BUDAYA LOKAL
B. MASA PENJAJAHAN
lxxvi
upacara-upacara kejawen pada saat penebangan tiap batang kayunya, Di wilayah hutan Randublatung, Blora.
Boleh dikatakan pada masa kerajaan-kerajaan terdapat beberapa struktur sosial masyarakat yaitu rakyat jelata yang merupakan bagian terendah, kemudian diatasnya terdapat orang-orang berketrampilan kehutanan yang disebut orang kalang kemudian adalah para pejabat administrasi di tingkat desa seperti demang kemudian kepada orang-orang yang berada dalam lingkungan keraton.
lxxvii
produsen kapal; yang menyamai reputasi ketiga Negara produsen kapal yang tersebut diatas. Amsterdam dan Rotterdam benar-benar menjadi kota pelabuhan terkemuka dan salah satu jalan masuk untuk Negara-negara Eropa tengah.
Hambatan utama yang dihadapi Belanda adalah adanya hak ulayat yang masih sangat kuat. Hak ulayat ini memberikan kesulitan utama bagi bangsa Belanda karena apabila hak ulayat ini masih tetap berlangsung maka pengelolaan hutan atau lebih tepatnya pengeksploitasian hutan tetap berada di tangan warga masyarakat. Oleh karena itu, disusunlah rencana untuk menghilangkan kekuasan hak ulayat ini. Langkah-langkah yang dilaksanakan Belanda berlangsung secara bertahap dan tidak menimbulkan gejolak sosial.
Langkah pertama, aturan hak ulayat adalah bahwa yang dapat menebang hutan jati hanyalah warga setempat, maka VOC menjalin kerjasama dengan penguasa lokal , mulai dari bekel, demang sampai sultan. Kerja sama ini berlangsung dengan mudah karena kemiskinan Jawa membuat para pejabat itu dapat dengan mudah di iming-imingi dengan harta dan barang-barang modern dari Eropa. Sultan memberikan konsesi kepada Belanda untuk dapat memanfaatkan masyarakat desa hutan menjadi sumber tenaga kerja diwilayah hutan yang diberi sultan. Setelah mendapat konsesi wilayah kerja hutan, VOC menawarkan wilayah-wilayah hutan kepada para pengontrak tebangan yang disebut perceel. Boleh dikata, sistem ini mirip dengan sistem HPH (Hak Penguasaan Hutan) pemerintah Indonesia tahun 1960-an.
Tetapi wilayah perceel yang dikelola para pengontrak tebangan ini adalah wilayah yang jauh dari pemukiman termasuk akses-akses jalan. Sementara wilayah hutan yang dekat pemukiman langsung dikelola oleh VOC dengan
lxxviii
pekerja dari wilayah setempat. Dengan cara inilah volume penebangan bisa meningkat tajam serta menghasilkan keuntungan yang besar bagi Belanda.
Langkah kedua, mendirikan blandongdiensten (dinas blandong) yaitu sebuah dinas penebangan kayu. Dinas ini membuat jatah tahunan kepada para demang dan bekel penguasa hutan untuk memberikan sejumlah kayu jati sekian kubik, yang disesuaikan dengan jatah tahunan pasokan industri kapal.
Agar tidak bertentangan dengan hak ulayat maka dinas ini masih mempekerjakan warga masyarakat desa sekitar hutan.
Langkah ketiga, menerapkan profesionalisme blandong. Ketika blandongdiensten telah menjadi persepsi umum para penguasa pribumi dan masyarakat desa sekitar hutan jati, VOC membuat kebijakan profesionalisme tenaga penebang. Para blandhong memang mendapat gaji tinggi sehingga hidup mereka terbilang makmur. Pekerjaan blandhong menjadi incaran para pencari kerja. Aturan VOC yang kemudian diberlakukan adalah tidak semua orang dapat diterima sebagai blandhong apabila tidak mempunyai ketrampilan tertentu. Akibatnya, yang terpilih menjadi blandhong tidak lagi dari wilayah desa setempat tetapi juga berasal dari wilayah desa lain. Dengan aturan ini, terjadilah perubahan persepsi terhadap hak ulayat, yaitu blandhong tidak harus dari warga setempat. Tetapi adalah orang –orang yang terampil.
Langkah keempat, mengangkat mandor yang menggantikan peran demang dan bekel. Para tenaga blandhong yang professional dan berasal dari berbagai desa telah menggantikan peran demang dan bekel. Oleh sebab itu diangkatlah mandor sebagai koordinator penebangan kayu jati di hutan.
Langkah keempat ini telah menamatkan sejarah hak ulayat yang kokoh.
