ASPEK PERBENIHAN
C. Hasil uji lanjut rata-rata berat 1.000 butir benih, daya berkecambah benih, pertumbuhan tinggi dan diameter bibit kaliandra hasil seleksi Seed Gravity Table
Tabel 4. Rata-rata berat 1.000 butir benih, Kadar Air dan Daya Berkecambah Benih, partum- buhan tinggi dan diameter bibit kaliandra dan akor hasil seleksi Seed Gravity Table
Jenis Asal Benih Kriteria
Berat 1000 butir
(gr)
Daya Berkecamba
h (DB)
Tinggi Bibit (cm)
Diameter Bibit (mm)
Kaliandra Mega Mendung KB1 5,79a 84,50 19,16a 2,27
KB2 - 75,00 14,69 b 1,87
KB3 5,02 b 83,50 15,49 b 2,05
KB4 4,05 c 68,00 13,77 b 1,85
Tabek Patah KB1 4,85a 96,67a 18,60a 2,31
85
Jenis Asal Benih Kriteria
Berat 1000 butir
(gr)
Daya Berkecamba
h (DB)
Tinggi Bibit (cm)
Diameter Bibit (mm)
KB2 4,55 b 80,50 bc 17,28ab 2,41
KB3 4,52 b 83,50 b 18,21ab 2,37
KB4 4,07 c 73,00 c 16,72 b 2,41
Sei Ungkang KB1 5,11a 83,00a 19,8 2,44
KB2 4,88 b 83,33a 18,67 2,21
KB3 4,70 c 76,00ab 17,05 2,27
KB4 4,05 d 68,50 b 17,23 2,27
Ciamis KB1 5,26a 67,00a 29,21 2,50 b
KB2 5,03 b 66,00a 28,63 2,60ab
KB3 5,01 b 58,50ab 22,67 2,03 c
KB4 4,45 c 44,50 b 26,18 2,93a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan pada tingkat kepercayaan 95%
Berat 1.000 butir benih kaliandra, yang diseleksi dengan alat Seed Gravity Table, menghasilkan berat 1.000 butir yang tertinggi terdapat pada kriteria KB1 kemudian diikuti dengan KB2, KB3, dan KB4. Ini menunjukkan bahwa ukuran benih yang terdapat pada KB1 lebih besar kemudian diikuti KB2, KB3, dan KB4, sehingga kita dapat membuat tingkatan ukuran berat benih menjadi 4. Untuk jumlah 1000 butir benih apabila benih diseleksi dengan alat Seed Gravity Table, berat benih akan menurun dengan bertambah tinggi kriteria kelompok benih dan jumlah benih akan berbanding terbalik dengan berat benih, dengan bertambah besar ukuran benih maka jumlah benih perkilogramnya akan lebih sedikit. Jadi apabila benih diseleksi dengan alat Seed Gravity Table ini maka kita dapat memperkirakan jumlah benih per kg dengan ukuran benih dan kriteria yang kita inginkan. Sesuai dengan penelitian Zanzibar (1993), mengatakan bahwa, secara umum perlakuan pengklasifikasian kelompok berat benih dengan menggunakan alat Seed Gravity Table cukup efektif untuk jenis sengon.
