• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK PERBENIHAN

D. Analisis Data

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

3. Jumlah bunga dan buah ganitri

Setiap pohon ganitri mempunyai produksi bunga dan buah yang berbeda-beda.

Begitupun dengan pohon ganitri yang ada di Desa Donosari dan Desa Cisarua. Data jumlah bunga dan buah ganitri di Desa Donosari lebih banyak bila dibandingkan dengan Desa Cisarua, hal ini terjadi karena faktor lingkungan seperti ketinggian tempat, curah hujan, suhu dan kelembaban yang berbeda antara kedua desa tersebut. Seperti dikemukakan Borchert (1983), bahwa dalam proses pembungaan termasuk permulaan munculnya tunas bunga, bunga terbuka, dan keteguhan bunga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Jumlah bunga dan buah ganitri pada pohon yang diamati tersaji dalam Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah bunga dan buah ganitri di Desa Donosari dan Desa Cisarua Lokasi Jumlah

malai/dahan

Jumlah bunga kuncup/malai

Jumlah bunga mekar/malai

Jumlah buah muda/malai

Jumlah buah tua/malai

Cisarua 82 – 126 23 - 39 23 - 37 1 - 13 1 - 9

Donosari 76 – 314 21 - 30 19 - 25 3 - 12 9 - 21

Selanjutnya Gambar 5 memperlihatkan proses perkembangan bakal bunga sampai menjadi buah masak fisiogis jenis ganitri yang terjadi secara alami.

A

B

C

94

Gambar 5. Periodisitas perkembangan bunga sampai menjadi buah masak fisiologis jenis ganitri B. Pembahasan

Pembungaan pada umumnya berlangsung menjelang musim kemarau yang ditandai dengan menguningnya daun, kemudian daun rontok di musim kemarau. Pada musim penghujan yang diawali dengan muncul tunas generatif yang akan berubah menjadi bakal bunga. Proses tersebut berlangsung selama 1 - 1,5 bulan, sedangkan bunga kuncup akan berkembang menjadi bunga mekar selama 1 - 2 bulan. Bunga yang mekar sebagian ada yang rontok yang diawali dengan bunga layu di pohon selama 1 minggu. Bunga tersebut kemudian gugur ke tanah. Bunga yang mekar dan tidak rontok akan berkembang menjadi buah muda. Hal ini dapat berlangsung selama 2 minggu - 1 bulan. Proses pembuahan merupakan kelanjutan dari proses pembungaan. Perkembangan tahapan pembuahan dimulai dari bakal buah sampai buah masak fisiologis. Buah muda terus tumbuh menjadi buah setengah tua selama 1 - 2 bulan.

Kemudian buah setengah tua menjadi buah tua/masak selama 1 bulan.

Periodisasi pembungaan dan pembuahan ganitri di esa Donosari dan esa Cisarua tidak jauh berbeda. Apabila melihat dari parameter iklim yang diamati (suhu dan kelembaban udara dan curah hujan), maka parameter tersebut belum dapat mengindikasikan sebagai faktor yang berdampak pada pembentukan bunga tanaman. Jones (1994) menyatakan bahwa beberapa faktor lingkungan yang memberikan pengaruh terhadap inisiasi malai bunga adalah panjangnya hari siang (fotoperiode) melalui kondisi internal tanaman seperti suplai karbohidrat.

Perbedaan ekosistem dalam waktu pembungaan musiman pada populasi alam telah dilaporkan dalam berbagai percobaan di perkebunan (Langlet, 1971; Heslop-Horison, 1964), secara umum dapat dikatakan bahwa populasi tumbuhan di daerah dataran tinggi berbunga lebih cepat dari populasi di daerah dataran rendah. Banyak faktor lingkungan yang dapat berinteraksi untuk menentukan munculnya bunga. Dalam beberapa tumbuhan, tunas-tunas akan menjadi bunga sebagai akibat rangkaian lingkungan yang dapat terjadi dalam beberapa bulan (Lang, 1965). Faktor lingkungan fisik yang diketahui sebagai penyebab permulaan munculnya pembungaan yaitu: lamanya waktu penyinaran, temperatur dan kelembaban.

