (pemerintah daerah) dalam hubungan eksternalnya adalah a) orientasi ekonomi di mana daerah memanfaatkan pasar global ekonomi yang terbuka luas. Sehingga daerah bisa langsung terlibat dalam mempromosikan produknya di luar negeri, b) motif budaya pada bagian ini pemerintah daerah terlibat sebagai upaya untuk membentuk komunitas apalagi bagi daerah yang multi bahasa dan etnik, dan c) motif politik di mana dengan pembagian wilayah otonomi daerah akan memiliki kekuasaan politik lebih luas untuk efektifitas pelayanan domestik dan kepentingan eksternalnya (Kuznetsov, 2014). Paradiplomacy dalam melakukan hubungan eksternalnya harus memiliki lima faktor yakni a) tujuan dan motivasi, b) tingkat keterlibatan, c) struktur dan sumberdaya, d) level partisipasi dan e) strategi (Aldecoa, 2013). Keterlibatan paradiplomasi di level internasional sebagai upaya memanfaatkan layanan bagi warganya dan mempromosikan desentralisasi sebagai bentuk melepaskan isolasionisme kebijakan. Artinya tujuan paradiplomasi adalah mensejahterakan penduduknya (Tavares, 2016; Schiavon, 2019).
Peran paradiplomasi melalui diplomasi kota sangat
penting. Melalui diplomasi kota adalah bentuk diplomasi yang bertujuan untuk membawa kepentingan kota (daerah) di level internasional atau regional yang sejalan dengan kepentingan negara. Tentunya diplomasi kota ini bertujuan untuk menjadi kota global yang berpengaruh di dunia. Ada dua hal ketika berbicara tentang kota global yakni city as place di mana kota harus menjadi tempat yang aman, nyaman dan metropolis untuk ditinggali, tempat berusaha, dan tempat komunitas.
Selain itu, city as actors di sinilah kota bisa bergeliat memetakan potensinya untuk bisa kompetitif dan membuat branding agar dikenal sehingga bisa berkontribusi dalam pembangunan lokal, nasional dan internasional (Acuto, 2013; Curtis, 2014; Sevin, 2020).
Alasan keterlibatan kota menjadi penting dalam hubungan luar negeri, karena a) fenomena globalisasi membuat interaksi semakin kompleks. Akibatnya, Acuto menyebutnya sebagai International Bias. Situasi ini akan membawa fenomena urbanisasi berpindahnya masyarakat dari desa ke kota. Karena kota menjanjikan kesejahteraan, budaya baru dan komunitas baru. Kemudian b) fenomena perpindahan akan menciptakan relationship sehingga hubungan ini akan menentukan keterlibatan daerah dalam berbagai situasi (Acuto, 2013; Grandi, 2020; Melissen R. J., 2007). Fenomena globalisasi membawa interaksi semua aktor termasuk keterlibatan Pemerintah Kota dalam diplomasi. Kota sebagai wilayah yang banyak menjanjikan penghidupan yang layak, penuntut Pemerintah Kota untuk bisa berusaha terlibat untuk memastikan kota itu layak ditinggali.
Kota itu akan menjadi tempat komunitas dan budaya baru akibat urbanisasi. Ada 6 dimensi peran diplomasi kota yaitu keamanan, pembangunan, ekonomi, representasi, networking, budaya (Melissen, 2007).
Menyikapi situasi tersebut yang merupakan tantangan diplomasi kota oleh paradiplomasi. Peran diplomasi kota ini penting dilakukan oleh paradiplomasi salah satunya dalam upaya menanggulangi wabah Covid-19 yang berkonsekuensi keamanan, pembangunan dan ekonomi dan representasi untuk menjaga networking. Kota bukan hanya sebagai tempat namun juga sebagai aktor yang bisa memaknai rasional kepentingan daerah rersebut baik di level nasional, regional dan internasional. Daerah sebagai aktor internasional tidak bisa lepas dari peristiwa globalisasi dan masuknya Covid-19 di daerah seperti DKI Jakarta karena penyakit ini adalah tragedi global dan ditanggulangi di level lokal. Anies Baswedan sudah menyampaikan pernyataan awal ketika awal masuknya Covid-19 di Indonesia (Kota Depok) sekitar Februari 2019.