Pengujian daya berkecambah untuk ke empat lokasi asal benih memperlihatkan adanya perbedaan yang nyata antar kriteria kelompok benih kecuali benih yang berasal dari Mega Mendung.Benih yang berukuran besar umunya mempunyai daya berkecambah yang tinggi karena benih yang berukuran besar diperkirakan mempunyai cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan benih yang berukuran kecil.sesuai dengan jenis akor (Suitaet al., 2013), weru (Suita et al., 2013) yang diseleksi dengan alat seed Gravity Table menunjukkan bahwa benih yang berukuran besar mempunyai daya berkecambah yang lebih tinggi. Begitu juga dengan pertumbuhan tinggi bibit juga dipengaruhi oleh ukuran benih dimana benih yang lebih besar (KB1 dan KB2) pertumbuhan bibitnya cenderung lebih cepat yang terdapat pada benih yang berasal dari Mega Mendung dan Tabek Patah, walaupun benih yang berasal dari Sei Ungkang dan Ciamis tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata tetapi dari nilai pertumbuhan tinggi terlihat lebih tinggi pada kriteria KB1 dan KB1. Ini menunjukkan bahwa umumnya benih yang lebih berat mempunyai pertumbuhan yang lebih baik karena hal ini disebabkan kecepatan berkecambah pada ukuran yang lebih berat dan lebih tinggi dibandingkan dengan benih ringan, sehingga energi pertumbuhan ini masih berlangsung hingga pertumbuhan tinggi bibit. Dengan demikian, benih berukuran lebih berat memiliki potensi yang lebih besar untuk mendukung perkembangan bibit siap tanam, dengan parameter tinggi sebagai salah satu kriteria morfologi
86
bibit, selain diameter, penampakan daun, batang dan bentuk tunas, bentuk dan volume akar, dan potensi pertumbuhan akar (Hawkins, 1996).
IV. KESIMPULAN
Daya berkecambah benih dan pertumbuhan tinggi bibit kaliandra hasil seleksi dengan Seed Gravity table umumnya memperlihatkan bahwa yang lebih baik terdapat pada kriteria kelompok benih 1 (KB1), 2 (KB2), 3 (KB3), sedangkan nilai yang terkecil terdapat pada kriteria kelompok benih 4 (KB4). Dengan demikian untuk mendapatkan benih kaliandra yang bermutu tinggi sebaiknya menggunakan benih kaliandra dengan kriteria KB1, KB2 dan KB3, ini juga didukung dengan persentase berat benih terbanyak umumnya terdapat pada kriteria kelompok benih 1 (KB1) dan kelompok benih 3 (KB3), dengan nilai di atas 40%.
DAFTAR PUSTAKA
Bonner, F.T., Vozzo, J.A., Elam, W.W., and S.B. Land. 1994. Instructor’s manual; Tree seed technology training course. United Stated Departement of Agriculture. New Orleans.
Louisiana.
Hawkins, B.J. 1996. Planting stock quality assessment. In Yapa, A.C., ed. 1996. Proc. Intl. Symp.
Recent advances in tropical tree seed technol. and Planting stock production. ASEAN Forest Tree Seed Centre, Muaklek, Saraburi, Thailand.
ISTA. 2010. International rules for seed testing. The International Seed Testing Association.
Bassersdorf. Switzerland.
Sadjad, S., E. Muniarti, dan S. Ilyas. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih Komparatif ke Simulatif. Jakarta: PT. Grasindo.
Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Subtropis.
Terjemahan. Kerjasama Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial dengan Indonesia Forest Seed Project. PT. Gramedia Jakarta.
Sorensen, F.C. and Campbell, R.K. 1993. Seed Weight-Seedling Size Correlation in Coastal Douglas Fir: Genetic and Enviromental Component. Canadian Jurnal of Forest Research.
23(2): 275-285.
Steel, R.G.D. and Torrie, J.H. 1980.Principles and procedures of statistic. McGraw-Hill, Inc.
Sudrajat, D.J, Megawati, E.R. Kartianan, N. Nurochim. 2007. Standarisasi Pengujian Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Tanaman Hutan (Schleichera oleosa dan Styrax benzoin). LHP. No.
478. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor.
Suita, E. 2013.Pengaruh sortasi benih terhadap viabilitas dan pertumbuhan bibit akor (Acacia auriculiformis). Jurnal Perbenihan Tanaman Hutan. Vol 1 (2). Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanamn Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.
Kementerian Kehutanan.
