BUDAYA LOKAL
B. Masyarakat Desa Hutan
lvii
pemangkuan hutan KPH dengan wilayah administratif seringkali berbeda.
Hal ini telah diatur menurut pembagian kawasan hutan semenjak zaman Belanda. Perusahaan Belanda bernama Djatibedrijf telah mempetak-petak wilayah hutan dan pembagian itu diadopsi oleh perum Perhutani hingga saat ini. Sehingga KPH Cepu yang berkantor di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora mengurusi hutan tidak hanya di Kecamatan Cepu Kabupaten Blora semata tetapi juga pada beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Wilayah kabupaten Blora sendiri memiliki tiga kesatuan pemangkuan hutan yaitu KPH Blora, KPH Randublatung dan KPH Cepu.
Sebuah bukti akan kayanya sumber daya hutan di wilayah kabupaten Blora sehingga mendorong pemerintah Hindia Belanda mengatur dan membagi pengelolaan hutan di wilayah ini menjadi tiga organisasi pengelolaan hutan.Hutan Jati di KPH ini berada pada diketinggian 25-250 m diatas permukaan laut, dengan suhu udara 220- 340C. Pimpinan KPH disebut Administratur yang pemilihannya merupakan penunjukan langsung dari Perum Perhutani unit I Jawa Tengah.
lviii
warga masyarakat desa hutan mendefinisikan masyarakat desa hutan adalah masyarakat yang memang tinggal dalam kawasan hutan atau istilah dalam kehutanan disebut sebagai enclave. Inilah salah satu karakteristik masyarakat desa hutan. Ia mengemukakan contoh bahwa orang yang memanfaatkan hasil hutan terutama para perencek rata-rata bukan warga masyarakat dimana kawasan hutan itu berada. Istilah bagi para perencek semacam ini adalah ngare. Para ngare ini mencari kayu dan menjualnya baik ke pasar maupun ke desa tempat tinggalnya sendiri. Baik untuk digunakan sendiri maupun untuk dijual di sepanjang perjalanan.
Para aktivis lingkungan hidup hingga saat ini masih belum bersepakat tentang pengistilahan masyarakat desa hutan karena terkesan merendahkan.
Hal inilah yang disampaikan oleh Heri Santoso seorang aktifis lingkungan hidup dari Javlec(Java Learning Centre). Ia menulis:
Taruhlah setelah sekian lama kita menceburkan diri ke dalam suatu hiruk- pikuk dan silang sengkarut laku kehidupan orang-orang yang tinggal di sekitar hutan, yang kemudian lazim dinamakan sebagai masyarakat desa hutan – suatu istilah yang sepertinya secara lugas memposisikan desa sebagai bagian dari kawasan hutan –, kita ingin berkata sesuatu tentang apa sebenarnya yang sedang terjadi di sana, bagaimana sosok sebuah desa hutan, ke mana mereka hendak menyongsong hari depan, seperti apa pergulatan-pergulatan batin dan pikiran para warganya, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya. Kita barangkali bisa menampilkan sebuah laporan tentang berbagai tindakan melanggar hukum, perilaku kejahatan, suatu hal-hal negatif yang keluar dari standar nilai, norma, dan moral sosial – mencuri kayu misalnya –, sebagaimana yang sering kita dengar dari berbagai kesempatan perbincangan normatif mengenai arti sebuah kesadaran lingkungan bagi sekelompok masyarakat yang hidup di sekitar hutan. Kita bisa juga menampilkan suatu cerita tentang berbagai tindakan perambahan yang mengancam kelestarian hutan.
Tulisan ini sebenarnya apabila dikaji lebih mendalam menunjukkan adanya stigma negatif terhadap masyarakat desa hutan. Tetapi terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita mengiyakan adanya stigma negatif ini. Apa yang memunculkan aktifitas-aktifitas warga yang
lix disebut mengancam kelestarian hutan?
Interaksi antara masyarakat desa hutan dengan sumber daya hutan pada hakikatnya bersifat saling ketergantungan. Teori ekologi Rambo menyebutkan adanya hubungan pengaruh yang merupakan sebuah dialektika antara sistem sosial masyarakat desa hutan dengan sistem ekosistem hutan.
