• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbuatan yang dilarang bagi Pelaku Usaha

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 64-73)

Bab III Pelaku Usaha

C. Perbuatan yang dilarang bagi Pelaku Usaha

h. tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan "halal" yang dicantumkan dalam label;

i. tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama barang, ukuran, berat/ isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus di pasang/dibuat;

j. tidak mencantumkan informasi atau petunjuk penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang, rusak, cacat atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud.

(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa rnemberikan informasi secara lengkap dan benar.

(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang memperdagangkan barang atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari peredaran.

Pada intinya substansi Pasal 8 UUPK ini tertuju pada dua hal, yaitu larangan memproduksi barang atau jasa dan larangan memperdagangkan barang atau jasa yang dimaksud. Larangan- larangan yang dimaksud ini, hakikatnya menurut Nurmadjito yaitu untuk mengupayakan agar barang dan/jasa yang beredar di masyarakat merupakan produk yang layak edar, antara lain mengenai asal- usul, kualitas sesuai dengan informasi pengusaha baik melalui label, etiket, iklan, dan lain sebagainya.41

41 Ahmadi Miru & Sutarman Yado, op.cit., hlm. 60.

Larangan-larangan yang tertuju pada “produk” sebagaimana dimaksud di atas adalah untuk memberikan perlindungan terhadap kesehatan/harta konsumen dari pengguna barang dengan kualitas yang di bawah standar atau kualitas yang lebih rendah dari pada nilai harga yang dibayar. Dengan adanya perlindungan yang demikian, maka konsumen tidak akan diberikan barang dengan kualitas yang lebih rendah dari pada harga yang dibayarnya, atau yang tidak sesuai dengan informasi yang diperoleh.

Pasal 9 UUPK :

(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan suatu barang atau jasa secara tidak benar, atau seolah-olah:

a. barang tersebut telah memenuhi atau memiliki potongan harga, harga khusus, standar mutu tertentu, gaya atau mode tertentu, karakteristik tertentu, sejarah atau guna tertentu;

b. barang tersebut dalam keadaan baik atau baru;

c. barang atau jasa tersebut telah mendapatkan atau memiliki sponsor persetujuan, perlengkapan tertentu, keuntungan tertentu, ciri-ciri kerja atau aksesori tertentu;

d. barang atau jasa tersebut dibuat oleh perusahaan yang mempunyai sponsor, persetujuan atau afiliasi;

e. barang atau jasa tersebut tersedia;

f. barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi;

g. barang tersebut rnerupakan kelengkapan dari barang tertentu;

h. barang tersebut berasal dari daerah tertentu;

i. secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang atau jasa lain;

j. menggunakan kata-kata yang berlebihan, seperti aman tidak berbahaya, tidak mengandung risiko atau efek sampingan tanpa keterangan yang lengkap;

k. menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.

(2) Barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk diperdagangkan.

(3) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1) dilarang melanjutkan penawaran, promosi, dan pengiklanan barang atau jasa tersebut.

Memperhatikan substansi ketentuan Pasal 9 UUPK ini pada intinya merupakan bentuk larangan yang tertuju pada “perilaku”

pelaku usaha, yang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan suatu barang atau jasa secara tidak benar atau seolah-olah barang tersebut tidak memenuhi standar mutu tertentu, memiliki potongan harga; dalam keadaan baik dan/atau baru; telah mendapatkan atau memiliki sponsor; tidak mengandung cacat tersembunyi; merupakan kelengkapan dari barang tertentu; atau seolah-oleh berasal dari daerah tertentu. Demikian pula “perilaku” menawarkan, mempromosikan, mengiklankan barang atau jasa yang secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang atau jasa lain menggunakan kata-kata yang berlebihan; menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.

Larangan terhadap pelaku usaha tersebut dalam Pasal 9 UUPK, membawa akibat bahwa pelanggaran atas larangan tersebut dikualifikasi sebagai perbuatan melanggar hukum. Tujuan dari pengaturan ini menurut Nurmadjito adalah untuk mengupayakan terciptanya tertib perdagangan dalam rangka menciptakan usaha yang sehat. Ketertiban tersebut sebagai bentuk perlindungan konsumen, karena larangan itu untuk memasarkan bahwa produk yang diperjualbelikan dalam

masyarakat dilakukan dengan cara tidak melanggar hukum.

