• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor Yang Menentukan Terjadinya Interaksi Sosial

95 94

fikasi berguna untuk melengkapi system norma dan cita-cita. Dalam hubungan interaksi social, identifikasi merupakan proses yang men- dalam disbanding imitasi. Identifikasi dilakukan untuk mengikuti dan menerima jejak orang lain yang dianggap ideal bagi dirinya.

d. Faktor Simpati

Simpati adalah perasaan sepaham (setuju) yang dilanjutkan dengan perasaan tertarik seseorang terhadap sesuatu yang dialami orang lain yang timbul atas dasar penilaian perasaan atau emosi. Simpati merupakan perasaan “hanyut” untuk mengikuti apa yang dirasakan oleh orang lain. Perasaan ini umumnya diwujudkan dengan adanya pemberian bantuan baik moril maupun materiil dari orang yang simpati tersebut. Faktor simpati ini merupakan faktor penting dalam mendorong terjadinya interaksi social.

Faktor-Faktor Yang Menentukan Terjadinya

97 96

bila klien sudah tidak percaya dengan apa ynag disampaikan oleh pe- tugas kesehatan tersebut. Bagaimana klien percaya dokter atau perawat yang melarang merokok bila perawat atau dokter yang bertugas tersebut merokok ditempat kerja.

John C. Maxwell (2004) dalam bukunya “Leadership 101” menyebutkan tiga macam sifat yang dapat memupuk rasa percaya, yaitu kompetensi, koneksi dan karakter. Anda akan percaya kepada orang lain karena ke- mampuan yang dimilikinya dan mungkin anda akn mentolelir kesalah- annya karena kemampuan mereka lebih disbanding anda. Unsur koneksi juga dapat memupuk rasa percaya anda. Terkadang dengan dalih hu- bungan (koneksi) anda lebih mempercayai mereka dibanding yang lain meskipun yang disampaikan ke anda belum tentu benar. Orang akan le- bih percaya bila hubungan yang mereka lakukan telah berlangsung lama dan dekat. Faktor karakter merupakan faktor yang paling penting dalam menumbuhkan kepercayaaan. Karakter diartikan sebagai suatu cirri khu- sus seseorang, terutama wataknya, sehingga ia berbeda dengan orang lain. Anda akan lebih mepercayai kepada orang yang mempunyai ka- rakter baik meskipun terkadang membuat kesalahan karena seseorang yang mempunyai karakter baik umumnya mengakui kesalahan dengan jujur. Seseorang akan sulit percaya kepada mereka yang mempunyai ka- rakter tercela meskipun terkadang apa yang disampaikan itu benar.

Faktor lain yang dapat menumbuhkan rasa percaya sebagaimana disam- piakan Uripni C.L dkk (2004) adalah sikap menerima, empati, dan keju- juran.

2. Sikap Sportif

Sikap sportif adalah sikap yang mengurangi sikap melindungi diri (defen- sive) dalam komunikasi yang terjadi dalam interaksi social. Dengan kata lain bahwa sikap sportif adalah sikap yang dapat menerima, berempati, dan mempunyai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain. Sikap defensive akan sangat menggangu proses interaksi antar manusia kare- na sikap defensive lebih berorientasi pada kepentingan pribadi ketim- bang harus menerima dan berusaha memahami pesan orang lain. Jack R.

Hubungan Antar Manusia

97 96

Gibb (1961) mengemukakan adanya enam perilaku yang membedakan seseorang itu berada dalam iklim defensive atau iklim sportif.

a. Evaluasi Vs Diskripsi

Evaluasi adalah penilaian terhadap orang lain yang dapat berupa pujian atau kecaman. Seseorang akan merasa terancam bila dievalu- asi, hal inilah yang akan memimbulkan sikap defensive. Sedangkan deskripsi adalah penyampaian penjelasan tentang perasaan dan persepsi seseorang tanpa ada unsure penilaian. Mendeskripsikan seseorang tentang sesuatu merupakan bentuk penghargaan dan perhatian kepada mereka.

