• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelesaian Sengketa Konsumen Berdasarkan UUPK

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 101-148)

Bab VI Penyelesaian Sengketa Konsumen

B. Penyelesaian Sengketa Konsumen Berdasarkan UUPK

(3) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menghilangkan tanggungjawab pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang.

(4) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa.

Penjelasan Pasal 45 ayat (2) UUPK menyebutkan :

Penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak menutup kemungkinan penyelesaian secara damai oleh para pihak yang bersengketa. Pada setiap tahap diusahakan untuk menggunakan penyelesaian secara damai oleh kedua belah pihak.

Berdasarkan Pasal 45 ayat (2) dan Penjelasan Pasal 45 ayat (3) UUPK, penyelesaian sengketa konsumen pada dasarnya dapat ditempuh melalui 3 (tiga) cara yakni :

1. Penyelesaian secara damai

Penyelesaian secara damai adalah penyelesaian yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa melalui pengadilan atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dan tidak bertentangan dengan undang- undang ini (Penjelasan Pasal 45 UUPK). Penyelesaian secara damai dilaksanakan untuk mencapai musyawarah mufakat baik secara langsung antara konsumen dengan pelaku usaha maupun dengan bantuan mediator dari badan/ lembaga-lembaga dalam perlindungan konsumen.

2. Penyelesaian sengketa konsumen melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK);

Penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK tidak disebutkan secara langsung dalam UUPK. UUPK hanya menyebutkan bahwa konsumen dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. Namun, ketidakjelasan ini terjawab berdasarkan ketentuan Pasal 52 huruf a UUPK, bahwa lembaga yang dimaksud adalah Badan Penyelesaian Sengekata Konsumen (BPSK). Gugatan yang diajukan konsumen kepada pelaku usaha melalui BPSK salah satu bentuk penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan.

3. Penyelesaian sengketa konsumen di pengadilan.

Penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan dilakukan secara berjenjang yakni melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.

Pembagian jenis-jenis penyelesaian sengketa konsumen di atas, jika ditinjau lebih lanjut penyelesaian sengketa konsumen secara damai dapat digolongkan sebagai penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan.64 Sehingga secara umum jenis penyelesaian sengketa konsumen menurut UUPK terdiri atas peyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan dan penyelesaian sengketa konsumen di pengadilan.

64 Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau dari Hukum Acara Serta Kendala Implementasinya, Kencana, Jakarta, 2011, hlm. 14.

Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan maupun penyelesaian sengketa konsumen di pengadilan ditempuh berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa. UUPK tidak menjelaskan lebih lanjut maksud mengenai kata pilihan sukarela para pihak untuk menentukan penyelesaian sengketa konsumen.

Pilihan sukarela para pihak menunjukkan bahwa terhadap penyelesaian sengketa yang terjadi antara konsumen dan pelaku pada dasarnya merupakan kompromi para pihak yang bersengketa.

Namun apabila tidak terdapat kesepakatan antara konsumen dan pelaku usaha mengenai penentuan dimana akan diselesaiakannya sengketa konsumen, maka pilihan mana yang akan ditempuh adalah merupakan pilihan dari konsumen dan bukan pilihan dari pelaku usaha. Hal ini sejalan dengan ketentuan Pasal 45 ayat (1) UUPK yang memberikan pilihan kepada konsumen untuk melakukan gugatan kepada pelaku usaha.

Bagi para pihak yang telah memilih penyelesaian sengketa konsumen melalui di luar pengadilan, konsumen tidak dapat mengajukan gugatan kepada pelaku usaha melalui pengadilan secara bersamaan.

Gugatan melalui pengadilan hanya dapat dilakukan apabila penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan yang telah ditempuh dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa.

C. Pihak Yang Dapat Mengajukan Gugatan Terhadap Pelanggaran UUPK.

Secara umum dalam hukum acara perdata pada dasarnya pihak-pihak yang dapat mengajukan gugatan ke pengadilan hanyalah pihak yang berkepentingan, yakni pihak yang secara langsung hak-haknya dilanggar oleh pihak lain. Hal ini sesuai dengan asas hukum acara perdata yang menentukan bahwa tidak ada gugatan tanpa kepentingan (point d’interet, point d’action).

