• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.8 Prosedur Penelitian

dipertanggungjawabkan, hipotesis dapat diuji kebenarannya dan kesimpulan penelitian dapat menolak atau menerima hipotesis (Ismail, 2018). Dalam penelitian ini, peneliti ini menggunakan model regresi linear sederhana.

Model regresi linear sederhana merupakan model probabilistik yang menyatakan hubungan linear antara dua variabel di mana salah satu variabel dianggap memengaruhi variabel yang lain. Variabel yang mempengaruhi dinamakan independen dan variabel yang dipengaruhi dinamakan variabel dependen (Suyono, 2018).

Berdasarkan uraian tersebut, maka dugaan sementara atau hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

Ho: Tidak Ada pengaruh antara problematic internet use dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa di Kota Makassar.

Ha: Ada pengaruh antara problematic internet use dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa di Kota Makassar.

Peneliti kemudian menyusun guidline wawancara kemudian peneliti mengambil data awal pada 10 mahasiswa yang berasal dari universitas negeri maupun universitas swasta yang berada di Kota Makassar.

Selanjutnya, peneliti menentukan instrumen penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala prokrastinasi akademik yang dibuat oleh Nurul Fany berdasarkan dasar teori Tuckman (1991) dan skala problematic internet use berdasarkan dasar teori Caplan (2010).

Skala prokrastinasi akademik pada penelitian ini yaitu skala siap pakai dan langsung disebar kepada responden penelitian. Sebelum peneliti memutuskan untuk langsung menggunakan skala prokrastinasi akademik yang di buat oleh Nurul Fany, peneliti melakukan telaah mengenai proses bagaimana skala tersebut disusun. Hasil telaah peneliti bahwa skala tersebut sesuai dengan karakteristik responden, dasar teori yang digunakan, dan memiliki properti psikometrik yang dapat dipercaya. Reliabilitas skala tersebut 0,842, dan validitas skala tersebut di uji dengan menggunakan isi dan konstrak. Oleh karena itu peneliti memutuskan untuk menggunakan skala prokrastinasi akademik yang di susun oleh Nurul Fany secara langsung, peneliti hanya melakukan uji tampang sebelum menyebarkannya.

Pada skala problematic internet use yaitu skala yang di adaptasi oleh peneliti jadi, sebelum menggunakan skala ini peneliti terlebih dahulu

reliabilitas. Tahap selanjutnya, peneliti memperlihatkan skala yang akan digunakan kepada kedua pembimbing dan meminta arahan 3 subject matter expert untuk memberikan penilaian pada skala yang ada. Proses expert review berlangsung selama 1 minggu yang dilanjutkan dengan melakukan revisi kembali berdasarkan arahan dari ke-3 subject matter expert.

Pada tahap selanjutnya peneliti menyusun skala siap sebar dan skala yang telah di revisi kembali berdasarkan arahan dari ke-3 subject matter expert. Skala tersebut disusun untuk dilakukan uji validitas tampang.

Tetapi, peneliti terlebih dahulu memperlihatkan skala yang telah disusun dengan rapi kepada kedua pembimbing, setelah kedua pembimbing setuju dengan skala tersebut, maka peneliti akan memberikan skala tersebut kepada 5 orang mahasiswa yang sesuai dengan kriteria dalm penelitian ini.

Pada uji validitas tampang ini ke-5 mahasiswa tersebut diminta untuk mengisi format validitas tampang yang mencakup tampilan skala secara keseluruhan, pengantar atau lembar pengenalan, font yang digunakan, model pencetakan skala, instruksi pengisian lembar biodata, dan instruksi pengisian skala. Hasil uji validitas tampang akan direvisi kembali oleh peneliti berdasarkan saran dari ke-5 mahasiswa. Kemudian setelah skala direvisi, peneliti memperlihatkan kembali skala tersebut kepada kedua pembimbing. Selanjutnya setelah mendapatkan persetujuan dari kedua pembimbing maka skala tersebut siap di sebar.

2. Tahap Pelaksanaan

Tahap ini dimulai ketika peneliti telah mendapatkan persetujuan dari kedua pembimbing untuk turun lapangan mengambil data penelitian.

Peneliti mulai mengambil data dengan cara menyebarkan skala yaitu menyebarkan skala online dengan membagikan link google form yang telah peneliti buat sebelumnya ke subjek penelitian yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian, serta meminta bantuan teman-teman peneliti untuk menyebarkan link google form di media sosial maupun di grup-grup dan peneliti juga menyebarkan skala offline. Proses pengambilan data dilakukan selama kurang lebih satu bulan.