Suita, E. dan E.R. Kartiana, 2006. Pengaruh Ukuran Benih dan Penurunan Kadar Air Terhadap Perkecambahan Benih Kemenyan (Styrax benzoin Dryand). Prosiding seminar hasil-hasil penelitian. Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.
Suita, E., Nurhasybi dan Darwo. 2013. Respon Perkecambahan dan pertumbuhan bibit weru (Albizia procera Benth) berdasarkan hasil seleksi benih. Jurnal penelitian hutan
87
tanaman.Vol 10 (4). Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Kementerian Kehutanan.
Suita, E. dan E.R. Kartiana, 2006. Pengaruh Ukuran Benih dan Penurunan Kadar Air Terhadap Perkecambahan Benih Kemenyan (Styrax benzoin Dryand). Prosiding seminar hasil-hasil penelitian. Balai Litbang Teknologi Perbenihan. Departemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.
Tangendjaja, B., E. Wina, T. Ibrahim dan B. Palmer. 1992. Kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan pemenfaatannya. Balai Penelitian Ternak dan The Australian Centre for International Agricultural Research.
Widajati, E. 2013. Metode Pengujian Benih (Dasar Ilmu dan Teknologi Benih). IPB Press.
Zanzibar, M. 1993. Penentuan Mutu Fisik dan Fisiologik Benih Sengon (Paraserianthes falcataria Fosberg) dengan Menggunakan Alat Seed Gravity Table. Laporan Hasil Penelitian. Balai Teknologi Perbenihan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan.
89
PERIODISASI PEMBUNGAAN DAN PEMBUAHAN GANITRI (Elaeocarpus ganitrus Roxb) Aam Aminah dan Tati Rostiwati
Peneliti Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan
ABSTRAK
Fenologi adalah ilmu yang mempelajari proses periodisisasi suatu jenis tanaman, di antaranya siklus pembungaan sampai perkembangan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari periode berbunga dan berbuah jenis ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb) sehingga dapat diketahui ketepatan waktu pengunduhan buah masak fisiologis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dengan menggunakan pohon model sejumlah 3 (tiga) pohon dengan 10 (sepuluh) contoh cabang utama untuk setiap pohon model. Pengamatan dilakukan terhadap: 1. karakteristik proses pembungaan dengan 3 (tiga) tahapan utama pembungaan yaitu (1) tahap munculnya bakal bunga; (2) tahap menjadi tunas bunga; dan (3) tahap bunga mulai mekar (anthesis); 2. karakteristik pembentukkan buah dengan 3 (tiga) tahapan utama pembuahan yaitu (1) tahap munculnya bakal buah; (2) tahap bakal buah menjadi buah muda dan (3) tahap buah muda menjadi buah masak fisiologis. Penelitian dilakukan di Desa Donosari, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah dan Desa Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pengamatan dilakukan setiap 1 (satu) minggu sekali. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembungaan dicirikan oleh terjadinya perubahan warna dan membukanya kelopak bunga yaitu dari kelopak bunga berwarna putih kehijauan bercampur merah muda sampai berwarna merah dan dari mulai kelopak bunga kuncup sampai kelopak bunga tersebut lepas (menandakan mulai terjadinya tahap pembentukkan buah karena terlihat adanya bakal buah).
Seluruh proses perkembangan bunga tersebut terjadi selama 3 bulan 1 minggu. Proses pembentukkan buah dicirikan oleh berkembangnya warna dan membesarnya buah yaitu dari bakal buah berwarna hijau sampai buah muda berwarna hijau kebiruan dengan diameter kurang dari 2 cm, kemudian berkembang menjadi buah masak fisiologis dengan warna buah biru tua keunguan berdiameter ±2 cm. Seluruh proses perkembangan buah tersebut terjadi selama 3 bulan 2 minggu.
