Bab II Konsumen
D. Hak dan Kewajiban Konsumen
Hukum mengatur hubungan hukum, yang terdiri dari ikatan- ikatan antara individu dan masyarakat dan antara individu itu sendiri.
Ikatan-ikatan itu tercermin pada hak dan kewajiban.33 Hukum dalam upaya mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan atau masyarakat berusaha untuk mencari keseimbangan antara
33 Sudikno Mertokusumo, op.cit., hlm. 40.
hak dan kewajiban perseorangan maupun masyrakat. Setiap hubungan hukum yang diciptakan oleh hukum selalu mempunyai dua segi yang isinya di satu pihak hak, sedang di pihak lain kewajiban. Tidak ada hak tanpa kewajiban, sebaliknya tidak ada kewajiban tanpa hak.34 Hak adalah kepentingan yang dilindungi oleh hukum, sedangkan kepentingan adalah tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapakan untuk dipenuhi. Kepentingan pada hakekatnya mengandung kekuasaan yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dalam melaksanakannya.35
1. Hak - hak Konsumen
Yang dimaksud dengan hak-hak konsumen adalah hak-hak konsumen baik secara fisik maupun non fisik. Secara umum dikenal ada empat hak dasar konsumen, yang diakui secara intelektual yaitu :36 a. Hak untuk mendapatkan keamanan(the right to sefety);
b. Hak untuk mendapatkan informasi (the righ to informent) c. Hak untuk memilih (the right to choose);
d. Hak untuk didengar (the right to he heard).
Dalam perkembangan organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam The Internasional Organization Of Consumers Union (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak, seperti hak mendapatkan ganti kerugian, dan hak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
UUPK sudah mengakodasikan, empat hak dasar tersebut.
Akan tetapi UUPK tidak secara khusus mencantumkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat dan hak-hak atas kekayaan
34 Ibid., hlm. 41.
35 Ibid., hlm. 43.
36 Shidarta, op.cit.,19-20.
intelektual. Hal ini dapat dipahami karena kedua hak-hak tersebut sudah diatur dalam peraturan perundang tersendiri.
Ada delapan hak yang secara eksplisit dituangkan dalam pasal 4 UUPK, ada satu hak terakhir dirumuskan secara terbuka.
Hak - Hak konsumen itu sebagai berikut:
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam menkonsumsi barang atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang atau jasa serta mendapatkan barang atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
c. Hak informasi yang benar, jelas,dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang atau jasa.
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atau barang atau jasa yang digunakan;ak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety).
e. Hak mendapatkan advokasi, perlindungan dengan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
f. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk diperlukan atau dilayani secara benar dan jujur serta diskriminatif.
h. Hak untuk mendapat dispensasi, ganti rugi atau jasa penggantian jika barang atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang- undangan yang lain.
Berikut beberapa penjelasan berkenaan dengan hak-hak konsumen seperti yang diuraikan oleh sidharta sebagai berikut:
a. Hak konsumen mendapat keamanan
Konsumen berhak mendapatkan keamanan atas barang dan jasa yang ditawarkan kepadanya produk barang dan jasa itu tidak boleh membahayakan jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani atau rohani.
Misalnya zat atau obat yang tergolong dalam narkotika dan psikotropika dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika menetapkan psikotropika dan narkotika golongan 1 hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan.
Restriksi demikian perlu dilakukan semata-mata demi menjaga keamanan masyarakat atas akibat negatif dan produk tersebut.
Satu hal yang juga sering dilupakan dalam kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas umum yang tidak memenuhi syarat yang ditetapkan dalam peraturan di lndonesia, sebagian besar fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, hiburan, rumah sakit dan perpustakaan belum cukup akomodatif untuk menopang keselamatan pengunjungnya. Hal ini tidak saja bagi pengguna produk barang atau jasa (konsumen) yang berfisik normal pada umumnya, tetapi juga terlebih-lebih untuk mereka yang cacat fisik dan lanjut usia.
Akibatnya mereka ini tidak dapat leluasa berjalan naik tanggga ditempat umum karena tingkat resiko yang sangat tinggi.
b. Hak untuk mendapatkan informasi yang benar
Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat disampaikan dengan berbagai cara seperti secara lisan kepada konsumen melalui iklan diberbagi media atau mencantum kan dalam kemasan produk (barang).
Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan maka setiap produk yang mengandung resiko terhadap keamanan konsumen, wajib disertai infomasi berupa petujuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh iklan yang secara ideal diartikan sebagai saran pemberi informasi kepada konsumen seharusnya terbebas dan manipulasi data. Jika iklan memuat informasi tidak benar,maka perbuatan itu memenuhi keteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation. Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1) pemakai pernyataan yang jelas-jelas salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indikator yang jelas, dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead) misalnya menyebutkan adanya khasiat tertentu, misalnya banyak informasi yang melalui iklan media televisi yang menyatakan kemanjuran suatu obat, atau letak lokasi perumahan yang menyatakan bebas banjir atau bebas macet padahal semua itu tidak benar.
Hal ini tidak boleh dilakukan karena informasi yang menyesatkan tersebut tidak semua konsumen sama, baik dalam pengetahuan ekonomi maupun pendidikannya.
Informasi harus diberikan secara jujur, benar dan sama bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam arti harus sampai kepada konsumen baik yang berpendidikan maupun tidak berpendidikan.
Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang atau jasa menyebabkan makin banyak informasi yang harus dikuasai oleh masyarakat konsumen. Hal ini harus di antisipasi oleh konsumen agar konsumen memiliki kemampuan dan kesempatan akses infomasi secara sama besarnya.
c. Hak untuk didengar
Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak untuk didengar. Ini disebabkan informasi yang diberikan pihak yang berkepentingan atau berkompeten sering tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk itu,konsumen berhak mengajukan permintaan informasi lebih lanjut.
Contohnya dalam praktik, dinyatakan lembaga penyiaran wajib meralat isi siaran atau berita jika diketahui terdapat kekeliruan atau terjadi sanggahan atas isi siaran atau berita.
Penyanggahan berita itu mungkin adalah konsumen dan produk tertentu. Ralat atau pembetulan wajib dilakukan dalam waktu selambat-Iambatnya satu kali 24 jam berikutnya atau pada kesempatan pertama pada ruang mata acara yang sama dalam bentuk serta cara yang sama dengan penyampaian isi siaran atau berita yang disanggahkan. Hak-hak konsumen tersebut tercantum dalam ketentuan undang-undang Penyiaran, artinya hak untuk didengar yang dalam doktrin hukum dapat diindentikan dengan hak untuk membela diri.
d. Hak untuk memilih
Dalam mengkomsumsi suatu produk, konsumen berhak menentukan pilihannya, Ia tidak boleh mendapatkan tekanan dan pihak luar sehingga ia tidak lagi bebas untuk membeli atau tidak membeli.
Seandainya ia jadi membeli, ia juga bebas menentukan produk mana yang akan dibeli.
Hak untuk memilih ini erat kaitannya dengan situasi pasar.
Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa, maka besar kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk membandingkan produk yang satu dengan produk yang lain.
Jika monopoli itu diberikan kepada perusahaan yang tidak berorentasi pada kepentingan konsumen, akhirnya konsumen pasti didikte untuk mengkonsumsi barang atau jasa itu, tanpa dapat berbuat lain. Dalam keadaan seperti itu, pelaku usaha dapat secara sepihak mempermainkan mutu barang dan harga jual.
e. Hak untuk mendapatkan produk barang atau jasa sesuai dengan nilai tukar yang diberikan
Maksud hak ini konsumen harus dilindungi dan permainan harga yang tidak wajar. Dengan kata lain, kuantitas dan kualiatas barang/ nilai uang yang dibayar sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai penggantinya. Namun dalam praktik, pelaku usaha dapat saja mendikte pasar dengan menaikkan harga, dan konsumen menjadi korban dan ketiadaan pilihan. Konsumen dihadapkan pada kondisi take it or leave it. Jika setuju silahkan beli, jika tidak silakan mencari tempat yang lain (padahal di tempat lainpun pasar sudah dikuasainya). Dalam situasi demikian, biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada), yang boleh jadi kualitasnya malahan lebih buruk.
Akibat tidak berimbangnya posisi tawar-menawar antara pelaku usaha dan kosumen, maka pihak pertama dapat saja membebankan biaya-biaya tertentu yang sewajarnya tidak ditanggung konsumen.
Praktik yang tidak terpuji ini lazim dikenal dengan istilah externalities.
f. Hak untuk mendapatkan ganti kerugian.
Jika konsumen merasakan, kuantitas dan kualitas barang atau jasa yang dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang diberikannya, ia berhak mendapatkan ganti kerugian yang pantas. Jenis dan jumlah ganti kerugian itu tentu saja harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak.