Namun dalam perkembangannya, menurut Mas Achmad Santosa

sebagaimana dikutip Susanti Adi Nugroho bahwa konsep hak gugat konvensional berkembang secara pesat seiring pula dengan perkembangan hukum yang menyangkut hajad hidup orang banyak (public interest law) di mana seorang atau sekelompok orang atau organisasi dapat bertindak sebagai penggugat walaupun tidak memiliki kepentingan hukum secara langsung, tetapi dengan didasari oleh suatu kebutuhan untuk memperjuangkan kepentingan, masyarakat luas atas pelanggaran hak-hak publik seperti lingkungan hidup, perlindungan konsumen, hak-hak civil dan politik.65

Di Indonesia, perkembangan hukum acara perdata yang berkaitan dengan pihak-pihak yang mengajuan gugatan ke pengadilan telah mengalami kemajuan yang menggembirakan. Hal ini terbukti dengan telah diakuinya jenis-jenis gugatan yang sebelumnya tidak dikenal dalam hukum acara perdata di Indonesia, yakni gugatan perwakilan kelompok (class action) dan gugatan oleh LSM (NGO’s Standing), seperti yang terdapat dalam UUPK.

UUPK telah menentukan pihak-pihak yang dapat mengajukan gugatan konsumen kepada pelaku usaha di pengadilan atas pelanggaran terhadap UUPK. Pasal 46 UUPK menentukan terdapat 4 (empat) pihak yang dapat mengajukan gugatan konsumen di pengadilan, yakni sebagai berikut :

1. Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;

Bagi seorang konsumen atau ahli warisnya, selain dapat mengajukan gugatan di pengadilan juga dapat mengajukan gugatan di luar pengadilan. Dalam kaitannya dengan pengajuan gugatan seorang konsumen atau ahli warisnya di pengadilan, Ahmadi Miru dan Sutarman Yado (2004: 234) mengemukakan bahwa penyelesaian

65 Ibid.,

sengketa konsumen di pengadilan bagi konsumen hanya dimungkinkan apabila :

1. Para pihak belum memilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, atau

2. Upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa.

Dengan demikian bagi seorang konsumen atau ahli warisnya, jika telah memilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, maka konsumen tersebut tidak dapat mengajukan gugatan secara bersamaan di pengadilan. Gugatan di pengadilan hanya dimungkinkan jika penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan telah dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau para pihak. Namun bagi seorang konsumen yang belum memilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, maka konsumen yang bersangkutan dapat secara langsung mengajukan gugatan konsumen di pengadilan.

2. Sekelompok konsumen;

Gugatan yang diajukan oleh sekelompok konsumen ini karena memiliki kepentingan yang sama.

3. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM).

Gugatan yang diajukan oleh LPKM yang dilakukan untuk mewakili kepentingan konsumen secara umum (kepentingan publik). LPKSM yang dapat mengajukan gugatan konsumen harus memenuhi syarat, yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan, di mana dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya;

4. Pemerintah atau instansi terkait.

Gugatan yang diajukan oleh pemerintah atau instansi terkait dapat dilaksanakan apabila barang atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar atau korban yang tidak sedikit. Tolak ukur kerugian materi yang besar atau korban yang tidak sedikit adalah besar dampaknya terhadap konsumen (Penjelasan Pasal 46 ayat (1) huruf d UUPK).

Bagi seorang konsumen atau ahli warisnya, gugatan konsumen pada dasarnya adalah untuk kepentingan konsumen yang bersangkutan (pemenuhan hak-hak konsumen secara pribadi). Gugatan konsumen oleh seorang konsumen atau ahli warisnya ini dapat dilaksanakan baik di luar pengadilan maupun di pengadilan. Gugatan yang diajukan di luar pengadilan dilaksanakan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang berada di tempat kedudukan konsumen. Pilihan penyelesaian sengketa (pengajuan gugatan) yang akan dilaksanakan melalui BPSK atau di pengadilan bersifat pilihan, yakni pilihan konsumen.