b. Kontrol Vs Orientasi Masalah

Perasaan terganggu dan tidak nyaman muncul ketika ada orang yang memantau atau mengawasi perilaku kita. Kita merasa tidak te- nang dan berusaha menghilangkan dan menentang sesorang yang mngontrol kehidupan kita. Sikap megontrol orang lain akan menye- babkan hubungan tidak jalan karena salah satu pihak merasa teran- cam otoritasnya. Orientasi masalah adalah upaya untuk memecah- kan masalah dengan mengkomunikasikan persoalan kepada orang lain untuk bekerjasama mencari pemecahannya. Dalam orientasi masalah kita tidak mendikte alternative yang kita tawarkan namun kita menawarkan, dan mengajak orang lain untuk bersama-sama mencari, menetapkan dan memutuskan cara yang paling tepat un- tuk mencapai tujuan bersama.

c. Strategi Vs Spontanitas

Strategi adalah cara yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain. Strategi ini biasanya digunakan melalui perencanaan khusus karena adanya maksud atau tujuan yang hendak dicapai. Seseorang akan menghindar, bersikap defensive dalam berkomunikasi bila mereka mengetahui kalau kita melakukan strategi dalam berkomu- nikasi. Sebaliknya, spontanitas menrupakan respon langsung, jujur dan bebas dari motif yang tersembunyi. Spontanitas menunujukkan

Hubungan Antar Manusia

99 98

karakter dan kejujuran seseorang. Mereka akan lebih membuka diri dalam berkomunikasi dengan orang seperti ini.

d. Netralitas Vs Empati

Netralitas berarti sikap impersonal, memperlakukan orang lain tidak sebagaimana mestinya, menunjukkan sikap acuh tak acuk, cuek, tidak meghiraukan perasan orang lain. Bila lawan komunikasi kita bersikap seperti itu, maka kita akan defensive untuk berhubungan dengan mereka. Sebaliknya empati merupakan sikap memahami orang lain, tidak secara emosional, menempatkan diri secara imaji- natif pada posisi orang lain, seakan-akan merasakan apa yang dira- sakan orang lain. Empati menimbulkan rasa percaya dan mengem- bangkan sikap sportif dalam berkomunikasi

Tabel 1. Perbedaan iklim defensif dan iklim suportif IKLIM

DEFENSIF

PROBLEM IKLIM

SUPORTIF Evaluasi Merasa dinilai meningkatkan sikap de-

fensive

Deskripsi

Kontrol Kita menentang seseorang yang men- coba mengontrol kita

Orientasi

Strategi Strategi dipersepsikan negative karena ada maksud tersembunyi

Spontanitas Netralitas Sikap kurang peduli terhadap pembi-

caraan orang lain akan menimbulkan sikap defensive

Empati

Superioritas Orang yang bertindak superior mem- bangkitkan perasaan defensive

Persamaan/

Kesederajatan Kepastian Sikap yang merasa “serba tahu dan

serba mampu” menimbulkan perasaan defensive bagi orang lain

Provinsialisme

Hubungan Antar Manusia

99 98

e. Superior Vs Persamaan

Sikap menunjukkan diri lebih tinggi karena status, kekuasaaan, ke- mampuan, kecerdasan, kekayaan, kecantikan atau sebagainya dis- banding orang lain merupakan sikap yang membatasi diri dari hu- bungan atau interaksi dengan orang lain. Sikap-sikap superior akan menimbulkan oranglain menutup diri (defensive), sebaliknya peng- akuan persamaan, tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain akan membuka kran komunikasi. Sikap tersebut dapat meningkat- kan harga diri dan menghilangkan perasaan rendah diri orang lain.

f. Kepastian Vs Provinsialisme

Di dunia ini tidak ada sesuatu yang bersifat pasti. Seseorang yang merasa memiliki kepastian umumnya bersifat dogmatis, ingin me- nang sendiri, dan menilai pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak bisa di ganggu gugat. Sebaliknya provinsialisme adalah kesediaan meninjau kembali pendapat orang lain hingga memun- culkan kesadaran bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Pen- dapatnya yang diyakininya bisa benar tapi juga bisa salah sehingga tidak menutup informasi yang disampaikan oleh orang lain.