Kebanyakan spesies tumbuhan semak berkayu di daerah beriklim sedang, musim pembungaannya dipengaruhi oleh temperatur (Leith, 1974).

Tomlison and Zimerman (1978) menyatakan bahwa dalam hutan daerah tropika, dengan banyaknya hujan masa berbunga menjadi mundur dari masa pembungaannya, hal tersebut diperkuat oleh Borchert (1983) bahwa penurunan kandungan air dari organ reproduksi dapat merangsang masa berbunga dari beberapa jenis pohon di daerah tropika.

2 minggu 1 bulan

1 -1,5 bulan

2 bulan 2 minggu

Buah muda

Buah masak Buah kecil Bakal buah

1 bulan

1 minggu

Bakal bunga Bunga kuncup Bunga mekar

95 IV. KESIMPULAN

Periode dari bunga kuncup sampai bunga mekar dan periode dari munculnya buah muda sampai buah masak fisiologis masing-masing berlangsung selama 2 bulan. Kondisi tempat tumbuh di 2 (dua) desa tidak menunjukkan perbedaan terhadap periode berbunga dan berbuah jenis ganitri.

DAFTAR PUSTAKA

Aminah, A., D. Syamsuwida., M. Suhartana. dan A. Muharam. 2007. Perkembangan pembentukan bunga dan buah rasamala. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol. 4, No.3:

143 – 150.

Aminah, A., dan D. Syamsuwida. 2010. Tahapan perkembangan pembentukan bunga dan buah suren (Toona sureni MERR.). Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. vol. 7, No. 3: 113 – 119.

Borchert, R. 1983. Phenology and control of flowering in tropical trees. Biotropica, Vol 15 No.

2: 81-89.

Heslop-Harrison, J. 1964. Sex expression in flowering plants. In: Brookhaven Symposia in Biology 16. 109-125.

http:// staff.blog.ui.ac.id /taqyudin /index.php /2009 /01 /10 /info-penting-ganitri-elaeocarpus- sphaericus /, senin 18-01-2010.

Jones, H.G. 1994. Plants and microclimate. Edisi ke-2. Cambridge University Press, Malta, Australia.

Langlet, O. 1971. Two hundred years of genecology. Taxon 20: 653–722

Leith, H. 1974. Phenology and seasonality modelling. Springer-Verlag, New York, New York, USA.

Putrayasa, I. N. 1995. Pola perkembangan bunga dari beberapa jenis mangrove di Kawasan Hutan Pemogan Denpasar Selatan Bali. Skripsi. Fakultas MIPA. Jurusan Biologi Universitas Udayana. Bali.

Tomlison. and Zimerman. 1978. Tropical trees as living systems. Cambridge university press.

New York.

Schmidt, L. 2000. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Departemen Kehutanan. Jakarta.

Suginingsih. dan P. Daryono. 2006. Variasi pembungaan dan pembuahan pulai (Alstonia scholaris) dari berbagai tempat tumbuh dan pengaruhnya terhadap kualitas fisik dan fisiologis benih. Laporan Hasil Penelitian. Laboratorium Teknologi Perbenihan, Jurusan Budidaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Syamsuwida, D. dan A. Aminah. 2010. Morfologi dan siklus perkembangan pembungaan- pembuahan mindi (Melia azedarach L.). Dalam. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian 20 Oktober 2010 Bandung: 228 - 237.

97

PEMBIAKAN VEGETATIF KAYU BAWANG (Azadirachta excelsa (Jack) Jacobs) DENGAN CANGKOK SEBAGAI STRATEGI TEKNIK ANTARA MENGATASI KELANGKAAN BENIH

Imam Muslimin, Nanang Herdiana dan Kusdi Peneliti Balai Penelitian Kehutanan Palembang

ABSTRAK

Kayu bawang (Azadirachta excelsa) merupakan salah satu tanaman unggulan daerah propinsi Bengkulu sebagai bahan baku kayu pertukangan dengan tingkat pertumbuhan tanaman yang cepat, sehingga dalam waktu singkat jenis tanaman ini bisa berkembang dengan pesat. Namun, saat ini produksi buah dan benih kayu bawang sangat minim karena hanya beberapa pohon saja yang mengalami pembuahan.