Berbeda hal dengan pengajuan gugatan yang diajukan oleh seorang konsumen untuk kepentingan konsumen sendiri, gugatan yang diajukan oleh sekelompok konsumen adalah gugatan yang diajukan dalam rangka kepentingan bersama kelompok konsumen dalam hal adanya kesamaan peristiwa hukum yang dialami oleh konsumen tersebut. Selanjutnya gugatan yang diajukan oleh Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat pada dasarnya bukanlah untuk kepentingan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat, melainkan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat dalam hal ini bertindak mewakili kepentingan konsumen secara umum (kepentingan publik).

Adapun gugatan yang diajukan oleh pemerintah atau instansi terkait didasarkan pada kewajiban negara untuk melindungi warga negaranya terkait dengan adanya pelanggaran UUPK yang mengakibatkan kerugian materi maupun korban yang banyak.

Berdasarkan ketentuan Pasal 46 ayat (2) UUPK bahwa gugatan konsumen kepada pelaku usaha yang diajukan oleh sekelompok konsumen, Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM), atau pemerintah atau instansi terkait hanya dapat diajukan kepada pengadilan dengan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum. Ketiga pihak yang disebutkan di atas tidak dapat mengajukan gugatan di luar pengadilan dalam hal ini BPSK, karena BPSK hanya menangani sengketa konsumen perseorangan dengan pelaku usaha.

D. Penyelesaian Sengketa Konsumen Di Luar Pengadilan Pasal 47 UUPK menyatakan bahwa penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan pada dasarnya diselengarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi atau mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi kembali atau tidak akan terulang kembali kerugian yang diderita oleh konsumen. Bentuk jaminan berupa pernyataan tertulis yang menerangkan bahwa tidak akan terulang kembali perbuatan yang telah merugikan konsumen tersebut.

Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan terdiri atas penyelesaian sengketa konsumen secara damai dan penyelesaian sengketa melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

1. Penyelesaian Sengketa Konsumen Secara Damai

Penyelesaian sengketa konsumen secara damai adalah penyelesaian sengketa konsumen yang dilakukan oleh para pihak tanpa melalui pengadilan atau badan penyelesaian sengketa konsumen dan tidak bertentangan dengan UUPK. Penyelesaian semacam ini ditempuh melalui musyawarah mufakat baik tanpa atau melalui fasilitator/mediator. Penyelesaian sengketa konsumen secara damai dapat dilaksanakan dengan cara-cara sebagai berikut :

a. Penyelesaian sengketa konsumen secara bipartit.

Penyelesaian sengketa konsumen secara bipartit ini merupakan penyelesaian sengketa yang dilaksanakan secara langsung antara pelaku usaha dan konsumen. Penyelesaian sengketa konsumen secara bipartit sebaiknya merupakan upaya pertama yang ditempuh oleh konsumen dan pelaku usaha. Penyelesaian sengketa secara bipartit dilaksanakan untuk menyelesaikan sengketa konsumen dengan jalan musyarawah dan mufakat antara konsumen dan pelaku usaha.

Penyelesaian sengketa konsumen secara bipartit dapat ditempuh melalui layanan pengaduan konsumen yang disediakan oleh pelaku usaha. Pelaku usaha biasanya menyediakan layanan pengaduan terkait dengan penggunaan atau mengkonsumsi barang atau jasa yang diproduksi oleh pelaku usaha. Konsumen yang merasa dirugikan akibat mengkonsumsi barang atau jasa yang diproduksi pelaku usaha, dapat mendatangi layanan pengaduan konsumen dengan menyampaikan komplain kepada pelaku usaha.

b. Penyelesaian sengketa konsumen melalui Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN)

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) adalah badan yang dibentuk dalam rangka mengembangkan upaya perlindungan konsumen di Indonesia. BPKN berkedudukan di Ibu Kota Negara dan bertanggung jawab kepada presiden. BPKN mempunyai fungsi memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia. Dalam rangka menjalankan fungsinya, BPKN juga dapat menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat dan pelaku usaha, dengan cara datang langsung, telepon, surat (e-mail dan faksimili) dan lainnya.