3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data

Tahap selanjutnya yaitu peneliti mengolah data yang telah didapatkan sebelumnya. Peneliti terlebih dahulu menginput semua data yang telah disebar melalui skala offline dan online. Lalu, peneliti melakukan pembersihan data yaitu menghapus data yang tidak sesuai dengan karakteristik subjek penelitian serta menghapus data jika ada yang telah mengisi secara offline lalu mengisi skala online juga, hal ini di lakukan agar tidak ada data yang kembar. Setelah itu peneliti melanjutkan dengan skoring data penelitian.

Pada tahap selanjutnya setelah melakukan skoring, kemudian peneliti melakukan uji validitas konstrak dengan menggunakan bantuan program aplikasi LISREL (linier structural relation) dan reliabilitas skala dengan

analisis data dengan menggunakan bantuan program SPSS 25. Setelah itu, peneliti menyusun laporan dengan menginterpretasikan data tersebut dan memberikan kesimpulan terkait penelitian yang telah dilakukan.

Tabel 3.5 Jadwal pelaksanaan penelitian

Kegiatan April Mei Juni Juli Agustus

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Penyusunan

proposal Penyusunan Skala Uji Instrumen Pengambilan Data

Menginput Data Penyusunan Laporan Penelitian

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Analisis

4.1.1 Deskriptif Responden Berdasarkan Demografi

Responden pada penelitian ini merupakan mahasiswa aktif dalam perkuliahan di Kota Makassar yang berusia 18-25 tahun. Adapun jumlah responden pada penelitian ini yaitu sebanyak 400 responden.

Berikut gambaran umum berdasarkan demografi responden:

1. Jenis Kelamin

Gambar 4.1 Diagram Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil tabel diagram batang di atas yang telah diperoleh berdasarkan jenis kelamin, diketahui bahwa jumlah responden secara keseluruhan sebanyak 400 responden. Responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 129 responden, dengan persentasi 32,3%. Selanjutnya responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 271 responden, dengan persentasi 67,8%.

129

271

Laki-Laki Perempuan

2. Usia

Gambar 4.2 Diagram Subjek Berdasarkan Usia

Berdasarkan hasil tabel diagram batang diatas yang telah diperoleh berdasarkan usia responden, dapat diketahui bahwa diantara 400 responden, 196 diantaranya berusia 18 sampai 20 tahun (49,0%), 154 diantaranya berusia 21 sampai 22 tahun (38,5%), dan 50 diantaranya berusia 23 sampai 25 tahun (12,5%).

3. Suku

Gambar 4.3 Subjek Diagram Berdasarkan Suku

Berdasarkan hasil tabel diagram batang diatas yang telah diperoleh berdasarkan suku responden, dapat diketahui bahwa diantara 400 responden, 103 diantaranya berasal dari suku

196

154

50

18-20 21-22 23-25

103

175

51

7

64

Makassar Bugis Toraja Mandar Lainnya

Makassar (25,8%), 175 diantaranya berasal dari suku Bugis (43,8%), 51 diantaranya berasal dari suku Toraja (12,8%), 7 diantaranya berasal dari suku Mandar (1,8%), dan 64 di antaranya berasal dari suku lainnya (16,0%).

4. Perguruan Tinggi

Gambar 4.4 Diagram Subjek Berdasarkan Perguruan Tinggi

Berdasarkan hasil tabel diagram batang diatas yang telah diperoleh berdasarkan asal perguruan tinggi responden, dapat diketahui bahwa diantara 400 responden, 293 diantaranya berasal dari Universitas Swasta (73,3%), dan 107 diantaranya berasal dari Universitas Negeri (28,6%).

5. Rata-Rata Penggunaan Internet Per-Hari

Gambar 4.5 Diagram Subjek Berdasarkan Rata-Rata Penggunaan Internet Per-Hari

293

107

Universitas Swasta Universitas Negeri

184 208

8 4-8 Jam/hari 9-15 Jam/hari 16-20 Jam/hari

Berdasarkan hasil tabel diagram batang diatas yang telah diperoleh berdasarkan rata-rata penggunaan internet perhari responden, dapat diketahui bahwa diantara 400 responden, 184 diantaranya menggunakan internet selama 4 sampai 8 jam/hari (46,0%), 208 diantaranya menggunakan internet selama 9 sampai 15 jam/hari (52,0%), dan 8 diantaranya menggunakan internet selama 16-20 jam/hari (2,0%).

4.1.2 Deskriptif Variabel Berdasarkan Tingkat Skor 1. Prokrastinasi Akademik

Berikut merupakan tabel rangkuman statistik tingkat skor prokrastinasi akademik dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel dan IBM SPSS Statistic 25:

Tabel 4.1 Hasil Analisis Data Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Distribusi

skor N Minimum Maximum Mean Std.

