• Tidak ada hasil yang ditemukan

NEO PSIKOANALISIS

12.2. Penyajian 1. Alfred Adler

12.2.3. Erik Erikson

Erik Erikson lahir di Kota Frankfurt, Jerman, pada tahun 1902.

Orangtuanya berasal dari Denmark.

Ayahnya adalah seorang Protestan dan ibunya seorang yahudi. Keduanya berpisah sebelum Erikson lahir.

Kemudian, Ibunya yaitu Karla Abrahamsen pindah ke Karlsruhe,

Jerman dan membesarkan Erikson sebagai ibu tunggal. Pada saat Erikson berumur tiga tahun, ibunya menikah dengan Dr. Theodor Hamburger, yang tidak lain adalah dokter Erikson sendiri. Hal inilah yang membuat Erikson mendapat nama tengahnya yaitu Hamburger. Erikson bersekolah di Gimnasium Humanistiche di Karlsruhe, Jerman. Tetapi ia terus-menerus diperlakukan seperti orang asing. Ia lulus pada usianya yang ke 18 tahun, tetapi ia tidak tertarik untuk melanjutkan pendidikaannya. Erikson lebih memilih untuk melakukan hobinya dalam bidang kesenian seperti

177 menggambar dan membuat ukiran kayu, dia juga senang bepergian ke pedesaan di Jerman. (Leahey, 2018)

Awalnya Erikson sulit untuk menggabungkan kegemaran keseniannya dengan intelektualnya. Tetapi berkat bimbingan Anna Freud, secara bertahap, ia dapat menggabungkan bakat keseniannya untuk mengamati permainan anak anak (Leahey, 2018). Menurut Benjafield (2015), pada tahun 1927, Erikson menjadi guru di sekolah yang baru didirikan oleh Anna Freud di Wina. Di sini, dia mengembangkan pemahamannya tentang perkembangan anak meskipun saat itu Erikson tidak memiliki pendidikan formal bidang psikologi. Tahun 1929, Erikson bertemu dan menikah dengan Joan Serson, seorang sosiolog Amerika yang tertarik dengan modern dance dan psikoanalisis, yang nantinya akan memainkan peran penting dalam pengembangan teorinya.

Erikson menyelesaikan pendidikan non formalnya tentang psikoanalisis di Vienna Psychoanalytic Institute pada tahun 1933.

Pada tahun itu juga, ia pindah ke Boston dan menjadi psikonalisis anak pertama. Dia pindah ke Boston akibat kebangkitan Nazisme di Eropa. Ia bergabung dengan Harvard Medical School, dan menjadi bagian dari tim peneliti kepribadian di bawah kepemimpinan Henry Murray (Leahey, 2018). Selain itu, dia juga menghabiskan waktu di Yale. Dia meneliti suku Indian Sioux di South Dakota bersama dengan kelompok riset milik Clark Hull.

(Benjafield, 2015)

Erikson mengajar di University of California, Berkeley pada tahun 1939. Dia sempat ditawari untuk menjadi professor, tetapi masa jabatannya terputus ketika seorang senator bernama Mc Carthy memaksa para professor untuk menandatangani sumpah setia dengan mengatakan bahwa mereka anti-komunis. Erikson marah dan menolak untuk menandatangani hal tersebut. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri pada tahun 1950 dan bergabung dengan Robert Knight di Pusat Psikoterapi dan Penelitian untuk Remaja dengan Gangguan Mentak di Austen Riggs Center, Massachusetts ( Leahey, 2018).

Selama Perang Dunia II, Erikson melakukan penelitian mengenai upaya perang, termasuk studi tentang tempat tingggal di dalam kapal selam dan interogasi tawanan perang. Dia menulis essai psikobiografi Hitler dan menerbitkan Hitler’s Imagery and German Youth tahun 1942. Dia juga menulis buku Gandhi’s Truth:

On the Origins of Militant Nonviolence (1969). Buku ini membuat

178

Erikson mendapatkan penghargaan Pulitzer dan menjadikannya sebagai buku nasional (Leahey, 2018).

Pada tahun 1960, Erikson mengajar sebagai profesor pengembangan manusia di Universitas Harvard hingga ia pensiun pada tahun 1970. Setelah pensiun, Erikson melakukan penelitian pertamanya di bidang gerontologi bersama istrinya Joan Erikson dan rekan mereka, Helen Kivnick. Penelitian tersebut berjudul Keterlibatan Vital di Usia Tua. Penelitian ini diterbitkan pada tahun 1986. Tanggal 12 Mei 1994, Erikson menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 92 tahun di Harwich, Massachusetts, dan menandai akhir karirnya (Leahey, 2018).

Psikososial

Dalam bukunya Childhood and Society, Erikson menggambarkan bagaimana ego memperoleh kekuatan ketika berkembang melalui delapan tahap perkembangan psikososial yang terjadi sepanjang hidup seseorang. Tidak seperti Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian terus berkembang sepanjang rentang hidup manusia. Erikson memperluas tahapan perkembangan Freud hingga dewasa bahkan usia tua. Erikson membentuk kembali psikologi perkembangan dan membantu mempopulerkan gerontologi (Brennan, 2014).