Prosedur penerimaan pengaduan di BPKN : 1) Pengaduan diterima oleh sekretariat BPKN;

2) Dalam hal pengaduan dengan cara datang langsung, diterima sekretariat BPKN, dengan mengisi formulir pengaduan yang telah disediakan oleh staf sekretariat disertai dengan fotocopy bukti diri yang sah;

3) Sekretariat BPKN meneruskan kepada Komisi Pengaduan BPKN dalam waktu paling lambat 1 (satu) kali 24 jam;

4) Proses penanganan pengaduan yang telah diterima paling lambat selama 14 (empat belas) hari kerja sejak pengaduan diterima.

Pengaduan yang di terima oleh BPKN di kategorikan menjadi 2 (dua) yaitu sebagi berikut :

a. Kategori I, merupakan pengaduan tentang permintaan penyelesaian sengketa antara masyarakat dengan pelaku usaha;

Penanganan yang dilakukan BPKN adalah sebagai berikut : 1) Menyarankan kepada pengadu untuk menyampaikan

pengaduan ke BPSK, LPKSM atau Direktorat Pemberdayaan Konsumen Kementerian Perdagangan;

2) Apabila kasus yang diadukan tidak dapat diselesaikan oleh lembaga/instansi tersebut pada butir (a) di atas, pengadu dapat mengajukan kasusnya ke pengadilan negeri setempat.

b. Kategori II, merupakan pengaduan tentang ketidakpuasan masyarakat, LPKSM dan atau pelaku usaha atas kebijakan pemerintah yang terkait masalah perlindungan konsumen Penanganan yang dilakukan BPKN adalah sebagai berikut : 1) Menganalisis tentang pelanggaran peraturan perundang-

perundangan dalam bidang perlindungan konsumen yang terjadi;

2) Merumuskan alternatif saran dan rekomendasi kebijakan perlindungan konsumen nasional kepada pemerintah maupun instansi yang terkait.

c. Penyelesaian sengketa konsumen melalui Direktorat Pemberdayaan Konsumen, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Direktorat Pemberdayaan Konsumen adalah salah satu direktorat dibawah Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Direktorat Pemberdayaan Konsumen ini walaupun bukanlah lembaga khusus yang dibentuk untuk menyelesaikan sengketa konsumen, namun sangat terkait dengan fungsi dan peranannya menangani isu-isu atau permasalahan konsumen juga menerima pengaduan konsumen terkait dengan sektor perdagangan. Berdasarkan pengaduan baik yang disampaikan oleh konsumen, pelaku usaha maupun pihak terkait, Direktorat Pemberdayaan Konsumen juga dapat melakukan pemanggilan

para pihak untuk melakukan klarifikasi maupun penyelesaian sengketa konsumen secara damai.

d. Penyelesaian sengketa konsumen melalui Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM).

Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) merupakan istilah bagi lembaga konsumen dalam UUPK. LPKSM memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam perlindungan konsumen di Indonesia. Salah satu tugas LPKSM adalah membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan dan pengaduan konsumen.

LPKSM dalam memperjuangkan hak konsumen dapat melakukan advokasi maupun pemberdayaan konsumen agar mampu memperjuangkan haknya secara mandiri, baik secara perorangan maupun kelompok.

Kelembagaan LPKSM di Indonesia harus berbentuk badan hukum atau yayasan. Salah satu LPKSM di Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap perlindungan konsumen ialah Yayasan Lembaga Konsumen Indononesia (YLKI).

Prosedur pengaduan dan mekanisme penyelesaian sengketa konsumen di YLKI :66

1. Pengaduan disampaikan melalui telepon, surat atau datang langsung.

Pengaduan melalui telepon dikategorikan menjadi dua :

a. Hanya meminta informasi atau saran (advice), maka telepon itu cukup dijawab secara lisan pula dan diberikan advice pada saat itu dan selesai.

