• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sengketa Konsumen

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 94-101)

Bab VI Penyelesaian Sengketa Konsumen

A. Sengketa Konsumen

hukum harus tetap dipegang. BPSK tidak menyelesaikan sengketa konsumen dengan jalan damai, tetapi memeriksa dan memutus sengketa berdasarkan hukum. Artinya, BPSK dalam menjalankan perannya dalam penyelesaian sengketa tetap berpegang pada ketentuan undang-undang hukum yang berlaku. Namun demikian, penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK termasuk penyelesaian sengketa di luar pengadilan.

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) adalah lembaga yang memeriksa dan memutus sengketa konsumen, yang bekerja seolah-olah sebagai sebuah pengadilan. Karena itu, BPSK ini dapat disebut sebagai peradilan kuasi.

BPSK berkedudukan di Daerah Iingkat II Kabupaten/Kotamadya.

Anggota BPSK terdiri dari unsur-unsur: pemerintah, konsumen, dan pelaku usaha, yang masing-nnasing unsur diwakili oleh sekurang-kurangnya tiga orang dan sebanyak-banyaknya lima orang. Anggota BPSK ditetapkan oleh Menteri Perindustrian dan

Perdagangan. Untuk memperlancar tugasnya, BPSK dibantu oleh sekretariat yang dipimpin oleh seorang kepala sekretariat dan beberapa anggota sekretariat. Kepala dan anggota sekretariat diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

Tugas dan wewenang BPSK menurut Pasal 52 UUPK meliputi:

1. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen;

dengan cara melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi, 2. memberikan konsultasi perlindungan konsumen,

3. melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku, 4. melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran

ketentuan dalam undang-undang ini,

5. menerima pengaduan, baik tertulis maupun tidak tertulis dari konsumen tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen,

6. melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen,

7. memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen,

8. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, atau setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini,

9. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang sebagaimana dirnaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak bersedia memenuhi panggilan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), 10. mendapatkan, meneliti atau menilai surat, dokumen,-atau

alat bukti lain guna penyelidikan atau pemeriksaan,

11. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak konsumen,

12. memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perlindungan konsumen,

13. menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini.

Melihat pada tugas dan wewenang BPSK sebagaimana disebutkan di atas, dapat dikatakan bahwa BPSK ini Iebih luas dari sebuah badan peradilan perdata yang sampai masuk pada tugas dan wewenang Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), yang dapat melakukan tugas di bidang pengawasan dan konsultasi. Sebaiknya tugas dan wewenang ini dipersempit sampai batas-batas penyelesaian sengketa saja sehingga BPSK ini dapat mencapai tujuannya.

Idealnya BPSK ini adalah sebagai sebuah lembaga arbitrase yang tugastugasnya berada pada lingkup mencari pemecahan/

penyelesaian dengan jalan damai terhadap sengketa konsumen dengan pelaku usaha. Dengan tugas seperti ini maka BPSK dapat dengan segera memberikan putusannya untuk mengakhiri sengketa konsumen. Diharapkan dengan penyelesaian sengketa yang sederhana dan singkat, tidak diperlukan lagi penyelesaian sengketa melalui pengadilan yang cenderung lama dan ber belit- belit. Akan tetapi, Undang-Undang Perlindungan Konsumen in dengan jelas menyebutkan bahwa pemeriksaan perkara konsumen olet BPSK bukan dengan jalan damai, melainkan didasarkan pada ketentuar hukunn yang berlaku (lihat penjelasan Pasal 45 ayat (2)). lni berarti pula bahwa majelis BPSK sungguh-sungguh akan berusaha menemukan bukti-bukti tentang adanya pelanggaran hukum di dalam sengketa konsumen tersebut dan membuat putusan sesuai dengan ketentuan hukum.

C. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM)

LPKSM memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.

Tugas LPKSM :

1. Menyebarkan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran atas hak dan kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang atau jasa;

2. Memberi nasehat kepada konsumen yang memerlukannya;

3. Bekerjasama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan konsumen;

4. Membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya termasuk menerima keluhan atau pengaduan konsumen;

5. Melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadapap pelaksanaan perlindungan konsumen.

BAB VI

PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN

A. Sengketa Konsumen

engketa pada umumnya terjadi apabila terdapat perbedaan pandangan atau pendapat antara para pihak tertentu tentang hal tertentu. Satu pihak merasa dirugikan hak- haknya oleh pihak lain, sedangkan pihak yang lain tidak merasa demikian.59 UUPK tidak memberikan definisi mengenai sengketa konsumen. Definisi sengketa konsumen ditemukan dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No : 350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, yang menyebutkan bahwa sengketa konsumen adalah sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen yang menuntut ganti rugi atas kerusakan, pencemaran atau yang menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasa.

Az. Nasution mengemukakan bahwa sengketa konsumen adalah sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha (publik atau privat) tentang produk konsumen, barang atau jasa konsumen tertentu.60 Untuk menentukan apakah suatu sengketa merupakan suatu sengketa konsumen atau bukan, perlu kiranya diperhatikan apakah pihak konsumen yang bersengketa tersebut

59 A.Z. Nasution, op.cit., hlm. 229.

60 Ibid.,

S

merupakan konsumen sebagaimana yang dimaksud konsumen dalam UUPK serta produk yang disengketakan tersebut adalah sebagai produk konsumen. Konsumen yang dimaksud dalam UUPK yakni pemakai, pengguna atau pemanfaat barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup diri, keluarga atau rumah tangganya dan tidak untuk tujuan komersial. Adapun yang dimaksud dengan produk konsumen adalah produk itu merupakan barang atau jasa yang umumnya dipakai, digunakan atau dimanfaatkan bagi konsumen untuk memenuhi kepentingan diri, keluarga atau rumah tangga konsumen.61 Selanjutnya perlu diperhatikan juga apakah pelaku usaha tersebut adalah pelaku usaha sebagaimana dimaksud dalam UUPK.

Yusuf Shofie mengemukakan bahwa batasan konsumen menurut UUPK tidak diperluas bagi individu pihak ketiga (bystander) yang dirugikan atau menjadi korban akibat penggunaan atau pemanfaatan suatu produk barang atau jasa. Investor, tanpa memperhatikan besar kecilnya modal serta instrumen-instrumen investasi bukanlah konsumen menurut UUPK, karena motifnya adalah untuk mendapatkan keuantungan. Yusuf Shofie juga menambahkan bahwa UUPK tidak mengakui badan hukum, seperti Yayasan dan Perseroan Terbatas (PT) sebagai konsumen. Badan Hukum ini walaupun telah melakukan pembelian atau pembayaran, namun mereka ini adalah sebagai konsumen antara, sehingga jika terjadi sengketa dengan pelaku usaha baik pelaku usaha perorangan maupun badan usaha, maka ini bukanlah sengketa konsumen tetapi merupakan sengketa sesama pelaku usaha.62

61 Ibid.,

62 Yusuf Shofie, op.cit., hlm. 14-15.

Dalam dokumen BUKU HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN (Halaman 94-101)

Dokumen terkait