Pembiakan vegetatif merupakan salah satu alternatif untuk penyediaan bibit. Teknik pembiakan vegetatif dari cabang atau batang tanaman kayu bawang tua dapat menggunakan cangkok dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Pencangkokan hanya berfungsi sebagai teknik “antara” untuk menghasilkan materi dasar perbanyakan yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan perkembangbiakan vegetatif dengan stek.

Kata kunci: kayu bawang, produksi bibit, vegetatif, cangkok, materi dasar

I. PENDAHULUAN

Pembangunan hutan tanaman kayu bawang (Azadirachta excelsa) di Propinsi Bengkulu mulai berkembang dengan pesat. Jenis ini merupakan jenis andalan lokal setempat, banyak diminati masyarakat karena tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang cepat sebagai penyedia bahan baku kayu pertukangan. Data dan informasi menyebutkan bahwa produktivitas hutan rakyat kayu bawang pada pola monokultur adalah 22,03 m3/ha/tahun dan pada pola agroforestri mempunyai rerata produktivitas sebesar 13,70 m3/ha/tahun (Siahaan dan Sumadi, 2013). Tidaklah mengherankan bilamana pada awalnya jenis ini hanya berkembang di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Tengah, sekarang sudah mulai menyebar ke Kabupaten lainnya seperti: Mukomuko, Rejang Lebong, Seluma, Kepahyang sampai ke Kabupaten Bengkulu Selatan (Nurlia dan Waluyo, 2013).

Pengembangan kayu bawang mempunyai beberapa kendala baik secara Internal maupun eksternal. Salah satu faktor eksternal yang dominan mempengaruhi perkembangan dan penyebaran kayu bawang adalah adanya keterbatasan bibit hasil dari pembiakan generatif.

Hal ini disebabkan oleh adanya periodisitas kayu bawang yang tidak kontinyu untuk berbunga dan berbuah yang dimungkinkan terjadi sebagai akibat adanya perubahan iklim, dimana musim panas dan musim penghujan tidak mempunyai periodisitas/ batas yang jelas. Kondisi semacam ini telah dimulai sejak tahun 2010 (Nurlia dan Waluyo, 2013). Hal ini mengakibatkan program kerja bidang kehutanan dan program-program lain yang berkaitan dengan kayu bawang menjadi terkendala karena tidak tersedianya materi bibit kayu bawang.

Permasalahan utama pada kayu bawang untuk memproduksi benih sebagai bahan/

materi utama dalam pembuatan bibit, harus segera diatasi dan ditemukan teknik produksi bibit yang tidak mengandalkan pada produksi benih sebagai unsur utama, sehingga minat masyarakat yang secara sadar sudah mau mengembangkan jenis ini menjadi tidak surut. Salah satu strategi yang mungkin untuk bisa dikembangkan dalam penyediaan bibit kayu bawang adalah melalui teknik pembiakan tanaman secara vegetatif. Teknik pembiakan vegetatif kayu bawang dengan memanfaatkan materi dari anakan alam (widling) mempunyai tingkat

98

keberhasilan yang tinggi (Utami et al., 2012). Namun, teknik pembiakan vegetatif ini tetap masih mengandalkan materi dasar utama dari anakan alam (widling) yang merupakan hasil dari pembiakan secara generatif, dalam artian teknik ini masih tetap membutuhkan produksi buah.

Sampai dengan saat ini belum terdapat data dan informasi mengenai teknik pembiakan vegetatif untuk tanaman kayu bawang yang keseluruhan proses pembiakannya menggunakan/memanfaatkan materi secara vegetatif atau memanfaatkan materi tanaman tua yang sudah ada untuk dikembangkan secara vegetatif. Oleh karena itu, makalah ini memaparkan pengalaman dalam kegiatan pembiakan vegetatif tanaman kayu bawang dengan teknik cangkok yang sangat berperanan dalam salah satu proses penyediaan bibit kayu bawang yang berkualitas dan berlimpah.