66 https://ylki.or.id/

b. Pengaduan untuk ditindaklanjuti. Jika konsumen meminta pengaduannya ditindaklanjuti, maka si penelepon diharuskan mengirimkan surat pengaduan secara tertulis ke YLKI yang berisi : 1) Kronologis kejadian yang dialami sehingga merugikan konsumen 2) Wajib mencantumkan identitas dan alamat lengkap konsumen 3) Menyertakan barang bukti atau fotokopi dokumen pelengkap

lainya (kuitansi pembelian, kartu garansi, surat perjanjian ) 4) Apakah konsumen sudah pernah melakukan komplain ke

pelaku usaha. Jika belum pernah, maka konsumen dianjurkan untuk melakukan komplain secara tertulis kepada pelaku usaha terlebih dahulu.

5) Cantumkan tuntutan dari pengaduan konsumen tersebut.

2. Setelah surat masuk ke YLKI, resepsionis meregister semua surat-surat yang masuk secara keseluruhan (register I).

Selanjutnya surat diberikan kepada pengurus harian setidaknya ada tiga yaitu (a) ditindaklanjuti / tidak ditindaklanjuti. (b) bukan sengketa konsumen. (c) bukan skala prioritas. Surat didisposisikan ke bidang pengaduan konsumen dilakukan register II khusus sebagai data pengaduan.

3. Setelah surat sampai personel yang menangani maka dilakukan seleksi administrasi disini berupa kelengkapan secara administrasi.

Langkah selanjutnya dilakukan setelah proses administrasi dan analisis substansi, yaitu korespondensi kepada pelaku usaha dan instansi terkait sehubungan dengan pengaduan konsumen.

Pada tahap pertama korenspondensi dilakukan biasanya adalah meminta tanggapan dan penjelasan mengenai kebenaran dan pengaduan konsumen tersebut. Disini YLKI memberikan kesempatan untuk mendengarkan kedua belah pihak yaitu versi konsumen

dan pelaku usaha. Tidak jarang dengan korespondensi ini kasus dapat diterima masing-masing pihak dengan memberikan jawaban secara tertulis ke YLKI yang isinya permintaan maaf kepada konsumen dan sudah dilakukan penyelesaian langsung kepada konsumen. Namun demikian tidak menutup kemungkinan pelaku usaha tidak menjawab persoalan dan bersikukuh pada pendapatnya.

Dalam kondisi seperti YLKI mengambil inisiatif dan pro aktif untuk menjadi mediator, dengan mengundang para pihak.

Dalam proses mediasi, dua kemungkinan yang bisa terjadi yaitu terjadinya kesepakatan yang berarti selesai atau tidak terjadi kesepakatan (deadlock), artinya kasus selesai dalam tingkatan litigasi.

2. Penyelesaian Sengketa Konsumen Melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)

Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan melalui BPSK, selain diatur dalam UUPK, juga diatur dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (Kepmenperindag Pelaksanaan Tugas dan Wewenang BPSK), dengan tetap memperhatikan ketentuan dalam UUPK.

Prosedur penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan melalui BPSK meliputi hal-hal sebagi berikut :

a. Permohonan penyelesaian sengketa konsumen

Permohonan penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK hanya dapat diajukan oleh seorang konsumen, ahli warisnya atau kuasanya. Permohonan penyelesaian sengketa konsumen diajukan kepada kepada BPSK baik secara tertulis maupun lisan melalui sekretariat BPSK ditempat kedudukan konsumen.

Permohonan penyelesaian sengketa konsumen yang diajukan di tempat kedudukan konsumen ini merupakan salah satu kekhususan dari penyelesaian sengketa konsumen berdasarkan UUPK. Hal ini berdasarkan ketentuan Pasal 23 UUPK.

Pasal 23 UUPK menyebutkan :

Pelaku usaha yang menolak atau tidak memberi tanggapan atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dapat digugat melalui badan penyelesaian sengketa konsumen atau mengajukan ke badan peradilan di tempat kedudukan konsumen.

Ketentuan Pasal 23 UUPK ini merupakan salah satu terobosan baru dalam hal pengajuan sengketa konsumen untuk menuntut hak-haknya. Sebelum di undangkan UUPK, prinsip umum pengajuan gugatan selalu didasarkan pada ketentuan Pasal 118 Herziene Indonesisch Reglement (HIR).