Seperti praktek menyelesaikan pada saat menawarkan, mempromosikan, mengiklankan, memperdagangkan atau mengedarkan produk barang atau jasa yang palsu, atau hasil dari suatu kegiatan pembajakan.

Menyangkut larangan yang disebut dalam Pasal 9 ayat (1) UUPK yaitu larangan menawarkan, mempromisikan, mengiklankan suatu barang atau jasa secara tidak benar atau seolah-olah barang tersebut berasal dari daerah tertentu, dalam bidang Hak atas Kekayaan Intelektual dikenal apa yang disebut “indikasi geografis dan indikasi asal” sebagaimana diatur dala Pasal 56 ayat (1) dan Pasal 59 Undang-Undang Merek 2001.

Pasal 10 UUPK :

Pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan atau membuat pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan mengenai:

a. harga atau tarif suatu barang atau jasa.

b. kegunaan suatu barang atau jasa.

c. kondisi, tanggungan, jaminan, hak atau ganti rugi atas suatu barang atau jasa.

d. tawaran potongan harga atau hadiah menarik yang ditawarkan.

e. bahwa penggunaan barang atau jasa.

Sama dengan ketentuan Pasal 9 UUPK yang diuraikan sebelumnya, Pasal 10 UUPK ini juga menyangkut larangan yang tertuju pada

“perilaku” pelaku usaha yang tujuannya mengupayakan adanya perdagangan yang tertib dan iklim usaha yang sehat guna memastikan produk yang diperjualbelikan dalam masyarakat dilakukan dengan cara tidak melanggar hukum. Demikian pula, karena ketentuan Pasal 10 UUPK di atas ini berisi larangan menawarkan, mempromisikan, mengiklankan atau membuat

pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan terhadap barang atau jasa tertentu, maka secara otomatis larangan dalam pasal ini juga menyangkut persoalan representasi sebagaimana diuraikan dalam Pasal 9 UUPK.

Pasal 11 UUPK :

Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang, dilarang mengelabui/menyesatkan konsumen dengan :

a. menyatakan barang atau jasa tersebut seolah-olah telah memenuhi standar mutu tertentu;

b. menyatakan barang atau jasa tersebut seolah-olah tidak mengandung cacat tersembunyi;

c. tidak berniat untuk menjual barang yang ditawarkan melainkan dengan maksud untuk menjual barang lain;

d. tidak menyediakan barang dalam jumlah tertentu atau jumlah yang cukup dengan maksud menjual barang yang lain;

e. tidak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu atau dalam jumlah cukup dengan maksud menjual jasa yang lain;

f. menaikkan harga atau tarif barang atau jasa sebelum melakukan obral.

Sudah jelas cara-cara penjualan barang atau jasa sebagaimana tersebut dalam huruf a sampai dengan f dari Pasal 11 UUPK tersebut memenuhi perbuatan yang mengelabui atau menyesatkan konsumen. Dengan demikian apabila diikuti komentar kami sebelumnya terutama ketentuan Pasal 9 UUPK dan Pasal 10 UUPK, maka adanya pelanggaran atas ketentuan Pasal 11 UUPK ini tidak saja dapat dituntut melakukan perbuatan melawan hukum, namun janji-janji pelaku usaha seperti itu dapat juga

dikualifikasi sebagai wanprestasi sepanjang ada alat bukti yang mengualifikasi sebagai wanprestasi, misalnya : iklan, promosi, atau bentuk lain.

Pasal 12 UUPK :

Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan suatu barang atau jasa dengan harga atau tarif khusus dalam waktu dan jumlah tertentu, jika pelaku usaha tersebut tidak bermaksud untuk melaksanakannya sesuai dengan waktu dan jumlah yang ditawarkan, dipromosikan, atau diiklankan.

Pasal ini menyangkut larangan yang tertuju perilaku pelaku usaha, sebagaimana pasal-pasal sebelumnya. Sebagai larangan yang ditujukan pada perilaku, terlihat dari kegiatan menawarkan, mempromosikan, atau mengiklankan barang atau jasa dengan harga atau tarif khusus padahal pelaku usaha tersebut tidak bermaskud untuk melaksanakan.

