• Tidak ada hasil yang ditemukan

PSIKOLOGI SEBAGAI ILMU OTONOM

4.1. Pendahuluan 1. Deskripsi Singkat

4.2.1. Wilhelm Wundt

Wilhelm Wundt atau yang biasa dikenal sebagai Bapak Psikologi Modern lahir pada tanggal 16 Agustus 1832 di Neckarau, sebuah daerah terpencil dekat dengan kota Heidelberg, Jerman. Wundt adalah anak dari sepasang suami-istri bernama Maximillian Wundt dan Marie Friederike née Arnold. Ayahnya adalah seorang pastor yang terkenal karena teologi liberalnya, sementara ibunya merupakan seseorang yang tangguh dan pintar dalam memanajemen masalah ekonomi rumah tangga mereka yang cukup sulit. Semasa kecilnya, Wund merasa kesepian karena kakak tertuanya, Ludwig yang saat itu berumur 10 tahun meningalkan dirinya ke Heidelberg untuk sekolah (Schultz & Schultz, 2016).

Wundt mengambil studi pelatihan kesehatan di University of Tübingen dan University of Heidelberg hingga mendapatkan gelar M.D dengan penghargaan tertinggi. Namun, kemudian ia menyadari bahwa dirinya tidak minat atau tertarik dengan praktek kesehatan. Ia memutuskan untuk mengubah ketertarikannya ke ilmu fisiologi. Pada tahun 1856, Wundt meningkatkan kemampuan penelitiannya di bidang fisiologi dengan mengambil kuliah kembali di University of Berlin yang berada dibawah naungan pengajaran Johannes Müller and Emil DuBois Reymond. Di akhir tahun yang sama, Wundt diberi kesempatan untuk mengajar dan melakukan berbagai penelitian di University of Heidelberg (King dkk., 2013).

Selain menjadi dosen, Wundt juga diberi kesempatan untuk bekerja sebagai asisten laboratorium Helmhotz selama 7 tahun (1857-1864) (Schultz & Schultz, 2016). Merujuk pada King dkk.

(2013), selama bekerja sebagai asisten laboratorium, Wundt melakukan berbagai penelitian dan membuka kursus sendiri yang bertemakan psikologi sebagai pengetahuan alam pada tahun 1862.

Ide-ide serta pemikiran pertama Wundt dituangkan dalam buku yang berjudul Contributions to a Theory of Sense Perception dan Lectures on Human and Animal Psychology. Selain kedua buku tersebut, Wundt juga menerbitkan bukunya yang berjudul Principles of Physiological Psychology, yang dianggap sebagai cikal bakal dari adanya psikologi eksperimental. Dalam buku tersebut, dia menjelaskan bahwa perlu adanya disiplin ilmu baru,

54

yaitu psikologi eksperimental yang merupakan gabungan dari ilmu psikologi dan fisiologi.

Karir terpenting semasa hidup Wundt dimulai pada tahun 1875 saat ia bekerja sebagai dosen filsafat di Universitas Leipzig dan di sana pula ia mendirikan laboratorium pertamanya. Karena reputasi laboratorium Wundt yang sangat baik, maka laboraturium itulah yang memberikan pengaruh besar bagi perkembangan psikologi modern, terutama dalam pengantar psikologi eksperimental yang dianggap sebagai ilmu baru pada saat itu (Schultz dan Schultz, 2016).

Pengalaman Kesadaran

Menurut Wundt, definisi dari psikologi adalah ilmu yang menyelidiki mengenai fakta-fakta kesadaran (King dkk., 2013).

Araujo (dalam Schultz & Schultz, 2016) menjelaskan bahwa Wundt menjadikan kesadaran sebagai pokok bahasan psikologinya.

Menurutnya, kesadaran dapat dipelajari dengan menggunakan metode analisis ataupun reduksi. Wundt tidak selaras dengan para ilmuwan yang mengatakan bahwa unsur-unsur kesadaran itu sifatnya statis (tetap) dan pasif. Akan tetapi, ia percaya bahwa kesadaran dapat secara aktif mengatur isinya sendiri (Schultz &

Schultz, 2016).

Schultz dan Schultz (2016) menyebutkan 3 tujuan ilmu psikologi menurut Wundt, antara lain: 1) Menguraikan proses sadar menjadi beberapa elemen dasar; 2) Menemukan penjelasan mengenai cara elemen-elemen tersebut diatur dan disatukan 3) Menentukan hukum-hukum koneksi yang mengendalikan elemen.

Dalam pemikirannya mengenai pengalaman kesadaran, Wundt juga mencetuskan beberapa istilah lain, salah satunya adalah voluntarism atau kesukarelaan. Istilah tersebut berasal dari kata volition yang berarti kemauan. Voluntarism adalah gagasan atau ide yang menyebutkan bahwa pikiran memiliki kemampuan untuk mengatur isi mental menuju proses kognitif yang lebih tinggi.

Voluntarism sendiri muncul karena adanya kekuatan kemauan untuk mengatur isi pikiran ke dalam proses berpikir yang lebih tinggi lagi (Schultz & Schultz, 2016).

Selain voluntarism, terdapat istilah Mediate and immediate experience (pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung).

Mediate experience berisi informasi atau pengetahuan mengenai suatu hal di luar dari elemen-elemen pengalaman. Sedangkan, immediate experience merupakan pengalaman yang tidak bias oleh

55 sudut pandang pribadi manapun. Dalam immediate experience, kita seperti menggambarkan atau menjelaskan pengalaman kita secara langsung (Schultz & Schultz, 2016).