Untuk menghindar dan kewajiban memberikan ganti kerugian, sering terjadi pelaku usaha mencantumkan klausula-klausula eksonerasi di dalam hubungan hukum antara produsen/penyalur produk dan konsumennya. Klausaula seperti barang yang dibeli tidak dapat dikembalikan merupakan hal yang lazim ditemukan pada toko-toko.
Pertokoan pencatuman secara sepihak demikan tetap tidak menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan ganti kerugian.
g. Hak untuk mendapat penyelesaian hukum.
Hak itu mendapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga hak untuk mendapatkan ganti kerugian, tetapi kedua tersebut tidak berarti identik untuk memperoleh ganti kerugian, konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum terlebih dahulu. Sebaliknya, setiap hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan ganti kerugian, seperti dalam upaya legal standing LSM yang dibuka kemungkinannya dalam Pasal 46 ayat (1) huruf (c) UUPK.
h. Hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen didunia.
Lingkungan hidup yang baik dan sehat berarti sangat luas, dan setiap makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya.
Lingkungan hidup meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan Iingkungan nonfisik.
Dalam Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat ini dinyatakan secara tegas. Pengelolaan lingkungan hidup menyatakan
“setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Dalam ketentuan itu jelas bahwa lingkungan hidup ,selain sehatjuga harus baik.
Pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat makin mengemuka akhir-akhir ini. Misalnya, munculnya gerakan konsumen hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada kelestarian lingkungan. Sementara itu, mulai tahun 2000 semua perusahaan yang berkaitan dengan hasil hutan, baru dapat menjual produknya di negara-negara yang bergabung dalam the international tropical timber organization (ITTO), jika telah memperoleh ecolabeling certificate. Ketentuan demikian sangat penting artinya, khususnya bagi produsen hasil hutan tropis, seperti Indonesia, karena praktis pangsa pasar terbesarnya adalah negara-negara anggota ITTO. Untuk itu, Lembaga Ekolabeling Indonesia (LEI) pada 1998 mulai melakukan audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberikan sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000.
i. Hak untuk dilindungi dan akibat negatif persaingan curang Persaingan curang yang dalam undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 disebut dengan “persaingan usaha tidak sehat” dapat terjadi jika seorang pengusaha lain untuk memajukan usahanya atau memperluas penjualan atau pemasarannya, dengan menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan itikad baik dan kejujuran dalam perokonomian.
Contoh bentuk yang kerap terjadi dalampersaingan curang adalah praktik banting harga (dumping) satuprodusen yang kuat mencoba mendesak produsen saingannya yang lebih lemah dengan cara menurunkan harga jual dibawah ongkos produksi. Tujuannya untuk merebut pasar,dan akhirnya produsen saingannya akan berhenti berproduksi.
Hak konsumen untuk dihindari dan akibat negatif persaingan curang dapat dikatakan sebagai upaya prevetive yang harus dilakukan, khususnya oleh pemerintah guna mencegah munculnya
akibat-akibat langsung yang merugikan konsumen. Itulah sebabnya gerakan konsumen sudah selayaknya menaruh perhatian terhadap keberadaan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hak ini, seperti yang ada saat ini, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian yang dilarang, dan (2) kegiatan yang di larang. Termasuk dalam bentuk perjanjian yang di larang adalah oligopoli, penetapan harga, pembagian wilayah, pemboikotan, kartel, trust, oligopsoni, integrasi vertikal, perjanjian penutup, dan perjanjian dengan pihak luar negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan tidak sehat.
Sementara kegiatan yang dilarang mencakup monopoli, monopsoni, penguasaan pasar dan persekongkolan.
j. Hak untuk mendapatkan pendidikan konsumen
Masalah perlindungan konsumen di Indonesia termasuk masalah yang baru. OIeh karena itu, wajar bila masih banyak konsumen yang belum menyadari hak-haknya. Kesadaran akan hak tidak dapat dipungkiri sejalan dengan kesadaran hukum. Makin tinggi tingkat kesadaran hukum masyarakat, makin tinggi penghormatannya pada hak hak dirinya dan oranglain. Upaya pendidikan konsumen tidak selalu harus melewati jenjang pendidikan formal tetapi dapat melalui media massa dan kegiatan lembaga swadaya masyarakat.
Dalam banyak hal, pelaku usaha terikat untuk memperhatikan hak konsumen untuk mendapatkan “pendidikan” konsumen’ ini.