Selanjutnya pengelolaan hutan jati terus berada dibawah pemerintah kerajaan
lxxix
Belanda setelah VOC mengalami kebangkrutan. Posisi masyarakat desa hutan dalam pengelolaan hutan tetap belum meningkat kecuali sebagai buruh-buruh upahan.
Struktur sosial masa penjajahan (VOC s.d. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda) adalah sebagai berikut:
1. Masyarakat desa hutan.
2. Bekel dan demang (pemegang wewenang hak ulayat) 3. Penguasa persil (VOC dan para Pengontrak persil) 4. Para sultan.
Setelah mengalami perjalanan yang cukup lama, akhirnya hilanglah hak ulayat yang menjadikan hilangnya peran bekel dan demang dalam proses pengelolaan hutan.
Pada masa penjajahan Jepang yang singkat, wilayah hutan nyaris dilupakan karena pemerintah Jepang waktu itu lebih memperhatikan pada penanaman jarak yang menghasilkan minyak jarak sebagai penghasil utama pelumas untuk mesin-mesin tempur kerajaan Jepang di perang dunia kedua.
Pada masa penjajahan Jepang pula pemerintah pernah menurunkan bibit tanaman kapas kepada masyarakat. Masyarakat dipaksa menanam kapas untuk memenuhi kebutuhan bahan tekstil tentara Jepang yang sedang terlibat Perang Dunia II. Pemaksaan ini membuat terbengkalai pengurusan hutan juga kegiatan petani bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka tidak menanam padi ataupun bahan makanan lain. Panenan pun terlewatkan. Akibatnya, rakyat sangat menderita karena kurang pangan.
lxxx C. MASA KEMERDEKAAAN
Pengelolaan hutan pada masa kemerdekaan dimulai setelah pemerintah kerajaan Belanda mengakui kedaulatan pemerintah Indonesia dengan ditandai oleh penandatanganan antara kerajaan Belanda dan pemerintah Indonesia. Setelah berdaulat penuh, maka mulai tahun 1950, pengelolaan hutan dikembalikan pada masa sebelum kedatangan Jepang tahun 1942.
Organisasi pengelola hutan Jawa juga diatur dengan menggunakan istilah-istilah berbahasa Indonesia untuk mengganti istilah Belanda. Begitu pula istilah Boschwezen diganti dengan Jawatan kehutanan. Pada dasawarsa inilah, pulau Jawa terjadi perubahan kondisi sosial ekonomi yang pengaruhnya cukup signifikan dalam pengelolaan hutan dan juga partisipasi masyarakat dalam kehutanan.
Masa Jawatan kehutanan partisipasi masyarakat cukup tinggi dalam bentuk menjadi calon pekerja tanaman. Banyaknya calon pekerja tanaman ini menyebabkan dimunculkannya aturan baru dengan membatasi luas andil hanya 0,25 ha/KK. Peraturan seperti ini belum pernah ada sebelumnya. Pada dekade tahun 1950-an luas rata-rata lahan pertanian per keluarga petani sudah mendekati 1 ha/KK, dengan rentang 0,1-5,0 ha, sehingga sudah mulai banyak keluarga petani yang memiliki lahan pertanian di bawah kebutuhan minimum. Indikasi lain adanya perubahan sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan jati adalah meningkatnya intensitas gangguan atas hutan seperti pencurian kayu, penggembalaan ternak, kebakaran dan bibrikan lahan.
Sebelum kedatangan Jepang, intensitas pencurian kayu belum menyebabkan suatu petak menjadi lahan kosong. Selain itu, pencurian kayu hanya terjadi di waktu paceklik atau menjelang hari raya Idul Fitri. Biasanya wilayah hutan
lxxxi
yang dicuri kayunya adalah wilayah hutan yang sudah diteres (dikeringkan dengan dipotong akar sehingga tidak menerima asupan makanan dari dalam tanah lagi). Tetapi karakter pencurian ini sudah berubah. Perubahan itu menyangkut tiga hal diatas yaitu, waktu pencurian, hutan yang dicuri serta jumlah pencurian yang meningkat tajam. Apa yang ditulis diatas hampir sama dengan apa yang ditulis oleh Thomas Sikor dan Tran Ngoc Thanh dalam jurnal ASEF Alliance yang berjudul Forest Common Vs The State:
The need to look afresh at relations between states and local communities becomes apparent when we consider the changes in forest policy currently taking place across much of Asia and Eastern Europe. Governments are in the process of decentralising power and responsibilities to local authorities; many are also devolving ownership and quasi-ownership rights over forests to local public authorities, communities and other local actors. As a result of this world-wide trend, communities today manage 11% of the world’s forests and 22% of the forests in developing countries.