ETIKA BISNIS DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
C. Etika Memberikan Perhatian
sebagai tindakan yang tidak adil, maka masyarakat yang menggunakan sistem akan dikecam, meskipun perbudakan itu membuat masyarakat tersebut lebih produktif.
Keuntungan yang lebih besar bagi sebagian pihak bukan merupakan pembenaran atas ketidakadilan pada pihak lain.
Namun demikian, tampaknya banyak pihak yang menyakini bahwa jika keuntungan sosial yang diperoleh cukup besar, maka ketidakadilan dala, tingkatan tertentu bisa diterima. Di negara-negara yang dilanda kemiskinan, misalnya banyak pihak yang menyakini bahwa suatu tindakan yang agak tidak adil bisa dilakukan untuk memperoleh keuntungan ekonomi yang besar yang memberikan perbaikan bagi semua orang.
58
dan mengesampingkan semua kewajiban Anda kepada orang asing, siapapun dia.
Pandangan bahwa seseorang memiliki kewajiban untuk memberikan perhatian khusus kepada individu-individu tertentu yang menjalin hubungan baik denganya, khususnya hubungan ketergantungan, merupakan konsep utama dalam
―etika memberi perhatian‖. Moralitas dalam memberi perhatian
―didasarkan pada pemahaman atas hubungan sebagai tanggapan terhadap orang lain‖. Menurut pandangan etika
―perhatian‖, tugas moral seseorang bukanlah mengikuti prinsip-prinsip moral universal dan imparsial, namun menerima dan menanggapi tindakan dari orang-orang lain di mana dia menjalin hubungan dengan baik dan erat dengan mereka. Belas kasihan, pertimbangan, cinta, persahabatn, dan kebaikan semuanya merupakan perasaan atau sifat baik yang umumnya mewujudkan dimeni moralitas.
Banyak pendukung etika perhatian yang mencatat bahwa etika ini juga mencakup sistem-sitem hubungan yang lebih besar yang membentuk komunitas masyarakat. Dengan demikian, etika perhatian dapat sebagai etika yang mencakup berbagai macam kewajiban seperti yang diusulkan dalam etika komunitarian. Etiak komunitarian adalah etika yang melihat komunitas dan hubungan-hubungan yang ada di dalamnya sebagai suatu yang memiliki nilai fundamantal dan perlu dipertahankan. Apa yang palng penting dalam etika komunitarian bukanlah individu perorangan, namun komunitas di mana individu menemukan diri dengan meilihat diri mereka sebagai bagian integral dari komunitas yang lebih besar beserta ttardisi, budaya, adat kebiasaan dan sejarahnya.
Jadi, hubungan konkret yang membentuk suatu komunitas tertentu haruslah dipertahankan dan dikembangkan seperti halnta hubungan-hubungan antar pribadi.
1. Memadukan Utilitas, Hak, Keadilan dan Perhatian
Saat ini tidak ada teori moral komprehensif yang mampu menentukan dengan tepat kapan pertimbangan utilitarian dianggap lebih penting dibandingkan
pertimbangan atas hak, keadilan, ataupun perhatian.
Demikian juga, tidak ada aturan universal yang mampu mengatakan kapan pertimbangan-pertimbangan keadilan dianggap lebih penting dibandingkan pertimbangan hak ataupun perhatian. Para ahli filsafat moral belum sependapat atas aturan-aturan absolut dalam membuat penilaian seperti ini. Namun demikian, ada beberapa kreteria kasar yang bisa dipakai. Miisalnya bahwa hanya dengan melanggar hak privasi pegawai (dengan memasang kamera rahasia dan menyadap pembicaraab telepon) perusahaan dapat menghentikan tindakan pencurian beberapa obat penting yang mampu menyelamatkan nyawa manusia, bagaimana bisa ditentukan apakah keuntungan- keuntungan utilitarian dari tindakan tersebut cukup terbesar untuk membatasi hak privasi karyawan?
Perdebatan-perdebatan yang dapat muncul antara lain adalah:
a. Apakah nilai-nilai utilitarian yang terlebat jelas lebih penting dibandingkan dengan niali-nilai yang dilindungi oleh hak privasi (atau yang didistribusikan oleh standar kedailan). Keuntungan utilitarian dalam contoh ini mencakup menyelamatkan jiwa manusia, sementara hak yang dilindungi (misalnya saja) adalah kebebasan dari perasaan malu dan pemerasan kebebesan untuk menjani kehidupan.
b. Apakah nilai yang lebih penting itu melibatkan junlah orang lebih banyaj? Dalam kasus ini, obat-obat tersebut (diperkirakan) mampu menyelamatkan ratusan ribu orang, sementara pelanggaran hak privasi hanya berpengaruh pada beberapa pegawai, oleh karena itu nilai utilitarian dalam contoh ini memang melibatkan jumla orang yang lebih banyak.