Deviation Prokrastinasi

Akademik 400 56 90 75,80 6,564

Berdasarkan hasil analisis data deskriptif dengan menggunakan bantuan program analisis data SPSS25 pada skala prokrastinasi akademik yang terdiri dari 20 aitem terhadap 400 responden yang merupakan mahasiswa di Kota Makassar, diperoleh distribusi skor yang bervariasi. Diperoleh nilai minimum atau nilai terendah dalam skor prokrastinasi akademik yaitu 56 dan nilai maximum atau nilai tertinggi yaitu 90. Adapun rata-rata skor prokrastinasi akademik pada penelitian ini yaitu 75,80 dan nilai standard deviasi yaitu sebesar 6,564.

Tabel 4.2 Kategorisasi Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Kategorisasi

Penormaan Rumus Kategorisasi Hasil Kategorisasi Sangat Tinggi x > ( ̅+ 1,5 SD) X > 85,64038 Tinggi ( ̅+0,5 SD)<x ≤( ̅ +1,5 SD) 79,07679<x ≤ 85,64038 Sedang ( ̅–0,5 SD)<x ≤( ̅ +0,5 SD) 72,51321≤x<79,07679 Rendah ( ̅–1,5 SD)<x ≤( ̅ +0,5 SD) 65,94962≤x<72,51321 Sangat Rendah x < ( ̅ – 1,5 SD) X < 65,94962

Adapun distribusi kategorisasi tingkat skor skala prokrastinasi akademik adalah sebagai berikut:

Gambar 4.6 Diagram Tingkat Prokrastinasi Akademik Pada mahasiswa

Berdasarkan hasil tabel diagram batang di atas mengenai gambaran tingkat skor prokrastinasi akademik dapat dilihat bahwa tingkat prokrastinasi akademik pada responden bervariasi, terdapat 6,8 % atau sebanyak 27 responden yang masuk dalam kategori sangat tinggi, terdapat 22,0% atau 88 responden yang masuk dalam kategori tinggi, terdapat 43,0% atau 172 responden yang masuk dalam kategori sedang, terdapat 22,0% atau 88 responden pada kategori rendah, dan 6,3% atau 25 responden yang masuk dalam kategori sangat rendah.

27

88

172

88

25

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

2. Problematic Internet Use

Berikut merupakan tabel rangkuman statistik tingkat skor prokrastinasi akademik dengan menggunakan aplikasi Microsoft Excel dan IBM SPSS Statistic 25:

Tabel 4.3 Hasil Analisis Data Problematic Internet Use Pada Mahasiswa Distribusi

skor N Minimum Maximum Mean Std.

Deviation Problematic

Internet Use 400 27 65 49,52 7,020

Berdasarkan hasil analisis data deskriptif dengan menggunakan bantuan program analisis data SPSS25 pada skala problematic internet use yang terdiri dari 13 aitem terhadap 400 responden yang merupakan mahasiswa di Kota Makassar, diperoleh distribusi skor yang bervariasi. Diperoleh nilai minimum atau nilai terendah dalam skor problematic internet use yaitu 27 dan nilai maximum atau nilai tertinggi yaitu 65. Adapun rata-rata skor problematic internet use pada penelitian ini yaitu 49,52 dan nilai standard deviasi yaitu sebesar 7,020.

Tabel 4.4 Kategorisasi Problematic Internet Use Pada Mahasiswa Kategorisasi

Penormaan Rumus Kategorisasi Hasil Kategorisasi Sangat Tinggi x > ( ̅+ 1,5 SD) X > 60,04528 Tinggi ( ̅+0,5 SD)<x ≤( ̅ +1,5 SD) 53,02509<x ≤ 60,04528 Sedang ( ̅–0,5 SD)<x ≤( ̅ +0,5 SD) 46,00491≤x<53,02509 Rendah ( ̅–1,5 SD)<x ≤( ̅ +0,5 SD) 38,98472≤x<46,00491 Sangat Rendah x < ( ̅ – 1,5 SD) X < 38,98472

Adapun distirbusi kategorisasi tingkat skor skala problematic internet use adalah sebagai berikut:

Gambar 4.7 Diagram Tingkat Problematic Internet Use Pada mahasiswa Berdasarkan hasil tabel diagram batang di atas mengenai gambaran tingkat skor problematic internet use dapat dilihat bahwa tingkat problematic internet use pada responden bervariasi, terdapat 3,3% atau sebanyak 13 responden yang masuk dalam kategori sangat tinggi, terdapat 27,5% atau 110 responden yang masuk dalam kategori tinggi, terdapat 38,5% atau 154 responden yang masuk dalam kategori sedang, terdapat 7,2% atau 94 responden pada kategori rendah, dan 7,2% atau 29 responden yang masuk dalam kategori sangat rendah.