Pengertian “pendidikan” tidak harus diartikan sebagai proses formal yang dilembagakan. Pada prinsipnya makin kompleks teknologi yang di terapkan dalam menghasilkan suatu produk menuntut pula makin banyak informasi yang harus di sampaikan kepada konsumen. Bentuk informasi yang lebih komprehensif
dengan tidak semata mata menonjolkan unsur komersilisasi, sebenarnya sudah merupakan bagian dan pendidikan konsumen.
Produsen mobil, misalnya dalam memasarkan produk dapat menyisipkan program program pendidikan konsumen yang memilki kegunaan praktis, seperti tata cara perawatan mesin, pemeliharaan ban atau penggunaan sabuk pengaman.
2. Kewajiban-kewajiban Konsumen
Pemberdayaan konsumen selain melalui pelaksanaan hak- hak konsumen, juga harus diimbangi dengan kewajiban-kewajiban dari konsumen, hal ini harus dilakukan konsumen sebagai tanggung jawab konsumen.
Undang-undang Perlindungan Konsumen secara tegas mencantumkan kewajiban-kewajiban konsumen yaitu dalam Pasal 5 UUPK, kewajiban konsumen adalah:
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
Kewajiban konsumen ini harus diperhatikan oleh konsumen.
konsumen tidak boleh hanya mendasarkan pada haknya semata, misalnya dalam menuntut ganti rugi kepada pelaku usaha. Dalam mengkonsumsi atau menggunakan barang dan/
atau jasa yang di berikan oleh pelaku usaha, konsumen juga harus membaca atau mengikuti petunjuk pemakaian atau pemanfaatan barang atau jasa. Kerugian konsumen yang diderita oleh konsumen tidak dapat secara langsung disalahkan kepada pelaku usaha, tetapi harus juga dilihat apakah konsumen juga memiliki andil dalam hal terjadinya kerugian tersebut, yakni dalam apakah konsumen sudah mengikuti petunjuk atau prosedur penggunaan barang atau jasa tersebut.
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan atau jasa;
Maksud dari itikad baik dari konsumen dalam melakukan transaksi pembelian barang atau jasa, bahwa konsumen harus bertindak jujur, tidak memiliki maksud untuk menipu, atau mengakali pelaku usaha, sehingga dapat merugikan pelaku usaha.
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati, dan;
Konsumen dalam melakukan transaksi pembelian atau pemanfaat barang dan/ atau jasa diwajibkan untuk melakukan membayar sesuai dengan harga atau nilai tukar yang telah disepakati bersama dengan pelaku usaha.
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum konsumen secara patut.
Konsumen yang dirugikan oleh pelaku usaha dalam hal menuntut ganti kerugian hendaknya mengindahkan cara-cara penyelesaian yang telah diatur dalam UUPK. Konsumen tidak boleh melakukan tindakan-tindakan yang tidak patut atau melakukan main hakim sendiri kepada pelaku usaha, misalnya melakukan pengerusakan, intimidasi.
Berikut beberapa contoh-contoh kewajiban dan seorang konsumen, sehingga konsumen senantiasa menjadi konsumen yang cerdas dan kritis, sehingga dapat menjadi penentu mutu maupun kualitas barang dan jasa yang beredar di Indonesia.
a. Jika ingin membeli barang elektronik, perhatikan aspek-aspek umum berikut antara lain:
1) Belilah di gerai / distributor resmi, pastikan barang yang dibeli itu mempunyai garansi resmi hindari produk bajakan.
2) Lakukan uji coba dan harus masa penjelasan bahwa barang yang dibeli memenuhi atau sesuai dengan apa yang diiklankan dan diharapkan.
3) Harus memeriksa apakah ada label sertifikatnya perangkat elektronik.
b. Jika membeli peralatan Rumah Tangga, perhatikan hal-hal berikut:
1) Pilihlah peralatan yang memiliki tanda hemat energi, perhatikan tanda ramah lingkungan.
2) Perhatikan label Standar Nasional Indonesia (SNI) atau label Standar lnternasionalnya.
3) Uji coba sebelum dibawa pulang.
c. Jika membeli produk-produk makanan yang dikemas hal yang harus diperhatikan adalah:
1) Cek labelnya, Kode MK untuk makanan dalam negeri, Kode ML untuk makanan untuk makanan luar negeri, kode-kode tersebut dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Perhatikan tanda kadaluarsa.
2) Cek standar atau ketentuan Standar Nasional Indonesia.
3) Perhatikan kemasannya apakah bentuknya masih utuh atau sudah cacat /penyok.
4) Perhatikan produk pangan yang halal dengan adanya label halal berdasarkan sertifikat halal dan MUI.