c. Apakah keugian aktual yang dialami oleh orang-orang yang haknya dilanggar (atau diperlakuan secara tidak adil) adalah relati kecil? Sebagai contoh, misalkan perusahaan biasa menjamin bahwa para pegawai tidak
60
akan mengalami pemabatasan kebebasan akibat informasi yang diperoleh perusahaan tentang kehidupan pribadi mereka (perusahaan bermaksud membuang informasi semacam itu).
d. Bagaimana kemungkinan rusaknya hubungan perusahaan dengan pegawainya sehingga akibat dari tindakan ini, apakah lebih atau kurang penting dibanding dengan kerugian akibat pencurian sumber daya perusahaan. Misalka saja kerugian yang diakibatkan oleh tindakan pengawasan tersembunyi ini pada hubungan perusahaan dengan pegawai tidaklah terlalu besar, maka pelanggaran privasi yang dilakukan oleh uperusahaan ini dapat dibenarkan.
Dengan demikian, ada kreteria-kreteria kasar yang bisa digunakan di mana pertimbangan utilitarian mungkin diannggap lebih penting untuk mengesampingkan pertimbangan atas hak, keadilan, atau etika perhatian.
Ktreteria yang sama juga dapat digunakan menentukana apakah dalam suatu situasi tertentu pertimbangaan kedailan layak dprioritaskan dibandingkan hak-hak individu, atau di mana etika perhatian perlu diprioritaskan dari pertimbangan atas keadilan. Namun kreteria-kreteria ini masih relatif kaar dan intuitif serta hanya memberikan sedikit bantuan dalam penalaran moral.
2. Prinsip Moral Alternatif: Etika Kebaikan
Sejauh ini, pendekatan etika telah dibahas semuanya difokuskan pada tindakan sebagai pokok permasalahan etika dan mengabaikan karakter pelaku tindakan itu sendiri.
Akan tetapi, masalah yang muncul dalam beberapa kasus bukanlah baik-buruknya suatu tindakan, namun sifat karakter manusia yang tidak sempurna. Banyak ahli etika yang mengkritik asumsi bahwa tindakan merupakan pokok permasalahan utama dalam etika. Etika, menurut mereka, tidak hanya melihat jenis tindakan pelakunya (agen), namun
juga harusm memperhatikan jenis karakternya. Fokus pada
―pelaku‖ (siapa dia), berbeda dengan fokus pada ―tindakan‖
(apa yang dilakukan) akan mampu menunukkan dengan seemat karakter seseorang, termasuk diantaranya apakah karakter tersebut lebih mengarah pada kebaikan atau keburukan. Pendekatan etika lain yang lebih baik, menurut para ahli etika ini, harsulah mempertimbangkan aspek kebaikan (misalnya kejujuran, keberanian, keteguhan, integritas, belas kasih, pengendalian diri) dan keburukan ( mislnya sikap tidak jujur, kejam, serakah, tidak punya integritas pengecut) sebagai awalan penting penalaran etika.
Kebaikan dapat dilihat sebagi suatu perspektif yang bertujuan sama dengan keempat pendekatan sebelumnya, namun dari sudut pandang yang berbeda. Dalam hak ini, prinsip utilitas, hak keadilan, dan perhatian memberikan kesimpulan dari perspektif evaluasi tindakan, sementara etika perhatian memberikan kesimpulan dari perspektif evaluasi karakter.
Kebaikan moral merukan suatu kecenderungan yang dinilai sebagai bagian dari karakter manusia yang secara moral baik dan ditunjukkan dalam kebiasaan dan pelakunya. Seorang dikatakan memiliki kebaikan moral apabila dia berperilaku dengan penalaran perasaan, dan keinginan-keinginan yang menjadi karakteristik dari seseorang yang secara moral baik. Kejujuran, misalnya dinilai sebagai suatu ciri karakter dari seseorang yang secara moral baik. Seseorang dikatakan jujur bila dia bisa mengatakan kebenaran dan melakukannya karena dia percaya bahwa megatakan kebenaran adalah tindakan yang baik, merasa senang saaat dia mengatakan kebenaran demi kebenaran itu sendiri dan arti pentingnya dalam komunikasi manusia. Jika seseorang hanya kadang-kadang saja mengatakan kebenaran, atau melakuknnya karena alasan yang salah, atau karena ada maksud tertentu, maka biasanya tidak dianggap sebagai orang yang jujur.
Seseorang tidak dikatakan sebagai seorang yang jujur, jika
62
dia sering berbohonh, jika dia mengatakan kebenaran hanya karena dia beranggapan bahw itu adalah cara untuk memperoleh perhatian orang lain, atau jika dia mengatakan karena takut atau dengan enggan. Lebih jauh lagi, kebaikan moral adalah suatu yang diperoleh, dan bukan karakteristik alami seperti kecerdasan, atau kecantikan, atau kekuatan tubuh. Kebaikan moral perlu dihargai karena merupakan suatu prestasi: pengembangannya memerlukan usaha.
