Bab III Pelaku Usaha
D. Tanggung Jawab Pelaku Usaha
c. memuat informasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang atau jasa;
d. tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang atau jasa;
e. mengeksploitasi kejadian atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan;
f. melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang- undangan mengenai periklanan.
(2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1).
Pasal 17 UUPK ini merupakan pasal yang secara khusus ditujukan pada perilaku pelaku usaha periklanan, yang mengelabui konsumen melalui iklan yang diproduksinya. Menurut Ari Purwadi, mengelabui konsumen melalui iklan dapat terjadi dalam bentuk:
pernyataan yang salah, pernyataan yang menyesatkan, dan iklan yang berlebihan (Ahmadi Miru, 2004:102).
Iklan standar (selanjutnya disebut iklan) memegang peranan penting dalam memberikan informasi kepada konsumen tentang produk-produk tertentu, sehingga atas dasar informasi yang diperoleh dari iklan tersebut, konsumen bersedia membeli/ menggunakan produk tertentu yang benar iklan tidak selamanya memberikan informasi yang benar kepada konsumen, maka konsumen dapat dirugikan karenannya.
Pasal 19 UUPK :
(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.
(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa pengembalian uang atau penggantian barang atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal transaksi.
(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 tidak berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan kesalahan konsumen.
Tanggung jawab yang tercantum dalam Pasal 19 UUPK, bahwa pelaku usaha bertanggung jawab yaitu:
a. Kerugian atas kerusakan;
b. Kerugian atas pencemaran;
c. Kerugian atas mengkonsumsi barang/jasa
Dapat dipahami bahwa pelaku usaha bertanggung jawab atas semua kerugian konsumen.
Tanggung jawab pelaku usaha sebagaimana diatur dalam Pasal 19 UUPK, tidak hanya berupa tanggung jawab dalam secara perdata saja. Pelaku usaha dapat dimintai pertanggungjawaban secara pidana juga. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 19 angka (4) UUPK, yang menentukan bahwa pemberian ganti kerugian tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan pembuktian lebih lanjut adanya unsur kesalahan.
Di bidang periklanan, UUPK selanjutnya mengatur mengenai tanggungjawab pelaku usaha periklanan, yakni dalam Pasal 20 UUPK.
Pasal 20 UUPK :
Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.
Nurmadjito mengatakan iklan sebagai media promosi yang menggambarkan produk secara audio visual atau melalui media cetak yang diproduksi dan diperdagangkan oleh pemesan iklan.
Oleh karena iklan merupakan media positif bagi konsumen untuk memperoleh informasi yang dapat membedakan dengan produk lain, maka harus ada upaya untuk mencegah hal-hal yang dapat menimbulkan ekses negatif berupa informasi yang tidak benar atau menyesatkan. Hakikat iklan merupakan janji dari pihak pelaku usaha pemesan iklan.
Pasal 21 UUPK :
(1) Importir barang bertanggung jawab sebagai pembuat barang yang diimpor apabila importasi barang tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan produsen luar negeri.
(2) Importir jasa bertanggung jawab sebagai penyedia jasa asing apabila penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan penyedia jasa asing.
Menurut Ahmadi Miru, UUPK menempatkan importir dipersamakan kedudukannya sebagai pembuat barang impor dan atau sebagai penyedia jasa asing yang bertanggung jawab secara mandiri terhadap konsumennya yang menderita kerugian akibat produk yang diedarkannya.42
Kontruksi hukum yang dikemukakan di atas, menjadikan kerugian yang diderita importir akibat cacat produksi barang atau jasa impor, menjadi urusan pribadi importir yang bersangkutan.
Importir dapat menuntut produsen luar negeri, tetapi bukan mewakili konsumen Indonesia dan tidak pula berdasarkan UUPK melainkan berdasarkan ketentuan dalam kontrak dagang internasional.
Pasal 22 UUPK :
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 4, Pasal 20, dan Pasal 21 merupakan beban dari tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.
Pasal 23 UUPK :
Pelaku usaha yang menolak atau tidak memberi tanggapan atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat 1, ayat 2, ayat 3, dan ayat 4, dapat digugat melalui badan penyelesaian sengketa konsumen atau mengajukan ke badan peradilan di tempat kedudukan konsumen.
Tanggung jawab pelaku usaha dalam Pasal 22 dan 23, merupakan tanggung jawab pelaku usaha dibidang peradilan di mana Pasal 22 merupakan dasar adanya beban bukti terbalik sedangkan Pasar 23 merupakan dasar bagi konsumen untuk mengajukan tuntutan di tempat kedudukan konsumen atau di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
42 Ibid., hlm. 153.
Pasal 24 UUPK :
(1) Pelaku usaha yang menjual barang atau jasa kepada pelaku usaha lain bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi atau gugatan konsumen apabila:
a. pelaku usaha lain menjual kepada konsumen tanpa melakukan perubahan apa pun atas barang atau jasa tersebut;
b. pelaku usaha lain, di dalam transaksi jual beli tidak mengetahui adanya perubahan barang atau jasa yang dilakukan oleh pelaku usaha atau tidak sesuai dengan contoh, mutu, dan komposisi.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebaskan dari tanggung jawab atas tuntutan ganti rugi atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha lain yang membeli barang atau jasa menjual kembali kepada konsumen dengan melakukan perubahan atas barang atau jasa tersebut.
Maksud dari Pasal ini adalah bahwa pelaku usaha bertanggung jawab atas tuntutan ganti kerugian terhadap konsumen, walaupun konsumen tersebut tidak mempunyai hubungan kontraktual dengan pelaku usaha tesebut.
Pasal 25 UUPK :
(1) Pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan dalam batas waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun wajib menyediakan suku cadang atau fasilitas purna jual dan wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang diperjanjikan.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (l) bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha tersebut:
a. tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang atau fasilitas perbaikan;
b. tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang diperjanjikan.
Pasal ini menakankan bahwa ketersediaan suku cadang atau purna jual adalah tanggung jawab pelaku usaha tidak tergantung dari ada tidaknya perjanjian untuk bidang jasa berbeda seperti yang tercantum dalam Pasal 26 UUPK.
Pasal 26 UUPK :
Pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan atau garansi yang disepakati atau yang diperjanjikan.
Jadi Pasal ini menegaskan bahwa hal-hal yang disepakati dalam perjanjian harus dipenuhi.
Pasal 27 UUPK :
Pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen, apabila:
a. barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan unluk diedarkan;
b. cacat barang timbul pada kemudian hari;
c. cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kualifikasi barang;
d. kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen;
e. lewatnya jangka waktu penuntutan 4 (empat) tahun sejak barang dibeli atau lewatnya jangka waktu yang diperjanjikan.
Pasal 27 UUPK ini lebih menegaskan bahwa konsumen ikut bertanggung jawab manakala konsumen tersebut lalai mengakibatkan barang tersebut tersebut cacat.
Pasal 28 UUPK :
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 22, dan Pasal 23 merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha.
Pasal 28 ini bahwa beban pembuktian unsur “kesalahan”
dalam gugatan ganti kerugian merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha. Hal ini memberikan konsekuensi hukum bahwa pelaku usaha yang dapat membuktikan kerugian bukan merupakan kesalahannya terbebas dari tanggung jawab ganti kerugian.