13

110

154

94

29

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

4.1.3 Deskriptif Variabel Berdasarkan Demografi 1. Deskriptif Variabel Prokrastinasi Akademik

a. Deskriptif Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin

Gambar 4.8 Diagram Prokrastinasi Akademik Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil tabel diagram di atas mengenai tingkat skor prokrastinasi akademik berdasarkan jenis kelamin maka dapat diketahui bahwa dari 400 responden, 12 responden laki-laki berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 35 responden laki-laki berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 62 responden laki-laki berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 15 responden laki-laki berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 5 responden laki-laki berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

12

35

62

15 5

15

53

110

73

20

Sangat Tinggi

Tinggi Sedang Rendah Sangat

Rendah Jenis Kelamin Laki-Laki Jenis Kelamin Perempuan

Selain itu juga dapat diketahui bahwa 15 responden perempuan berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 53 responden perempuan berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 110 responden perempuan berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 73 responden perempuan berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 20 responden perempuan berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

b. Deskriptif Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Berdasarkan Usia

Gambar 4.9 Diagram Prokrastinasi Akademik Berdasarkan Usia Berdasarkan hasil tabel diagram di atas mengenai tingkat skor prokrastinasi akademik berdasarkan jenis kelamin maka dapat diketahui bahwa dari 400 responden, 47 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 76 responden

47

76

46

17

196

35

66

34

5

154

6 30

8 3

50

Sangat Tinggi

Tinggi Sedang Rendah Sangat

Rendah 18-20 tahun 21-22 tahun 23-25 tahun

prokrastinasi akademik yang tinggi, 46 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 17 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 196 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

Terdapat 35 responden dengan usia 21-22 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 66 responden dengan usia 21-22 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 34 responden dengan usia 21-22 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 5 responden dengan usia 21-22 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 154 responden dengan usia 21-22 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

Selain itu, dari 400 responden terdapat 6 responden dengan usia 23-25 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 30 responden dengan usia 23-25 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 8 responden dengan usia 23-25 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 3 responden dengan usia 23-25 tahun berada

pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 50 responden dengan usia 23-25 tahun berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

c. Deskriptif Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Berdasarkan Asal Suku

Gambar 4.10 Diagram Prokrastinasi Akademik Berdasarkan Asal Suku

Berdasarkan hasil tabel diagram di atas mengenai tingkat skor prokrastinasi akademik berdasarkan asal suku maka dapat diketahui bahwa dari 400 responden, 4 responden berasal dari suku Makassar yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 16 responden berasal dari suku Makassar yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 56 responden berasal dari suku Makassar yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 21 responden berasal dari suku Makassar yang berada pada tingkat skor

4

16

56

21

6 18

43

63

37

14 2

14 21

12

0 1 6 2

0 0

3

14

26 18

3 Sangat

Tinggi

Tinggi Sedang Rendah Sangat

Rendah Makassar Bugis Toraja Mandar Lainnya

dari suku Makassar yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

Terdapat 18 responden berasal dari suku Bugis yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 43 responden berasal dari suku Bugis yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 63 responden berasal dari suku Bugis yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 37 responden berasal dari suku Bugis yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 14 responden berasal dari suku Bugis yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

Terdapat 2 responden berasal dari suku Toraja yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 14 responden berasal dari suku Toraja yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 21 responden berasal dari suku Toraja yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 12 responden berasal dari suku Toraja yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 2 responden berasal dari suku Toraja yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

Selain itu, dari 400 responden tidak terdapat responden berasal dari suku Mandar pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 1 responden berasal dari suku Mandar yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 6 responden berasal dari suku Mandar yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, dan tidak terdapat satupun responden berasal dari suku Mandar yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan sangat rendah.