Menurut Benjafield (2015), teori psikososial Erikson ini menjadi salah satu alasan utama psikologi perkembangan tidak lagi hanya memperhatikan masa kanak-kanak tetapi juga perubahan yang terjadi sepanjang hidup seseorang. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Menurut Erikson, cara untuk mengekspresikan hal ini adalah orang yang lebih tua perlu untuk merawat yang lebih muda. Meskipun tahap perkembangan Erikson dari waktu ke waktu tidak berubah urutannya, teori ini sulit untuk ditentukan karena waktu di mana tahap itu muncul berbeda-beda setiap orangnya dan memiliki keunikan. Kita hanya bisa membuat perkiraan umum untuk siklus hidup yang ideal, yang mungkin hanya bisa dilakukan secara tidak sempurna.

Erikson sendiri menjelaskan bahwa tahapan ini tidak berjalan seperti mata rantai, melainkan tumpang tindih. Ada kemungkinan orang yang memulai tahap baru belum menyelesaikan tahap saat ini, dan sebaliknya. Setiap tahap dalam tahap psikososial membuat seseorang diharuskan untuk melakukan tugas tertentu yang perlu dilakukan di tahap terdebut. Pada setiap tahap, orang dihadapkan dengan pilihan dan melalui pertemuan

179 penting lingkungan fisik dan sosial. Tahapan dalam perkembangan kehidupan individu ada delapan:

1. Basic trust versus Mistrust (0 – 1 tahun) Pada tahap ini, anak akan bergantung kepada orang lain. Jika anak menerima kualitas pengasuhan yang cukup tinggi selama periode ini, anak akan mendapatkan kepercayaan dirinya dan mempercayai dunia ini.

2. Autonomy versus Shame and doubt (1-3 tahun). Pada tahap ini, anak dikaitkan dengan pencapaian pengendalian diri (toilet trained) dan awal penguasaan dunia luar. Identitas anak tergantung pada munculnya kemauan pada anak tersebut.

3. Initiative versus Guilt (3-5 tahun) Anak lebih bebas bergerak, menggunakan bahasa yang efektif, dan mulai bisa membayangkan dirinya ingin menjadi apa. Di tahap ini, bermain dan berimajinasi sangat penting untuk anak.

4. Industry versus Inferiority (6 tahun-pubertas) Anak mulai bersekolah dan menjadi semakin bergantung pada pendidikan untuk menguasai dunia.

5. Identity versus Identity diffusion (10-20 tahun). Tahap ini menandai dimulainya masa remaja, di mana masalah akan membangun identitas pribadi yang stabil. Remaja mulai memelihara konsep diri yang stabil dan melihat bagaimana orang akan memandangnya. Hasil ideal pada tahap ini adalah kesetiaan pada diri sendiri dan orang lain.

6. Intimacy versus Isolation (20-40 tahun). Setelah identitas terbentuk, maka orang tersebut akan menjadi dekat (intim) dengan orang lain, seperti dalam pernikahan, dan dia akan mempertahankan identitas diri agar tidak terisolasi dari orang lain

7. Generativity versus Stagnation (40-60 tahun). Dibangun atas rasa diri yang kuat dan hubungan interpersonal yang baik, fokus seseorang beralih kepada kontribusi untuk masyarakat melalui kreativitas.

8. Integrity versus Despair (60 tahun-meninggal). Semakin tua seseorang, ia akan merasakan kepuasan atau kegagalan tergantung pada dirinya di tahap sebelumnya.

Menurut Erikson, setiap tahap perkembangan memiliki karakteristik yang bertolak belakang, positif dan negatif. Dari sudut pandang Erikson, keberhasilan dalam menyelesaikan setiap tahap perkembangan tidak dilihat dari dia memenangkan salah satunya, tetapi ketika seseorang berhasil menggabungkan proporsi yang tepat dari keduanya (Benjafield, 2015).

180

Catatan Kritis terhadap Pemikiran Erik Erikson

Teori Erikson didasarkan pada pengamatan klinis, terutama mengamati anak-anak yang sedang bermain. Teori ini sangat bermanfaat hingga saat ini. Namun, terdapat beberapa kritik untuk psikososial Erikson. Burston (dalam Benjafield, 2015) membuat beberapa poin mengenai penurunan minat pada teori psikososial Erikson. Menurutnya, psikososial membutuhkan waktu lama dan orang-orang pada umumnya memiliki lebih sedikit waktu untuk mencurahkan energi mereka untuk penelitian semacam itu. Selain itu, teori Erikson juga dikritik karena didasarkan pada asumsi bahwa “Adanya keluarga inti yang stabil dan utuh di mana ayah bekerja dan ibu mengelola urusan rumah tangga”. Tentu saja, hal ini sudah tidak relevan lagi dengan gaya hidup saat ini, mengingat ibu juga bisa bekerja. Teori psikososial Erikson juga sulit ditentukan, karena waktu munculnya tahap itu pasti berbeda dan unik. Kita hanya bisa membuat perkiraan umum untuk siklus hidup yang ideal, yang mungkin hanya bisa dilakukan secara tidak sempurna.

Dalam dokumen B-18 a. Buku Ajar Sejarah dan Aliran Psikologi (Halaman 181-185)