Anies mengatakan bahwa DKI Jakarta harus bisa memiliki sikap preventif terhadap Covid dan menyiapkan langkah- langkah strategis untuk merespon virus tersebut. Namun terjadi perbedaan pandangan dengan Menteri Kesehatan saat ini yang mengatakan bahwa Covid-19 tidak akan masuk Indonesia karena lokasinya jauh. Namun Anies lebih preventif dengan mengatakan bahwa Jakarta sudah terhubung secara global dengan mobilisasi transportasi. Jadi tidak menutup kemungkinan bisa menyebar ke Jakarta karena peristiwa virus global.
Lebih lanjut, Anies juga memikirkan perlunya pendekatan kolaborasi yang melibatkan semua stakeholders untuk menanggulangi Covid-19. Konsep relationship juga dilakukan Anies sebagai bentuk tanggung jawab menanggulangi Covid-19 bukan hanya di level daerah, nasional tetapi global. Di sinilah peran diplomasi kota sebagai bentuk aplikasi dari international bias atau terkoneksinya hubungan berjejaring dalam hubungan
internasional. Diplomasi kota sebagai bentuk konkret peran paradiplomasi seperti yang telah dilakukan oleh Anies.
Hal ini penting karena Jakarta pernah mengalami dua gelombang Covid-19 yang begitu parah sehingga perlu kolaborasi dan sinergi. DKI Jakarta yang saat ini dipimpin oleh Anies harus memastikan dua hal sebagai sebuah kota besar yakni kota berperan sebagai place yaitu sebagai tempat yang aman, nyaman dan sehat untuk ditinggali. Kasus Covid-19 di Jakarta per tanggal 24 september 2021 menunjukan kasus terkonfirmasi 856.931 orang kasus positif, 632 orang dirawat, 841.393 orang sembuh, 13. 497 orang meninggal dan 1.409 orang isolasi mandiri. Dan 402 orang tanpa gejala 1. 639 orang bergejala data ini terus berubah yang bisa berkurang dan bertambah sesuai situasi penyebaran (Jakarta, 2021). Berdasarkan kasus tersebut Jakarta harus dipastikan sebagai kota yang aman dan nyaman.
Jakarta telah mengalami dua gelombang krusial penyebaran Covid-19 sejak tahun 2020 dan 2021. Bahkan prediksi Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, bahwa memungkinkan ada gelombang ketiga yang diprediksi antara bulan Oktober atau Desember 2021 (Indonesia, 2020).
Bahkan ketika adanya kebijakan sekolah tatap muka telah bermunculan klaster sekolah (SD, SMP dan SMA).
Sejumlah kebijakan di Pemprov DKI Jakarta sebagai aktor juga memiliki respons untuk menanggulangi Covid 19 misalnya dengan meningkatkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak) Kebijakan ini merupakan aksi konkret pemerintah DKI Jakarta untuk menanggulangi Covid 19 sebagai bentuk protokol Kesehatan. Kunci dari 3M ini adalah kedisiplinan warga DKI untuk selalu taat aturan. Bahkan data April 2020 sampai 6 juni 2021 terdapat 316.754 kasus pelanggaran masker (Wiryono, 2021). Adapun sanksi yang
diberikan berupa denda dan sanksi sosial. Misalnya hasil denda warga yang tidak menggunakan masker sebesar 2,4 miliar dari 5 juni sampai 16 september atau kerja social selama satu jam Denda berkisar Rp. 250.000 (Valorosdela, 2020). Kemudian, sanksi diberikan kepada Holywings Kemang selama 3 x 24 jam karena berkerumun pada tanggal 6 september 2021 yang lalu (Azizah, 2021). Konsistensi ini menegakan hukum ini perlu diapresiasi sebagai tindakan konkrit melawan Covid-19.
Kebijakan Pemprov DKI lainnya adalah dengan membuat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kemudian diganti dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai instrumen mencegah penyebaran Covid-19.
Dua kebijakan ini berorientasi pada pembatasan kegiatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kerumunan dan interaksi yang masif. Misalnya pembatasan akses perkantoran, transportasi, mall, kegiatan pendidikan, kegiatan olahraga dan aktivitas lainnya. Saat ini kebijakan PPKM yang berlangsung di Jakarta sudah menurun ke level 3 setelah sebelumnya selalu berada pada tahap darurat yakni level 4. Beberapa aktivitas yang menjadi implikasi dari PPKM seperti pelarangan mudik, transportasi menggunakan aturan seperti rapid dan PCR serta protokol lainnya. Beberapa pelanggaran PPKM akan diberikan sanksi tegas berupa denda dan sanksi sosial dari tanggal 3-20 juli 2021 terdapat 245 kasus pelanggaran PPKM Darurat namun 35 kasus yang sampai pada tahap penyidikan dan dijadikan tersangka (Tanjung, 2021).
