• Tidak ada hasil yang ditemukan

Negosiasi Damai Ulama Afghanistan dan Taliban

Dalam dokumen Indonesia dalam Pusaran Disrupsi Global (Halaman 179-187)

Peran Diplomasi MUI dalam

kepentingan baik secara politik, ekonomi dan sosial budaya sehingga dapat memicu munculnya konflik dalam kehidupan bernegara. Konflik bersifat dinamis karena dapat mengalami eskalasi atau peningkatan dan de-eskalasi atau penurunan.

Konflik juga sering kali diintervensi oleh pihak ketiga sehingga memungkinkan meluasnya konflik.

Munculnya konflik pada hakikatnya membutuhkan suatu resolusi atau penyelesaian konflik. Ramsbotham mengatakan bahwa resolusi konflik merupakan suatu proses yang panjang agar terbentuk transformasi atau perubahan yang tidak hanya menghasilkan kesepakatan namun lebih terhadap perubahan kondisi yang konstruktif (Ramsbotham, 2011: 7-8). Tujuan dari adanya resolusi konflik yaitu untuk mengubah tindakan pihak yang berkonflik agar tidak lagi menggunakan kekerasan demi mengejar tujuan, mengubah kebiasaan saling bermusuhan menjadi saling memahami serta mengubah struktur hubungan pihak yang bermasalah agar tidak terjadi kembali diskriminasi atau kesenjangan (Ramsbotham, 2011: 30-31).

Langkah Diplomasi Konflik MUI

Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, kiprah umat Islam Indonesia memiliki peran strategis dalam menyelesaikan konflik dunia internasional. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai core utama Muslim Indonesia telah banyak berkiprah dalam diplomasi dunia internasional. Hal ini sejalan dengan postur muslim Indonesia yang memiliki suara dalam dunia internasional.

Salah satu sejarah yang dibuat MUI adalah menjadi tuan rumah dalam pertemuan trilateral menyelesaikan konflik Afghanistan pada tahun 2018. MUI bersama pemerintah Indonesia berhasil mendudukkan ulama Taliban dan

ulama pemerintah Afghanistan untuk bisa duduk bersama menyelesaikan pertikaian antara sesama Muslim di wilayah Asia Tengah itu. Saat itu, penulis hadir meliput dalam dialog yang digelar di Istana Negara, Bogor itu. Upaya menggelar pertemuan ini bukanlah pekerjaan membalikkan telapak tangan. Wakil Sekjen MUI Zaitun Rasmin dalam wawancara dengan penulis mengatakan MUI melakukan pendekatan kepada ulama-ulama Taliban agar mau menghadiri pertemuan untuk menciptakan perdamaian di Afghanistan (Anadolu Agency, 2018).

Zaitun menegaskan posisi Indonesia dalam pertemuan ini hanya sebagai juru damai tanpa ada niatan politis dan tidak mempunyai kepentingan apa-apa di Afghanistan. Hanya murni untuk perdamaian. Berkat kegigihan MUI, Taliban akhirnya mau datang ke Indonesia untuk mengikuti negosiasi perdamaian. Menurut penulis, ini adalah sejarah bagi MUI dalam menyelesaikan krisis di Afghanistan. Bahkan tidak hanya sejarah bagi MUI, tapi ini juga sejarah bagi bangsa Indonesia dalam berpartisipasi menyelesaikan konflik Afghanistan.

Kelompok Taliban yang selama ini dianggap kelompok ekstrem ternyata dapat “ditaklukkan” dengan pendekatan soft diplomacy MUI. Mereka mau datang jauh-jauh dari Afghanistan dan Pakistan untuk datang ke Indonesia.

Pertemuan strategis itu akhirnya berlangsung pada 11 Mei 2018 di Istana Negara, Bogor. Dalam pidato pembukaannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan pertemuan ini dilakukan untuk merumuskan perdamaian di Afghanistan melalui peran para ulama (Anadolu Agency, 2018). Presiden menyadari usaha mewujudkan ini tidak mudah. “Kita yakin pertolongan Allah itu dekat. Di sinilah peran ulama untuk menjaga momentum dan optimisme umat akan perdamaian,” kata Presiden yang akrab disapa Jokowi ini. Presiden Jokowi mengatakan kegiatan

ini tidak lepas dari pertemuan intensif dalam sembilan bulan terakhir antara dirinya dengan Presiden Afghanistan Asraf Ghani, Presiden Pakistan Mamnoon Husain dan Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbasi. “Alhamdulillah Pakistan menyambut baik komitmen Indonesia dalam menciptakan perdamaian di Afghanistan,” ujar Presiden Jokowi. Puluhan ulama dari Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia hadir dalam pertemuan ini. Di antaranya adalah para ulama dari High Peace Council Afghanistan.

