• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDAYA LOKAL

3.3. GAMBARAN UMUM WILAYAH PEMANGKUAN KPH CEPU

li 4. penolakan kerja paksa/rodi

Samin Surosentiko juga memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang dalam Serat Pikukuh Kasajaten, yaitu sebuah Negara akan terkenal dan disegani orang serta dapat digunakan sebagai tempat berlindung rakyatnya apabila para warganya selalu memperhatikan ilmu pengetahuan dan hidup dalam perdamaian.

lii

mengurusi hutan tidak hanya di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora semata tetapi juga pada beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Gambar di bawah ini adalah peta dari kabupaten Blora dimana didalamnya terdapat delapan wilayah pemangkuan hutan perhutani Cepu:

Hutan Jati di KPH ini berada pada diketinggian 25-250 m diatas permukaan laut, dengan suhu udara 220- 340C. Pimpinan KPH disebut Administratur, yang memimpin dibawah koordinasi Perum Perhutani unit I Jawa Tengah.

Obyek wisata geologi adalah merupakan wisata alam atau kegiatan wisata dibidang ilmu kebumian dengan obyek berupa lokasi yang berkaitan erat hasil proses geologi yang terkandung dan tersimpan didalam alam antara lain Geologi Wisata yang berhubungan dengan minyak dan gas bumi. Wisata Geologi ini kebanyakan berada di perbukitan dan ditengah-tengah kawasan hutan jati yang lebat yang berada diwilayah Kabupaten Blora, dan sekitarnya, namun sangat mudah dijangkau baik dangan kendaraan roda dua ataupun dengan roda empat.

Wilayah yang menjadi bagian dari KPH Cepu dalam wilayah administratif kabupaten Blora:

· Kec. Blora

· Kec. Bogorejo

· Kec. Jiken

· Kec. Jepon

· Kec. Banjarejo

· Kec. Sambong

· Kec. Kedungtuban

· Kec. Cepu

Gambar 5. Peta Kabupaten Blora

Sumber: KPU Jateng

liii

Sumur minyak dan gas bumi di wilayah Kabupaten Blora yang pertama kali di ketemukan oleh BPM pada tahun 1890, jumlah sumur + 648 buah, 112 buah sumur diantaranya dapat memproduksi minyak diantaranya + 16.550.790 m2, sedangkan ladang gas bumi yang berada di wilayah Cepu ; berada di Balun dan Tobo. Adapun disekian banyak sumur minyak yang di ketemukan baik di wilayah Kabupaten Blora sendiri atau disekitarnya, terdapat sumur minyak tua yang ditambang secara tradisional oleh masyarakat setempat dengan menggunakan tali dan timba yang ditarik + sejumlah 15 orang diwilayah Wonocolo, tetapi masih masuk dikawasan hutan jati KPH Cepu Kabupaten Blora. Karena pada umumnya kawasan lokasinya berada di perbukitan dan ditengah kawasan hutan hal ini sangat menarik, unik dan menawan, sehingga banyak dikunjungi baik Wisatawan Nusantara maupun Mancanegara.

Pengelolaan hutan jati di KPH Cepu juga dibantu oleh adanya LMDH atau lembaga masyarakat desa hutan. Sebuah lembaga yang berfungsi untuk mengatur dan mengelola hutan baik dalam hasil hutan maupun sumber daya manusia di masyarakat desa dimana LMDH itu berada. LMDH menjadi mitra Perhutani dalam melaksanakan program PHBM (pengelolaan hutan bersama masyarakat).

BAB IV

liv

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. INTERAKSI MASYARAKAT DESA HUTAN

Langkah pertama yang dilakukan peneliti adalah menentukan informan.

Peneliti menggunakan langkah-langkah yang dilakukan oleh James Spradley.

Spradley menjelaskan bahwa terdapat dua belas langkah dalam metode etnografi, dan langkah pertama adalah menentukan informan.

Penetapan informan didasarkan pada pertimbangan etika suatu penelitian.

Informan yang penulis pilih untuk pertama kali adalah dari pihak Kesatuan Pemangkuan Hutan(KPH) Cepu. Selain untuk meminta informan dari KPH Cepu, peneliti juga melakukan perkenalan sekaligus ijin melakukan penelitian. Menurut Bogdan (1993:66), Perkenalan secara terbuka ini penting. Dengan ini peneliti akan dapat bergerak secara leluasa dalam ‘memburu’ informasi yang dibutuhkan, serta memperoleh kemudahan dari organisasi atau kelompok-kelompok di masyarakat, dan dalam menjelaskan tujuan penelitian cukup sekedar penjelasan umum, berkatalah yang sebenarnya pada saat permulaan penelitian(Bogdan 1993: 72-73).

Penulis merasa bersyukur dengan kemudahan perkenalan karena memang pernah berinteraksi selama 1,5 bulan ketika menjalani masa magang pada LSM SUPHEL dengan lokasi yang sama. Pihak Perhutani yang penulis temui adalah, bapak Eko Teguh Prasetyo, supervisor lapangan KPH Cepu yang lebih dikenal sebagai KSS PHBM(Kepala Sub Seksi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat). Nama KSS PHBM dimaksudkan agar lebih menuansakan kesamaan derajat atau lebih merakyat.