Pasal 118 HIR

Gugatan perdata, yang pada tingkat pertama masuk kekuasaan pengadilan negeri, harus dimasukkan dengan surat permintaan yang ditanda-tangani oleh penggugat atau oleh wakilnya, kepada ketua pengadilan negeri di daerah hukum siapa tergugat bertempat diam atau jika tidak diketahui tempatnya, tempat tinggal sebetulnya.

Jika mengacu pada ketentuan Pasal 118 HIR ini, maka seorang konsumen yang akan mengajukan gugatan, maka gugatan tersebut harus diajukan di pengadilan ditempat kedudukan tergugat (pelaku usaha). Pengaturan khusus tempat pengajuan gugatan konsumen ini tentunya akan sangat membantu konsumen manakala dirugikan oleh pelaku usaha yang bisa saja kedudukan hukumnya berbeda dengan pelaku usaha. Maka jika mengacu pada Pasal 118 HIR, maka gugatan konsumen tersebut harus

diajukan ditempat kedudukan pelaku usaha. Tentunya hal ini akan menghambat aksesbiltas konsumen untuk memperjuangkan hak-haknya. Dengan ditentukannya tempat pengajuan gugatan ganti kerugian ditempat kedudukan konsumen maka dengan sendirinya banyak memberikan kemudahan kepada konsumen.67 Apabila di tempat kedudukan konsumen belum terbentuk BPSK, maka gugatan konsumen dapat diajukan di BPSK terdekat.

Seorang ahli waris atau kuasanya dapat mengajukan permohonan penyelesaian sengketa konsumen di BPSK, apabila konsumen dalam kondisi sebagai berikut :

1) meninggal dunia;

2) sakit atau telah berusia lanjut sehingga tidak dapat mengajukan pengaduan sendiri baik secara tertulis maupun lisan, sebagaimana dibuktikan dengan surat keterangan dokter dan bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP);

3) belum dewasa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; atau

4) orang asing (Warga Negara Asing).

Permohonan penyelesian sengketa konsumen baik yang dibuat secara tertulis maupun tidak tertulis yang diterima oleh Sekretariat BPSK diberikan bukti tanda terima kepada pemohon.

Terhadap permohonan penyelesaian sengketa konsumen yang diajukan secara tidak tertulis harus dicatat oleh Sekretariat BPSK dalam suatu format yang disediakan untuk itu dan dibubuhi tanda tangan atau cap jempol oleh pemohon. Berkas permohonan penyelesaian sengketa konsumen kemudian dicatat oleh Sekretariat BPSK dan dibubuhi tanggal dan nomor registrasi.

67 Ahmadi Miru & Sutarman Yado, op.cit., hlm. 155.

Pasal 16 Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001 menentukan bahwa permohonan penyelesaian sengketa konsumen secara tertulis harus memuat secara benar dan lengkap mengenai:

1) nama dan alamat lengkap konsumen, ahli waris atau kuasanya disertai bukti diri;

2) nama dan alamat lengkap pelaku usaha;

3) barang atau jasa yang diadukan;

4) bukti perolehan (bon, faktur, kwitansi dan dokumen bukti lain);

5) keterangan tempat, waktu dan tanggal diperoleh barang atau jasa tersebut;

6) saksi yang mengetahui barang atau jasa tersebut diperoleh;

7) foto-foto barang dan kegiatan pelaksanaan jasa, bila ada.

Pasal 17 Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001 menentukan bahwa ketua BPSK dapat menolak permohonan penyelesaian sengketa konsumen apabila :

1) permohonan tidak memuat persyaratan-persyaratan isi permohonan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana ditentukan dalam Pasal 16 No. 350/MPP/Kep/12/2001.

2) permohonan gugatan bukan merupakan kewenangan BPSK.

Ketentuan Pasal 17 Kepmenperindag tersebut selanjutnya dijabarkan lebih lanjut dalam Pedomam Operasional BPSK yang dikeluarkan oleh Direktorat Perlindungan Konsumen Departemen Perdagangan, yakni sebagai berikut :68

1) Setiap permohonan secara tertulis tidak dapat diterima, apabila tidak disertai dengan bukti-bukti secara benar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 Kepmenperindag No. 350 Tahun 2001;

68 Susanti Adi Nugroho, op.cit., hlm. 154.

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 101-148)

Dokumen terkait