PENGARUH FILSAFAT BAGI PSIKOLOGI
2.2. Penyajian 1. Rene Descartes
2.2.5. Immanuel Kant
Immanuel Kant lahir pada tahun 1724 di Konigsberg, Jerman. Kant masuk ke Universitas Konigsberg pada tahun 1940 dan meraih gelar doktoralnya pada tahun 1755. Kant bekerja sebagai tutor privat di Universitas Konigsberg selama bertahun-tahun. Kant mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai dosen pada tahun 1797. Kehidupan Kant dipenuhi oleh pikirannya sendiri. Kant menulis buku Critique of Pure Reason pada tahun 1781 dan buku Critique of Practical Reason pada tahun 1788. Dia tidak pernah menikah. Selama bekerja sebagai dosen, banyak mahasiswa memenuhi ruang kelasnya dan menganggap bahwa Kant adalah dosen yang hebat meskipun mereka kesulitan memahami buku- buku yang ditulisnya. Kant terkenal akan kemurnian, kerumitan,
29 ketelitian, dan kecerdasannya. Kant memiliki ketertarikan pada hal- hal yang berkaitan dengan pikiran, ilmu astronomi, geografi, agama, dan pasifisme. Immanuel Kant meninggal dunia pada tahun 1804 dikarenakan kondisi kesehatan yang menurun dan terus memburuk (Wertheimer & Puente, 2020).
Fenomena
Immanuel Kant menulis buku Critique of Pure Reason sebagai reaksi atas skeptisme Hume yang menyatakan bahwa manusia memiliki pengetahuan subjektif tentang dunia dan lingkungan berdasarkan impresi sensori mereka dan mengabaikan aspek pikirannya (Goodwin, 2015). Kant menyebut dunia dari kumpulan pengalaman sebagai fenomena (phenomena) dan dunia di mana segala sesuatu menjadi bentuk sesungguhnya dari benda- benda tersebut atau dunia di mana segala sesuatu berada dalam tempatnya masing masing (things-in-themselves) sebagai noumena.
Kant juga menerapkan hukum fisika Newton dalam hal ini. Sains didasarkan pada observasi sehingga perlu menguji pengalaman yang dalam hal ini adalah fenomena. Oleh karena itu, penentuan kebenaran didasarkan pada fenomena bukan noumena (Leahey, 2018).
Kant (dalam Leahey, 2018) menyebut bahwa konsep impresi Hume sangatlah lemah. Hume menganggap bahwa pikiran manusia menyesuaikan dirinya dengan benda-benda di dunia dan mengabaikan pikiran manusia itu sendiri. Kant kemudian membalik pernyataan ini dan mengatakan bahwa benda-bendalah yang menyesuaikan diri mereka dengan pikiran manusia yang memiliki konsep-konsep dasar berdasarkan fenomena-fenomena yang sudah dialami manusia. Dalam dunia fenomena atau dunia di mana manusia hidup, setiap kejadian pasti memiliki sebabnya karena pikiran manusia selalu menempatkan adanya sebab dari sebuah kejadian. Hal ini dapat dijelaskan dengan kisah The Wizard of Oz.
Dalam kisah ini, Oz disebut sebagai Kota Emerald. Dalam adaptasi filmnya, tidak dijelaskan mengapa Oz disebut kota Emerald. Akan tetapi, dalam bukunya dijelaskan bahwa setiap orang yang memasuki Oz harus mengenakan kacamata berwarna emerald yang digunakan sepanjang waktu.
Jika dibayangkan bahwa warga Oz atau Ozzies menjalani operasi rahasia di mana ada sebuah lensa berwarna hijau ditanamkan di mata mereka sejak kecil sehingga mereka akan melihat dunia dalam warna hijau dan menganggap bahwa dunia
30
berwarna hijau akibat pengalaman mereka sendiri. Hal ini sesuai anggapan dari para empiris yang menjadikan pengalaman inderawi sebagai sumber pengetahuan dan menyatakan bahwa dunia tampak hijau karena memang dunia berwarna hijau. Akan tetapi, bagi orang-orang yang mengetahui operasi rahasia yang dilakukan ketika para Ozzies kecil mereka mengetahui bahwa dunia tidaklah hijau. Dunia tampak hijau karena lensa yang ada di mata para Ozzies. Orang-orang ini menyesuaikan benda-benda dengan pikiran mereka sedangkan para Ozzies menyesuaikan pikiran mereka dengan benda-benda.
Kant menyatakan bahwa konsep yang dianut atau dimiliki oleh individu tidak ditentukan oleh persepsi individu melainkan konsep diri kitalah yang melahirkan persepsi tersebut. Persepsi manusia adalah hal natural yang ada sejak lahir. Hal ini dibuktikan dengan penelitian pada bayi pada tahun 1960-an. Konsep ini terdiri atas kebenaran di dunia dan pikiran sudah ditetapkan dan tidak selalu didasarkan pada pengalaman yang disebut juga sebagai kategori. Dalam pikiran manusia, ada beberapa kategori transendental yang sudah pasti dalam memahami pengalaman umum yang terdiri atas konsep kausalitas, ruang tiga dimensi, dan angka. Transendental artinya logis dan penting. Kant telah membuktikan bahwa kategori yang dibuatnya dapat diterapkan dalam berbagai pengalaman yang terjadi. Kant berhasil membuktikan bahwa beberapa kebenaran dan konsep pasti memiliki penyebab dan setiap objek ada dalam ruang tiga dimensi terlepas dari pengalaman inderawi melainkan sudah ada sejak dulu dan ditentukan oleh pikiran manusia. Akan tetapi, konsep yang dimiliki Kant tidak dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan spesifik mengenai keberadaan akan keberadaan Tuhan.
Kant tidak meneliti keberadaan Tuhan seperti halnya Hume karena Tuhan berada di luar dunia fenomena manusia. Argumen mengenai keberadaan dan ketiadaan Tuhan memiliki validitas dan invaliditas yang sama karena pikiran manusia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Immanuel Kant berhasil membatasi skeptisme tetapi tidak dapat mengalahkan skeptisme Hume sepenuhnya.
Catatan Kritis terhadap Immanuel Kant
Pemikiran-pemikiran yang dikemukakan oleh Immanuel Kant tentu tidak luput dari kritik yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh atau pihak lain. Teori Kant mengenai dunia noumena mendapat kritik dari kaum Post Kantian karena gagasan noumena tersebut
31 dianggap terlalu abstrak dan tidak pasti karena mendefinisikan dunia sebenarnya atau noumena dengan definisi yang tidak jelas, tidak benar-benar dapat dipahami, dan menggunakan pengukuran empiris pada dunia yang didasarkan pada sudut pandang yang sangat subjektif. Hal ini menimbulkan perselisihan dan menimbulkan gerakan positivistik pada awal abad 20. Konsep Kant mengenai konsep persepsi yang sudah ada sejak lahir juga mendapat kritik karena dari perspektif dunia modern, konsep ini hanya berevolusi dari segi bentuknya saja tetapi tidak membuktikan bahwa konsep yang dibawa sejak lahir adalah kondisi yang diperlukan secara metafisik oleh setiap kesadaran manusia (Wertheimer & Puente, 2020).