Teori kebaikan mengatakan bahwa tujuan kehidupan moral adalah untuk mengembangkan disposisi-disposisi umum yang disebut sebagai kebaikan moral, dan melaksanakan serta menerapkannya ke dalam berbagai situasi kehidupan manusia. Sejauh tindakan seseorang menunjukkan kebaikan, atau sejauh tindakan seseorang adalah baik, maka tindakan-tidakan tersebut otomatis juga merupakan tindakan moral yang benar. Namun sejuah tindakan seseorang merupakan tindakan yang buruk atau sejuah tindakan seseorang yang mengarah pada pengembangan karakter yang buruk, maka tindakan tersebut secara moral salah. Kumci implikasi tindakan dari teori kebaikan dapat dinyatakan dalam klaim bahwa (Velasquez, 2005: 130):
Sebuah tanda secara moral benar jika dalam pelaksanaannya pelaku menerapkan, menunjukkan, atau mengembangkan karakter moral yang baik, dan secara moral salah jika dalam pelaksanaannya pelaku menerapkan, menunjukkan atau mengembangkan karakter moral yang buruk.
3. Moral dalam Konteks Bisnis Internasional
Perusahaan-perusahaan multinasional menjalankan operasinya di beberapa negara, sehingga mereka akan menghadapi peraturan hukum, adat kebiasaan, tingkat perkembangan, dan pemahaman budaya yang akadang sangat berbeda dengan negara aslnya. Menurut Velasquez (2002), perbedaan-perbedaan ini bukan hanya merupakan kebenaran yang memadai bagi teori relativisme etis. Saat menghadapi konteks asing, di mana hukum dan peraturan
pemerintah, adat kebiasaan, tingkat perkembangan, dan pemahaman buday sangat berbeda dari budaya negara asal seorang manajer, apa yang harus dilakukan? Contohny, saat menjalankan operasi dipraktik yang biasa dilakukan di negara asalnya atau yang dilakukan di negara itu?
Sebagaian pendapat menyatakan bahwa, saat melakukan operasi di negara-negara kurang berkembang, perusahaan-perusahaan multinasional dari negar-negara maju wajib mengikuti aturan-aturan di negara yang lebih maju, yang dalam hal ini otomatis menerapkan standar yang lebih tinggi dan lebih ketat. Namun klaim ini mengabaikan fakta bahwa menerapkan praktik-praktik yang dilaksanakan di negara maju ke negara yang kurang maju kemungkinan akan lebih merugikan dibandingkan menguntungkan sebuah peraturan standar etika utilitarian. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan Amerika beroperasi di Indonesia dan membayar tenaga kerja lokal denga gaji standar Amerika, maka hal itu kemungkinan akan menarik semua tenaga kerja ahli dari perusahaan-perusahaan lokal Indonesia yang tidak mampu menbayar gaji yang sama.
Akibatkanya, usaha pemerintah Indonesia untuk mengembangkan perusahaan-perusahaan lokal akan terhambat, dan pasar tenaga kerja akan sangat terganggu.
Jika perusahaan-perusahaan Amerika yang beroperasi di Indonesia diwajibkan untuk menerapkan standar gaji, standar perlindungan konsumen, standar pemeliharaan lingkungan, dan standar keselamatan kerja seperti di Amerika, maka tidak ada alasan untuk berinvestasi di Inonesa, sehingga pertimbangan perusahaan-perusahaan di Indonesia akan terhambat. Namun karena kebutuhan akan investasi dan teknologi asing inilah, banyak pemeriintah negara-negara kurang berkembangan yang menerapkan standar yang lebih longgar untuk bisa menerik investor dari luar negeri. Dengan demikian, jelas bahwa kondisi-kondisi lokal, khususnya kondisi perkembangan, perlu dipertimbangkan saat menentukan apakah suatu
64
perusahaan multi nasional perlu menerapkan standar dari negara yang lebih maju ke negara yang kurang maju, dan salah bila perusahaan multinasional harus menerapkan stndar ―yang lebih tinggi‖ dari negara maju di manapun mereka berada.
Sebagian orang menyatakan bahwa perusahaan multinasional haruslah mengikuti praktik-praktik lokal atau melakukan apapun yang diinginkan pemerintah lokal, karena pemerintah adalah representasi dari warga mereka.
Namun kerap kali tidak etis bila mengikuti praktik-paktik lokal atau persyaratan pemerintah setempat karena mungkin saja hal itu merugikan mereka. Standar lingkungan yang lebih tendah di Indonesia,misalnya membuka peluang lebih besar terjadinya polussi yang merugikan kesehatan atau bahkan bisa ,enewaskan orang- orang yang tingggal di sekitar pabrik/perusahaan, yang merupakan hal ini pelanggaran terhadap hak azasi manusia.
Dalam hal ini jelas bahwa perataturan pemerintah, kebiasaan, tingkat perkembangan, dan pemahaman budaya lokal semuanya harus dipertimbangkan oleh perusahaan saat mengevaluasi etika kebijakan dan tindakan bisnis di negara lain. Setatus quo lokal juga perlu dianalisis secara etis oleh manajet perusahaan multinasional.