Terdapat pula 3 responden berasal dari suku lainnya yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 14 responden berasal dari suku lainnya yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 26 responden berasal dari suku lainnya yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 18 responden berasal dari suku lainnya yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 3 responden berasal dari suku lainnya yang berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

d. Deskriptif Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Berdasarkan Perguruan Tinggi

Gambar 4.11 Diagram Prokrastinasi Akademik Berdasarkan Perguruan Tinggi

Berdasarkan hasil tabel diagram di atas mengenai tingkat skor prokrastinasi akademik berdasarkan asal perguruan tinggi responden maka dapat diketahui bahwa dari 400 responden, 20 responden berasal dari Universitas Swasta berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 62 responden berasal dari Universitas Swasta berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 125 responden berasal dari Universitas Swasta berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 67 responden berasal dari Universitas Swasta berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 19 responden berasal dari Universitas Swasta berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

20

62

125

67 7 19

26

47

21 6

Sangat Tinggi

Tinggi Sedang Rendah Sangat

Rendah Universitas Swasta Universitas Negeri

Selain itu, dari 400 responden terdapat 7 responden berasal dari Universitas Negeri berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 26 responden berasal dari Universitas Negeri berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 47 responden berasal dari Universitas Negeri berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 21 responden berasal dari Universitas Negeri berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 6 responden berasal dari Universitas Negeri berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

e. Deskriptif Prokrastinasi Akademik Pada Mahasiswa Berdasarkan Rata-Rata Penggunaan Internet Per-Hari

Gambar 4.12 Diagram Prokrastinasi Akademik Berdasarkan Rata- Rata Penggunaan Internet Per-Hari

Berdasarkan hasil tabel diagram di atas mengenai tingkat skor prokrastinasi akademik berdasarkan rata-rata

14

33

66

51 13 20

54

102

34

0 1 4 3 5 0

Sangat Tinggi

Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah 4-8 Jam/hari 9-15 Jam/hari 16-20 Jam/hari

bahwa dari 400 responden, 14 responden menggunakan internet selama 4-8 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 33 responden menggunakan internet selama 4-8 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 66 responden menggunakan internet selama 4-8 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 51 responden menggunakan internet selama 4-8 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 20 responden menggunakan internet selama 4-8 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

Terdapat 13 responden menggunakan internet selama 9-15 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 54 responden menggunakan internet selama 9-15 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 102 responden menggunakan internet selama 9-15 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 34 responden menggunakan internet selama 9-15 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan 5 responden menggunakan internet selama 9-15 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

Selain itu, dari 400 responden tidak terdapat responden menggunakan internet selama 16-20 jam/hari pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat tinggi, 1 responden menggunakan internet selama 16-20 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang tinggi, 4 responden menggunakan internet selama 16-20 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sedang, 3 responden menggunakan internet selama 16-20 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang rendah dan tidak terdapat responden menggunakan internet selama 16-20 jam/hari berada pada tingkat skor prokrastinasi akademik yang sangat rendah.

2. Deskriptif Variabel Problematic Internet Use

a. Deskriptif Problematic Internet Use Pada Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin

Gambar 4.13 Diagram Problematic Internet Use Berdasarkan Jenis Kelamin

6

54 42

17 10

7

56

112

77

19

Sangat Tinggi

Tinggi Sedang Rendah Sangat

Rendah Laki-Laki Perempuan

Berdasarkan hasil tabel diagram di atas mengenai tingkat skor problematic internet use berdasarkan jenis kelamin maka dapat diketahui bahwa dari 400 responden, 6 responden laki-laki berada pada tingkat skor problematic internet use yang sangat tinggi, 54 responden laki-laki berada pada tingkat skor problematic internet use yang tinggi, 42 responden laki-laki berada pada tingkat skor problematic internet use yang sedang, 17 responden laki-laki berada pada tingkat skor problematic internet use yang rendah dan 10 responden laki-laki berada pada tingkat skor problematic internet use yang sangat rendah.

Selain itu juga dapat diketahui bahwa 7 responden perempuan berada pada tingkat skor problematic internet use yang sangat tinggi, 56 responden perempuan berada pada tingkat skor problematic internet use yang tinggi, 112 responden perempuan berada pada tingkat skor problematic internet use yang sedang, 77 responden perempuan berada pada tingkat skor problematic internet use yang rendah dan 19 responden perempuan berada pada tingkat skor problematic internet use yang sangat rendah.

b. Deskriptif Problematic Internet Use Pada Mahasiswa Berdasarkan Usia

Gambar 4.14 Diagram Problematic Internet Use Berdasarkan Usia Berdasarkan hasil tabel diagram di atas mengenai tingkat skor problematic internet use berdasarkan jenis kelamin maka dapat diketahui bahwa dari 400 responden, 6 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor problematic internet use yang sangat tinggi, 47 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor problematic internet use yang tinggi, 82 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor problematic internet use yang sedang, 52 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor problematic internet use yang rendah dan 9 responden dengan usia 18-20 tahun berada pada tingkat skor problematic internet use yang sangat rendah.

6

47

82

52

6 9

43

56

34

15 1

20 16

8 5

Sangat Tinggi

Tinggi Sedang Rendah Sangat

Rendah 18-20 21-22 23-25