BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.1 Gambaran Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa
b. Koefisien Pengaruh Problematic Internet Use Terhadap Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa
Hasil uji analisis data mengenai koefisien pengaruh problematic internet use terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa di Kota Makassar dapat dilihat dalam tabel dan uraian di bawah ini:
Total 4.8 Koefisien Regrsi Problematic Internet Use Terhadap Prokrastinasi Akademik
Variaabel Constant* B** Arah Pengaruh Problematic internet
use terhadap prokrastinasi akademik
59,085 0,337 Positif
Keterangan:
*Constant = Nilai konstanta
**B = Koefisien pengaruh
***Sig = Nilai signifikansi p < 0,05
Dari hasil analisis pada tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai konstantanya sebesar 59,085, nilai koefisien untuk problematic internet use sebesar 0,337 dengan arah positif, berarti semakin tinggi problematic internet use maka semakin tinggi prokrastinasi akademik.
Y = a +bx
Prokrastinasi akademik = 59,085+0,337 (problematic internet use)
perilaku prokrastinasi akademik pada mahasiswa di Kota Makassar bervariasi. Terdapat 6,8% responden yang masuk dalam kategori sangat tinggi, 22,0% responden yang masuk dalam kategori tinggi, 43,0% responden yang termasuk dalam kategori sedang, 22,0%
responden yang masuk dalam kategori rendah, dan 6,3% responden yang masuk dalam kategori sangat rendah.
Hasil data yang bervariasi terhadap perilaku prokrastinasi akademik juga sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Saman (2017) pada mahasiswa jurusan Psikologi pendidikan dan bimbingan fakultas ilmu pendidikan dengan hasil yang bervariasi yaitu tidak terdapat mahasiswa yang memiliki perilaku prokrastinasi akademik dalam kategori sangat tinggi, 25 mahasiswa (10,87%) pada kategori tinggi, 84 mahasiswa (36,52%) dalam kategori sedang, 99 mahasiswa (43,04%) dalam kategori rendah dan 22 mahasiswa (9,57%) dalam kategori sangat rendah.
Penelitian yang dilakukan oleh Santoso dan Haryanti (2020) yang juga memperoleh hasil penelitian yang bervariasi pada mahasiswa di Universitas 17 Agustus Surabaya yang aktif dalam organisasi yaitu terdapat 17 mahasiswa pada kategori tinggi (13,4%), 94 mahasiswa pada kategori sedang (74%), dan 16 mahasiswa pada kategori rendah (12,6). Hasil penelitian yang bervariasi juga diperoleh oleh Muyana (2018) pada mahasiswa program studi bimbingan dan konseling dengan persentase yang diperoleh yaitu terdapat 3 mahasiswa dalam
kategori sangat tinggi (6%), 161 mahasiswa dalam kategori tinggi (81%), 65 mahasiswa dalam kategori rendah (13%), dan tidak terdapat mahasiswa dalam kategori sangat rendah.
Kebervariasian hasil penelitian mengenai perilaku prokrastinasi akademik dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
Suparman, dkk (2020) mengemukakan bahwa faktor internal memiliki potensi yang lebih besar untuk menimbulkan perilaku penundaan. Tetapi, dengan dukungan faktor eksternal seseorang akan berperilaku prokrastinasi akademik, hal ini dikarenakan tuntutan yang tidak dapat diatasi sehingga membuat seseorang cenderung melakukan prokrastinasi akademik. Berdasarkan data awal yang telah dilakukan bahwa responden menunda tugas karena melakukan aktivitas lain, tugas yang sulit, dan teman-teman mereka sangat mempengaruhi mereka dalam melakukan penundaan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kuswandi (2009) yaitu menunjukkan bahwa penyebab utama mahasiswa melakukan penundaan dalam menyelesaikan skripri yaitu faktor eksternal seperti kontrol lingkungan yang rendah, banyak tugas, kurang informasi tentang tugas dan kurang fasilitas, sedangkan faktor internal yaitu locus of control external.
Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Pratitis dan Suhadianto (2019) menunjukkan hasil bahwa penyebab mahasiswa
dosen yang memberikan tugas yang terlalu banyak, lingkungan akademik seperti teman yang suka menunda-nunda tugas dan teman yang kurang bisa bekerja sama dan kurangnya referensi. Sedangkan faktor internal seperti persepsi terhadap tugas, perasaan cemas dan stres, keterampilan diri seperti manajemen waktu yang rendah serta kelelahan juga menjadi salah satu faktor internal.
Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Fauziah (2015) yang dimana hasil penelitiannya yaitu bahwa penyebab utama mahasiswa melakukan prokrastinasi akademik dominan disebabkan oleh faktor eksternal yaitu seperti tingkat kesulitan tugas yang diberikan, kurang referensi, tidak ada fasilitas untuk mengerjakan tugas seperti laptop rusak, tidak ada jaringan internet, kuota habis, jangka waktu pengumpulan tugas yang lama, sehingga mahasiswa terlalu santai untuk mengerjakannya, saling mengandalkan teman untuk mengerjakan tugas, hal ini dilakukan apabila tugasnya dirasa sulit, kesibukan diluar kampus, dan banyak tugas yang menumpuk untuk diselesaikan. Sedangkan faktor internal yaitu faktor fisik seperti mahasiswa merasa lelah, ngantuk karena berbagai aktivitas yang dilakukan di kampus maupun diluar kampus sehingga saat akan mengerjakan tugas mahasiswa lebih memilih istirahat.
Dari ketiga jurnal yang telah dipaparkan bahwa prokrastinasi akademik lebih dominan dipengaruhi oleh faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar dirinya tetapi lebih mengarah ke
lingkungan seperti tingkat kesulitan tugas, referensi yang kurang, jangka waktu pengumpulan tugas yang lama dan saling mengandalkan teman. Hal-hal seperti ini yang akan membuat seseorang untuk melakukan perilaku penundaan dalam menyelesaikan suatu tugas, jika seseorang tersebut merasa tugasnya sulit serta kurangnya referensi maka seseorang tersebut terkadang akan menunda untuk memulai ataupun menyelesaikan tugasnya, ketika seseorang juga merasa jika pengumpulan tugas masih lama, maka ia akan menunda untuk mengerjakannya karena merasa masih banyak waktu di hari-hari lain.
Faktor kedua yang mempengaruhi prokrastinasi akademik yaitu regulasi diri. Regulasi diri pada mahasiswa dapat digambarkan melalui tingkatan ataupun derajat yang mencakup keaktifan dalam berpartisipasi yaitu baik secara metakognisi, motivasional, maupun perilaku dalam proses belajar, jika seseorang kehilangan strategi dalam regulasi diri maka akan mengakibatkan proses belajar seseorang serta performa seseorang menjadi lebih buruk (Zimmerman, 1989).
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wulan dan Ardina (2016) bahwa terdapat pengaruh yang bersifat negatif yang signifikan antara regulasi diri terhadap prokrastinasi akademik dengan sumbangan efektif yang diberikan sebesar 29,3%. Penelitian
terdapat pengaruh yang bersifat negatif yang signifikan antara regulasi diri terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa dengan sumbangan efektif yang diberikan sebesar 55,1%. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Fitriya dan lukmawati (2016) bahwa terdapat pengaruh yang bersifat negatif yang signifikan pada mahasiswa dengan sumbangan efektif yang diberikan sebesar 75,5%.
Dari ketiga jurnal diatas yang telah dipaparkan bahwa regulasi diri mempengaruhi prokrastinasi akademik, semakin tinggi regulasi diri yang dimiliki seseorang, maka semakin baik kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya untuk tidak melakukan prokrastinasi akademik, begitupun sebaliknya semakin rendah regulasi diri yang dimiliki seseorang maka kemampuan yang dimilikinya untuk mengatur dirinya agar tidak melakukan prokrastinasi akademik semakin rendah.