Apabila dalam satu sistem tersebut terjadi masalah maka akan mempengaruhi sistem lain. Sehingga apabila muncul stigma negatif terhadap masyarakat desa hutan yang aspek perilakunya mengancam kelestarian hutan maka dapat disebut, dalam sistem sosial masyarakat desa hutan sedang mengalami masalah sehingga ekosistem hutan mengalami gangguan pula.
Saat ini terdapat satu ciri khas kelompok masyarakat yang dibentuk pasca munculnya sebuah kebijakan di lingkungan Perhutani. Kelompok tersebut disebut lembaga masyarakat desa hutan atau lebih terkenal dalam singkatan; LMDH. Kebijakan ini merupakan sebuah input dari sistem sosial ke dalam ekosistem. Dengan adanya perbaikan kelembagaan sosial ini, memang diharapkan akan dapat meningkatkan kelestarian ekosistem hutan secara umum dengan tidak melupakan kesejahteraan masyarakat desa hutan.
Untuk lebih memahami proses perubahan sosiokultural masyarakat desa hutan ini dapat dilihat pada sejarah pengelolaan hutan di Cepu secara khusus dan kehutanan di Jawa secara umum. Sejarah pengelolaan ini berkisar pada satu masalah pokok yaitu pengakuan hak atas sumber daya hutan.
SUPHEL melalui koordinator advokasi dan kebijakan, Wasista Daru Darmawan mengatakan bahwa masyarakat desa hutan dapat dikatakan tidak mempunyai hak. Apabila adapun, sebenarnya itu bukanlah hak. Ia mengatakan, “yang namanya hak kan mau diambil boleh tidak diambil boleh,
lx
mereka dapat bekerja di perhutanipun kalau mereka (Perhutani) ngasih...”.
Sebagai contoh, ada sistem banjarharian yaitu pelaksanaan proses pembuatan hutan dengan melibatkan warga masyarakat dalam penanaman kemudian diberi upah. Upah yang diterima sebenarnya adalah sebuah kaidah umum yaitu orang bekerja maka mendapat imbal jasa berupa uang.
Hal lain yang dapat disebut hak adalah dibolehkannya pengolahan lahan hutan secara tumpang sari, dengan catatan si pesanggem (istilah untuk warga masyarakat yang mendapatkan kesempatan pengolahan lahan hutan) wajib menjaga hutan milik Perhutani.
Dua contoh perlakuan terhadap masyarakat desa hutan diatas merupakan sebuah contoh dari hak pengelolaan sumber daya hutan yang masih bertumpu pada State Based Forest Management (SBFM) dalam hal ini sumber daya hutan dikelola oleh perum Perhutani. Pada Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pengusahaan Hutan Indonesia (APHI) 2001 di Hotel Hilton Jakarta, 21 Pebruari 2001 diterangkan bahwa Pengelolaan hutan yang bersifat sentralistik selama ini telah membawa dampak yang sangat merugikan bagi kelestarian alam dan lingkungan serta sistem sosial di tengah masyarakat daerah. Oleh sebab itu perlulah saat ini ada sebuah perubahan pola pengelolaan dari sentralistik ke desentralistik. Pengelolaan hutan melalui sistem desentralisasi juga akan memberikan kesempatan bagi pengembangan otonomi daerah. Diberikannya kewenangan kepada daerah dalam mengelola hutan berarti mendukung penyelenggaraan otonomi daerah dimana diakuinya hak-hak daerah untuk mengelola sumber daya alam yang dimilikinya. Hal ini juga memberikan hak kepada daerah untuk memanfaatkan hutan sebagai sumber pendapatan daerah. Dengan demikian kebutuhan finansial daerah
lxi
untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sebagian akan terpenuhi dari hasil pengelolaan hutan.
Selanjutnya dengan desentralisasi kehutanan dapat ditingkatkan pemanfaatan sumber daya alam hutan secara optimal. Hal ini dapat dilakukan karena melibatkan secara langsung unsur daerah (pemerintah, masyarakat dan dunia usaha) dalam perencanaan dan pengelolaan hutan. Karena pemerintah daerah dan masyarakat mungkin lebih mengetahui dan memahami karakteristik sumber daya alam yang dimiliki daerahnya.