Kesepakatan Damai Ulama Afghanistan-Taliban Usai melakukan dialog dan negosiasi, perwakilan Ulama Afghanistan dan Taliban sepakat menjunjung tinggi persatuan dan perdamaian. Keduanya juga sepakat menghentikan kekerasan di Afghanistan demi menghentikan adanya pertumpahan darah. Baik ulama Indonesia, Afghanistan, dan perwakilan Taliban sepakat melahirkan deklarasi bertajuk Bogor Ulema Declaration for Peace. Deklarasi ini dibacakan secara bergantian oleh perwakilan para ulama yakni Ataullah Lodin dari Afghanistan, Quraish Shihab dari Indonesia, dan Qibla Ayaz dari Pakistan.

Dalam deklarasi tersebut, ulama ketiga negara sepakat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perdamaian di Afghanistan dan menyerukan kepada semua pihak untuk terlibat dalam perundingan damai. “Musyawarah damai diabadikan kitab suci Al Quran dalam Surat Asy Syura sebagaimana dijelaskan dalam ayat ke-38 bahwa perundingan adalah salah satu ciri orang beriman,” tulis deklarasi tersebut.

Selain itu, Deklarasi Bogor juga menyatakan bahwa para Ulama negara-negara Muslim, khususnya Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia dapat memainkan peran aktif untuk mempromosikan

perdamaian dan solidaritas di dunia Islam, khususnya di Afghanistan.

Para ulama juga menegaskan bahwa kekerasan dan terorisme tidak dapat dan tidak boleh dikaitkan dengan agama, bangsa, peradaban, atau kelompok etnis apapun karena hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. “Ekstremisme dan terorisme dalam segala bentuk, termasuk kekerasan terhadap warga sipil dan serangan bunuh diri, bertentangan dengan prinsip-prinsip kesucian Islam,” tegas para ulama dalam deklarasinya.

Analisa Resolusi Konflik MUI

Johan Galtung mengungkapkan tiga proses yang harus dilaksanakan sebelum dibangunnya perdamaian. Pertama, Peace keeping yakni proses mengurangi atau menghentikan tindakan kekerasan dengan cara melakukan intervensi militer untuk menjalankan peran sebagai penjaga perdamaian yang adil.

Peace keeping biasanya menggunakan operasi keamanan dimana aparat keamanan terlibat di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari penularan konflik dan meredam konflik terhadap kelompok lain. Kedua, Peace making yakni tahapan yang bertujuan merekonsiliasi atau mempertemukan sikap politik dan strategis dari pihak-pihak yang bermasalah melalui mediasi, negosiasi, arbitrase utamanya pada level pimpinan atau elit.

Ketiga, Peace building yakni tahapan implementasi rekonstruksi atau perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk menciptakan perdamaian yang abadi. Harapannya dengan dilaluinya peace building, maka negative peace beralih menjadi positive peace yang menjadikan masyarakat merasakan kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, dan politik yang efektif (Galtung, 2008: 208).

Jika mengacu kepada teori Galtung, maka MUI sudah melangkah pada upaya peace keeping dan peace making. MUI bisa mendorong kedua pihak untuk menyepakati kata damai dan terus mengawal kesepakatan mereka. Oleh karena itulah, Taliban kembali mendatangi MUI dan menyuarakan aspirasi mereka untuk mewujudkan perdamaian hakiki di bumi para mullah itu. Dan kita menyaksikan semua bahwa Taliban pada 2020 berhasil meneken kesepakatan damai dengan Amerika Serikat yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah Afghanistan di Doha, Qatar, yang turut dihadiri Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi.

Menurut penulis, meski tidak terlibat langsung, upaya perdamaian itu tidak lepas dari diplomasi konflik yang selama ini telah dilakukan oleh MUI. Sudah lama MUI merintis jalan perdamaian di Afghanistan, tanpa intrik politik dan kepentingan. Semuanya demi mengarusutamakan Islam washatiyah dan mewujudkan perdamaian di muka dunia.

Wallahualam. (*)

Referensi

Ramsbotham, Oliver, Hugh Miall, Tom Woodhouse. (2011).

Contemporary Conflict Resolution: The Prevention, Management and Transformation of Deadly Conflicts, Cambridge: Polity Press

Galtung, Johan (1975). Three Approaches to Peace: Peacekeeping, Peacemaking, and Peacebuilding. dalam Johan Galtung (ed.) Peace, War And Defence-Essay In Peace Research.

Copenhagen: Christian Ejlers. dalam Aleksius Jemadu.

2008.

--- (1996), Studi Perdamaian : Perdamaian dan Konflik Pembangunan dan Peradaban, Terjemahan : Asnawi dan Safruddin. Surabaya: Pustaka Eureka

Indonesia sudah komunikasi dengan Taliban http://v.aa.com.

tr/1093925

Ulama Taliban hadir dalam pertemuan di Bogor http://v.aa.com.

tr/1141912

Forum Trilateral Ulama lahirkan Deklarasi Bogor untuk Perdamaian http://v.aa.com.tr/1142183.

Kondisi Indonesia dalam Pusaran

Dalam dokumen Indonesia dalam Pusaran Disrupsi Global (Halaman 179-187)