Faktor ketiga yang mempengaruhi prokrastinasi akademik yaitu self efficacy. Bandura (1997) mengemukakan bahwa self efficacy merupakan keyakinan mahasiswa mengenai kemampuannya dalam menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaannya. Berdasarkan data awal yaitu responden akan mengerjakan tugas ketika mendekati deadline dan apabila tugasnya tidak selesai maka ia tidak akan menghadiri perkuliahan, responden juga menunggu temannya selesai mengerjakan tugas karena ingin mencontoh tugas dari teman mereka.
Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sudiantara dan Dewi (2015) bahwa terdapat pengaruh yang bersifat negatif yang signifikan antara self efficacy terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa dengan sumbangan efektif yang diberikan sebesar 18,4%. Penelitian lain yang dilakukan oleh Mariskha, Umaroh, dan Wulandari (2020) bahwa terdapat pengaruh yang bersifat negatif yang signifikan antara self efficacy terhadap prokrastinasi akademik pada dengan sumbangan efektif sebesar 24,9%. Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Laily dan Zannah (2019) yaitu terdapat pengaruh yang bersifat negatif yang signifikan antara self efficacy terhadap prokrastinasi akademik pada mahasiswa dengan sumbangan efektif sebesar 93%.
Dari hasil uraian diatas mengenai ketiga jurnal dengan hasil penelitian yang bersifat negatif yang signifikan antara self efficacy terhadap prokrastinasi akademik. Semakin tinggi keyakinan seseorang dengan kemampuan yang dimilikinya dalam menyelesaikan sesuatu maka semakin rendah kemungkinan untuk melakukan prokrastinasi akademik. Begitupun sebaliknya, semakin rendah keyakinan seseorang mengenai kemampuannya maka semakin tinggi pula kemungkinan seseorang untuk melakukan prokrastinasi akademik.
Dari hasil data yang diperoleh terdapat beberapa responden yang
disebabkan karena responden tersebut tidak mampu untuk memulai ataupun menyelesaikan sesuatu, serta melakukan aktivitas lain yang tidak penting dibandingankan untuk memulai ataupun menyelesaikan tugas yang ada, dan menyalahkan orang lain akibat dari penundaan yang dilakukannya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya skor yang diperoleh dari aspek prokrastinasi akademik yang diperoleh dalam penelitian ini. Penundaan yang dilakukan yang tergolong sangat tinggi ini dilakukan dengan ada ataupun tidak adanya alasan dalam menunda memulai maupun menyelesaikan tugas, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Tuckman (1990) bahwa individu kecenderungan untuk menunda dalam mengerjakan tugas akademik dengan melakukan aktivitas-aktivitas lainnya yang tidak penting, serta individu sering melewati batas waktu dalam mengerjakan tugas.
Lay dan Schouwenburg (1993) juga mengemukakan bahwa individu yang menunda dalam mengerjakan atau menyelesaikan tugas dengan melakukan beberapa aktivitas lain yang sebenarnya tidak perlu untuk dilakukan, dan akan mengerjakan atau menyelesaikan tugas ketika mendekati tenggat waktu, yang akan menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman muncul karena mengerjakan sesuatu yang penting ketika mendekati tenggat waktu.
Selain itu, terdapat pula responden yang masuk dalam kategori sangat rendah dengan persentase 6,3%. Hal ini disebabkan karena responden tersebut mampu untuk memulai ataupun menyelesaikan tugas yang ada, serta langsung mengerjakan tugas dan menyelesaikannya dibandingkan dengan melakukan aktivitas lain yang tidak penting, serta tidak menyalahkan orang atas penundaan yang dilakukan. Hal ini dapat terlihat dari rendahnya skor yang dimiliki dari aspek prokrastinasi akademik dalam penelitian ini.