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta memberlakukan strategi 3 T sebagai bagian dari aksi kebijakan konkrit. Menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta Riza Patria mengatakan bahwa ada tiga strategi kebijakan Pemprov DKI dalam menurunkan penyebaran Covid-19 yaitu pertama sosialisasi agar tetap di rumah saja,
kebijakan PPKM, dan pendisiplinan protokol kesehatan. Kedua, 3T (testing, tracing, treatment) untuk menekan laju Covid 19.
Dan ketiga bekerjasama dengan stakeholders terkait terutama satgas-satgas di RT dan RW untuk menekan penyebaran Covid 19. Tes PCR yang dilakukan oleh pemprov DKI Jakarta melebihi standar WHO (World Health Organization) antara 15-20 kali lipat. Warga DKI Jakarta yang sudah divaksin dosis pertama sebanyak 8,2 juta dan dosis kedua 3,2 juta. Keterisian ruang isolasi 47% dan ICU turun 70% di rumah sakit (BW, 2021). Hasil tersebut akan berubah sesuai situasi Selain itu berdasarkan tes spesimen baik Antibodi, Antigen maupun PCR bahwa terdapat 7.988.354 orang yang telah dites dan hasilnya 1.796.529 orang terkonfirmasi positif dan 6.181.825 orang negatif (Jakarta, 2021).
Kebijakan aktif lainya adalah Pemprov DKI Jakarta dengan melakukan vaksinasi massal untuk menciptakan kekebalan komunitas. Berdasarkan data bahwa warga DKI Jakarta yang sudah divaksin dosis pertama 10.355.138 orang untuk dosis pertama dan 7.616.782 orang yang telah divaksin dosis kedua.
Artinya akumulasi vaksin di Jakarta dosis pertama mencapai 115% dan dosis kedua sebesar 85 persen dan tertinggi di Indonesia (Jakarta, 2021). Bahkan Wakil Gubernur DKI Ahmad Riza Patria mengatakan bahwa di Jakarta sudah tercipta kekebalan komunitas.
Selain aktif dalam bidang domestik Pemprov DKI juga aktif dalam kegiatan pertemuan para pemimpin kota-kota di dunia.
Keterlibatan ini merupakan aksi paradiplomasi. Paradiplomasi melakukan diplomasi kota sebagai bentuk untuk menjaga stabilitas ekonomi, stabilitas keamanan, mencari link serta memamerkan budaya. Dalam tujuan tersebut, salah satu masalah krusial yang mendera kota-kota di dunia adalah penyebaran
Covid-19. Situasi ini menjadi peluang bagi Pemerintah Daerah baik Kota, Kabupaten dan Provinsi. Keterlibatan daerah di level regional dan internasional menjadi bukti kontestasi kualitas para pemimpin yang bukan hanya berskala lokal. Hal ini telah dibuktikan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan yang menjadi pembicara utama dalam Cities Against Covid-19 Global Summit 2020 pada Selasa, 2 Juni 2020 yang dihadiri oleh para pemimpin daerah yakni sekitar 40 walikota berbagai provinsi di belahan dunia. Anies mengatakan adanya Covid-19 membuat kota- kota di dunia harus berbenah dan siap menghadapi tantangan.
Perubahan pola kota dari monosentris ke polisentris sebagai bagian dari public urban service (Siddik, 2020). Pertemuan seperti ini sangat penting bagi daerah untuk menentukan posisi dan kualitas tata kelola daerah. Selain itu akan menjadi daya tawar daerah untuk menjadi contoh bukan hanya di level lokal dan nasional bahkan hingga level internasional. Tentunya hal ini juga bisa menarik minat investasi di daerah. Kata kunci dari peran paradiplomasi ini adalah memastikan kota yang mereka pimpin aman dan nyaman ditinggali.
Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bahwa peran kota sebagai paradiplomasi tidak bisa dilepaskan dari isu-isu global tetapi penanggulanganya melalui pemerintah lokal. Covid-19 menjadi bukti bahwa keterlibatan pemerintah kota sangat berperan dalam menyikapi bias internasional yang terglobalisasi oleh wabah Covid-19. Kota berperan sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk ditinggali dan kota berperan sebagai aktor yang mampu merumuskan kebijakan, mengeksekusi kebijakan dan mengevaluasi kebijakan. Kota juga berkesempatan untuk melakukan dialog internasional sebagai strategi untuk merumuskan cara menyelesaikan masalah global yang ditangani
itu sebagai bentuk tanggung jawab bahwa Jakarta adalah kota besar yang aman dan nyaman untuk ditinggali dan aktivitas lainnya.
Referensi Buku
Acuto, M. (2013). Global Cities, Governance. New York: Routledge.
Aldecoa, M. (2013). Paradiplomacy In Action. New York:
Routledge.
Carlesnaes, W. (2013). Hndbook Hubungan Internasional.
Bandung: Nusamedia.
Colin Mcinnes, K. L. (2012). Global Health International Relations. Cambridge : Polity Press.
Curtis, S. (2014). The meaning of global cities The power of cities in international relations. . Abingdon: Routledge.
Grandi, L. (2020). City Diplomacy. Paris School of International Affairs (PSIA) Paris France: Palgrave macmillan.
IlonaKickbusch, G. L. (2013). Global Health Diplomacy Cocept , Issue, Actorcs Instrument, Fora and Cases. New York:
Springer.
Kuznetsov, A. .. (2014). Theory and Practice of Paradiplomacy.
New York: Routledge.
Melissen, R. v. (2007). City Diplomacy :The Expanding Role of Cities in International Poitics. Netherlands: Netherlands Institute of International Relations Clingedael .
Melissen, R. J. (2007). City Diplomacy :The Expanding Role of Cities in International Poitics. Netherlands:. Netherlands:
Netherlands Institute of International Relations Clingedael.
Sara E Davies, A. K.-S. (2015). Desease Diplomacy INTERNATIONAL NORM AND GLOBAL HEALTH SECURITY. USA: John Hopkins University.
Schiavon, J. A. (2019). Comparative Paradiplomacy. New York:
Routledge.
Sevin, S. (2020). City Diplomacy Current Trends and Future Prospects. New York: Palgrave Macmillan.
Soldatos, H. (1990). Federalism and international relations: The role of sub-national units. New York: Oxford University Press.
Tavares, R. (2016). Paradiplomacy Cities and States as Global Player. New York: Oxford University Press.
Thomas E Novontny, I. K. (2013). 21 ST GlobalHealth Diplomacy.
USA: World ScientificPublishing Co.Pte.Ltd.
Internet
Indonesia, M. (2020). Retrieved from vhttps://mediaindonesia.
co m / m e g a p o l i t a n / 3 5 6 3 5 6 / 3 m - d a n - 3 t- u n t u k- penanggulangan-pandemi-covid-19
Wiryono, S. (2021, 01 08). Retrieved from https://megapolitan.
kompas.com/read/2021/01/08/10032051/pelanggaran- tak-pakai-masker-di-jakarta-capai-316754-kasus
Valorosdela, R. (2020, 08 09). Retrieved from https://
megapolitan.kompas.com/read/2020/09/18/08403291/
pemprov-dki-kumpulkan-rp-24-miliar-dari-denda- warga-yang-tak-pakai-masker
Azizah, K. N. (2021, 09 06). Retrieved from https://health.
detik.com/berita-detikhealth/d-5711389/pengunjung-
holywings-kemang-berkerumun-tak-bermasker-catat- risikonya
Tanjung, E. (2021, 07 13). Retrieved from https://jakarta.suara.
com/read/2021/07/13/181936/35-kasus-pelanggaran- ppkm-darurat-di-dki-diproses-hukum
BW. (2021, 08 07). Retrieved from https://amp.beritasatu.
com/aktualitas/811051/dki-terapkan-3-strategi-untuk- kendalikan-covid19
Jakarta, P. D. (2021). Retrieved from https://corona.jakarta.
go.id/id/data-pemantauan
Siddik, T. (2020, 07 07). Retrieved from https://metro.tempo.
co/read/1350665/anies-baswedan-bicara-transformasi- kota-di-forum-internasional/full&view=ok