• Tidak ada hasil yang ditemukan

Istilah dan Pengertian Pelaku Usaha

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 55-61)

Bab III Pelaku Usaha

A. Istilah dan Pengertian Pelaku Usaha

3. Distributor, yaitu pelaku usaha yang mendistribusikan atau memperdagangkan barang dan / atau jasa tersebut kepada masyarakat, seperti pedagang secara retail, pedagang kaki lima, warung, toko, supermarket.

Dalam bidang periklanan, terdapat beberapa istilah pelaku usaha periklanan, yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Pengiklan, yaitu badan usaha yang memesan iklan dan membayar biaya pembuatannya untuk promosi / pemasaran produknya dengan menyampaikan pesan-pesan dan berbagai informasi lain tentang produk tersebut kepada perusahaan iklan.

2. Perusahaan periklanan, yaitu perusahaan atau biro iklan yang merancang, membuat, atau menciptakan iklan berdasarkan pesan atau informasi yang disampaikan pengiklan padanya.

3. Media periklanan, yaitu media non elektronik (koran, majalah, dan lain-lain) atau media elektronik (radio, televisi, komputer, dan lain-lain) yang digunakan untuk menyiarkan atau menanyakan iklan-iklan tertentu.

Ketiga unsur periklanan tersebut, semua atau masing-masing adalah pelaku usaha periklanan yang bertanggung jawab atas iklan yang dibuat dan akibat-akibat yang ditimbulkan. Pengadilan meletakkan beban tanggung jawab atas pelaku usaha adanya tanda setuju dari salah satu pelaku usaha pada draf iklan yang kemudian disiarkan / ditayangkan.

Jadi pengusaha yang menjadi istilah bagi seseorang uang mempunyai sebuah perusahaan.

Berhubungan dengan itu, perumusan tentang perusahaan dalam dunia keilmuan adalah sebagai berikut ini :38

1. Perumusan dari pemerintah Belanda: Minister van Justitie Netherlands di dalam memori jawaban kepada parlemen di Netherlands menafsirkan pengertian perusahaan itu sebagai berikut: “Barulah dapat dikatakan adanya perusahaan, apabila pihak yang berkepentingan bertindak secara tidak terputus-putus atau terang-terangan serta di dalam kedudukan tertentu untuk memperoleh laba bagi dirinya sendiri”.

2. Molengraaff berpendapat bahwa pengertian perusahaan yang dipakai oleh undang-undang tahun 1934 / 347 adalah pengertian ekonomis. Beliau memberikan perumusan perusahaan sebagai berikut: “barulah dikatakan ada perusahaan jika secara terus- menerus bertindak keluar untuk memperoleh penghasilan dengan mempergunakan atau menyerahkan barang-barang atau mengadakan perjanjian-perjanjian perdagangan”. Definisi Molengraaff ini adalah sesuai dengan perumusan Menteri Kehakiman Belanda, definisi mana disetujui pula oleh Prof. Sukardono.

3. Polak menambahkan dalam perumusan perusahaan dari Molengraaf dengan keharusan melakukan pembukuan. Dengan demikian Polak menambahkan untuk komersial pada unsur-unsur lainnya.

Pendapat polak ini memang sesuai dengan keharusan mengadakan pembukuan yang oleh Pasal 6 KUHD dibebakan kepada pengusaha.

38 CST.Kansil, Pokok-Pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2002, hlm. 32.

Dari definisi yang diberikan Molengraaf dapatlah diambil kesimpulan, bahwa suatu perusahaan harus mempunyai unsur-unsur :

1. Terus-menerus atau tidak terputus-putus.

2. Secara terang-terangan (karena berhubungan dengan pihak ketiga); dalam kualitas tertentu (karena dalam lapangan perniagaan).

3. Menyerahkan barang-barang.

4. Mengadakan perjanjian-perjanjian perdagangan.

5. Harus bermaksud memperoleh laba.

Kembali kepada pengertian pelaku usaha atau juga disebut pengusaha konsumen dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pelaku usaha adalah “setiap orang atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia baik sendiri amupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha berbagai bidang ekonomi (Pasal 1 angka (3) UUPK).

Dari pengertian tersebut, maka dapat dikatakan yang dimaksud pelaku usaha dalam UUPK adalah yang mengandung unsur-unsur:

1. Setiap orang atau Badan Usaha.

2. Badan hukum atau bukan badan hukum.

3. Didirikan atau berkegiatan di wilayah Indonesia.

4. Baik sendiri maupun melalui perjanjian.

5. Menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang ekonomi.

Penjelasan lebih lanjut mengenai unsur-unsur di atas akan dijelaskan di bawah ini :

1. Setiap orang atau badan usaha

Yang dimaksud setiap orang atau badan usaha adalah setiap orang atau badan usaha yang merupakan subjek hukum yaitu yang mempunyai dan menjadi pendukung Hak dan Kewajiban.

Dalam perekonomian pelaku usaha, setiap orang dimaksud adalah setiap orang yang melakukan kegiatan usaha, begitu pun yang dimaksud dengan badan kumpulan orang yang melakukan kegiatan usaha. Secara teoritis badan usaha dibagi 2 (dua) golongan yakni :39

a. Badan usaha yang bukan badan hukum b. Badan usaha yang badan hukum.

2. Badan Hukum atau Bukan Badan Hukum.

Pengertian Badan Hukum atau Bukan Badan Hukum dalam konteks pelaku usaha adalah suatu badan usaha yang badan hukum memiliki unsur-unsur :40

a. Adanya pemisahan harta kekayaan antara perusahaan dan pemilik usaha;

b. Mempunyai tujuan tertentu;

c. Mempunyai kepentingan sendiri dan;

d. Adanya organisasi yang tertatur.

39 Sentosa Sembiring, Hukum Dagang, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004, hlm. 17.

40 Ibid., hlm. 18

Jika tidak memilik unsur-unsur tersebut di atas, maka badan usaha tersebut dikelompokan ke dalam badan usaha yang tidak berbadan hukum, yakni bisa berbentuk CV maupun Firma.

3. Didirikan atau berkegiatan di wilayah Republik Indonesia.

Maksud dari unsur ini adalah bahwa baik perusahaan perorangan maupun badan usaha yang berkegiatan usaha atau unsur ini tidak terlalu memperhatikan kewarganegaraan suatu perusahaan atau pelaku usaha. Jadi yang penting perusahan tersebut atau badan usaha tersebut berada di Indonesia.

4. Baik Sendiri maupun melalui perjanjian

Maksud dari pernyataan ini adalah bahwa perusahaan yang didirikan dan berada di Indonesia itu merupakan perusahaan yang berdiri sendiri, dan ada juga perusahaan yang berkegiatan usaha di Indonesia karena berdasarkan perjanjian, hal ini memberikan peluang kepada para pelaku usaha asing yang berkegiatan di wilayah Indonesia.

5. Kegiatan usaha di Bidang Ekonomi

Maksudnya pelaku usaha melakukan usaha di bidang ekonomi, misalnya perdagangan barang, jasa dan lain-lain.

Jadi dari pengertian pelaku usaha tersebut dapat dipahami bahwa pelaku usaha itu dapat perorangan atau perusahaan perorangan dan dapat pula oleh badan usaha yang antara lain, badan usaha yang berbadan hukum (Perseroan Terbatas/ PT) badan usaha yang non badan hukum (Persekutuan Perdata, Firma, CV).

B. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 55-61)

Dokumen terkait