Dalam fokus psikologi Wundt yang membahas mengenai pengalaman sadar, Wundt menggunakan metode introspeksi untuk melakukan pengamatan atau penelitiannya. Ia berpendapat bahwa pengamatan pengalaman sadar perlu dilibatkan dalam metode psikologi yang ilmiah. Introspeksi sendiri didefinisikan sebagai pengujian terhadap pikiran kita sendiri untuk memeriksa dan kemudian melaporkan apa yang kita rasa atau pikirkan. Nama lain dari metode introspeksi adalah persepsi internal. Sebeneranya, metode introspeksi atau persepsi internal ini tidak berawal mula dari pemikiran Wundt. Metode ini sudah dipakai oleh para filsuf terdahulu seperti Socrates. Wundt hanya melakukan inovasi dengan menerapkan kontrol eksperimental yang akurat atas kondisi di mana instrospeksi dilakukan (Schultz & Schultz, 2016).

Sensasi dan Perasaan

Pengalaman memiliki dua bentuk dasar, yaitu sensasi dan perasaan. Sensasi muncul setiap kali alat indera kita menerima stimulus dari luar dan impuls yang dihasilkan tersebut sampai pada otak. Sensasi dapat digolongkan berdasarkan durasi, intensitas, dan modalitas rasa. Sementara, perasaan sendiri berperan sebagai pelengkap dari sensasi yang tidak timbul secara langsung dari alat indera. Kualitas perasaan tertentu mengiringi sensasi. Jadi, kualitas perasaan dihasilkan dari datangnya sensasi untuk membentuk keadaan yang lebih kompleks (Schultz & Schultz, 2016).

Tridimensional Theory of Feelings

Wundt melakukan pengamatan introspektif dengan sebuah alat yang dapat menghasilkan suara klik secara berkala (metronom).

Dengan menggabungkan kecepatan metronom, instrospeksi, dan pengalaman sadar langsungnya (sensasi dan perasaan), pada akhirnya Wundt menemukan teori 3 dimensi perasaan, yang berisi perasaan senang dan tidak senang, gembira dan depresi, serta tegang dan rileks. Wundt menganggap emosi sebagai senyawa yang kompleks dari perasaan dasar, Emosi dapat direduksi menjadi elemen mental jika seseorang dapat mengetahui dengan benar dan tepat dimana posisi perasaan dasar tersebut berada (diantara ketiga dimensi yang ada) (Schultz & Schultz, 2016).

56

Asosiasi dan Apersepsi

Menurut Wundt, ada perasaan untuk berusaha mencari hubungan daripada hubungan yang terjadi begitu saja dalam kasus apersepsi. Oleh karena itu, apersepsi membutuhkan perhatian atau atensi, sementara asosiasi tidak membutuhkannya (Chung &

Hyland, 2012). Merujuk pada King dkk. (2013), Wundt menggambarkan asosiasi sebagai kombinasi elemen yang pasif dan apersepsi sebagai kombinasi elemen yang aktif. Apersepsi disebut sebagai proses aktif karena pada dasarnya, kesadaran kita tidak hanya berasal dari sensasi dan perasaan elemental yang kita alami belaka, namun pikiran kita juga bergerak atas elemen-elemen tersebut dengan cara yang kreatif sehingga membentuk satu keutuhan kesadaran penuh.

Volkerpsychology

Walaupun Wundt sudah menghabiskan banyak waktunya untuk menganalisis dan melakukan eksperimen sebagai bagian dari psikologi eksperimental, namun ia percaya bahwa pemahaman mengenai proses mental yang lebih tinggi dapat dipelajari melalui analisis sejarah dan pengamatan ilmiah. Sifat proses mental yang lebih tinggi dapat diperoleh dengan meneliti produk budaya, seperti agama, mitos, sejarah, bahasa, adat istiadat, moral, seni, dan hukum. Ia tidak hanya menganggap penting psikologi eksperimental, tetapi menganggap penting volkerpsychology (ilmu sosial atau psikologi budaya) juga. Wundt mempelajari hal-hal yang disebut dengan volkerpsychology tersebut selama 20 tahun terakhir hidupnya (Hergenhahn & Henley, 2014).

Catatan Kritis terhadap Pemikiran Wilhelm Wundt

Metode instrospeksi atau persepsi internal Wundt mendapatkan banyak kritik. Banyak kritikus yang menentang metode tersebut karena mereka menganggap bahwa eksperimen yang dilakukan menggunakan metode introspeksi tidak selalu bisa menghasilkan kesepakatan karena pada dasarnya, pengamatan instropektif adalah pengamatan yang dilakukan oleh diri sendiri yang sifatnya berasal dari pengalaman pribadi. Pengulangan pengamatan yang menjadi salah satu aturan atau rangkaian dari metode introspeksi Wundt tidak bisa dilakukan untuk menyelesaikan ketidaksepakatan tersebut. Wundt menyadari kesalahan tersebut namun ia tetap yakin bahwa dengan memberikan pelatihan dan pengalaman yang lebih baik lagi kepada pengamat,

57 akan meningkatkan kualitas dari metode introspeksi (Schultz &

Schultz, 2016).

Pandangan politik Wundt juga menjadi pengaruh bagi persepsi orang-orang mengenai pemikiran psikologi Wundt.

Benjamin dkk. (dalam Schultz & Schultz, 2016) menjelaskan bahwa Wundt mengutarakan pendapatnya tentang Perang Dunia 1.

Ia berpendapat bahwa invasi Jerman ke Belgia terjadi sebagai tindakan membela diri dan ia pun menyalahkan Inggris karena memulai perang Dunia 1. Pendapat-pendapatnya tersebut dianggap salah dan hanya mementingkan diri sendiri. Sehingga, banyak psikolog Amerika yang menentang Wundt dan pemikiran mengenai ilmu psikologinya.