Pelaku usaha dilarang melakukan hal tersebut, untuk menghindari kekacauan tertib perdagangan dan iklim usaha yang tidak sehat, disamping melindungi konsumen dari kegiatan menyesatkan.

Atas perilaku yang tidak benar seperti itu, dengan sendirinya dikualifikasi sebagai perbuatan melawan hukum, disamping dapat juga dituntut melakukan wanprestasi.

Pasal 13 UUPK :

(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, atau mengiklankan suatu barang atau jasa dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang atau jasa lain secara cuma-cuma dengan maksud tidak memberikannya atau memberikan tidak sebagaimana yang dijanjikannya.

(2) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan obat, obat tradisional, suplemen makanan, alat kesehatan, dan jasa pelayanan kesehatan dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang atau jasa lain.

Pasal 13 UUPK ini menyangkut larangan yang tertuju pada cara-cara penjualan yang dilakukan melalui sarana penawaran, promosi, atau pengiklanan, disampingkan larangan yang tertuju pada perilaku pelaku usaha yang mengelabui atau menyesatkan konsumen. Hanya variasinya yang membedakan dengan larangan yang tertuang di dalam pasal-pasal sebelumnya.

Pasal 14 UUPK :

Pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa yang, ditujukan untuk diperdagangkan dengan memberikan hadiah melalui cara undian, dilarang untuk:

a. tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang dijanjikan;

b. mengumumkan hasilnya tidak melalui media masa;

c. memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan;

d. mengganti hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan;

Mengumumkan undian tidak secara transparan, dicontohkan dalam Pasal 14 UUPK di atas yaitu mengumumkan hasil undian tidak dilakukan melalui media massa. Transparansi dalam hal ini diperlukan agar semua masyarakat sebagai konsumen dapat mengetahui hasil pengumuman tersebut, sehingga dapat menghilangkan kesan bahwa hadiah hanya diberikan pada orang-orang tertentu.

Pasal 15 UUPK :

Pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan dengan cara pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen.

Pada dasarnya Pasal 15 UUPK tersebut, tidak melarang door to door sale, namun yang dilarang adalah cara paksaan yang diperagakan secara “professional” oleh sales sebagai pelaku uasaha, yang menjadi unsur paksaan tersebut tidak tampak secara konkrit di mata konsumen. Jadi sepanjang cara paksaan yang dimaksud tidak dilakukan, door to door sale dapat saja dilakukan sesaui asas konsensual.

Pasal 16 UUPK :

Pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa melalui pesanan dilarang untuk :

a. tidak menepati pesanan atau kesepakatan waktu penyelesaian sesuai dengan yang dijanjikan;

b. tidak menepati janji atas suatu pelayanan atau prestasi.

Larangan dalam pasal ini intinya tertuju pada “perilaku”

pelaku usaha, yang tidak menepati pesanan atau tidak menepati kesepakatan waktu penyelesaian sesuai dengan yang dijanjikan, termasuk tidak menepati janji suatu pelayanan atau prestasi.

Pasal 17 UUPK :

(1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang : a. mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan,

kegunaan dan harga barang atau tarif jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang atau jasa;

b. mengelabui jaminan/garansi terhadap barang atau jasa;

c. memuat informasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang atau jasa;

d. tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang atau jasa;

e. mengeksploitasi kejadian atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau persetujuan yang bersangkutan;

f. melanggar etika atau ketentuan peraturan perundang- undangan mengenai periklanan.

(2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah melanggar ketentuan pada ayat (1).

Pasal 17 UUPK ini merupakan pasal yang secara khusus ditujukan pada perilaku pelaku usaha periklanan, yang mengelabui konsumen melalui iklan yang diproduksinya. Menurut Ari Purwadi, mengelabui konsumen melalui iklan dapat terjadi dalam bentuk:

pernyataan yang salah, pernyataan yang menyesatkan, dan iklan yang berlebihan (Ahmadi Miru, 2004:102).

Iklan standar (selanjutnya disebut iklan) memegang peranan penting dalam memberikan informasi kepada konsumen tentang produk-produk tertentu, sehingga atas dasar informasi yang diperoleh dari iklan tersebut, konsumen bersedia membeli/ menggunakan produk tertentu yang benar iklan tidak selamanya memberikan informasi yang benar kepada konsumen, maka konsumen dapat dirugikan karenannya.

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 64-73)

Dokumen terkait