Kata kunci: buah, bunga, fenologi, ganitri, periodisasi
I. PENDAHULUAN
Keberhasilan usaha peningkatan produktivitas benih berhubungan erat dengan pengetahuan mengenai biologi reproduksi. Pembungaan, penyerbukan dan pembentukan buah sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (fitohormon, genetis) dan eksternal (kondisi lingkungan), karenanya pengetahuan mengenai faktor-faktor tersebut serta pengaruhnya terhadap tiap tahap perkembangan organ reproduksi harus diketahui. Di bidang kehutanan, semua penelitian tentang ekologi reproduksi mengarah pada hasil akhir berupa peningkatan kuantitas dan kualitas biji, baik dari sisi genetis maupun fisiologis (Bawa dan Hadley, 1990 dalam Suginingsih dan Daryono, 2006).
Ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb, famili Elaecarpaceae) sebagai salah satu pohon hutan yang diambil buahnya sangat membutuhkan hasil akhir berupa biji yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang baik untuk memperoleh nilai ekonomi yang tinggi. Jenis varietas lokal umur produksi perdana 4 tahun dengan batang setinggi 10 - 15 m pada umur 6 - 7 tahun, sedangkan varietas super umur produksi perdana 2 tahun dengan batang setinggi 4 m pada umur 4 tahun. Pola pembungaan tanaman tropis sangatlah kompleks, hal tersebut terkait dengan perubahan iklim yang mempengaruhi sensitivitas terhadap proses reproduksi tanaman (Schmidt, 2000). Selanjutnya disebutkan pula walaupun setiap bunga memiliki potensi untuk
90
berkembang menjadi bakal buah, namun kenyataannya proses akhirnya buah-buah yang dihasilkan sedikit sekali manghasilkan biji. Seperti hasil penelitian Aminah dan Syamsuwida (2010) bahwa keberhasilan bunga menjadi bakal buah jenis suren (Toona sureni Merr.) hanya 9,86% dan buah muda menjadi buah tua hanya sebesar 65,88%. Artinya tidak semua bunga berhasil menjadi bakal buah demikian juga tidak semua bakal buah menjadi buah/biji masak fisiologis.
Aminah et al. (2007) juga melaporkan karakteristik tandan bunga (inflorescence) rasamala yang dicirikan dengan tangkai bunga jantannya berjumlah 6 - 14 tangkai sedangkan tangkai bunga betinanya tunggal berbentuk bulat atau agak bulat. Pengamatan lainnya pada jenis Mindi (Melia azedarach) menunjukkan bahwa jenis ini memiliki tipe bunga majemuk (yang dikenal dengan tipe panicle) dengan malai bunga berada pada ujung ranting dengan posisi tegak, siklus perkembangan pembungaan dan pembuahan mindi terjadi selama 6 - 7 bulan (Syamsuwida dan Aminah, 2010).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terkait proses pembungaan dan pembuahan suatu jenis tanaman tersebut di atas, maka penelitian terhadap keberhasilan proses reproduksi jenis ganitri sebagai produk yang diperdagangkan oleh masyarakat sangat diperlukan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi periode berbunga sampai berbuah jenis ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb) sehingga dapat diketahui waktu pengunduhan buah masak fisiologis yang tepat. Hasil penelitian diharapkan akan diperoleh waktu pengunduhan buah yang tepat dan informasi dasar untuk metode kuantifikasi buah ganitri.
II. BAHAN DAN METODE A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian dilakukan di dua (2) Desa yaitu Desa Donosari, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah dan Desa Cisarua, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Karakteristik habitat tegakan ganitri tersebut tertera pada Tabel 1. Penelitian dilakukan mulai bulan Januari 2010 sampai dengan bulan Desember 2010.
Tabel 1. Karakteristik tempat tumbuh tanaman ganitri
No. Karakteristik tempat tumbuh Lokasi penelitian Desa Donosari Desa Cisarua
1 Ketinggian (m dpl) 135 1000
2 Curah hujan (mm/bln) 100 150-200
3 Suhu udara (0C) 31 – 32 34,6 – 36,8
4 Kelembaban (%) 70 85