Pak Eko menyarankan kepada penulis agar menghubungi Mas Agus staf beliau yang mempunyai kelebihan merupakan warga asli Blora dan lebih mengenal lapangan karena dialah yang paling sering terjun ke lapangan. Mas Agus inilah yang penulis tetapkan sebagai informan pertama dan sekaligus informan kunci penelitian ini. Orang seperti Mas Agus inilah inilah yang disebut oleh Agar(1980:85) sebagai

lv

‘profesional stranger handler’, yaitu sebagai orang pertama yang memberi penjelasan pada ‘orang luar’ seperti peneliti. Orang seperti ini disebut juga sebagai ‘natural relation expert’ (Agar 1950). Orang-orang seperti ini dapat memberikan penjelasan yang memuaskan pada ‘orang luar’ (peneliti) tanpa merugikan masyarakatnya.

Menurut Pak Agus ini, Cepu(KPH Cepu) mempunyai potensi lebih dibanding dengan KPH lain. Tetapi apa kelebihannya(ini sebuah pertanyaan etnografis juga).

Sebuah informasi yang juga perlu diperhatikan dari beliau, adalah bahwa di KPH Cepu ini tidak ada hutan adat. Tetapi pertanyaan lain yang mengemuka dalam benak peneliti adalah apakah masyarakat punya hutan kolektif? Informasi ini bagi saya cukup mempengaruhi proses apa yang harus dilakukan selanjutnya. Karena konsep kearifan lokal yang menjadi pokok penelitian ini dalam gambaran awal peneliti adalah dalam bentuk adanya hutan khusus yang sifatnya merupakan hutan adat seperti hutan adat dalam pengertian kehutanan secara umum yaitu hutan yang dikuasai oleh masyarakat hukum adat. Bentuknya adalah hutan alam yang sudah secara turun temurun dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan sosial ekonomi dan budaya yang sifatnya kolektif dengan pengaturan dan pengelolaan dibuat dan ditetapkan oleh hukum adat(Awang, 2003:113).Atau hutan rakyat dengan ciri adalah kegiatan penanaman pohon tersebut dilaksanakan di atas lahan milik rakyat atau dapat juga dilaksanakan di atas lahan Negara yang diperuntukkan untuk kegiatan penanaman pohon dan manfaatnya untuk masyarakat(Awang,2003:111). Jawaban atas pertanyaan ini tetap tersimpan dalam benak peneliti dan akan terjawab ketika bertemu dengan informan lain dari masyarakat desa hutan.

Sebelum memasuki konteks kearifan lokal masyarakat desa hutan, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui sistem besar apa yang melingkupi kehidupan masyarakat desa hutan. Sistem besar yang dimaksud disini adalah sistem kebijakan

lvi

dari pengelola kebijakan dalam bidang kehutanan di wilayah penelitian. Hal ini merupakan landasan untuk melihat hubungan antara kearifan lokal dalam berbagai bentuknya(budaya, ketrampilan, sumber daya, pengetahuan dan proses sosial lokal) dengan sistem yang dapat mempengaruhi bahkan merubah pola dan isi dari kearifan lokal.

Bidang kehutanan di lokasi penelitian dikelola oleh KPH(Kesatuan Pemangkuan Hutan) Cepu. Pertanyaan pertama dan mendasar kepada Bapak Agung Sugiarta, staf KSS PHBM(Kepala Sub seksi pengelolaan hutan bersama masyarakat) adalah mengenai hak masyarakat desa hutan terhadap hutan yang dikelola Perhutani.

Jawaban untuk pertanyaan ini adalah pada kenyataannya masyarakat desa hutan tidak mempunyai hak terhadap hutan. Hak masyarakat sebenarnya hanyalah sebuah nilai atas kerja yang dilakukan masyarakat untuk sebuah program yang merupakan inisiatif dari Perhutani. Nilai tersebut berupa uang bayaran.

Sebagai dasar untuk mengetahui perkembangan pengelolaan hutan, maka mau tidak mau kita harus melihat para actor yang ikut serta dalam membangun atau bahkan melakukan hal-hal yang bersifat membangun maupun yang kontradiktif dengan proses pencapaian hutan lestari . Tiga actor tersebut adalah Perum Perhutani KPH Cepu, masyarakat desa hutan termasuk LMDH di dalamnya dan lembaga swadaya masyarakat., satu diantaranya adalah Suphel.

4.1.1. Para Actor Kehutanan Di KPH Cepu A. KPH Perhutani Cepu

Kantor KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Cepu terletak di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora yang terkenal dengan penghasil jati kualitas terbaik. Kesatuan pemangkuan hutan adalah sebuah bentuk pembagian pengelolaan wilayah hutan oleh pihak Perhutani. Wilayah

lvii

pemangkuan hutan KPH dengan wilayah administratif seringkali berbeda.

Hal ini telah diatur menurut pembagian kawasan hutan semenjak zaman Belanda. Perusahaan Belanda bernama Djatibedrijf telah mempetak-petak wilayah hutan dan pembagian itu diadopsi oleh perum Perhutani hingga saat ini. Sehingga KPH Cepu yang berkantor di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora mengurusi hutan tidak hanya di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora semata tetapi juga pada beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Wilayah kabupaten Blora sendiri memiliki tiga kesatuan pemangkuan hutan yaitu KPH Blora, KPH Randublatung dan KPH Cepu.

Sebuah bukti akan kayanya sumber daya hutan di wilayah kabupaten Blora sehingga mendorong pemerintah Hindia Belanda mengatur dan membagi pengelolaan hutan di wilayah ini menjadi tiga organisasi pengelolaan hutan.Hutan Jati di KPH ini berada pada diketinggian 25-250 m diatas permukaan laut, dengan suhu udara 220- 340C. Pimpinan KPH disebut Administratur yang pemilihannya merupakan penunjukan langsung dari Perum Perhutani unit I Jawa Tengah.

Dokumen terkait